
MASIH TERUS meluncur dengan cepat. Lama mereka tidak menyentuh daratan, membuktikan betapa dalam jurang yang telah mereka selami. Dalam rengkuhan Mantingan masih ada Bidadari Sungai Utara yang tak sadarkan diri. Sedang angin berputar-putar di bawah kaki Mantingan untuk menahan laju jatuh.
Dalam kegelapan pekat seperti ini, yang Mantingan dapat lihat hanyalah wajah Bidadari Sungai Utara tepat di samping telinganya yang terbias cahaya lontar. Namun, pendengarannya bukan berarti mati. Samar-samar Mantingan dapat mendengar suara deburan air. Bukan setetes-setetes air lagi. Ini jelas lebih besar dari sekadar beberapa mata air, ini adalah sungai! Tetapi di manakah sungai itu?
Semakin jatuh ke bawah, semakin jelas suara deburan itu. Mantingan beramsumsi bahwa sungai itu berada tepat di bawahnya, merupakan dasaran jurang. Mantingan bersyukur bukan main. Dengan adanya sungai, kemungkinan mereka dapat keluar hidup-hidup semakin besar.
Mantingan mempererat rangkulannya pada Bidadari Sungai Utara. Angin berputar semakin cepat di bawah kakinya. Sedang Mantingan juga meningkatkan kapasitas ilmu meringankan tubuhnya.
Suara deburan itu semakin dekat nan jelas. Hingga akhirnya, byuuurr! Tubuh Mantingan dan Bidadari Sungai Utara menabrak air dengan kerasnya. Mereka terus menyelam ke dalam, sampai Mantingan menyentuh dasaran sungai itu.
Rasa pedas pada seluruh tubuh hampir membuat Mantingan kehilangan kesadaran, tetapi ia berhasil tetap membuka mata hingga menyentuh dasaran sungai. Mantingan mengentak kakinya kuat-kuat ke bawah, tubuhnya meluncur ke atas permukaan air.
Duhai. Sungguh besar arus sungai yang Mantingan hadapi kali ini. Bermodalkan cahaya dari Lontar Sihir, Mantingan memilih jalur yang aman untuk dilewati. Dalam penglihatannya, ada banyak sekali bebatuan sungai besar yang tajam akibat terkikis derasnya air. Tajam berarti berbahaya jika dipadukan dengan kecepatan laju Mantingan dibawa arus sungai.
Mantingan menggunakan segenap tenaga dalam dan kemampuannya untuk tetap mengambang. Bidadari Sungai Utara jangan sampai lama-lama berada di bawah air, kondisinya yang sedang tidak sadarkan diri dapat membuatnya menelan air tanpa dikehendaki. Beberapa kali Mantingan timbul-tenggelam, tetapi Bidadari Sungai Utara selalu diangkatnya ke atas sehingga mendapat cukup udara.
Kini latihannya di bawah air terjun bersama Kiai Guru Kedai terbukti berguna. Kaki Mantingan telah terbiasa menghadapi arus kuat yang begitu menghanyutkan seperti ini, walau itu berarti ia harus tetap berjuang sekuat tenaga agar tidak tertikam batuan tajam.
Arus sungai kadang membalik lajunya jadi ke belakang, lalu dihempaskan lebih keras kembali ke depan. Mantingan sudah mati sedari tadi jika ia tidak sering-sering melatih pernapasannya. Terkadang ia harus menyelam sangat lama tanpa kembali ke permukaan. Itulah gunanya latihan, yang selintas terasa membosankan tetapi nyatanya sangat berguna di suatu kondisi tertentu.
Sampai saat ini, mungkin sudah ratusan batuan tajam yang Mantingan hindari. Keberhasilannya itu bukan tidak membuahkan hasil. Samar-samar ia melihat sinar mentari di depan. Mantingan sungguh lega, walau dua kaki dan paru-parunya sangat lelah. Ia sudah mencapai batasnya.
Arus sungai melambat saat mereka keluar dari kegelapan abadi. Mantingan tidak pernah sesenang ini saat ia melihat kembali sinar mentari dan birunya langit, saat ia melihat rerumputan dan rindangnya pepohonan. Setelah melewati kegelapan abadi nan panjang, melihat kehidupan luar seperti ini membuatnya sangat bersyukur dan merasa tidak ada pemandangan indah selain pemandangan ini.
__ADS_1
Mantingan berenang membawa tubuh Bidadari Sungai Utara ke tepi sungai. Di sana ia meletakkan tubuh lunglai gadis tersebut di atas batuan dan pasir. Mantingan merayap ke sebelahnya—ia tak sanggup jika harus berdiri.
Mantingan merebah dengan posisi tubuh terlentang. Menatap langit biru dan awan yang bergerak diembus angin. Sangat indah. Mantingan mengembuskan napas panjang, tersenyum, dan menyerahkan semuanya pada alam.
***
Di tepi pantai itu. Seperti biasanya. Senjakala, saat matahari setengah di langit dan setengah di laut. Mantingan menghadap pada Rara. Rambut panjang gadis itu berkibar dimainkan angin, begitu pula rambut Mantingan sendiri.
Rara mendekat padanya. Mengatakan sesuatu dengan jelas, “Kau telah berhasil, Mantingan. Kini kau dapat lebih dekat denganku. Kau telah membuktikan padaku, betapa tulus dan murni hatimu.”
“Aku mencintaimu, Rara, sampai kapanpun itu.” Hanya itu yang dapat Mantingan katakan, dengan sedu.
“Aku tahu itu. Aku jelas tahu.” Wajah Rara terlihat jelas di depannya, tersenyum dengan senang. “Aku juga mencintaimu. Untuk selamanya.”
Namun Mantingan tidak memiliki waktu untuk pusing memikirkan itu, pertanyaan tentang keberadaannya saat ini menuntut dijawab lebih dulu.
Mantingan melihat sekitarnya. Ia berada di sebuah ruangan. Dengan anyaman bambu sebagai temboknya. Tidak memiliki lantai sebagai alas, langsung bersentuhan dengan tanah, sedangkan Mantingan sendiri merebah di atas kasur. Di ruangan ini, selain kasur dan sebuah jendela, tidak ada yang lain lagi.
Mantingan ingin bangkit duduk, tetapi rasa sakit di punggung menahannya melakukan itu. Hampir setiap gerakan yang Mantingan buat selalu menimbulkan rasa sakit pada tulang atau persendiannya. Mantingan menghela napas panjang dan memilih memantau lingkungan di sekitar dengan ilmu pendengaran tajam.
Ia mendengar suara desau angin dan riak air yang samar serta suara langkah yang mendekat, pintu ruangan tiba-tiba dibuka. Mantingan terkejut saat ia melihat Bidadari Sungai Utara yang membuka pintu itu, sudah berganti pakaian dan membawa senampan makanan.
Bidadari Sungai Utara tak kalah terkejutnya melihat Mantingan sudah membuka mata. Dengan langkah cepat dan raut wajah penuh haru, ia mendekat. Nampan berisi makanan diletakkan di atas kasur, sedang dirinya bersimpuh lutut di bawah kasur sebelah Mantingan.
__ADS_1
“Mantingan, kau sudah sepenuhnya sadar?”
Mantingan berpikir beberapa saat, sebelum membuka mulutnya mengiakan. Sebenarnya pertanyaan itu dapat dijawab tanpa perlu banyak berpikir, tetapi Mantingan tidak mau membohongi dirinya sendiri dengan asal mengatakan dirinya sadar sepenuhnya.
“Kalau begitu, kau harus lekas makan, biar cepat sehat.” Bidadari Sungai Utara menarik nampan ke sebelahnya. Mengangkat semangkuk sup dan sendok, bersiap menyuapi Mantingan.
Tetapi Mantingan menggeleng, “Saudari, ini di mana?”
Bidadari Sungai Utara ingin menjawab. Namun sebelum ia berhasil melakukan itu, seorang lagi masuk ke dalam ruangan. Mantingan memperhatikan orang yang masuk itu. Seorang perempuan tua, dengan pakaian sederhana yang serasi dengan rumah sederhana ini, Mantingan mulai menebak-nebak apa yang terjadi.
“Ah, Anak sudah sadar ....” Nenek itu mendekat dengan senyum ramah.
“Ah, Nenek! Mantingan, inikah perempuan baik hati yang telah menyelamatkan kita dengan memberi tumpangan di rumahnya.”
Mantingan sudah menebak jalan ceritanya, maka ia tersenyum ramah pada si nenek tanpa bisa bangkit untuk menghormatinya. “Nenek, terima kasih banyak atas pertolonganmu. Maaf karena aku hanya bisa merepotkan di sini.”
___
catatan:
Ada sebuah pertanyaan dari saya. Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang bisa dijawab kapan saja, bahkan setelah cerita ini tamat dan pembaca baru mulai membaca ini. Jawablah jika berkenan.
Hal apa yang membuat teman-teman menunggu Sang Musafir?
__ADS_1
format: #jawabanuntukwr#