
“Jika itu memang kemauanmu,” kata gadis itu, “maka daku berharap bisa secepatnya pergi dari sini.”
MANTINGAN justru menunjukkan senyum lebar kepadanya. “Daku berharap sedemikian pula, Saudari.”
“Engkau sungguh menyebalkan, Mantingan. Daku akan meninggalkanmu sekarang.” Setelah berkata demikian, Bidadari Sungai Utara keluar dari kamar Mantingan dengan membawa alat-alat pengobatan.
Mantingan pun tertawa sesaat setelah pintu tertutup. Ia tidak menarik atau bahkan membantah perkataannya itu, sebab ia memang menginginkannya sungguh terjadi secepat-cepatnya.
Bukankah keberangkatan Bidadari Sungai Utara dimanfaatkan untuk menuntaskan akar kekuatan musuh yaitu penyamun di lautan?
Bukankah pula Bidadari Sungai Utara sangat amat tidak aman jika terus berada di Javadvipa?
Namun, betapa pun kejadian siang tadi telah menjadi tamparan keras bagi Mantingan untuk lebih memastikan keamanan Bidadari Sungai Utara.
Ia mengakui bahwa siang itu kelengahannya disebabkan oleh tidurnya yang terlalu pulas.
Mantingan masih ingat perkataan gurunya ketika berada dalam masa pelatihan. “Seorang pendekar selalu jauh dari tempat tidurnya.”
Jika dulu Mantingan mengartikan perkataan itu dengan bahwa seorang pendekar bukanlah jenis orang malas, maka sekarang ia mengartikannya dengan sedikit berbeda.
Kepulasan adalah sesuatu yang sangat berbahaya di dalam dunia persilatan. Kepulasan menyebabkan kelengahan yang tiada terkira kapankah akan mengantar seorang pendekar ke alam maut, hingga pendekar itu tidak dapat mengetahui sebab kematiannya sendiri karena dirinya tertidur terlalu pulas.
Selesai dengan pemikirannya, Mantingan memutuskan untuk samadhi. Tenaga dalamnya perlu diisi ulang setelah dipakai habis-habisan untuk bertarung siang tadi. Meskipun Bidadari Sungai Utara telah mendonorkan lebih dari setengah tenaga dalamnya, itu masih tidak cukup.
***
MALAM itu Mantingan terbenam dalam samadhinya. Tidak sepenuhnya tidur, karena ia hanya menggunakan Ilmu Ikan Tidur agar kewaspadaannya selalu dapat terjaga. Kini inti tenaga dalamnya serta lima cakranya telah terisi penuh.
Namun, tidak semua cakranya terisi penuh. Dari ketujuh cakranya, yang terisi oleh tenaga dalam hanya lima cakra saja. Meskipun ia telah bersamadhi semalaman penuh, tetapi sia-sia saja jika tempatnya bersamadhi tidak memiliki cadangan tenaga dalam yang besar.
Mantingan berniat untuk pergi ke pantai atau lautan untuk mengisi seluruh cakranya dengan tenaga dalam, sebab alam raya menyimpan cadangan tenaga dalam yang lebih besar ketimbang di tempat-tempat peradaban manusia.
Namun, tentunya Mantingan tidak dapat melakukan itu dalam waktu dekat. Mengingat bahwa keamanan Bidadari Sungai Utara, Kana, dan Kina di penginapan itu masih terancam oleh bayang-bayang dendam kusumat musuh yang mungkin tidak terima atas kematian empat saudara sekelompoknya itu.
__ADS_1
Tepat ketika Mantingan membuka matanya, pintu kamarnya terbuka. Mantingan tidak perlu risau sebab ia telah mengetahui siapa yang datang.
“Kakanda, daku mendengar bahwa engkau terluka.” Kana berkata sambil menutup pintu.
“Tidak terlalu parah.” Mantingan membalas santai.
Kana berjalan mendekat. “Dan kudengar lagi, Kakanda menyelamatkan Kaka Sasmita?”
“Dapat dikatakan seperti itu, tetapi dia juga menyelamatkanku.”
“Bolehkah daku bertanya kepadamu, Kakanda?” Kana berhenti tepat di hadapan Mantingan.
“Engkau tidak perlu izin untuk bertanya kepadaku, Kana.” Masih dalam posisi bersila, Mantingan menganggukkan kepala.
Kana terlihat berpikir sejenak sebelum akhirnya bertanya, “Kuharap Kakanda tidak tersinggung dengan pertanyaanku ini, tetapi mengapakah Kakanda selalu saja memenangkan pertempuran? Apa rahasianya?”
Mendengar pertanyaan itu, Mantingan pun ikut berpikir barang sejenak. Meskipun ia telah memiliki jawabannya, tetapi ia mesti menyusun kata-kata yang tidak akan mematahkan semangat Kana untuk terus berlatih.
“Pertanyaan yang bagus, Kana. Betapa pun, seorang pendekar biasanya memiliki rahasia yang hanya dirinya seorang saja yang mengetahui untuk digunakannya mengungguli lawan, tetapi ada pula beberapa yang tidak. Jika engkau bertanya seperti itu, maka daku memiliki beberapa ilmu persilatan cadangan yang kurahasiakan di awal pertarungan.”
Kembali Kana terdiam, kali ini cukup lama sebelum akhirnya mengeluarkan suara. “Dapatkah daku mencapai tingkat yang telah dicapai Kakanda?”
“Tentu saja.” Mantingan berkata. “Asalkan kau giat berlatih, maka kau akan melampauiku jauh-jauh.”
“Ya.” Kana mengangguk. “Daku akan berlatih keras bahkan di hari pertama daku tiba di Champa. Sehingga jikalau daku kembali ke Javadvipa untuk mengunjungi Kakanda, atau Kakanda yang datang mengunjungiku, daku bisa menjadi pelindung atau paling tidak lawan bertanding yang seimbang untuk Kakanda.”
“Tekad yang bagus.” Mantingan mengangguk mantap. “Tetapi ingatlah selalu bahwa tekad tanpa perwujudan hanyalah omong kosong belaka.”
“Daku tahu itu, Kakanda. Daku pasti akan melaksanakannya.” Kana mengepalkan tangannya penuh tekad. “Kakanda, apakah engkau bisa melatihku sekarang?”
“Tentu saja!”
Cukuplah ia bersamadhi. Mantingan bangkit dari ranjang sebelum meluruskan punggungnya. Kemudian diambilnya jubah kelabu pemberian Kenanga untuk dikenakannya. Akan tetapi, disadarinya bahwa jubah itu masih koyak meski noda darahnya telah dibersihkan oleh Bidadari Sungai Utara.
__ADS_1
“Ini harus dijahit ....” Mantingan berguman sendiri sebelum akhirnya kembali meletakkan jubah itu di sandaran bangku. Sebagai gantinya, ia mengambil sebuah baju pemberian Kiai Guru Kedai.
Mantingan kemudian bergerak sampai di mejanya dan mengambil beberapa buah keropak lontar.
“Kana, pelajarilah kitab-kitab ini dan kemukakan apa yang telah engkau dapatkan saat daku kembali nanti.”
Raut wajah Kana berubah. “Jadi Kakanda tidak akan melatihku pagi ini?”
“Jangan menganggap bahwa membaca kitab bukanlah latihan, Kana.” Mantingan menjulurkan keropak-keropak itu. “Bacalah kitab-kitab ini dengan bersungguh-sungguh. Semoga engkau mendapatkan manfaatnya.”
Meskipun Kana tidak terlalu menyukai, ia tetap menerima keropak-keropak itu dan berjanji akan membacanya dengan sungguh-sungguh.
Mantingan pun bergegas pergi dari kamarnya sambil membawa Pedang Kiai Kedai.
***
MANTINGAN menatap Padepokan Angin Putih dari kejauhan. Pemuda itu memanfaatkan rindangnya ranting dan dedaunan pohon untuk bersembunyi. Ia pula telah memasang beberapa Lontar Sihir Penyamar di sekitarnya, sehingga keberadaannya tidak akan mudah diketahui.
Orang-orang pelabuhan berlalu-lalang di bawah pohon itu, tetapi tidak satupun yang menyadari kehadiran Mantingan.
Mantingan memiliki niatan untuk menyelinap masuk ke dalam Padepokan Angin Putih guna mengabarkan kejadian siang kemarin. Sudah pasti kabar tentang pertarungan di penginapan itu telah menyebar ke seluruh pelabuhan, dan Mantingan ingin tahu tindakan seperti apakah yang akan diambil Padepokan Angin Putih.
Namun, untuk masuk ke dalamnya bukanlah sebuah pekerjaan mudah. Mantingan mengingat salah satu pendekar Pasukan Topeng Putih yang mengatakan bahwa orang asing yang masuk ke padepokan itu akan selalu mendapat perhatian dari pendekar jaringan bawah tanah dunia persilatan.
Kini Mantingan menjadi bimbang. Jika dirinya diserang begitu hendak masuk, itu tidak mengapa. Tetapi jika rencana penyergapan yang akan dilakukan Tarumanagara dan Perguruan Angin Putih sampai diketahui musuh, maka ia berada dalam masalah besar.
Ketika Mantingan terbenam dalam perhitungannya, sebuah pemandangan di jalanan pelabuhan membuatnya terkejut.
Terlihat serombongan yang tampak seperti rombongan pedagang lewat di jalanan pelabuhan. Rombongan itu terlalu besar hingga orang-orang harus minggir memberi jalan. Namun agaknya, bukan hanya itu saja yang membuat mereka menyingkir.
___
catatan:
__ADS_1
Bonus episode spesial 1000 favorit: 2/2