Sang Musafir

Sang Musafir
Rumah yang Dipenuhi Mantra Pengintai


__ADS_3

CHITRA Anggini mengerutkan kening. “Kita tetaplah manusia, Mantingan, betapa pun adanya kita akan merasakan sakit bila sampai digigit banyak nyamuk. Kecuali jika kau memang mau mengalirkan tenaga dalam ke seluruh tubuh hingga pagi datang, itu bukan jadi masalah. Tetapi aku tidak mau berbuat hal tak berguna seperti itu, jadi kelambu ini akan tetap kupasang.”


Mantingan ingin mencegahnya lagi, tetapi Chitra Anggini telah lebih dahulu menurunkan tirai kelambu dan mengikatnya pada tiang-tiang ranjang. Sudah terlambat baginya untuk mencegah perempuan itu.


“Kau tak perlu mengkhawatirkan apa pun. Kita tidak akan berbuat macam-macam, ingatlah pada tujuan yang membuat kita berdua melakukan hal ini semua.” Chitra Anggini jelas mengetahui apa yang Mantingan pikirkan. “Aneh betul kamu ini, Mantingan. Mengapakah seolah aku yang berbahaya di sini? Padahal kaulah yang seharusnya kuwaspadai sebab betapa pun kau adalah lelaki, tetapi mengapa justru sebaliknya?”


“Ini ....” Mantingan hampir kehabisan kata-kata. “Ini sangat bertentangan dengan ajaran guruku, sehingga aku merasa sungkan untuk tidur berdua di satu ranjang yang bertabir tirai kelambu dengan dirimu. Seperti yang telah kaukatakan barusan, aku adalah seorang lelaki, dan betapa pun aku dapat saja dikendalikan keinginan buruk yang tak dapat kutahan lagi. Aku khawatir tanpa terduga akan melanggar kehormatanmu.”


Chitra Anggini menggelengkan kepalanya sambil berdecak beberapa kali. “Sudahlah, sekarang naik ke ranjang. Katakan apa yang perlu dikatakan.”


Mantingan menyibak kelambu lantas duduk bersila di atas ranjang. Chitra Anggini menyusul dan pula bersila di hadapannya.


Mereka saling bertatapan dan di sanalah segera terlaksana sebuah pembicaraan tatap mata.


Mantingan menyampaikan pesan, ‘Terdapat mantra sihir penangkap suara di seluruh bangunan ini. Kita tidak dapat mengatakan segala hal yang berhubungan dengan rencana penyusupan di sini.'


Chitra Anggini menganggukkan kepalanya. Dirinya telah menduga hal itu sejak pertama kali memasuki rumah ini.


‘Segalanya harus diucapkan dalam pandangan mata,’ lanjut Mantingan, ‘tetapi jangan sampai terlihat mencurigakan.’


‘Jika kita bertatapan selayaknya sepasang kekasih, maka seharusnya tidak akan membuat siapa pun jadi curiga,’ balas Chitra Anggini dalam pandangan matanya.


‘Tetapi kita bukan kekasih, maka pandangan mata kita pun tidak dapat saling menatap layaknya sepasang kekasih, dan mungkin hal itu akan dinilai sebagai ketidakwajaran yang pada akhirnya akan membawa pada kecurigaan.’ Mantingan menggeleng pelan sambil mengembuskan napas panjang. Ia berpikiran bahwa jika mereka ingin bertatapan selayaknya sepasang kekasih, maka haruslah terdapat cinta di antaranya, atau tatapan itu akan terlihat tidak wajar dan memancing kecurigaan.


Chitra Anggini hanya mengangkat bahunya meski dirinya tahu betul apa yang menjadi anggapan Mantingan, tetapi dia memilih untuk tidak membahasnya karena mengetahui Mantingan tidak akan menyukai hal tersebut.

__ADS_1


“Sekarang alangkah baiknya bila kita berlatih pernapasan,” kata Mantingan dengan suaranya, dan bukan dengan tatapannya belaka. “Itu akan jauh lebih bermanfaat ketimbang hanya tidur hingga pagi datang.”


“Kau sungguh tidak ingin tidur denganku?” Chitra Anggini menarik kedua alisnya ke atas dengan raut wajah tidak enak, tetapi Mantingan segera memejamkan mata dan mulai berlatih tanpa menghiraukan pertanyaan itu sama sekali.


Chitra Anggini hanya dapat menggeleng pelan sebelum memejamkan matanya dan berlatih pernapasan.


Hanya dalam sekejap mata saja, keduanya telah begitu larut dalam latihannya masing-masing. Chitra Anggini melatih pernapasannya sekaligus memperbaiki kualitas tenaga dalam di tubuhnya, sedangkan Mantingan memilih melatih Ilmu Mendengar Tetesan Embun agar jarak jangkauannya semakin bertambah.


Dalam keadaan seperti ini, Ilmu Mendengar Tetesan Embun jauh lebih dibutuhkan ketimbang apa pun. Dengan ilmu pendengaran tajam yang teramat dahsyat tersebut, Mantingan dapat menyusuri seluk-beluk lingkungan di sekitarnya tanpa perlu pergi ke tempat itu secara langsung, dirinya juga dapat menjangkau suara-suara yang ada di dalam istana kerajaan meskipun tidak dapat menerjemahkan suara-suara itu menjadi bentuk.


Jikalau Mantingan terus berlatih dengan keras, mungkin saja kemampuan menerjemahkan suara menjadi bentuk miliknya dapat menjangkau hingga seluruh atau paling tidak sebagian isi istana kerajaan. Hal itu benar-benar akan memberikannya banyak keuntungan besar.


***


SUARA kokok ayam berkumandang membelah dinginnya udara pagi. Entah untuk membangunkan matahari dari peraduannya, atau justru mataharilah yang membangunkan mereka. Ayam-ayam itu memang sengaja ditempatkan pada Lingkungan Seribu Rumah Istana untuk membangunkan para penghuninya yang berupa dayang serta prajurit, sekaligus pula agar mereka merasa seperti berada di kampung halaman.


Chitra Anggini masih duduk bersila di depannya dengan mata terpejam khidmat. Rambutnya digelung ke atas, menampilkan rupa wajahnya yang begitu jelita tak berpenawar, sekaligus pula leher jenjangnya yang teramat memikat mata.


Untuk sejenak, Mantingan terlena dengan pemandangan di hadapannya itu. Tetapi dirinya segera dapat menguasai diri dan mengusir segala pikiran buruk yang mengendap di kepalanya.


Tetiba saja terdengar suara kentungan yang dipukul keras berkali-kali, yang sungguh dapat menimbun suara kokok ayam jantan. Begitu menggema. Di saat yang bersamaan, Chitra Anggini membuka matanya dan segera mengernyitkan dahi ketika melihat Mantingan sedang memandanginya.


“Mengapa kau menatapku?” selidik perempuan itu.


“Ada aliran tenaga dalam kotor di dalam tubuhmu. Jika tidak segera dikeluarkan, mungkin itu akan menyumbat jalur cakramu dan akan lebih mengerikan lagi kalau-kalau hal itu terjadi saat kau sedang bertarung.” Mantingan tidak berbohong, dirinya memang memperhatikan tanda-tanda tidak wajar pada warna kulit Chitra Anggini. “Kau terlalu memaksakan diri dengan menghisap seluruh tenaga dalam yang ada di sekitar tanpa menyaringnya terlebih dahulu.”

__ADS_1


“Berisik,” desis Chitra Anggini. “Kalau kamu tidak bisa membersihkannya, lebih baik tidak usah banyak bicara.”


Tanpa banyak kata lagi, Mantingan segera menempelkan lengan kirinya di bahu gadis itu, tentulah bahwa lengan kanannya masih tidak dapat digunakan untuk mengalirkan tenaga prana!


Aliran prana mulai merebak masuk ke dalam tubuh Chitra Anggini dan memberikan perempuan itu suatu perasaan hangat yang teramat nyaman dan menenteramkan pikiran. Sedikit demi sedikit dirinya terbuai, mulai memejamkan mata untuk menikmati segala perasaan hangat itu.


Namun, Mantingan tidak berlama-lama mengalirkan tenaga prana-nya pada perempuan itu. Sekejap setelah selesai melakukan pembersihan jalur cakra Chitra Anggini dari tenaga dalam kotor, ia kembali mengangkat lengan kirinya. Kini telapaknya tampak diselimuti cairan berwarna hitam pekat.


Cairan hitam pekat itu bukanlah tenaga dalam, sebab betapa pun adanya tenaga dalam tidak dapat hadir dalam rupa fisik, maka cairan tersebut adalah darah yang telah mengikat seluruh tenaga dalam kotor pada tubuh Chitra Anggini. Ketika darah itu dipaksa keluar dari tubuhnya, maka akan berubah menjadi racun yang cukup mematikan.


Ada banyak pendekar golongan hitam yang memakai cara ini untuk memperoleh racun, maka biasanya mereka menculik satu-dua orang untuk disedot habis darahnya.


Mantingan segera membersihkan darah hitam dari telapak tangannya itu dengan tenaga dalam hingga menguap menjadi asap.


____


Catatan:


Case handphone seri Sang Musafir resmi mengudara di Sh*p*e! Harga terjangkau kualitas terjamin, kunjungi melalui link singkat di bawah ini:


bit.ly/casehpwr


Contoh dari salah satu varian yang tersedia:


__ADS_1




__ADS_2