
Kartika meringis menahan kesakitan, membuat beberapa pemain wayang yang melihatnya tidak tahan untuk bergerak mendekat. Namun, kepada mereka Mantingan memberikan tatapan tajam. Langkah kaki mereka terhenti seketika sebab tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa Kartika hanya karena tindakan gegabah mereka.
Mantingan bukannya tanpa sebab saat memberi tatapan tajam pada mereka. Ia dapat membayangkan, betapa perempuan-perempuan itu akan menangis tersedu-sedu di samping tubuh Kartika yang merebah tanpa daya. Barang tentu hal seperti itu akan mengganggu pemusatan pikirannya, yang dapat berujung pada kegagalan dalam penarikan racun. Itu akan membahayakan Mantingan sekaligus Kartika.
Waktu seolah saja melambat. Setiap kejapan matanya seolah berlangsung satu tahun. Sangat menegangkan. Kedua telapak tangan Mantingan semakin menghitam, bahkan kehitamannya telah mengalahkan kehitaman langit malam.
Chitra Anggini pun dapat melihat hal itu, lantas menambah jumlah tenaga dalam yang dialirkan ke punggung Mantingan melalui telapak tangannya. Kini wajah perempuan muda bertampang jelita itu basah oleh peluh, yang sedemikian pula dengan tubuhnya. Namun, dia tidak tampak lelah sama sekali. Matanya bersinar penuh tekad yang besar. Jelas saja perempuan itu tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Mantingan maupun Kartika. Kedua orang itu teramat sangat berharga dalam hidupnya, dan kini mereka sama-sama berada dalam bahaya; bersama-sama melewati waktu yang menegangkan!
***
SEPEMINUMAN teh penuh ketegangan berlalu. Mantingan mengangkat kedua telapak tangannya dari dada Kartika. Kini hampir seluruh racun yang semulanya terkandung dalam tubuh Kartika telah pindah ke telapak tangan sebelah kiri Mantingan.
“Lepaskan tanganmu dari punggungku.” Mantingan berkata pada Chitra Anggini di belakangnya, yang langsung saja dituruti perempuan itu.
Mantingan harus membuang seluruh racun di telapak tangannya itu sesegera mungkin setelah penarikan berhasil. Jika tidak begitu, maka telah pasti lengan kirinya itu akan membusuk, dan racun akan segera menyebar ke seluruh tubuh untuk mengantarnya ke alam baka.
Saat kegiatan itu berlangsung, selain dari telapak tangannya, sebagian kecil dari racun itu akan keluar melalui pori-pori di seluruh tubuh Mantingan. Hal itulah yang membuatnya mesti melepaskan pakaian, yang tidak akan aman dipakai lagi jika sudah bercampur dengan racun. Pakaiannya terlalu berharga, itu adalah pemberian Kiai Guru Kedai. Sedangkan untuk celananya, sekalipun Mantingan merasa bahwa benda itu masih cukup berharga, sudah barang tentu ia tidak dapat melepaskan celananya di hadapan ratusan perempuan yang sedang teramat sangat memperhatikan segala gelagatnya!
“Ambilkan bumbung air di dekat bundelanku.” Mantingan kembali mengarahkan. Dirinya tidak sempat menyusun kalimat yang lebih apik untuk meminta tolong kepada Chitra Anggini, saat ini keadaannya masih sangat genting. Perhatiannya tidak boleh terpecah agar penahan racun di telapak tangan sebelah kirinya tidak pula pecah!
Tidak perlu waktu lebih dari sekejap mata bagi Chitra Anggini untuk mengantarkan bumbungan air yang Mantingan maksudkan. Segera saja Mantingan membuka bumbung buluh itu menggunakan lengan kayunya, sebelum memasukkan jari telunjuk sebelah kirinya ke dalam bumbungan.
Perlahan tetapi pasti, cairan racun mengucur keluar melalui jari telunjuknya, menyatu dengan air yang ada di dalam bumbungan. Mulai dari saat ini, Mantingan dapat bernapas lega.
Matanya memandang ke arah Kartika yang tak sadarkan diri setelah menahan rasa sakit sedemikian rupa. Perempuan itu bebas dari bahaya, tetapi tidak berarti bahwa dirinya lantas menjadi sehat dan bugar dalam waktu singkat. Tidak semua racun di dalam tubuhnya dapat Mantingan angkat.
__ADS_1
“Angkatlah kakak kalian.” Mantingan berkata dengan disertai tenaga dalam sehingga dapat terdengar oleh seluruh perempuan wayang yang mengerumuninya dari jarak jauh. Mantingan melanjutkan, “rebahkanlah dia di dalam tenda. Selalu pastikan kepalanya terangkat cukup tinggi.”
Maka begitulah ratusan pemain wayang menghambur ke arah Kartika dengan penuh keharuan. Mantingan sampai harus berkelebat ke atas untuk menghindari kerumunan itu. Ia kemudian hinggap pada salah satu dahan pohon besar di dekat lapangan, dengan jari telunjuknya tetap mengucurkan racun di dalam bumbungan. Mantingan hanya bisa menggeleng pelan tanpa merasa perlu marah atas tindakan perempuan-perempuan itu yang teramat sangat serabutan; ia pula maklum bahwa perasaan perempuan tidaklah sekeras lelaki.
Chitra Anggini hinggap tepat di sebelah Mantingan. Perempuan itu memandangi ratusan kawan-kawannya yang tengah menangis penuh kebahagiaan. Seulas senyum tampak di bibir ranumnya.
“Kurasa seluruh rahasia dikau telah terungkap, Mantingan.”
Tentu yang dimaksud oleh Chitra Anggini adalah bahwa percakapan mereka tidak lagi perlu dilangsungkan dengan penuh kerahasiaan.
“Senang kembali bertemu denganmu, Chitra.” Mantingan membalas tanpa menoleh, tetapi senyumnya mengembang.
“Daku telah mencari dikau di seluruh Suvarnabhumi,” lanjut Chitra Anggini, “lima bulan lamanya.”
“Adakah suatu kepentingan?” Mantingan paham bahwa Chitra Anggini tidak akan melakukan hal semenyusahkan itu tanpa adanya suatu kepentingan tertentu.
“Kepentingan Perguruan Angin Putih?” Mantingan bertanya dengan heran; sedangkan jari telunjuk di lengan kirinya masih mengucurkan racun sedikit demi sedikit. “Kepentingan seperti apa?”
“Kepentingan yang sama sekali tidak penting,” kata Chitra Anggini, kali ini dengan nada kesal, “daku diminta untuk sekadar menjagamu.”
Mantingan mengangkat alisnya. “Dikau ... hendak menjagaku?”
“Lucu sekali. Daku diminta untuk menjaga seorang Pemangku Langit seperti dirimu, bukankah itu hanya akan membuatku tampak tidak berguna sama sekali?” Chitra Anggini menarik napas panjang. “Bapak Rama berkata bahwa dikau kehilangan lengan kanan, tetapi sepertinya itu hanyalah kebohongan untuk membuatku mau menerima permintaannya.”
“Beliau tidak berkata bohong, diriku memang sempat kehilangan lengan kanan.” Mantingan tersenyum lebar. “Tetapi Bapak Balian berhasil membuatkanku sebuah lengan tiruan.”
__ADS_1
Ketika itulah, untuk yang pertama kali semenjak dirinya hinggap di dahan pohon besar itu, Chitra Anggini menoleh ke arah Mantingan. Diperhatikannya lengan kanan pemuda itu lamat-lamat, hingga akhirnya ditemukanlah bahwa jari-jemari lengan itu tampak seperti terbuat dari kayu.
“Penempa kenamaan itu memang sering menciptakan keajaiban yang tidak pernah disangka-sangka sebelumnya.” Chitra Anggini mengangguk pelan. “Dan untuk itulah dikau bertujuan ke Lembah Balian.”
“Bapak Balian menghilang begitu saja bagai ditelan bumi,” desah Mantingan, “daku harus segera menemuinya, atau paling tidak sekadar mendengar kabarnya.”
“Dikau tidak akan mendapatkan itu di Lembah Balian.”
Mantingan mengerutkan dahinya dengan heran. Segera saja dipandanginya Chitra Anggini dengan sejuta pertanyaan. Apakah yang terjadi di Lembah Balian? Mengapakah dirinya tidak dapat menemui atau paling tidak sekadar mendengar kabar tentang Tapa Balian?
“Tapa Balian tidak ada di Lembah Balian.” Chitra Anggini kembali berkata setelah menyadari tatapan Mantingan kepadanya. “Tidak ada yang tahu pasti di mana dirinya berada.”
Mantingan bagai tersambar petir. Pernyataan Chitra Anggini begitu menggetarkannya. Tidak mungkin jika perempuan itu berkata bohong! Namun, Mantingan segera memaksa pikirannya untuk kembali tenang, sebab betapa pun masih ada kemungkinan penahan racun di lengan kirinya akan pecah akibat kebuncahan!
“Apakah yang terjadi sebenarnya, Chitra?”
“Tidak satupun dari kami mengetahuinya.” Chitra Anggini menggeleng lemah. “Tujuan kami pergi ke tempat itu adalah untuk mengumpulkan keterangan, dan sekaligus untuk mencuri sebuah senjata pusaka.”
Mantingan menatap Chitra Anggini dengan pandangan yang sulit diartikan. “Lembah Balian pastinya menyimpan banyak senjata pusaka. Untuk itulah ada seribu prajurit Koying yang berjaga di sana.”
“Dan mengalahkan mereka adalah hal yang mudah bagi kami,” timpal Chitra Anggini.
“Dan mungkin tidak akan mudah jika diriku turut menjaga tempat itu.”
Chitra Anggini memberi tatapan menusuk ke sepasang mata Mantingan, lalu berkata lambat dengan penuh penekanan, “Jadi dikau hendak memerangi diriku yang telah jauh-jauh ke Suvarnabhumi hanya untukmu?”
__ADS_1
Maka begitulah kemudian Mantingan membalas pula dengan suara lambat tetapi penuh penekanan, “Daku tidak akan pernah ragu memerangi siapa pun yang berani mengusik orang-orang yang kusayangi.”