
MANTINGAN pernah mendengar bahwa pulau di tengah teluk itu bukanlah tanpa keberadaan penghuninya. Namun, orang-orang yang tinggal di pulau itu telah secara terang-terangan menolak segala kecanggihan baru yang datang dari luar. Sehingga dengan begitu tampang, pakaian, dan pekerjaan mereka akan sama dengan yang ada di masa-masa kuno.
Mereka menolak adanya perubahan yang berkelanjutan tanpa menemui kepastian. Semisal ketika ajaran baru datang, semua orang menganggapnya sebagai igama yang paling benar. Namun ketika ajaran baru lainnya datang, tidak sedikit para penganut igama lama itu menjadi beralih menuju igama baru.
Itulah yang mereka sebut sebagai perubahan tak berkepastian, sebab semestinyalah Yang Maha Kuasa bersifat pasti tanpa adanya perubahan. Keberadaan-Nya telah mutlak dengan kesempurnaan yang tiada lagi dapat lebih sempurna daripada itu, sehingga memang tidak diperlukan lagi adanya perubahan apa pun.
Bukankah perubahan menandakan bahwa terdapat sesuatu yang tidak sempurna atau memuaskan dari suatu pencitptaan?
Jadi, kepercayaan yang dianut oleh orang-orang di pulau itu tetaplah pada ajaran nenek moyang mereka, yakni menjadikan batu besar atau pohon besar sebagai perwujudan Yang Maha Kuasa sehingga segala gerak-gerik mereka terasa seperti ada yang memantau.
Awalnya, Mantingan berpikir bahwa apa yang dilakukan oleh orang-orang itu adalah kebenaran, yakni dengan menolak ajaran-ajaran kepercayaan baru yang berdatangan tanpa pasti, tetapi rupa-rupanya Kitab Teratai telah membantah hal tersebut sejak lama.
Seperti halnya yang tertulis dalam salah satu ayat di kitab itu:
Mempersekutukan Yang Maha Kuasa bukanlah sekadar dalam hal kepercayaan
Tidakkah kamu melihat bahwa itu lebih menjerumus kepada aturan hidup dan aturan bernegara?
Sebab Yang Maha Kuasa mestilah mendapat kuasa yang disematkan padanya
Yakni dalam kekuasaan khayalak manusia
Yang dipimpin oleh perwakilan-Nya di muka dunia
Dan bilamana aturan bernegara itu telah dipersekutukan dengan aturan bernegara lain
Maka para pembuat dan penganut aturan itulah yang sudah mempersekutukan Yang Maha Kuasa
Mantingan menyadari betul bahwa kepercayaan tidak akan membuat Yang Maha Kuasa menjadi berkuasa atas diri manusia ciptaan-Nya. Hanya dengan aturan bernegara saja Dia dapat menggenapi sebutannya sebagai Yang Maha Kuasa di atas segala manusia.
__ADS_1
Jika mengusut segala peraturan yang ada dalam kehidupan manusia, maka akan terbentuklah sebagaimana yang dikatakan oleh Kitab Teratai dalam salah satu ayatnya:
Bila seorang hidup seorang diri, maka ia mesti memiliki aturan hidup
Bila seorang itu hidup bersama keluarganya, maka ia mesti memiliki aturan keluarga
Bila keluarga hidup bersama keluarga lainnya, maka ia mesti memiliki aturan lingkungan
Bila lingkungan harus hidup bersama lingkungan lainnya, maka ia mesti memiliki aturan kota
Bila kota harus hidup dengan kota lainnya, maka ia mesti memiliki aturan kewilayahan
Bila wilayah harus hidup dengan wilayah lainnya, maka ia mesti memiliki aturan bernegara
Namun, bila negara harus hidup dengan negara lain, adakah aturan yang lebih besar untuk menaungi mereka?
Aturan bernegara adalah aturan tertinggi dalam kehidupan manusia secara luas. Aturan antarbangsa yang disepakati oleh beberapa negara sekaligus adalah omong kosong untuk menutup-nutupi suatu negara yang melatari aturan tersebut demi mengambil keuntungan tertentu.
Begitulah sebagaimana yang disebutkan dalam Kitab Teratai pada bab keempat:
Tiap-tiap kelompok merasa bangga dengan apa yang mereka miliki
Sehingga perseteruan tak lagi dapat dihindari
Perpecahan menjadi suatu kepastian dan keharusan
Mereka saling membutakan untuk saling menguasai
Memikirkan perkara aturan-aturan bernegara membuat Mantingan merasakan pening tak terperi dalam kepalanya. Padahal, pikiran tersebut hanyalah sesuatu yang terlintas ketika dirinya mengingat pulau di tengah teluk itu. Namun, ia sadar betul bahwa perkara aturan bernegara ini bukanlah sesuatu yang amat sepele, sehingga untuk sebentar lagi ia kembali memikirkannya.
__ADS_1
Bilamana suatu negara memakai aturan Yang Maha Kuasa sebagai landasannya, maka begitulah kemudian negara tersebut telah menegakkan “Sang Raja” sebagai satu-satunya penguasa yang berhak diabdi oleh seluruh rakyatnya, tentu saja dengan seorang pemimpin manusia yang menjadi perwakilan-Nya di muka bumi.
Untuk itu, Kitab Teratai memuat satu ayat lainnya sebagai puncak penjelasan dari aturan segala aturan itu:
Maka hadapkanlah pandanganmu ke hadapan
Di sanalah kamu akan melihat ketetapan Sang Penguasa
Yang sesuai dengan ketentuan kamu diciptakan
Disebabkan Dia menciptakan kamu sesuai dengan aturan atau ketetapan itu
Tetapi kebanyakan dari manusia tidak tahu tentangnya
Mantingan menghentikan segala pemikirannya tentang Kitab Teratai, aturan bernegara, dan bahkan orang-orang tertinggal zaman di pulau itu sebab Munding telah mendarat di atas pasir pantai pulau tujuannya.
Tidak disadari betapa lamanya ia terbenam dalam perenungan, dan kini memang harus diputus meskipun masih bisa berlangsung lebih lama lagi, sebab tujuannya menghampiri pulau ini bukanlah untuk memikirkan orang-orang yang menghuninya melainkan Chitra Anggini seorang!
Kini semburat mentari telah nampak sedikit di arah timur. Rombongan kelelawar membentuk barisan yang amat panjang di atas langit yang membiru kelam untuk kembali ke dalam gua-gua mereka. Sedangkan itu rombongan burung laut pula membentuk barisan-barisan segitiga, menggantikan kelelawar sebagai penguasa langit.
Meski dengan segala gejala alam tersebut, hari masihlah belum dapat disebut terang tanah, sebab memang tanah belum sepenuhnya dapat terlihat. Namun bagai tidak terpengaruh dengan kegelapan, Mantingan meneruskan langkah kakinya setelah berkata pada Munding untuk menunggu di tempat itu. Dengan Ilmu Mendengar Tetesan Embun, ia bisa mendapatkan penglihatan yang jauh lebih jelas daripada apa yang bisa didapatkan oleh matanya.
Segala bunyi dapat ditangkap dengan sedemikian jelasnya, sehingga seolah saja tidak dapat lebih jelas lagi daripada itu. Gemeresik kepiting pantai yang menggali lubang di bawah pasir pantai. Gemeretak cangkang kelomang yang bergesekan dengan butiran pasir. Debum kelapa jatuh dari jarak yang amat jauh. Deburan ombak yang bahkan dapat ia dengar hingga pada tetesan airnya. Segalanya menjadi amat jelas.
Meskipun pulau ini diketahui memang sudah sepi sejak awal, tetapi kini kesepian itu semakin terasa tanpa adanya lalu-lalang beragam kapal layar yang melintas di dekat pulau. Tentulah kabar tentang kejatuhan kotaraja telah membuat pedagang-pedagang dari luar berpikir ratusan kali sebelum memasuki kota raya itu.
Sedangkan nelayan-nelayan merasa berat hati pergi melaut, sekadar untuk menunjukkan bahwa mereka turut merasa berduka akibat kematian sang raja. Betapa pun terkenalnya raja itu sebagai penguasa yang tidak adil, dirinya tetaplah merupakan pemimpin yang sah bagi Kerajaan Koying, sehingga kematiannya masih harus dihormati oleh seluruh rakyat Koying.
Mantingan terus berjalan menyusuri pantai. Pasir-pasir kelabu terjejak langkah kakinya, sebelum kemudian diratakan kembali oleh guyuran ombak. Angin berembus dari arah barat, yang entah bagaimana caranya Raja Koying mampu membawa Bidadari Sungai Utara dari Champa dengan arah angin yang sangat berlawanan seperti ini.
__ADS_1
“Datanglah kemari ....”
Mantingan berhenti melangkah ketika Ilmu Mendengar Tetesan Embun menangkap suara bisikan dari kejauhan. Ia menoleh ke satu arah: ujung pulau di sebelah timur!