
Mantingan pun segera memasang Lontar Sihir Pelindung pada badan pintu. Dalam seketika aksara-aksara bercahaya mengambang di jarak setengah jengkal dari pintu tersebut. Mantingan juga memasang beberapa Lontar Sihir Penjebak di sekitaran lorong penginapan.
Ketika pemuda itu kembali berkelebat menuju luar jendela kamar yang tadi dilaluinya, suara tanda bahaya berupa kentungan dan canang kembali terdengar mengoyak udara!
***
MANTINGAN menapak sekali pada bingkai jendela, membawa tubuhnya terbang ringan menuju atap penginapan.
Barang sejenak pendekar-pendekar dari Pasukan Topeng Putih memandanginya yang tiba-tiba saja muncul dari bawah. Betapa mereka mengetahui bahwa Mantingan baru saja menghadapi sebuah pertarungan singkat di dalam penginapan dan berhasil memenangkannya, namun mereka tidak mengetahui dan merasa tidak perlu untuk mengetahui siapakah lawan yang pemuda itu hadapi.
Mantingan mendarat dengan ringan di tempatnya semula, tepat di tengah-tengah atap Penginapan Bunian Malam. Matanya memandang jauh ke arah selatan. Tanda bahaya masih terus dibunyikan, akan tetapi sama sekali tidak disertai oleh panah sendaren—yang diartikan sebagai tanda meminta bantuan, sebab pendekar-pendekar di lautan pun masih kesulitan menghadapi terjangan musuh, sangat tidak memungkinkan untuk dimintai bantuan.
“Pasukan Macan Gunung, mereka telah datang, Saudara Muda,” berkata sang hulu balang di samping Mantingan, “tetapi agaknya mereka sedang menunggu kita untuk membuka menyerang lebih dulu.”
Mantingan menyadari keberadaan pendekar-pendekar yang bersembunyi di balik rimbunnya pepohonan setelah memasang Ilmu Mata Elang. Ia pun menganggukkan kepalanya tanda paham.
“Apakah yang Saudara Tua rencanakan?” Mantingan bertanya sebelum memasang topengnya kembali di wajah.
“Kita akan tetap menunggu di sini,” jawab pimpinan pasukan itu. “Saat ini kita kalah secara jumlah dan bahkan kekuatan. Lebih dulu membuka serangan adalah tindakan bunuh diri.”
Mantingan dapat mengerti keadaannya. Akan tetapi tentunya ia tidak mengesampingkan kebenaran bahwa mungkin saja musuh tidak bersembunyi untuk menunggu Pasukan Topeng Putih menyerang, melainkan untuk menunggu pasukan lainnya tiba di sana sebelum akhirnya maju menyerang.
Sebenarnya akan sangat mudah menyerang sebuah pasukan yang tidak lengkap kekuatannya. Akan tetapi, saat ini Pasukan Topeng Putih tidak akan melakukan itu kecuali telah mendapatkan keterangan yang jelas atas alasan pasukan musuh bersembunyi. Dan saat itu dan di tempat itu pula, tiada satupun orang yang dapat mengetahuinya, bahkan tidak dengan Mantingan sekalipun. Sang hulubalang telah bijak dengan tidak berjudi nyawa.
Mantingan kemudian mengeluarkan semua Lontar Sihir yang tersisa di dalam kotak lontarnya. Semua Lontar Sihir itu diletakkannya di atas genting. Sang kepala pasukan tampak heran dengan apa yang dilakukannya itu.
__ADS_1
“Lontar-lontar ini memiliki kegunaannya masing-masing, tetapi semuanya bermanfaat.” Mantingan tersenyum kaku saat menghadapi tatapan pimpinan pasukan itu. “Ada sepuluh Lontar Sihir Penjebak, tiga Lontar Sihir Penyerang, dan sembilan sisanya adalah Lontar Sihir Pelindung. Apakah Saudara Tua mengetahui cara memakai lontar-lontar ini?”
Hulubalang itu tampaknya tidak mengetahuinya, namun dia memanggil salah satu prajuritnya. “Bajing, dikau menguasai persihiran, bukan?”
“Daku masih terus belajar, Bapak Hulubalang, tetapi boleh dikata daku mengetahui dan bisa mengendalikan mantra sihir.” Pendekar yang agaknya dipanggil menggunakan nama samaran itu menjawab dengan sigap.
“Kalau begitu kauurus semua Lontar Sihir ini, Bajing. Gunakanlah dengan sebaik mungkin, kutahu bahwa kita akan terbantu dengan lontar-lontar ini.”
Pendekar itu kemudian menyisir puluhan Lontar Sihir di bawahnya dengan tatapannya. Lantas dia menganggukkan kepala.
“Semua Lontar Sihir ini tidak ada yang tidak bagus. Bapak Hulubalang tenang saja. Dengan lontar-lontar ini, jumlah korban di pihak kita bisa banyak dikurangi.” Tetapi selanjutnya, dia mengeluarkan pertanyaan, “namun sebelum itu, daku harus terlebih dahulu mengetahui dari manakah lontar-lontar ini didapatkan. Sebab bayak Lontar Sihir palsu buatan musuh yang justru akan sangat amat merugikan kita, Bapak.”
“Semua lontar ini berasal dari Saudara Man.” Sambil menjawab, sang pimpinan pasukan menunjuk Mantingan. “Engkau sama sekali tidak perlu mengkhawatirkannya. Dan jangan bertanya lagi, kita tidak memiliki banyak waktu. Segera kauatur lontar-lontar ini sebaik mungkin.”
“Kumengerti dan kulaksanakan, Bapak.” Pendekar itu lalu beralih pada Mantingan. “Wahai, Saudara Man. Daku sudah lama mendengar sepak terjangmu di telaga persilatan, dan benar kenyataannya bahwa Lontar Sihir yang engkau hasilkan selalu berkualitas tinggi.”
Menanggapi teguran dari hulubalang, Bajing hanya tertawa pelan. Sedangkan itu, Mantingan yang tidak tahu harus menanggapi apa hanya bisa tersenyum canggung di balik topengnya.
“Lontar-lontar ini kuambil, Saudara Man.” Pendekar itu menunduk untuk mengambil semua Lontar Sihir yang berjejer di atas genting penginapan. “Ya, ya, ini semua Lontar Sihir yang bagus. Jarang kulihat Lontar Sihir dengan mantra sekuat ini. Sayang sekali harus segera digunakan dalam pertempuran.”
“Saudara, jangan lupa untuk mengambil darah dari seluruh prajurit kita.” Mantingan kemudian mengeluarkan selembar Lontar Pengatur. “Wadahkan di tempat ini barang setetes darah dari masing-masing prajurit.”
Bajing segera menerimanya. “Baiklah, daku mengerti.”
Pendekar muda itu berlalu dengan membawa seluruh Lontar Sihir sambil terus bergumam tentang betapa bagusnya Lontar Sihir buatan Mantingan. Sedangkan itu, Mantingan hanya bisa menatapnya dari jauh. Ia cukup kagum juga pada sikap tenang dari pendekar muda itu yang seolah saja tidak ambil peduli apakah dirinya akan mati hari ini atau tidak. Begitukah sikap sebenarnya dari seorang prajurit khusus?
__ADS_1
Mantingan teringat cerita gurunya tentang sebuah regu Pasukan Topeng Putih yang begitu luar biasa sampai-sampai menjadi hikayat di Perguruan Angin Putih:
“Kisah ini terjadi belasan tahun silam,” kata Kiai Guru Kedai waktu itu, “ketika penyamun-penyamun kambuhan membajak kota di wilayah Bitung Giri.
“Seregu Pasukan Topeng Putih dikirim untuk menyelamatkan kota itu. Sebab memang tidak banyak prajurit pendekar di kota itu maupun di kota tetangga, membutuhkan waktu yang cukup lama jika menunggu pendekar kiriman dari kotaraja.”
Mantingan ingat bahwa saat itu dirinya bertanya, “Mengapakah tidak menggunakan balatentara prajurit biasa saja?”
“Semua dari mereka yang menyamun merupakan pendekar-pendekar tingkat menengah, beberapa di antaranya bahkan mencapai tingkat ahli.”
Sambil mengingat, Mantingan memandangi seluruh regu Pasukan Topeng Putih yang tersisa di sekitarnya.
“Satu regu itu nekad menyerang meskipun tugas mereka hanya mengawasi saja. Kala itu, para wanita mulai dicoreng kehormatannya,” gurunya melanjutkan. “Setelah pertempuran meletus, semua pendekar di regu itu bersimbah darah; entah itu darah musuh atau justru darah mereka sendiri. Pakaian yang semulanya putih selayaknya mega-mega, saat itu menjadi merah selayaknya senjakala sehabis diguyur hujan. Meskipun luka telah memenuhi badan, mereka tetap menggunakan segenap kemampuan untuk terus menyerang. Kota itu dapat terselamatkan, termasuk wanita-wanita di dalamnya, tetapi tidak satupun pendekar dari regu itu yang tidak gugur sebagai pahlawan.
“Mereka semua memang sudah lama mati. Tetapi kepahlawanan mereka tetap hidup dalam kisahnya, buat selama-lamanya.”
Mantingan mengangkat pandang. Akankah puluhan Pasukan Topeng Putih di sekelilingnya itu akan menjadi hikayat di suatu saat nanti? Mantingan tahu dengan jelas, bahwa dari keseluruhan yang ada, tidak akan banyak yang masih bisa melihat matahari esok hari. Dengan kata lain, beberapa dari mereka akan mati dalam pertempuran ini.
Bahkan tidak menutup kemungkinan bahwa semua dari mereka akan mati di pertempuran ini.
Dapatkah kiranya mereka menjadi sebuah hikayat kepahlawanan yang bukan saja dikumandangkan di Perguruan Angin Putih, melainkan pula seluruh Tarumanagara di masa mendatang?
Lihatlah bagaimana jubah mereka yang awalnya berwarna putih bagaikan mega-mega itu telah berubah menjadi merah pekat bagaikan senjakala sehabis diguyur hujan deras. Lihatlah bagaimana mereka berdiri tegar menyampir pedang, meski harapan untuk dapat menang sangatlah kecil.
Mantingan ingat ucapan Kiai Guru Kedai selanjutnya, yang langsung segera membuatnya mengharu-biru:
__ADS_1
“Sehebat-hebatnya seorang pahlawan adalah dia yang tetap berjuang keras meski kekalahan telah terpampang jelas di ambang pintu.”