Sang Musafir

Sang Musafir
Desa dan Anak-Anak Ingusan


__ADS_3

Tidak ada lagi yang akan menjadi orang dekat bagi Mantingan selama dirinya masih belum menuntaskan perhitungan dengan pembunuh Rara. Dan tidak ada akan ada yang bisa menjadi orang tersayang bagi Mantingan selama dirinya belum cukup kuat untuk melindungi mereka.


Maka kini, di dalam kedai makan, Mantingan bersikap acuh tak acuh. Pada siapa saja ia hanya berbicara seperlunya saja.


Sudah berlalu seminggu sejak pembunuhan Rara, tetapi Mantingan sungguh tidak bisa melupakan peristiwa itu sedikitpun. Dan sudah terlampau jauh pesisir pantai rumah Birawa dengan tempat keberadaannya saat ini, di salah satu kota wilayah Pura Dalem.


Kedai sederhana yang sangat berdebu, begitu juga makanannya yang hambar dan sudah lapuk. Mantingan tetap memakan semua makanan yang dipesannya tanpa memikirkan sedikitpun rasanya.


Selama seminggu ini, Mantingan mendapat keterangan tentang keberadaan Perguruan Angin Putih yang terletak di wilayah Gunung Kubang. Mantingan memperoleh keterangan itu dari salah seorang pelajar silat yang ia temui.


Perguruan Angin Putih ini termasuk perguruan yang sulit ditemukan keberadaannya. Entah apakah karena sirep penyamar yang mereka pasang atau karena memang perguruan itu tidak pernah ada. Tetapi simpang-siur mengatakan bahwa perguruan itu ada, tetapi sengaja menyembunyikan diri.


Tidak diketahui golongan apa Perguruan Angin Putih itu, tetapi banyak yang menduga bahwa perguruan itu bergolongan putih.


Untuk mencapai Gunung Kubang, Mantingan harus melewati satu wilayah lagi, yaitu Purwakerta.


Banyak rintangan yang ia hadapi di perjalanan, juga kesedihan yang masih tidak bisa ditinggal Mantingan secara keseluruhan, maka dari itulah waktu perjalanannya jauh lebih lama.


Bekal makanannya menipis, Mantingan memilih untuk membeli makanan di kedai-kedai pinggir jalan.


“Anak ....”


Mantingan mengangkat pandangannya, melihat seorang kakek-kakek kurus dengan pakaian lusuh di depannya. Orang itu memegang tongkat dan batok kelapa. Terlihat jelas bahwa dirinya adalah pengemis.


Orang itu seperti hendak bicara, Mantingan memberinya kesempatan untuk berbicara.


“Sahaya tidak memiliki apa pun selain pakaian di tubuh, tongkat, dan batok kelapa ini. Sedangkan Anak, sahaya lihat membawa banyak barang dan badan Anak juga tampak sehat bugar, apakah bisa sahaya meminta sedikit ....”


Sebelum orang itu menyelesaikan ucapannya, Mantingan telah lebih dulu melemparkan sekeping perak ke dalam batok kelapa. Itu uang kembalian, anggaplah impas jika Mantingan ingin mengusir orang itu agar tidak mengganggu jalan makannya. Juga bagi orang seperti kakek itu, sekeping perak sudah sangat berharga.


“Anak, terima kasih! Terima kasih!” Pengemis itu menunduk dalam-dalam sebelum pergi meminta-minta pada yang lainnya seolah melupakan Mantingan.


Benar-benar bukan pengemis amatir.

__ADS_1


Mantingan segera menyelesaikan makanannya dan segera pergi dari kedai itu. Tadinya ia ingin berlama-lama di dalam kedai, tetapi ternyata tidak ada percakapan-percakapan berharga yang ia dapatkan dari pengunjung lain.


Memang pada kedailah kabar-kabar bisa menyebar dengan cepat. Tetapi yang Mantingan dengarkan hanyalah candaan-candaan yang tidak terlalu bermutu.


Mantingan tidak mampir ke dalam kota, tidak ada yang ia perlukan. Jika biasanya Mantingan akan sangat antusias setiap bertemu kota, maka kini Mantingan sangat menghindari daerah perkotaan. Ia bertemu Rara di daerah perkotaan, yang mengakibatkan dirinya mau tidak mau menaruh hati dan membantu Rara. Ia bertemu Arkawidya juga pada daerah perkotaan, yang mengharuskan dirinya sebagai manusia untuk membantu.


Mantingan tidak ingin kehilangan lagi.


Dan jika dirinya memang ditakdirkan sebagai manusia yang selalu menyelesaikan masalah-masalah manusia lain, maka tunggulah sampai dirinya kuat. Tunggulah sampai Mantingan memiliki kuasa untuk melindungi orang-orang yang dikasihinya.


Mantingan memasang capingnya dan mulai berjalan meninggalkan wilayah yang penuh dengan manusia.


Barisan pepohonan tua kembali menyambutnya. Udara segar, sama segarnya dengan embun pagi hari. Kicau burung dan bajing bersahutan, menjadi nada-nada indah walau tidak beraturan.


Mantingan berjalan terus sampai dirinya menemukan sebuah danau yang tak terlalu besar namun indah. Banyak teratai segar tumbuh di permukaan air, dan dari kejauhan terlihat lompatan ikan sesekali.


Jika saja pembunuhan Rara tidak pernah terjadi, maka Mantingan akan tersenyum.


Entah mengapa setelah melihat danau ini, hatinya kembali teriris oleh kepedihan.


Cepat-cepat Mantingan berlalu dari danau itu.


Apa yang salah dengan Rara? Ia hanya beberapa hari saja bersama dengannya, tidak sampai sebulan, tetapi mengapa dirinya begitu kehilangan Rara sampai-sampai dunia terasa suram?


Untuk menenangkan dirinya, Mantingan mengusap kendi kecil di pinggangnya. Ia mendesah pelan setelah berhasil menenangkan diri.


Teringat Mantingan akan tugasnya yang utama: menemukan Kembangmas dan membawanya pada Kenanga!


Sembari mencari Kembangmas, Mantingan juga akan menyelesaikan perhitungannya setelah peristiwa pembunuhan tiga orang tersayangnya.


Mantingan terus berjalan, sampai tak sadar matahari mulai terbenam. Baru saja ia ingin mendirikan tenda, terlihat titik-titik cahaya dari kejauhan. Mantingan sering melihat hal seperti ini, itu adalah desa.


Dirinya berjalan menuju desa itu. Lebih baik Mantingan berhubungan sedikit dengan orang desa ketimbang berhubungan dengan perampok. Biarpun Mantingan tidak menyukai adanya singgungan dengan manusia pasca terbunuhnya Rara, tetapi Mantingan lebih menghindari berkemah di situasi yang tidak aman seperti ini.

__ADS_1


Empat hari yang lalu saat ia berkemah di hutan, ia melihat gerombolan perampok berjalan tak jauh dari tempatnya mendirikan tenda. Beruntung sekali tempat Mantingan membangun tenda saat itu tersembunyi, dan tidak ada setitik cahaya pun dari tenda Mantingan.


Mantingan memasuki wilayah desa. Mantingan pandangi ke sekeliling, melihat bahwa desa ini bukanlah desa yang berkecukupan.


Memang ada gapura yang dibangun di pintu masuk desa, tetapi tembok desa berlubang di mana-mana dan bahkan runtuh sebagian. Tidak ada penjagaan, dan hanya beberapa rumah saja yang menyalakan lampu pelita.


Mantingan masuk tanpa ada sambutan, walau terlihat ada beberapa orang bergizi buruk selonjoran di terasnya. Mereka hanya menatap Mantingan sekilas, untuk memastikan bahwa dirinya bukan perampok, lalu kembali tidak peduli.


Mantingan juga bersikap tidak peduli. Dirinya tidak mencari penginapan desa, tetapi membangun tenda di lahan kosong yang entah milik siapa.


Karena dirinya telah terbiasa tidur tanpa adanya cahaya, maka Mantingan yang tidak menyalakan pelita itu juga tidak cukup menarik perhatian banyak orang.


***


Tetapi berbeda keadaan jika keadaan sudah terang tanah.


Mantingan dibangunkan oleh anak-anak ingusan yang membuka paksa tirai tendanya, hingga terlihat kepala mereka menyembul di tirai tenda. Bukan tanpa alasan jika mereka disebut sebagai anak ingusan, karena Mantingan dibangunkan oleh suara anak-anak itu yang mengisap ingusnya.


“Anak Muda! Bagi kami sedikit makanan!”


Mantingan hampir tidak percaya dengan apa yang baru aja ia dengar. Ada anak yang menyebut dirinya sebagai anak muda sedangkan bocah itu sendiri jauh lebih muda darinya.


“Haish, bodoh kamu!” Salah seorang temannya memukul kepala bocah itu. “Tuan ini jauh lebih tua ketimbang kita, kenapa kau memanggilnya seolah dirimu lebih tua dari dia?”


Anak-anak lain tertawa.


“Apa salahku? Bukankah Tuan ini memang masih muda dan segar,tidak pantas disebut ‘bapak’. Apakah salah aku memanggilnya seperti itu?” Bocah itu balas memukul, sepertinya ia tak terima kepalanya dipukul sedangkan dirinya merasa benar.


Bocah yang satu lagi balas pukul, hingga akhirnya bergulatlah mereka jauh dari tenda. Anak-anak lainnya masih memandangi Mantingan dengan tatapan takjub.


“Baju Tuan keren sekali!”


“Kalau sudah besar, aku ingin juga menjadi pengembara seperti Tuan!”

__ADS_1


“Apa Tuan masih punya baju lainnya?”


Mantingan bangkit duduk dan mengangkat tangannya untuk menghentikan panggilan “Tuan” dari mereka. Bukankah itu sama saja seperti ingin menyamai panggilan “Tuhan”?


__ADS_2