
Namun, pemerintahan kotaraja telah menyediakan istal dan perawatan untuk hewan-hewan pendatang asing yang sedang menjalani karantina. Petugas di gerbang penampungan telah berkata bahwa Munding akan diurus oleh tenaga ahli, sehingga Mantingan tidak perlu khawatir.
Kini keduanya memasuki sebuah bangunan asrama dan menunjukkan selembar lontar kepada petugas yang ada di sana. Selembar lontar itu berisi keterangan tentang kamar yang akan mereka tinggali. Petugas menganggukkan kepala dan mempersilakan mereka masuk.
Kamar yang akan ditinggali Mantingan dan Chitra Anggini selama tiga hari kedepan terletak di lantai teratas, yang dengan kata lain adalah lantai ketiga.
Dengan ukurannya yang lumayan luas, kamar itu dilengkapi kamar mandi dan sebuah perpustakaan. Benar-benar luar biasa. Dilengkapi dengan obor-obor bercahaya redup, sebagian hidup dan sebagian lainnya mati. Terdapat lukisan dan hiasan dinding lainnya. Dan sebuah jendela menghadap tepat ke utara, bersitatap dengan lautan biru yang bagai tiada memiliki ujung.
Dari kamar ini, mereka bisa melihat kegiatan-kegiatan di pelabuhan, dan itu merupakan suatu pemandangan yang cukup menarik bagi Mantingan. Bukankah ini terasa seperti berada di Penginapan Bunian Malam ketika dirinya masih bersama dengan Bidadari Sungai Utara?
“Kamar ini sungguh luar biasa,” kata Mantingan sambil memandangi sekitarnya. “Kamar mandi di dalamnya, itu sudah sangat luar biasa, dan ditambah lagi dengan perpustakaan, maka itu tambah sangat luar biasa. Pemerintahan Koying benar-benar tahu bagaimana cara memanjakan pengunjung-pengunjung asing.”
Chitra Anggini tersenyum sebagai balasan. Matanya tidak lepas membaca gulungan lontar di tangannya. Lembar-lembar lontar itu berisi tata-aturan di penampungan sementara ini.
“Kita akan mendapatkan jatah makan tiga kali satu hari, tetapi makanannya tidak terlalu melezatkan, hanya tiga butir kentang saja. Jika kita menginginkan sayuran dan lauk-pauk lain, maka kita harus membelinya dengan uang sendiri.”
Mantingan menganggukkan kepala. Itu bukan masalah besar.
Chitra Anggini kembali membacakan isi gulungan lontar itu. “Di sini tertera bahwa kita bisa mempersingkat waktu karantina dengan membayar lima ratus keping emas untuk satu orang, jadi hanya akan dikarantina selama satu hari saja.”
“Duhai, aturan macam apa itu?” Mantingan menggeleng pelan sambil tersenyum miris. “Tetapi itu berarti, kita bisa keluar lebih cepat dari tempat ini dengan membayar uang lebih.”
“Sangat tidak kusarankan kau melakukan hal itu, Mantingan. Sedari awal, kita sudah berpenampilan seperti pedagang kecil yang jelas saja mustahil mengeluarkan uang sebesar 500 keping emas hanya untuk mempersingkat waktu karantina. Jangan mengira bahwa pemerintahan kotaraja tidak memiliki jaringan mata-mata untuk mewaspadai orang-orang mencurigakan.”
“Jadi menurutmu?”
“Kita tetap di sini. Jalani karantina selama tiga hari penuh.”
“Tetapi bagaimana jika kita berdua sampai terlambat menyelamatkan Tapa Balian?”
Sungguh, itulah yang sedari tadi Mantingan khawatirkan. Ia tidak bisa membantah pikiran-pikiran buruk yang menyangkut keadaan Tapa Balian saat ini. Bisa saja ia terlambat menyelamatkan pria tua yang telah begitu berjasa dalam hidupnya itu!
“Jangan terburu-buru. Sedikit saja kita salah langkah, maka kematian Tapa Balian akan datang lebih cepat.”
“Kau jangan asal berbicara!” Mantingan membentak keras. Tetapi Chitra Anggini bergeming di tempatnya, menatap Mantingan dengan berani.
__ADS_1
“Kau akan menyadari betapa kata-kataku itu adalah benar, Mantingan. Tenangkan dirimu dan biarkan kepalamu tetap dingin.”
...****************...
MANTINGAN memalingkan wajahnya. Menatap jauh keluar jendela. Menghela napas pendek. Menyadari betapa perkataan Chitra Anggini banyak benarnya. Tindakan gegabah hanya akan mengancam keselamatan jiwa Tapa Balian.
“Tiga hari di penampungan ini tidak akan terbuang sia-sia, Mantingan. Kita belum menyusun rencana semacam apa pun untuk masuk ke dalam istana dan kemudian mengeluarkan Tapa Balian dari tempat itu. Kautahu persis, melakukan kedua hal itu bukanlah hal yang mudah.”
Mantingan menganggukkan kepalanya pelan. Tanpa menoleh, dirinya menjawab, “Setelah keluar dari penampungan ini, hal pertama yang harus kita lakukan adalah mencari jaringan Puan Kekelaman. Cukuplah kita berjalan-jalan di pusat keramaian, tiadalah mungkin salah satu anak buah Puan Kekelaman tidak melihat kita.”
“Sembari mencari penginapan pula.” Chitra Anggini mengeluarkan nada setuju. “Selain itu, aku harus mencari jaringanku yang ada di sini.”
Mantingan mengernyitkan dahi lalu menoleh ke arah Chitra Anggini. “'Aku'?”
“Ya. Hanya aku sendiri. Kamu tidak perlu ikut, sebab segala jaringan bawah tanah yang ada di kotaraja bersifat sangat rahasian. Bahkan aku sendiri tidak yakin bisa diterima oleh mereka atau tidak, apalagi dirimu?”
“Kartika masih belum percaya penuh padaku, ya?” Mantingan tersenyum tipis.
“Bisa dikatakan seperti itu. Kau bukan orang yang termasuk dalam jaringannya. Kau bukan anak asuhnya, dan kau tidak bekerja di bawahnya. Mustahil jika kakakku mempercayaimu begitu saja.”
Mantingan kembali mengangguk pelan. Itu bukanlah masalah besar baginya. Ia benar-benar tahu bahwa segala sesuatu yang ada di dalam perkumpulan bawah tanah selalu bersifat tertutup dan rahasia. Tentu saja rahasia tidak akan menjadi rahasia lagi jika diketahui, bukan?
Bukankah jika dilihat-lihat lagi, menjalin hubungan dengan Puan Kekelaman akan jauh lebih menguntungkan ketimbang menjalinnya dengan Kartika?
Bukankah itu berarti, dirinya bisa saja meninggalkan Chitra Anggini sekarang juga sebagai tanda telah memutuskan kerjasamanya dengan Kelompok Daun Jatuh?
“Mengapa kau menatapku seperti itu?” Chitra Anggini mengerutkan kening, tidak dapat mengerti arti tersembunyi dari balik tatapan pemuda itu kepadanya.
Mantingan mengalihkan pandang sambil menggeleng pelan. Ia telah memutuskan untuk tetap membawa Chitra Anggini untuk membantunya menyelamatkan Tapa Balian. Jika disimak dalam-dalam, Chitra Anggini memiliki pembendaharaan ilmu yang tidaklah sebaiknya dipandang sebelah mata. Perempuan itu pula memiliki pembendaharaan pikiran yang matang, mengerti seluk beluk kotaraja dengan segala kegiatan yang ada di dalamnya, dan masih banyak hal lainnya yang akan membuat Mantingan menyesal jika meninggalkannya.
“Aku sangat lapar. Semenjak malam kemarin, di mana kau harus menghadapi tantangan bertarung dari Pendekar Tanpa Suara, diriku sama sekali belum menyentuh makanan. Kau juga ingin makan, Mantingan?”
“Aku belum lapar.” Mantingan mengeluarkan beberapa keping emas dari dalam saku jubahnya sebelum melemparnya ke Chitra Anggini. “Kau tidak akan mau hanya makan tiga butir kentang, bukan?”
“Kau benar-benar tahu itu.” Chitra Anggini menunjukkan senyum lebar sebelum berlalu pergi. “Akan kubawakan makanan untukmu nanti.”
__ADS_1
***
MALAM itu. Di atas meja lebar, sebuah peta terbentang memenuhinya. Selembaran kertas besar yang memetakan bangunan bawah tanah yang tepat di atasnya adalah Istana Koying, yang Mantingan dapatkan dari pencuri yang menyamar menjadi saudagar di Desa Pesawahan itu setelah berhasil mengalahkannya. Maka dimulailah perundingan untuk malam itu.
“Semuanya tergambar dengan sejelas-jelasnya, bagai tiada ada satupun yang kurang.” Chitra Anggini setengah bergumam sambil memandangi peta itu. “Akan tetapi, bukankah ini terlalu jelas untuk seukuran peta bagian istana yang dirahasiakan betul-betul?”
“Itulah pula yang daku khawatirkan.” Mantingan menganggukkan kepalanya. “Tetapi bahan peta ini adalah kertas. Ini hanya ada di Negeri Atap Langit. Jadi dapat pula kita simpulkan bahwa peta ini berasal dari Negeri Atap Langit.”
“Bisa saja hanya kertasnya yang berasal dari Negeri Atap Langit, tetapi lukisan petanya dibuat di sini.”
“Kurasa tidak ada tinta yang bisa sehitam ini di Javadvipa maupun Suvarnadvipa. Dan terlihat jelas, tinta di peta ini tidak luber barang sedikitpun, menandakan bahwa cairan tinta mengering seketika setelah dilukiskan, atau memang pembuat peta ini adalah pelukis yang terampil.”
Chitra Anggini mengangkat salah satu ujung kertas peta itu dan mengamati bagian bawahnya. “Tintanya tidak sampai menembus hingga ke belakang kertas. Kau memang benar, cairan tinta langsung mengering sesaat setelah dilukiskan. Itu artinya ....”
“Udara terlampau dingin saat peta ini dibuat,” pungkas Mantingan. “Negeri Atap Langit ....”
“Itu artinya, peta ini tidaklah resmi dari kerajaan. Dengan kata lain, peta ini tidak dicuri sama sekali.”
“Tetapi siapakah yang dapat memetakan seluruh seluk-beluk bangunan bawah tanah Istana Koying sedangkan belum pernah ada peta resmi dari kerajaan untuk dijadikan rujukan?”
“Itu artinya, ada orang dalam istana yang berkhianat pada pihak luar.” Chitra Anggini mengelus dagu. Tidak terlalu yakin dengan apa yang baru saja diucapkannya.
“Jika memang begitu, peta yang kita dapatkan ini hanyalah salinan belaka.”
“Dan jika ada salinan lainnya ....”
“Maka kita bukan satu-satunya yang sedang merencanakan penyusupan ke istana.”
“Dan semuanya berencana masuk melalui bangunan bawah tanah istana.” Chitra Anggini menyentuh batang hidungnya. Alisnya tampak berkerut. “Ini kebetulan belaka? Atau memang terdapat sesuatu di istana yang membuat musuh serempak ingin menyusup?”
“Kurasa ada.” Mantingan melipat tangannya ke depan sambil memejamkan mata. “Agaknya Koying telah merebut banyak pusaka secara paksa untuk mendapatkan wibawa Pemangku Langit yang tersisa. Hal itu jelas mendatangkan penyusup-penyusup dari kalangan yang diambil secara paksa pusakanya, atau dari kalangan yang sekadar ingin mencuri pusaka-pusaka berharga itu.”
“Itu artinya, nasib kita berdua sama seperti yang lainnya?”
Mantingan mengangguk pelan. Matanya masih terpejam. “Nasib Puan Kekelaman juga seperti kita.”
__ADS_1
Kini Chitra Anggini menatap Mantingan. Matanya masih cermelang seperti biasanya, tetapi pandangannya sangat dalam. “Apakah kita akan menganggap mereka sebagai teman atau malah musuh?”
“Jawaban untuk pertanyaanmu itu masih remang-remang. Mereka bisa menjadi musuh, teman, atau bahkan tidak keduanya.” Mantingan tersenyum masam.