
ITU ADALAH suara isak tangis Bidadari Sungai Utara. Lemah bersandar pada dinding kamar. Perlahan tubuhnya merosot bagai air mata yang merosot di pipinya.
Mantingan tidak peduli lagi sekalipun tubuhnya masih sulit digerakkan. Seakan mendapat kekuatan dari langit, Mantingan melompat turun dari ranjangnya. Berkelebat menghampiri Bidadari Sungai Utara.
“Saudari, ada apakah?!” Mantingan bertanya buncah.
“Biarkanlah diriku, Mantingan. Tinggalkan diriku. Kali ini kumohon, tinggalkan aku.” Bidadari Sungai Utara menepis uluran tangan Mantingan.
“Sasmita, ada apa?” Tindakan Bidadari Sungai Utara membuatnya semakin khawatir.
Bukannya menjawab, Bidadari Sungai Utara justru berlari meninggalkannya. Mantingan hendak mengejarnya, tidak peduli dengan rasa nyeri di seluruh tubuhnya. Namun Ketua Rama telah menangkapnya terlebih dahulu. Mantingan sempat memberontak dan menanyakan alasan atas tindakan pria tua itu, akan tetapi tenaga Rama terlalu besar untuk dilawan.
“Anakmas yang sabar. Tenangkan diri. Tidak perlu mengejar Bidadari Sungai Utara, gadis itu membutuhkan kesendirian. Sabarlah, Anakmas.”
Mantingan tidak lagi memberontak, namun dirinya tidak bisa untuk tidak menahan pertanyaan, “Apakah yang sebenarnya terjadi, Ketua? Mengapa Ketua seolah mengetahui penyebab gadis itu menangis tetapi mencegahku untuk mengetahuinya?!”
“Kembalilah ke ranjangmu, Anakmas. Dirimu masih belum pulih sepenuhnya. Jangan terlalu gegabah, atau Anakmas akan membuat perempuan itu semakin menyesal nantinya.” Ucapan Ketua Rama mengandung nada memerintah yang tegas, membuat Mantingan merasa tidak memiliki pilihan lagi selain menurut.
Maka setelah Mantingan duduk di sisi ranjangnya, Ketua Rama bercerita, “Dua puluh pemuda yang gagah berani itu bukanlah pendekar, Anakmas.”
Mantingan merasa Ketua Rama sama sekali tidak menjawab pertanyaannya, namun dengan rasa hormat dirinya menimpali, “Lalu mengapakah mereka dapat menahan ribuan pendekar bersenjata racun?”
“Karena mereka tidak sendirian.”
“Apa maksud Ketua? Ada berapa banyak pemuda yang ikut menahan gempuran musuh? Apakah ada salah satu dari pemuda itu yang disukai Bidadari Sungai Utara?”
“Tenangkan dirimu, Anakmas. Kusebutkan ada dua puluh pemuda, tetapi tidak kusebutkan bahwa telah turut seerta seorang wanita tua, yang tubuhnya tidak lagi muda tetapi jiwanya tetap muda sampai kapanpun.”
Mantingan terdiam sebentar. Dirinya memilih untuk tidak percaya pada pikiran buruknya. “Siapakah wanita tua itu, Ketua?”
“Wiranti, Anakmas. Pendekar Daun Pahit. Dialah satu-satunya wanita tua yang arah larinya bukan ke tempat pengungsian, melainkan ke gelanggang pertempuran.”
Tubuh Mantingan seolah menjadi paku. Termenung, tak bergerak. Betapa kenyataan ini sulit diterimanya. “Apakah yang dimaksud itu adalah Ibu Wira, pemilik Toko Obat Wira?”
__ADS_1
Pria tua itu mengangguk. “Benar. Dalam dunia persilatan, dirinya dikenal sebagai Pendekar Daun Pahit.”
Tiba-tiba saja ia tak bisa mengeluarkan suara. Mantingan sama sekali tidak memperhitungkan keberadaan Ibu Wira karena menyangka perempuan tua itu bukanlah sesosok pendekar. Sehingga dirinya meninggalkan Ibu Wira di dalam desa yang penuh marabahaya.
Barang tentu dalam keadaan marabahaya di desanya, pendekar murah hati seperti Ibu Wira tidak akan tinggal diam. Pikiran-pikiran buruk lain masuk ke dalam kepalanya.
“Apakah Ibu Wira ....” Sungguh, Mantingan tidak sanggup meneruskan perkataannya.
“Benar, Anakmas.”
Mantingan melihat raut wajah Ketua Rama yang penuh rasa sesal. Tidak ada tanda-tanda bahwa pria tua itu membohonginya. Tetapi Mantingan merasa jauh lebih gembira jika pria tua itu berbohong. Meskipun pada kenyataannya tidak begitu.
“Dan itulah yang membuat Bidadari Sungai Utara menangis, Anakmas.” Ketua Rama meneruskan. “Janganlah Anakmas turut larut di dalam kesedihan, itu hanya akan memperburuk keadaannya.”
Bagaimana bisa Mantingan tidak bersedih hati? Sedihnya lebih dari sekadar duka, melainkan luka. Mantingan terluka dari dalam. Kematian Ibu Wira sungguh tidak dapat diterimanya.
Begitu banyak kenyataan buruk yang harus ia terima, tetapi mustahil menerima kenyataan yang satu ini.
“Aku mengetahui bahwa Anakmas adalah pemuda yang kuat. Salah satu dari sedikit pemuda terkuat yang pernah kukenal.” Ketua Rama berdiri, merasa lebih baik meninggalkan Mantingan. “Jika Anakmas telah bisa mengendalikan diri dengan baik, temuilah Kiai Kedai di lantai bawah.”
***
BUTUH WAKTU dua malam bagi Mantingan untuk meninggalkan segala kesedihannya. Betatapun Ibu Wira gugur sebagai pahlawan. Tidak patut disesalkan. Karena tidak semua orang bisa mati sebagai pahlawan perang.
Pagi itu, dirinya berdiri di belakang jendela. Siap menerima segala sesuatu yang semestinya dilihatnya.
Teruntuk pertama kalinya setelah sekian lama, Mantingan menghela napas panjang.
Segala yang dilihatnya adalah kehancuran. Tiada lagi rumah yang berdiri selain rumahnya sendiri dan rumah Wiranti.
Semuanya hangus terbakar tanpa terkecuali, rata dengan tanah.
Sedangkan kebunnya pun masih utuh tanpa tersentuh api.
__ADS_1
Tetapi setidaknya Mantingan bisa tenang. Pasukan Taruma dan pendekar-pendekar Perguruan Angin Putih bahu membahu menciptakan pemukiman baru. Begitu pula dengan penduduk desa yang turut ambil andil.
Setelah berhasil menenangkan diri dari segala kehancuran yang dilihatnya, Mantingan beranjak turun ke lantai dasar. Tampak Kana dan Kina tengah duduk termenung di belakang meja ruang utama. Mantingan segera menyapa mereka dengan hangat.
“Kak Maman!!!”
Mereka berlari dan memeluk Mantingan. Pemuda itu membalas dengan pelukan hangat pula. Selintas kemudian, Kana dan Kina menangis terisak-isak.
“Mengapakah menangis?” Mantingan bertanya lembut.
“Kaka Man, Ibu Wira ... Ibu Wira ....”
“Sudahlah.” Mantingan mengelus kepala Kana. “Ibu Wira gugur sebagai pahlawan, untuk apa kalian bersedih?”
Kina yang membalas, “Karena Ibu Wira tidak lagi bersama kami.”
Mantingan tersenyum sedih. Betapa dua bocah ini harus menghadapi kerasnya hidup, yang bahkan jarang dihadapi oleh orang dewasa sekalipun. Mantingan mengelus kepala mereka dan berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja.
“Kaka Man, aku tidak bisa melupakan Ibu Wira, bagaimana semuanya bisa baik-baik saja?”
“Mengapakah engkau berpikir kita harus melupakan Ibu Wira, wahai Kana yang gagah berani?”
“Mungkin itu adalah maksud Kaka, semuanya akan baik-baik saja setelah kita berhasil melupakan Ibu Wira.”
“Tidak. Kita tidak akan melupakan Ibu Wira. Kita tidak boleh melupakan Ibu Wira, itu tindakan penuh dosa. Kita harus mengenang Ibu Wira sampai kapanpun." Mantingan tersenyum lebar. "Selama Ibu Wira menancap ke dalam jiwa kita, maka beliau tidak akan pernah mati. Beliau akan abadi di dalam diri kita semua, selama kita masih mau menerimanya.”
“Bagaimanakah itu bisa dilakukan, Kaka Man?” Kana bertanya dengan isak tangis. “Setiap kali daku mengingat Ibu Wira, maka pikiranku akan berubah menjadi teramat sangat kacau balau. Diriku akan kecewa karena tidak bisa melindungi Ibu Wira. Dan mengapakah diriku tidak ikut mengangkat pedang bersama Ibu Wira? Apa kegunaan ilmu yang diajarkan Kaka Man selama ini? Tiada gunanya, sungguh tiada. Daku telah mengecewakan semuanya. Daku pantas dirajam sampai mati!”
Masih dengan suara lembut, Mantingan berkata, “Perkataanmu itu sama sekali tidak disukai Ibu Wira. Jangan berkata seperti itu lagi. Cukuplah kita tersenyum kepadanya. Dengan senyuman hangat, kita telah membuktikan bahwa beliau belum mati. Bayangkan jika Ibu Wira masih hidup hingga sekarang, apakah dia akan senang melihat kalian menangis?”
Kana dan Kina menggeleng di dalam pelukan Mantingan. Jelas Ibu Wira tidak suka dengan anak yang sering menangis.
“Kalau begitu, dirinya jauh lebih senang jika kalian tersenyum riang. Sekarang tersenyumlah, seolah Ibu Wira benar-benar akan melihat senyuman kalian.”
__ADS_1