
Apa yang Rara katakan itu sungguh-sungguh berasal dari lubuk benaknya yang terdalam, di mana ia masih belum pernah melihat pria sebaik Mantingan yang rela mengorbankan begitu banyak hal hanya untuk orang yang tidak terlalu dikenalnya.
Namun ucapan itu tak lantas membuat Mantingan besar kepala, walau ia tetap menghargainya tinggi-tinggi.
Mantingan berucap, “Baiklah, Arkawidya, apa dikau memiliki rencana untuk keluar dari sini hidup-hidup? Dikau telah memperlihatkan pada kami sebuah kepala yang terpenggal, dan kita semua tahu bahwa tidak ada seorang pun di sini yang mau mengalami hal serupa.”
Arkawidya mengangguk sebelum mulai menjelaskan panjang lebar.
Arkawidya menjelaskan aturan-aturan bagi para bunga ray yang bekerja di penginapan ini. Pertama, mereka tidak diperkenankan keluar tanpa penjagaan, atau lebih tepatnya tanpa pengawasan. Kedua, mereka tidak diperkenankan berbicara pada orang di luar penginapan tanpa suatu kepentingan yang menyangkut tentang pekerjaannya. Keempat, adalah aturan-aturan yang berisi beragam hukuman, seperti potong kaki jika berani kabur atau penggal kepala jika melawan.
Rara menelan ludahnya saat Arkawidya mengatakan bahwa aturan itu juga berlaku bagi tamu penginapan yang telah menyewa jasa bunga raya. Bahkan dapat lebih parah lagi. Bukankah secara sah, Mantingan telah menyewa Arkawidya sebagai bunga raya?
Dan rencana yang dimiliki Arkawidya sebagai berikut. Mantingan akan pergi keluar bersama Rara, dengan tanpa dirinya. Lalu mereka berdua harus pergi ke sebuah kediaman pria tua yang bernama Birawa di Sundapura. Mengabarkan bahwa Widya ada di Penginapan Tanah sebagai bunga raya, membutuhkan pertolongan sesegera mungkin.
“Hampir semua orang di Sundapura mengenal dirinya. Jadi dikau bisa mencarinya dengan mudah. Setelah bertemu dengannya, katakan saja bahwa diriku berada dalam bahaya di Penginapan Tanah kota Kanoman. Dapat dipastikan dia akan mengikutimu dan menyelamatkanku dari tempat ini, daku akan amat sangat berterimakasih dan memberi balasan yang setimpal pada kalian.”
Mantingan melipat dahi. Semudah itu?
“Siapa sebenarnya pak tua yang bernama Birawa itu?” tanyanya.
“Dia yang akan menjelaskan itu padamu, bukan diriku.” Arkawidya tersenyum tipis dalam keremangan.
Mantingan berpikir sejenak. Jarak antara Sundapura dengan Kanoman tidaklah sependek jari kelingking, akan butuh waktu berminggu-minggu bahkan sampai berbulan-bulan untuk sampai ke tempat itu dengan berjalan kaki.
Tetapi jika menunggang kuda, waktu bisa banyak dipangkas.
Mantingan bisa membeli kuda cepat di peternakan kota.
Masalah uang tidak apalah, yang terpenting Arkawidya hanya meminta bantuan itu saja. Tidak lebih dan tidak kurang. Tetapi Mantingan tidak yakin bahwa rencana ini akan berjalan sangat mulus seperti apa yang terpikirkan, maka bertanyalah ia perkara tanggungan yang mungkin saja menimpa.
__ADS_1
“Sebenarnya, ada tanggungan yang cukup besar. Memang orang tua yang bernama Birawa itu mampu dan akan menyelamatkanku, tetapi jika dia gagal ... maka kalian akan terkena imbasnya juga.” Arkawidya menghela napas panjang. “Tetapi kalian bisa melupakan permintaan sahaya, ini terlalu berbahaya untuk kalian.”
Rara menggelengkan kepalanya. Menatap Mantingan lamat-lamat. Berharap agar pemuda itu tetap bersedia membantu Arkawidya. Mantingan mengangguk pada Rara, tidak mungkin dirinya meninggalkan Arkawidya setelah sejauh ini.
“Daku akan segera melaksanakannya.” Mantingan tersenyum mantap, memancarkan kejantanannya yang mulai terlihat dari dalam dirinya.
“Terima kasih. Terima kasih. Sahaya tidak akan pernah melupakan jasa kalian!” Arkawidya hendak bersujud, tapi Rara berhasil menahannya. Air matanya telah beruraian. Tatapan itu, tatapan penuh harapan. Tatapan yang tidak lagi putus asa.
“Tidak perlu seperti ini, Widya. Mantingan adalah laki yang akan langsung besar kepala jika dikau bersujud kepadanya.” Tentu Rara bergurau, dan itu berhasil membuat suasana kembali melunak.
Arkawidya memandang kagum pada keduanya sebelum berkata, “Sahaya akan pergi dari kamar kalian dan tak akan mengganggu kalian untuk malam ini. Jika kalian berdua mencari diriku, maka tanyakan saja pada pekerja penginapan.”
“Tetapi, bagaimana jika dirimu ditanya mengapa keluar kamar begitu cepat?” Bertanya Rara; Arkawidya tersenyum serba salah.
“Terpaksa akan daku katakan apa yang mesti tetapi tidak seharusnya dikatakan.”
***
Mantingan berhasil keluar tembok kota dengan cepat dan mudah di atas jalanan yang sangat sepi seperti ini. Kabar tentang pergerakan serentak para golongan hitam telah membuat warga kota tak berani keluar rumah ketika matahari belum terbit sempurna. Tetapi berbeda dengan Mantingan bersama kudanya yang sewarna dengan tanah. Melaju membelah udara dingin.
Sambil berkendara, Mantingan mengingat-ingat kejadian malam tadi yang mampu membuat dirinya kembali tertawa di antara suara desau angin dan tapak kuda.
Malam tadi, setelah Arkawidya berpamitan dan keluar dari kamar sewaannya, tiba-tiba saja raut wajah Rara menjadi cemas. Tentu hal itu disebabkan oleh karena dirinya hanya tinggal berdua saja dengan Mantingan di kamar itu.
Mantingan jelas melihat kecemasan di wajah Rara, ia tertawa pelan. “Aku akan tidur di bawah, Rara, tidak perlu cemas.”
“Tidak, tidak perlu.” Rara buru-buru menggeleng. “Aku percaya pada dikau, kita bisa tidur bersama.”
Mantingan mengangkat bahunya. Itu tidak mengapa, lagi pula dirinya yakin tidak akan berbuat apa-apa.
__ADS_1
Maka tidurlah mereka di atas satu ranjang. Rara berkeringat dingin sepanjang malam, berkali-kali ia melirik ke belakang untuk memastikan Mantingan tidak bergerak mendekat, memeluknya, mencumbunya, atau semacamnya. Tetapi yang ia lihat adalah Mantingan yang dengan nyenyak tertidur. Sampai berkali-kali lagi ia melirik Mantingan, hingga akhirnya dia menaruh kepercayaan pada pemuda itu. Terlelap pula.
Tetapi yang terjadi di pagi buta sungguh di luar dugaan siapa pun. Rara terbangun dalam keadaanmemeluk Mantingan, dan Mantingan sudah membuka mata menatapnya. Maka berteriaklah dia sekencang-kencangnya. Beruntunglah ruangan ini telah dirancang sedemikian rupa untuk memendam suara teriakan dari dalam, maka tidak ada yang bisa mendengarnya dari luar. Mantingan ditendangnya keras-keras hingga terjengkang dari ranjang.
Tiada kata maaf, Rara malah memukulinya sambil membentak-bentak. Mantingan tidak merasakan sakit yang berlebih, tenaga Rara tidak cukup menembus otot-ototnya yang tebal dan keras itu.
Sejak saat itu Rara tidak berani menunjukkan wajahnya di hadapan Mantingan. Sangat malu. Sedang Mantingan hanya tertawa tanpa menganggapnya terlalu berat, bahkan sampai sekarang di atas kudanya ia masih sempat tertawa mengingat kejadian itu.
Rara begitu mewaspadai dirinya, tetapi sepertinyalah Rara yang justru perlu diwaspadainya.
Melupakan soal itu, Mantingan mengekang kembali kudanya yang melambat sedikit. Ia harus segera sampai di Sundapura. Barang secepat mungkin. Tidak ada kata santai.
Kuda terus menderap hingga matahari mulai menampakkan wujudnya di celah perbukitan sebelah timur sana.
Mantingan tak pernah menduga bisa menunggang kuda sewaannya sendiri seperti ini, bahkan tidak dalam mimpinya sekalipun. Perjalanan dengan kuda jauh lebih cepat ketimbang perjalanan kaki. Tetapi tentu ini tidak menguntungkan jika tujuan Mantingan ialah mencari Kembangmas, karena semak belukar hanya terlihat seperti bayangan kabur saja dengan kecepatan seperti ini, bagaimana ia bisa menemukan Kembangmas yang konon katanya tersembunyi di antara semak belukar?
***
Matahari telah meninggi, tepat di ufuk tengah. Kecepatan kuda mulai berkurang. Tidak baik dikekang atau dipaksakan lagi. Mantingan pernah bekerja merawat kuda di desanya, ia tahu bahwa kuda ini sangat lelah. Mantingan tak berniat memaksakannya lagi.
Telah terlihat sebuah kedai makan kecil jauh di depan sana. Tampak seperti noktah saja. Itu adalah kedai persinggahan bagi pelancong. Walau Mantingan bukanlah pelancong yang pergi untuk senang-senang saja, Mantingan tetap mengarahkan kuda menuju kedai kecil itu.
___
catatan:
Mohon dukungan dengan share ke teman-teman, biar Sang Musafir semakin ramai dan saya semangat menulis, yang tentu saja akan lebih banyak chapter yang hadir.
Terima kasih.
__ADS_1