
Mengetahui keberadaan Mantingan, pendekar itu berkelebat dan menghilang. Tapi Mantingan dapat mengetahui keberadaannya dengan jelas, pendekar itu bersembunyi di balik semak-semak tak jauh darinya.
Mata Mantingan menatap semak-semak itu, sehingga si pendekar yang bersembunyi sudah barang tentu menyadari persembunyiannya terbongkar. Benar saja, pendekar itu berdiri dan keluar dari persembunyiannya. Terlihat ia menyeringai.
“Keluarkan dia, Bocah!”
Mantingan membalas, “Apakah yang Bapak perlukan terhadapnya?”
“Jangan munafik kamu! Jelas sebenarnya dikau tertarik padanya, kau pasti akan berbuat itu saat aku sudah pergi!”
Sepertinya pendekar yang satu ini tidak mudah bebasa-basi.
Mantingan mengernyitkan dahi. “Bapak, itu bukanlah urusan yang patut dipermasalahkan. Daku akan bertanya pada Bapak, hendak apakah Bapak dengannya?”
“Jangan pura-pura tidak tahu!”
Mantingan membuang napasnya. “Daku hanya memastikan saja, Bapak. Jika sudah begitu, maka jelas permusuhan di antara kita.” Mantingan mengusap gagang pedangnya. “Bapak pergilah dari sini, maka tidak akan terjadi pertarungan antara dikau dan daku.”
“Bocah tengik! Sapi baru lahir! Hayo, hadapi aku jika berani!”
Mantingan tersenyum tipis sebelum tubuhnya menghilang dari pandangan. Itu hanyalah sekejap saja, sebelum tubuh Mantingan muncul kembali tepat di belakang pendekar bermulut itu. Pedang Mantingan sudah tersarung kembali; bukan masih tersarung. Lawannya membeliak tidak percaya, sebelum ambruk ke tanah dengan lubang di jantungnya. Darah merembes membasahi tanah, Mantingan masih diam di posisinya.
Ini adalah pembunuhan kedua bagi Mantingan. Dan kali ini, Mantingan tidak ragu membunuh lawannya, dan tidak pula menyesal. Orang seperti pendekar itu harus dikurangi keberadaannya di muka bumi, atau mereka akan terus membuat masalah di mana-mana.
Mantingan berbalik, menghadap ke jasad lawannya tersebut. Pendekar ini seharusnya tahu sedari awal, bahwa kehidupan pendekar selalu digentayangi oleh pembunuhan yang tidak diduga-duga. Seharusnya tidak ada penyesalan atau dendam dalam dirinya, meskipun sudah mati sekalipun.
__ADS_1
Satu lagi, seorang pendekar seharusnya mengetahui bahwa lengah dan meremehkan lawan adalah dua musuh terbesar bagi setiap pendekar. Tidak peduli seberapa sakti pendekar itu, jika dirinya lengah barang sejenak dari gelanggang pertarungan, maka lawan bisa dengan cepat membunuhnya. Pertarungan dapat selesai dengan sangat cepat jika salah satu pendekar kurang waspada, seperti apa yang berhasil Mantingan raih kali ini, waktu pertarungannya sangat singkat.
Mantingan menyeret jasad pendekar itu. Mendirikan pancaka dari kayu-kayu bakar di ruang penyimpanan, lalu membakar jasad orang itu. Hutan terang benderang akibat api yang dipancarkan pancaka itu.
Namun, meskipun kobaran api yang terang dan panas. Dara tidak juga keluar dari dalam tenda Mantingan, hingga Mantingan melesat cepat membuka tirai tendanya. Ia khawatir, jika Dara telah terkena racun dari pendekar itu sebelumnya, dan baru berefek sekarang.
Tetapi yang Mantingan lihat tidaklah seburuk yang dibayangkannya. Dara terlelap dengan nyamannya, tersenyum seolah-olah tidak peduli nyawa Mantingan yang bertaruh tadi. Mantingan hanya bisa menghela napas sebelum meninggalkan Dara sendirian. Lagi pula, sebentar lagi matahari akan terbit.
***
Di pagi itu. Mantingan tengah bersiap-siap meninggalkan perkemahan dengan membawa perkakas-perkakasnya. Ia tinggalkan bundelannya kali ini, karena perkakasnya sudah lumayan menguras tenaga untuk membawanya.
Mantingan sudah meninggalkan pesan tertulis pada Dara yang masih juga terlelap, sepiring sarapan serta beberapa keping emas jika ia ingin pergi.
Sebelum Mantingan pergi, terlebih dahulu ia periksa Bunga Sari Ungu di dalam ruang tanam. Kondisi bunga bagus, seperti awal ia menemukannya. Tidak lupa Mantingan menyiramnya. Siang nanti, akan Mantingan coba kembangbiakkan bunga itu.
“Hei, engkau mau ke mana?!”
“Daku ingin berkeliling mencari bunga.” Mantingan tersenyum hangat. “Telah daku buatkan sarapan di dalam gudang penyimpanan itu. Daku telah siapkan juga beberapa keping emas jikalau dikau mau pergi.”
Dara cepat-cepat keluar dari tenda itu dengan wajah semakin panik. “J-jangan pergi dulu, bagaimana jika di hutan ini ada makhluk halus?”
Mantingan tertawa pelan dan menggeleng. “Tidak ada.”
“Bagaimana jika ada penjahat? Di mana orang yang mengejarku tadi malam?”
__ADS_1
“Orang itu sudah kulumpuhkan.” Mantingan masih tersenyum hangat, telah diubah kata “membunuh” menjadi “melumpuhkan” agar tidak terlalu merusak suasana hati dara muda itu.
“Bagaimana kalau arwahnya bangkit dan menggentayangiku?” Dara berkata lirih.
“Seharusnya itu tidak akan terjadi, Nyai. Sebab yang membunuhnya adalah pendekar juga.”
“Jadi, engkau telah berhasil menjadi pendekar?” Dara bertanya hal lain. “Maaf, daku lupa tadi malam. Asal memintamu bantuan, padahal daku tidak tahu kalau engkau adalah pendekar.”
Mantingan tersenyum pahit. Beruntungnya ia telah menjadi pendekar, atau Dara dan dirinya bisa tidak selamat nantinya.
“Tidak apa, Nyai, semua telah terjadi dan daku senang bisa membantu Nyai.”
“Tapi, kau tidak akan pergi bukan?”
Mantingan menyeringai. “Nyai, aku akan pergi, tidaklah ada masalah di hutan ini. Selama Nyai tidak pergi ke mana-mana, dan tidak berbuat sesuatu yang memancing binatang buas, maka Nyai bisa dibilang aman-aman saja sampai daku kembali nantinya.”
Dara mengepalkan tangannya, berkata dengan suara keras. “Kau melecehkanku, Mantingan! Apakah engkau tidak tahu, seberapa banyak pemuda-pemuda yang ingin menemaniku sepanjang hari bahkan sampai bertahun-tahun? Tapi lihatlah engkau yang telah jadi sombong hanya karena engkau telah jadi pendekar, punya badan kekar, dan punya uang banyak!”
“Nyai ....” Mantingan terdiam beberapa saat sebelum menghela napas panjang. “Baiklah, Nyai. Daku akan antarkan dikau sampai keluar hutan, atau sampai di kota terdekat. Bagaimana?”
Dara terlihat mengangguk, walau Mantingan tahu bahwa Dara tetap tidak suka dengan keputusan itu. Mantingan tentu tidak bisa terus-menerus berada di perkemahan hanya untuk menemani Dara. Selain itu membuyarkan tujuannya, seorang laki-laki dan wanita yang bersama dalam waktu lama juga tidak baik, terlebih di tempat sepi seperti ini.
Tentu saja Mantingan telah melalui latihan menahan nafsu bersama gurunya, tetapi hal apa pun yang menyebabkan hawa nafsu kembali naik, tidak terlalu menyenangkan. Maka Mantingan berpendapat, ada baiknya Dara pergi saja dari perkemahannya. Bukan karena Mantingan merasa direpotkan dengan keberadaan perempuan itu.
“Tunggu aku sebentar saja, Nyai.”
__ADS_1
Mantingan meletakkan kembali perkakasnya di ruang penyimpanan, kini ia hanya menyoren pedang tanpa membawa beban berat lainnya. Mantingan keluar dan mengajak Dara berjalan beriringan. Mereka keluar dari wilayah perkemahan, menuju pepohonan yang rindang dan lebat.
Pohon-pohon itu terlihat sangat menakutkan bagi Dara. Ia masih tidak mempercayai bahwa dirinya tadi malam lari di antara pepohonan menyeramkan itu. Dara takut pada cerita tentang pohon-pohon berjalan di pedalaman hutan. Katanya, pohon itu selalu mencari manusia untuk dimakam, terlebih gadis cantik, seperti dirinya! Maka dari itu, Dara semakin mepet pada Mantingan.