Sang Musafir

Sang Musafir
Memanfaatkan Perjalanan Bidadari Sungai Utara


__ADS_3

BEGITULAH HINGGA pagi harinya mereka berdua masih terus mempelajari sebuah kitab yang bernama Jurus Membelah Angin. Sebenar-benarnyalah ini merupakan ilmu dasar yang kitabnya selalu dimiliki seluruh murid Perguruan Angin Putih. Ilmu tersebut tidak menuntut seseorang untuk mampu menguasai tenaga dalam, sehingga memang cocok untuk Kana yang belum pula menjadi pendekar.


Mantingan telah meminta izin kepada Rama untuk mengajarkan ilmu ini kepada Kana, dan pria tua itu dengan senang hati mengizinkannya. Bahkan juga memberikan beberapa kitab lain dipelajari Kana.


Ketika Mantingan bertanya mengapa Rama memperbolehkan kitab-kitab yang seharusnya hanya dibaca oleh murid-murid Perguruan Angin Putih diperkenankan untuk orang luar perguruan, pak tua itu menjawab, “Dari dirimulah Kana belajar, maka pada dirimulah dia mencontoh. Kana akan menjadi orang baik seperti engkau, Mantingan; itulah yang membuatku memperbolehkan kitab-kitab itu dibaca Kana.”


Mantingan dan Kana keluar dari dalam kediamannya menuju halaman. Ketika itu, langit masih terang tanah. Matahari masih belum sepenuhnya bangun dari peraduannya.


Kana berdiri tak jauh dari Mantingan. Bocah itu menjura dalam-dalam di hadapannya sebelum memasang kuda-kuda dan sikap silat. Mantingan menyilangkan lengannya ke belakang sambil tersenyum lebar.


“Apakah kau telah siap, Kana?”


Kana mengangguk cepat. “Ya!”


Mantingan menjulurkan sebelah tangannya ke muka sebelum mengibaskannya. Gelombang angin mirip dengan yang tadi malam meluncur ke arah Kana. Tetapi bocah itu tampaknya sama sekali tidak menyimpan kekhawatiran bahwa tubuhnya akan kembali terempas oleh angin itu. Bahkan tersenyum lebar.


Ketika gelombang angin itu hanya berjarak sedepa dari tubuh Kana, bocah itu menjulurkan kedua lengannya ke depan dengan telapak terbuka membentuk tapak.


Dan saat kedua tapak Kana berhantaman-hantaman dengan gelombang angin itu, ia berhasil memecahkannya! Angin itu meledak! Buyar ke mana-mana. Seolah sesuatu telah membelahnya tepat di bagian tengah.


Kedua telapak tangan Kana mengepulkan uap dingin hasil dari perpecahan udara itu. Kakinya tidak bergeser barang sedikitpun. Dan hampir tidak ada rasa sakit yang dirasakannya—tanda bahwa dirinya tidak terkena serangan.


Mantingan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum puas. “Engkau berhasil menguasainya hanya dalam waktu satu malam, Kana. Itu merupakan suatu pencapaian yang cukup mengesankan.”


Kana pula tersenyum lebar. Jelas bangga. “Berapakah waktu yang dibutuhkan Kakanda untuk menguasai jurus ini?”


Mantingan tersenyum samar sebelum menjawab, “Apakah engkau benar-benar ingin mengetahuinya, Kana?”


“Tentu saja, mengapa tidak?!”


“Diriku hanya membutuhkan waktu sepeminuman teh untuk menguasai jurus ini.”

__ADS_1


Kana tercekat untuk beberapa lamanya. Sepertinya ia menyesali telah menolak peringatan Mantingan. Dipikirnya, menguasai satu jurus hanya dalam waktu satu malam adalah sesuatu yang tidak akan bisa dicapai orang lain, tetapi ternyata dirinya salah.


Benar rupanya sebuah petuah yang mengatakan bahwa di atas langit masih ada langit. Mengetahui seperti apa langit di atasnya, Kana benar-benar tidak bisa berpuas diri.


“Untuk hari ini, tingkatkanlah kemampuanmu dalam menguasai Jurus Membelah Angin.”


“Baiklah.” Kana menganggukkan kepalanya. “Tetapi Kakanda akan mengajariku, bukan?”


“Tidak.” Mantingan menggeleng cepat. “Jika aku terus menemanimu berlatih, kau akan kehilangan kemampuanmu melatih diri sendiri.”


“Lalu akan ke manakah Kakanda?”


“Aku akan tetap berada di dalam kediaman.”


Membenarkan ucapannya, Mantingan berjalan masuk melewati pintu masuk kediaman.


Di dalam kediaman yang tak seberapa besar itu, Mantingan segera bergerak ke dalam kamarnya. Kediaman itu memang memiliki dua kamar yang sengaja ditempatkan bersebelahan. Jendela di masing-masing kamar itu menghadap ke arah timur, sehingga sinar mentari pagi sudah pasti akan masuk jikalau daun jendela terbuka dan tirainya tersibak.


Mantingan mengeluarkan beberapa lembar lontar kosong dan sebuah pengutik dari dalam bundelannya. Terlebih dahulu ia meletakkan benda-benda itu di atas meja sambil pikirannya menyusun kata-kata yang harus dituliskan. Barulah beberapa saat kemudian, tangannya mulai bergerak memainkan pengutik di atas lembar lontar.


***


PINTU KAMAR terdengar diketuk beberapa kali. Mantingan mengangkat pandangan dari lontar dan pengutik di tangannya. Sudah berapa lamakah dirinya terlarut dalam menulis?


Dilihatnya langit yang terhampar di luar jendela. Yang semulanya ia lihat terang tanah, kini berganti menjadi semburat jingga. Betapa diketahui bahwa telah begitu lama dirinya berkutat di dalam naskah kisah perjalanannya sehingga tidak sadar bahwa waktu tetaplah waktu, terus berjalan dan takkan pernah berhenti.


Pintu sekali lagi diketuk. Kali ini dibarengi dengan suara Kana.


“Kakanda! Ketua Rama ingin menjumpaimu di sini!”


“Baiklah. Minta dirinya masuk terlebih dahulu.” Mantingan berucap dengan nada rendah, namun suaranya yang telah disertai tenaga dalam itu mampu terdengar cukup jelas sampai telinga Kana.

__ADS_1


Mantingan membereskan segala alat tulisnya. Pengutik, lontar, hingga bubuk tinta dimasukkan ke dalam laci yang ada di bawah meja. Lalu beranjaklah pemuda itu keluar dari kamarnya.


Mantingan menemukan Rama tengah duduk bersila di ruang tamu, segeralah ia menyambut ketua Perguruan Angin Putih itu.


“Ketua Rama tidak perlu repot-repot ke sini jikalau ada sesuatu,” kata Mantingan setelah menyambutnya. “Biar diriku saja yang menghampiri Ketua.”


Rama tertawa sebentar. “Bagiku, melesat ke tempat ini hanya membutuhkan sedikit waktu. Lagi pula, bakal jadi seperti apakah diriku jika hanya duduk diam di belakang meja? Sesekali, pak tua ini membutuhkan sedikit pemanasan.”


Mantingan tersenyum tipis sebelum kembali berkata, “Ada hal apakah kiranya yang membuat Ketua Rama repot-repot ke sini?”


Rama berdeham beberapa kali sebelum melirik Kana yang duduk bersila tak jauh dari Mantingan. Anak itu lekas mengerti sebelum akhirnya beranjak keluar dari kediaman itu.


“Perbincangan ini akan menjadi sebuah kerahasiaan, Mantingan. Kuharap engkau tidak memberitahukannya kepada siapa pun, termasuk pada Bidadari Sungai Utara pula.”


Setelah melihat Mantingan mengangguk, Rama kembali meneruskan.


“Pelayaran dalam sembilan hari lagi sebenarnya bukan hanya mengantar Bidadari Sungai Utara semata. Engkau telah mengetahui bahwa armada Tarumanagara akan ikut serta, bukan?”


Kembali Mantingan menganggukkan kepala. “Daku sudah mengetahuinya sedari awal, Ketua.”


“Bukankah akan terkesan aneh jika Taruma memberi terlalu banyak perhatian pada Bidadari Sungai Utara?”


Mantingan mengangguk. “Nah, diriku sebenarnya juga merasakan keanehan itu, Ketua. Tetapi daku pikir, hubungan mesra Perguruan Angin Putih dan Negeri Taruma adalah penyebabnya.”


Rama menggeleng lemah. “Meskipun memiliki hubungan mesra, mustahil bagi Tarumanagara mengeluarkan searmada kapal tempur hanya untuk mengantar satu orang saja.”


Mantingan menganggukkan kepalanya. Jelas mengerti bahwa memang sangat sulit Negeri Taruma meminjamkan satu armada kapal perang tanpa keuntungan tertentu. Biaya yang dikeluarkan untuk perbekalan, persenjataan, serta perawatan bukanlah berjumlah sedikit. Terdapat juga risiko kematian awak kapal jika harus berhadapan dengan perompak laut.


“Perjalanan ini akan dimanfaatkan Tarumanagara untuk menyerang markas penyamun di sebuah pulau kecil dekat Hujung Kulon. Mereka akan menyebar kabar keberangkatan Bidadari Sungai Utara, yang sudah tentu menarik perhatian penyamun laut dan penyamun darat, di sanalah armada Taruma akan menyergap mereka dari segala penjuru. Pihak Tarumanagara dapat menjamin keselamatan Bidadari Sungai Utara ....”


__ADS_1


__ADS_2