Sang Musafir

Sang Musafir
Kunjungan Bidadari Sungai Utara


__ADS_3

BIDADARI SUNGAI Utara sebenarnya tidak tahu harus menerima ataukah kembali menolak halus. Namun Mantingan tidak mau memberinya lebih banyak waktu untuk berpikir, pemuda itu telah lebih dulu pergi meninggalkan ruang pengobatan dengan cepat.


Bidadari Sungai Utara hanya bisa menerimanya dan menghela napas panjang. Ia akan rugi jika Mantingan tidak membayar. Tentu saja, gadis itu lebih memilih pergi ke rumah Mantingan ketimbang harus menanggung biaya pengobatan pemuda itu.


Setelah sekali lagi menghela napas panjang, gadis itu melanjutkan pekerjaannya.


***


MANTINGAN TELAH mengingatkan Kana dan Kina. Jika mereka ditanya mengenai siapa nama Mantingan, maka mereka harus menjawab Jaya. Berulangkali Mantingan menekankan pada dua bocah itu, dan berulangkali pula Kana dan Kina mengiyakan dengan kesal.


Pada petang menjelang malamnya, Kana melaporkan bahwa orang yang sedari tadi mereka tunggu telah datang. Bidadari Sungai Utara. Mantingan segera berjalan menghampiri gadis itu di depan gerbang


“Terima kasih Saudari telah sudi datang, masuklah.” Mantingan tersenyum ramah.


“Saudara, cukuplah daku sampai di sini saja. Tidak perlu masuk.” Bidadari Sungai Utara membalas senyuman ramah Mantingan dengan gelengan kepala.


Mantingan pura-pura memudarkan senyumnya. “Mengapakah, Saudari?”


“Daku tidak ingin merepotkan dirimu dan orang-orang di rumahmu.” Bidadari Sungai Utara menjawab dengan senyum tipis.


Secara tidak langsung, Bidadari Sungai Utara meminta bayaran muka saat itu juga.


“Saudari bicara apa, sudah jelas tidak merepotkan. Kami bertiga justru telah lama menantikan kehadiran Saudari. Jika Saudari mau masuk ke dalam, maka Saudari akan melihat kudapan-kudapan yang telah kami siapkan untuk Saudari. Tentu kami tidak ingin semua itu terbuang sia-sia.”


Bidadari Sungai Utara tersenyum tidak enak, tetapi tetap mengangguk untuk menghormati pemuda bercaping di depannya itu.


Maka dengan senang hati, Mantingan mengajak Bidadari Sungai Utara masuk ke dalam.


Sambil berjalan di tengah halaman, Mantingan menjelaskan, “Lahan sebesar ini akan kujadikan kebun untuk tanaman pengobatan. Agar daku bisa membalas kebaikan Saudari dengan obat-obatan, dan tentu saja agar daku bisa membayar biaya pengobatan.”

__ADS_1


Bidadari Sungai Utara mendengarkan, tetapi tidak membalas dengan apa pun. Mantingan kembali melanjutkan, “Setidaknya daku bisa melakukan sesuatu yang memberi manfaat sampai akhir hayat. Dalam waktu empat bulan, diriku bisa memanen banyak tanaman.”


Kali ini Bidadari Sungai Utara menjawab, “Daku akan berusaha semampu yang bisa kulakukan untuk menyelamatkan Saudara.”


Mantingan tersenyum. “Terkadang terlalu banyak berharap malah akan membuat hati kecewa. Daku tidak bisa berharap banyak, Saudari.”


Burung-burung berkicauan. Di langit jingga yang cerah itu. Tebang pulang ke sarang ilalangnya, yang biar bagaimanapun tetap terasa nyaman bagi mereka. Di sanalah mereka akan berjumpa dengan buah hatinya. Sedangkan itu, Mantingan dan Bidadari Sungai Utara menaiki anak tangga untuk sampai ke teras rumah.


“Jika harapan Saudara untuk hidup sangat kecil, daku tidak yakin bisa menolongmu.”


Mantingan meraih gagang pintu. Sebelum membukanya, ia tersenyum pada Bidadari Sungai Utara. “Jika diriku memiliki harapan yang besar, apakah engkau benar-benar bisa menyelamatkan nyawaku, wahai Saudari Sasmita dari Negeri Atap Langit?”


Kali ini, Bidadari Sungai Utara kembali terdiam. Tidak bisa langsung menjawab pertanyaan tersebut. Melihat keterdiaman Bidadari Sungai Utara, Mantingan bergerak membuka pintu. Masuk terlebih dahulu.


“Silakan masuk ke gubukku yang berdebu ini.”


Bidadari Sungai Utara memberanikan diri melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah berselang masuknya Mantingan. Lekaslah dia memasang senyum canggung. Sorot matanya menggerayangi ruangan. Seakan menggeledah. Khawatir adanya jebakan.


Mereka duduk berhadapan. Mengisi dua bangku saja. Sedang dua bangku lainnya tak terisi, kosong. Di tengah atas terdapat beraneka macam kudapan dan minuman segar sebagai jamuan.


“Maaf, kami belum bisa menyediakan hidangan berat.” Mantingan berbasa-basi sedikit, dibalas dengan anggukan canggung Bidadari Sungai Utara. “Kana, Kina! Kemarilah! Temui tamu yang datang.” Mantingan berteriak cukup keras untuk memanggil Kana dan Kina di lantai dua.


Tak lama kemudian, terdengar suara derit kayu di anak tangga. Terulang beberapa kali. Kana dan Kina berusaha untuk melawan rasa malunya dan turun menjumpai tamu. Bidadari Sungai Utara menjulurkan lehernya, berusaha untuk melihat orang yang menuruni anak tangga.


Di sudut lorong tangga, terlihat dua pucuk kepala yang mengintip. Malu-malu. Dibalas senyuman hangat dari Bidadari Sungai Utara, mereka tidak lagi takut. Kembali menuruni satu per satu anak tangga dengan langkah yang cepat.


Sampai di bawah, mereka segera berlari ke arah Mantingan. Malu-malu bersembunyi di belakang bangku Mantingan.


“Kakak, itu siapa?” Kina berbisik pelan.

__ADS_1


“Mengapa wajahnya ditutup-tutupi pakai cadar?” Kana menimpali, pula dengan bisikan.


Mantingan mengangkat naik alisnya dan tersenyum lebar. “Saudari ini bernama Sasmita, tabib yang merawat Kakak. Asalnya dari Negeri Atap Langit, tepatnya di Kekaisaran Jin. Dan mengapa Kak Sasmita menutupi wajahnya? Mungkin saja dia adalah bidadari yang cantik jelita, sehingga akan berbahaya menunjukkan wujudnya pada sembarang pria.” Mantingan lalu beralih pandang menuju Bidadari Sungai Utara di hadapannya. “Saudari, perkenalkanlah mereka berdua. Yang laki-laki bernama Kana; yang perempuan bernama Kina. Mereka kakak-beradik.”


“Wahai.” Bidadari Sungai Utara melambaikan tangannya sambil tersenyum kecil. “Kana dan Kina? Itu nama yang gagah dan cantik. Kenalkan, namaku adalah Sasmita. Semoga kita dapat berteman dengan baik.”


Kana yang lebih dahulu memberanikan diri untuk keluar dari persembunyiannya. Barulah adiknya mengikuti. Keduanya menyuguhkan senyum manis.


“Astaga. Kalian berdua sangat menggemaskan!”


“Apa yang terlihat menggemaskan dariku?” Kana memasang wajah masam. Tidak terima.


“Kanda memang seperti itu, Kakak. Tidak suka disebut menggemaskan. Tapi aku tetap gadis yang menggemaskan.” Kina melebarkan senyumnya.


“Ah, kalau begitu ... Kana ini adalah anak yang gagah dan berani,” kata Bidadari Sungai Utara halus dan lembut.


“Kau tidak bersungguh-sungguh mengatakan itu.”


“Kana.” Mantingan memotong, menatap anak itu tajam. “Jangan berkata seperti itu, Kak Sasmita ini jauh lebih tua ketimbang dirimu.”


Kana tampaknya ingin membantah, namun ia menyadari besarnya bantuan yang telah diberikan padanya dan adiknya, maka ia hanya bisa menelan bantahannya itu dan mengangguk.


“Tidak apa, Saudara.” Bidadari Sungai Utara berkata pada Mantingan. “Daku memang tidak bersungguh-sungguh, dan Kana sudah jelas mengerti bahwa sesuatu yang tidak bersungguh-sungguh adalah hal yang tidak baik.” Lalu ia kembali berucap pada Kana, “Kana, jika aku boleh tahu, siapakah nama Kakak ini?”


“Jika yang Kakak maksudkan adalah pria muda bercaping yang sedang duduk santai ini, maka namanya adalah Jaya. Dan aku juga ada pertanyaan untuk Kakak.”


___


catatan:

__ADS_1


Siapa yang suka tiga episode dalam satu hari?


__ADS_2