Sang Musafir

Sang Musafir
Cintanya Tak Dapat Ditawar Lagi


__ADS_3

DARA tersenyum, tetapi sungguh itu bukanlah senyum yang indah untuk dilihat. Dengan segala kedukaan yang tercetak jelas pada wajahnya, senyum itu tampak dipaksakan sama sekali. Tidak ada kebahagiaan, hanya keperihan.


“Daku harus tetap menikahinya. Tidak ada pilihan lain. Kesalahan yang telah daku buat terlalu besar, hanya itulah caraku menebusnya. Pergi pun akan percuma saja, sebab dia akan selalu menemukanku bahkan di lubang cacing sekalipun. Ini bukan sebab dirimu, Mantingan, hanyalah diriku satu-satunya yang bertanggungjawab atas hukuman ini.”


Mantingan menggelengkan kepalanya. Sama sekali tidak setuju. Dara telah berbohong dalam ucapannya itu.


“Janganlah dikau berbohong, Dara. Jelaslah bahwa dikau hendak membantu penyusupanku ke dalam istana dengan menikahi raja! Tidaklah daku hendak mendengar kebohongan darimu.”


Tangisan Dara kembali pecah. Lebih dahsyat sedaripada sebelumnya, tetapi berusaha diredam olehnya dengan menenggelamkan kepalanya ke dalam dada Mantingan.


“Daku ... daku telah mengkhianati dirimu, Mantingan!” kata Dara. “Telah kuniatkan seluruh jiwa dan ragaku untukmu, sebab dikau telah memapas cintaku hingga tidak tersisa sedikitpun untuk kuberikan kepada orang lain bahkan untuk diriku sendiri. Di tengah lautan orang-orang yang memujaku, daku akan tetap merasa kesepian bilamana tak kurasakan adanya dirimu di dekatku. Seolah di dunia yang teramat luas ini, daku hanya memiliki dikau seorang.


“Daku selalu ingin bersama dikau. Kapan pun, di mana pun, dan betapa pun adanya. Bila itu berarti menjadi yang kedua di hati dikau setelah Bidadari Sungai Utara, maka biarlah. Daku tidak mengapa, sebab telah tidak dapat kutawar lagi cintaku!”


Mantingan masih memejamkan mata. Semakin erat pelukannya. Sedang pikirannya mengawang-awang untuk menemukan putusan terbaik dari yang terbaik untuk gadis itu. Tidak akan mungkin Mantingan biarkan begitu saja!


Bagi seorang lelaki seperti dirinya, perasaan adalah sesuatu yang kurang penting dan telah sepatutnya ditepikan dari segala keadaan genting. Yang dibutuhkannya adalah perencanaan, yang harus selalu disertai pelaksanaan, sehingga dapat menyelesaikan segala persoalan dengan cepat dan mujur. Bukannya perasaan!


Namun betapa pun, Mantingan juga mesti menaruh muka pada perasaan Dara yang rupa-rupanya menaruh seluruh cinta hanya kepadanya seorang.


Setelah terdiam beberapa lama untuk meredakan tangisannya, Dara baru kembali melanjutkan perkataannya.

__ADS_1


“Untuk membuktikan betapa diriku telah benar-benar mencintaimu, Mantingan, maka mestilah daku membantumu mencapai tujuan yang dikau inginkan, walau dengan begitu daku harus menggauli orang lain yang selain dikau. Bukankah cinta tidak selalu mesti memiliki?”


Maka begitulah Mantingan segera mengetahui bahwa ucapan itu merupakan penutup dari ceritera panjang Dara yang sungguh penuh kedukaan tiada terkira.


“Dikau tidak boleh melakukan ini. Pergilah jauh-jauh dari Suvarnabhumi. Keluar dari Dwipantara. Kau bisa tinggal di mana saja dengan menyamar sebagai orang lain, lantas membangun kembali perdaganganmu dengan segala kelihaian yang dikau miliki.”


“Tidak usah pikirkan daku yang akan selalu baik-baik saja di sini,” lanjut Mantingan. “Bila dikau hendak mencintai seseorang, maka cintailah dirimu sendiri lebih dulu.”


Dara mengangkat wajahnya, membuat benak Mantingan seketika itu pula terasa perih demi melihatnya.


“Sungguh kucintai dikau jauh lebih besar ketimbang kucintai diri sendiri.” Begitulah katanya kemudian dengan suara yang tidak lagi terisak-isak. Tampak betul bahwa kemantapannya telah bulat, tidak dapat diganggu-gugat. “Akan kulakukan segala hal untuk dirimu, Mantingan. Apa pun itu.”


“Mengapa dikau memiliki perasaan itu padaku?” Mantingan bertanya tajam tepat setelah Dara menyelesaikan ucapannya. “Dari sekian banyaknya lelaki yang memuja-muja dikau hingga rela memberi apa pun yang mereka miliki, tetapi mengapakah dikau justru mencintai diriku yang tidak memuja-muja dikau dan tidak pula bersedia memberikan segala apa kepada dikau?”


“Ketika dikau menyelamatkan daku di tengah belantara hutan Javadvipa waktu itu, sebenar-benarnyalah telah kuberikan seluruh hidupku kepada dikau. Semua yang ada padaku bukanlah milikku, melainkan milik dikau sepenuhnya. Setiap kali daku berdiri di atas panggung, yang teramat meriah dengan sorak-sorai yang menyebut namaku, sesungguhnyalah selalu kupersembahkan semua itu kepada dikau. Tiada yang lain!”


Mantingan menegup ludahnya. Cukup tergetar pula jiwanya ketika kata-kata itu menghunjam masuk ke dalam telinganya. Sungguh dapat ia rasakan betul bahwa gadis itu tidak berbual dengan ucapannya!


Tetapi Mantingan tetap merasa bahwa tindakan Dara telah melampaui batasan. Diingatnya kembali perkataan Kiai Guru Kedai:


“Dirimu adalah bukan milikmu, melainkan milik Sang Gusti sepenuh-penuhnya. Maka janganlah dikau mengabdi kepada sesiapa pun selain kepada Gusti!”

__ADS_1


Mengapakah ucapan Dara justru benar-benar berkebalikan dengan perkataan Kiai Guru Kedai? Bukankah dengan gadis itu menyerahkan seluruh jiwa-raga dan bersedia melakukan segala apa pun untuknya, hal itu justru akan membuat Mantingan menjadi tandingan bagi Sang Gusti?


“Ini tidak benar, Dara. Dirimu bukanlah milikku.” Mantingan melepas pelukan, berganti dengan memegangi kedua pundak gadis itu. Menatapnya tajam-tajam. “Bila dikau mengabdikan diri kepada kebenaran, dan bukannya kepada diriku, maka tentulah akan dikau ketahui bahwa hal ini benar-benar salah.”


“Tidak.” Dara menepis kedua tangan Mantingan dari pundaknya. “Daku akan tetap melakukan apa yang telah menjadi keputusanku.”


“Pertimbangkanlah sekali lagi, Dara. Jangan sampai dikau menyesal di kemudian hari hanya karena terlalu tergesa-gesa ....” Mantingan berkata dengan teramat lemah, sedikit harapan yang tersisa, sebab dengan kemampuan membaca pertanda ia dapat mengetahui betapa Dara tidak akan bisa dihentikan.


“Tidak.” Sekali lagi Dara berkata begitu, tetapi kini dengan mulai mendorong Mantingan menuju pintu di ruangan itu. “Dikau tidak boleh berlama-lama di sini. Bila sampai orang luar menaruh curiga, maka terancamlah pernikahan kami.”


Mantingan seolah kehilangan seluruh kekuatannya. Pasrah saja ketika Dara membukakan pintu dan mendorongnya keluar.


“Percayalah, daku sungguh akan tetap berhasil meski tanpa bantuanmu. Pertimbangkanlah sekali lagi ....”


Dara menatapnya sungguh-sungguh. Hening sebentar. Tiada satupun yang bersuara. Mantingan kembali menegup ludah dengan pahit. Akankah tujuannya mengatakan hal itu, yakni untuk menyakiti perasaan Dara agar pikirannya kembali jernih, telah menemui keberhasilan?


“Satu yang kuketahui kepastiannya, bahwa cinta betapa pun adanya mestilah memiliki pengorbanan."


Tepat setelah mengatakan itu, Dara berhasil mendorong Mantingan keluar dari ruangannya. Dia memberi tanda pada beberapa penjaga yang ada di sekitar, sebelum mereka menyeret Mantingan yang telah kehilangan seluruh daya itu jauh-jauh dari ruangan Dara.


____

__ADS_1


Catatan:


Bagi yang mengkhawatirkan Munding Caraka, tenang saja, sudah saya amankan biar tidak menimbulkan kekacauan esok hari.


__ADS_2