
MANTINGAN BARU tersadar bahwa dirinya telah melewatkan perjamuan makan malam bersama Bidadari Sungai Utara, Kana, dan Kina. Semoga saja dirinya belum terlambat begitu lama. Semoga saja dirinya belum meninggalkan mereka begitu lama. Mantingan kembali menutup Kitab Teratai dan memasukkannya ke dalam keropak lontar. Bergegas ia keluar dari kamar dan menuruni tangga.
Tangga yang sedang ia lewati itu memang tersambung langsung dengan ruang tengah yang ada di lantai bawah. Maka seharusnya, Mantingan bisa langsung bergabung dengan mereka.
Dilihatnyalah Bidadari Sungai Utara bersama Kana dan Kina sedang berbagi makanan di atas meja ruang utama. Mantingan tersenyum lebar dan berjalan menghampiri mereka. Namun ia menemukan sedikit keanehan, mengapakah ruang tengah menjadi lebih terang dari malam-malam biasanya?
“Selamat pagi, Saudara.”
“Ah, Kak Maman sudah bangun dari tidurnya, marilah sarapan bersama kami.”
Mereka menunjukkan senyum lebar, lebih terlihat sedang mengejek Mantingan yang bangun terlalu siang.
Bidadari Sungai Utara masih sibuk menyusun makanan di atas meja saat berucap, “Daku agak telat menyiapkan sarapan pagi ini, jadilah anak-anak sarapan terlalu siang.”
Kalimatnya yang satu itu jelas menyindir Mantingan. Begitu tajam. Mantingan segera memahami duduk perkaranya.
“Maafkanlah.” Mantingan berkata dengan senyumnya yang canggung. “Kalian sudah semestinya memaafkanku. Lebih-lebih setelah kalian tidak mengabariku tadi malam. Aku terlalu lama membaca kitab hingga lupa waktu.”
“Kukira, kau terlalu pulas tidur sampai-sampai terlambat bangun. Ternyata berbeda dari jauh dari perkiraanku.” Bidadari Sungai Utara menarik sebuah bangku di bawah meja. “Duduklah, Saudara.”
Mantingan menduduki bangku yang disiapkan Bidadari Sungai Utara. Tersenyum hangat. Menyapa Kana dan Kina.
“Tidak biasanya Kakak Man bangun terlalu siang. Biasanya, Kakaklah yang pertama kali membuka pintu.”
“Kali ini aku tidak tidur, Kana,” balasnya.
__ADS_1
“Ya, aku tahu. Kakak membaca kitab, bukan? Kitab apakah itu sampai-sampai Kakak betah membacanya?”
“Kitab Teratai.” Kembali Mantingan membalas singkat.
Kana mengangkat alisnya. “Kitab Teratai? Kitab apakah itu?”
“Kitab Teratai adalah kitab pelajaran hidup, Kana.” Bidadari Sungai Utara menyahuti Kana di samping kegiatannya.
“Apakah itu sebuah kitab suci?”
“Banyak orang yang mengatakan itu.” Bidadari Sungai Utara duduk di kursinya setelah selesai menyusun makanan. “Tahan pertanyaanmu, Kana. Kita harus sarapan, sebelum sakit perut.”
Mantingan mengambil makanan secukupnya. Beberapa potong kentang dan sayuran rebus, serta beberapa keping dendeng ikan kering. Begitu sederhana, tetapi sungguh lezat jika dinikmati bersama-sama. Terlebih semua ini adalah masakan Bidadari Sungai Utara, sungguh luar biasa rasanya.
Mantingan menyuap makanan sambil memikirkan rencana untuk kedepannya. Setelah membaca bagian pertama dari Kitab Teratai, Mantingan merasa tidak perlu menakuti kematian. Ia perlu takut jika kematiannya meninggalkan nama yang buruk. Dan yang lebih-lebih perlu ditakutinya adalah tidak berbuat sesuai dengan kehendak-Nya bahkan sampai ajal menjemput.
Mantingan juga harus menyusun persiapan membuka toko. Ia sudah memikirkan harus memberi nama apa tokonya itu, dan pula sudah memikirkan barang-barang apa saja yang akan dijual. Tetapi tentang pemasaran, Mantingan masih belum memikirkan tentang itu. Dirinya merasa harus mengenalkan tokonya itu ke seluruh desa, bahkan mengenalkannya pula ke desa-desa tetangga. Namun, bagaimanakah itu dapat dilakukan?
Apakah dengan pergi menawarkan dagangannya ke jalanan? Ataukah dengan menyebar selebaran? Mantingan tidak mengetahui mana yang lebih baik, maka dari itulah ia harus berpikir agar dapat menentukan pilihan mana yang terbaik.
Namun bahkan sampai selesai sarapan sekalipun, Mantingan masih belum mendapatkannya. Dan pemikirannya itu harus terputus karena Bidadari Sungai Utara berniat kembali ke Toko Obat Wira.
“Aku harus segera kembali ke Toko Ibu Wira,” katanya sambil menunjukkan senyum hangatnya ke arah Kana dan Kina.
Dua anak itu tampak tidak bersemangat sama sekali. Menatap kosong piringnya yang juga kosong. Mengerucutkan bibir.
__ADS_1
Sampailah Kina berujar, menumpahkan semua yang dipendam kepada Bidadari Sungai Utara, “Kakak tinggallah di sini saja. Bawalah semua barang kemari. Biar Kakak bisa bermain bersama Kina sepanjang malam setelah Kakak pulang kerja. Ini permintaan Kina, jika Kakak menurutinya maka Kina tidak akan banyak minta-minta lagi.”
Bidadari Sungai Utara menghela napas panjang sebelum melirik Mantingan dengan sekilas. Seolah minta pendapat. Dan mengisyaratkan bahwa pendapat Mantingan akan mempengaruhi keputusannya.
Mantingan berdeham beberapa kali, sebelum menjawab, “Kina pasti tahu bahwa Kakak dan Kak Sasmita tidak seharusnya tinggal satu atap. Kami bukanlah saudara kandung, hubungan kami hanya sebatas teman.”
Kini giliran Kana yang membalas, “Aku juga tahu bahwa kalian berdua ini bukanlah suami-istri. Tidak boleh tinggal di atap yang sama.”
“Tetapi jika engkau mengetahuinya, mengapa wajahmu masih keras seperti itu?”
Kana membalas dengan pertanyaan yang berhasil membuat Mantingan dan Bidadari Sungai Utara terkejut bukan tipuan, “Mengapa kalian berdua tidak menikah saja?”
Mantingan hampir tersedak jika tidak segera mengatur napasnya. Sedangkan itu, Bidadari Sungai Utara begitu tercengang, hanya bisa diam mematung. Mantingan kembali menjelaskan pada Kana, “Menikah bukanlah suatu hal yang mudah, Kana ....”
“Bukankah Kakak bisa mengubah masalah berat menjadi masalah mudah? Aku melihat sendiri bagaimana Kakak menjadikan rumah ini menjadi sangat indah, padahal sebelumnya sangat menyeramkan.”
Bidadari Sungai Utara membantu Mantingan dengan jawabannya yang telak, “Dan tidak seorangpun mau menikah untuk masalah yang sepele, Kana. Apakah kami harus menikah hanya agar kami bisa tinggal satu atap?”
“Ini lebih dari itu, Kak Sasmita.” Kina menimpali. “Kakak berjodoh dengan Kak Maman, apakah Kakak tidak sadar itu? Saat Kak Maman bekerja di kebun dan Kak Sasmita memasak makanan untuk kami, Kina merasa seperti kembali ke rumah. Kina tidak bersedih lagi, karena Kakak berdua telah menggantikan orangtuaku. Tapi Kina kembali berpikir, sebenarnya kakak berdua ini bukan orangtuaku. Meskipun mereka serasi, saling melengkapi, dan mampu membuat suasana menjadi damai, tapi tetap saja kalian bukan orangtua Kina.”
Mata Kina berlinang air mata. Seolah bisa tumpah kapan saja. Namun ia bisa menahannya. Kana juga tegar. Sayang sekali, mereka berdua terlalu cepat dewasa. Keadaan yang membuat mereka tumbuh dengan tidak wajar. Mereka mengerti urusan yang seharusnya belum menjadi urusan mereka.
“Tidak seharusnya kalian membicarakan hal ini. Antara Kakak dan Kak Sasmita tidak ada hubungan apa pun melebihi batas persahabatan. Kuharap kalian mengerti ini.” Mantingan memasang senyum hangat. “Pintu rumah selalu terbuka untuk Kak Sasmita, sehingga dia bisa datang kapanpun dia mau.”
___
__ADS_1
catatan:
Berkomentarlah agar kepala penulis dipenuhi inspirasi.