Sang Musafir

Sang Musafir
Dia Pemuda yang Tulus dan Suci


__ADS_3

PERCAKAPAN itu berlanjut dan Mantingan pula terus mendengarkan.


“Kekuasaan asli di negeri pribumi itu perlahan kian tersudut oleh kerajaan-kerajaan daerah di bawah kendali bangsa asing, hingga akhirnya jatuh dan hancur tak bersisa. Setelah kejatuhan kekuasaan bangsa pribumi, sang bangsa asing yang telah menjadi bangsa penakluk saat itu telah memiliki kendali sepenuhnya atas kekuasaan dan pemikiran rakyat pribumi di tanah itu.


“Bahkan untuk mengejek bangsa pribumi yang hancur setelah beribu-ribu tahun berdiri, mereka menciptakan nyanyian-nyanyian bernada kekanak-kanakan yang sampai sekarang pun sering dinyanyikan tanpa mengetahui makna yang sebenarnya dari lagu itu.”


“Seperti apakah nyanyian itu? Apa judulnya? Dan di mana sajakah lagu itu dinyanyikan?”


“Kawan, daku tidak akan mengucapkan apalagi menyanyikannya di sini. Kurasa, ini terlalu menyinggung. Lagipula, masakan kita telah matang. Kita harus menyajikannya sesegera mungkin pada pendekar bertampang muda itu jika tidak mau terkena masalah besar.”


Maka selesailah percakapan dua juru masak itu yang menyisakan sedikitnya rasa heran dan penasaran dalam benak Mantingan.


Bangsa manakah yang mereka maksud dalam percakapan itu? Nyanyian bernada kekanak-kanakan seperti apakah yang ternyata memiliki makna mengejek serta masih dinyanyikan hingga sekarang? Mengapakah Mantingan rasa-rasanya tidak pernah mendengar kisah tentang bangsa tersebut?


Akan tetapi, Mantingan merasa bahwa bangsa yang dimaksudkan oleh juru masak di dapur itu memiliki sedikit atau banyak kaitannya dengan Kitab Teratai. Entah mengapa, ia merasa demikian. Bukankah Kitab Teratai dan bangsa pribumi itu sama-sama masih samar asal-usulnya, namun pula sama memiliki ajaran kebaikan dan kebenaran?


Tentang Kitab Teratai sendiri, meskipun agaknya tidak memiliki sedikitpun ajaran igama di dalamnya, tetap saja mengandung nilai kebenaran pada setiap bait kalimat di dalamnya.


Akankah Kitab Teratai nyatanya memiliki segudang rahasia yang sulit diungkapkan oleh Mantingan atau bahkan Kiai Guru Kedai sekalipun? Bagaimanakah jika kenyataannya, Kitab Teratai merupakan kitab suci bagi igama asli bangsa pribumi yang tadi disebutkan atau bahkan merupakan kitab hukum dan perundang-undangan bangsa tersebut?


Semuanya masih samar. Semuanya masih sulit ditebak kebenarannya. Apakah sejarah tentang Kitab Teratai maupun bangsa pribumi itu benar-benar lenyap ataukah tidak benar-benar ada alias dikarang semata untuk kepentingan merongrong sejarah yang ada saat ini? Lagi-lagi, semuanya masih samar, semuanya masih sukar dijelaskan.


Hidangan diantar sekaligus ke meja Mantingan oleh salah satu juru masak yang tadi bercakap-cakap dengan kawannya. Pendekar itu menatap Mantingan dari atas sampai bawah dengan tatapan yang sangat jeli, meskipun senyumannya masih mengembang lebar di bibir.


Mantingan membayar semua hidangan yang ia pesan dan membalas senyum pendekar itu. Mantingan tidak sengaja menyelipkan sedikit nafsu pembunuh di dalam tatapannya, sehingga pendekar itu langsung mengalihkan pandang untuk sebab yang tidak dia ketahui sama sekali!

__ADS_1


***


MANTINGAN, Bidadari Sungai Utara, Kana, dan Kina makan bersama di kamar Bidadari Sungai Utara. Dalam kesempatan kali ini, berkali-kali Mantingan mengutuk dirinya sendiri. Bukan tanpa alasan, matanya sukar sekali untuk berhenti menatap Bidadari Sungai Utara!


Akankah hal itu tidak wajar bagi seorang Mantingan jikalau gadis itu tampak amat sangat cantik jelita dan menawan paripurna pagi ini?


Tanpa cadarnya, gadis itu bagaikan bidadari yang turun dari negeri kahyangan hanya untuk meminum setetes embun pagi di atas daun talas segar. Bahkan tidak berlebihan jika menyebutnya sebagai yang tercantik di antara kalangan para bidadari. Begitulah Bidadari Sungai Utara, yang betapa pun mestilah diketahui bahwa dia tetaplah manusia yang lahir dari perut ibu.


Mantingan mengakui, darah mudanya sedang bergejolak. Tentu saja ia sendiri pun merupakan manusia biasa yang seringkali bergairah akan cinta. Tak peduli seberapa kuat budi luhurnya, Mantingan tetaplah manusia berdarah muda.


Bidadari Sungai Utara pun agak-agaknya tidak mempermasalahkan hal itu. Gadis itu jelas mengetahui bahwa Mantingan tiada henti memandanginya, akan tetapi dia tidak memberikan tanggapan apa pun dan justru bertindak seolah Mantingan tidak pernah menatapnya.


Bahkan Kana pun menyadari tatapan Mantingan itu. Sesekali anak itu berdeham, yang selalu saja menyadarkan Mantingan setiap dia berdeham, tetapi agaknya itu percuma saja sebab Mantingan senantiasa terpikat kembali.


“Kak Maman, Kina ingin belajar menulis rapi di lontar. Apakah Kakak bisa mengajari Kina?” Mata Kina berbinar penuh harapan.


Mantingan tercekat. Tentu saja permintaan itu tidak dapat ditolaknya sama sekali meski dalam keadaan seperti ini sekalipun.


“Kina belum bisa menulis?” Mantingan kemudian bertanya dengan halus. Seingatnya, ia pernah melihat Kina memainkan pengutik di atas lembaran lontar.


Kina tersenyum malu-malu. “Sebenarnya, Kina sudah bisa, biarpun masih sedikit-sedikit. Tapi, kina masih belum bisa menulis aksara yang rapi dan indah selayaknya aksara yang dibuat Kak Maman. Aksara yang Kina tulis sering keluar dari garis yang telah Kina tentukan.”


Mantingan menganggukkan kepalanya pelan dan menunjukkan senyum hangatnya. “Baiklah, Kina. Kita bisa mulai kamarku setelah Kina selesai makan.”


Bidadari Sungai Utara menyahuti, “Mengapa tidak di sini saja?”

__ADS_1


Sontak Mantingan meneguk ludah. Senyum hangatnya berubah seketika menjadi senyum kaku.


“Saudari, engkau sebenarnya mengetahui apa yang sedang kuhadapi saat ini, bukan?”


Bidadari Sungai Utara menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tipis. “Ya. Namun, bukankah Saudara pernah berkata kepadaku untuk selalu menghadapi masalah dan bukan lari daripadanya? Dan daku sepertinya ragu akan penalaranku.”


Mantingan tersenyum pahit sebelum menjawab, “Untuk masalah seperti ini, Saudari, diriku takut akan terjadi suatu hal yang buruk.”


“Jika itu terjadi, diriku benar-benar tidak akan mempermasalahkannya.”


Jantung pemuda itu tiba-tiba saja berdebar kuat. Ia merasakan sesuatu yang agaknya tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Akal sehatnya seakan memudar, berganti dengan bujukan-bujukan sesat dari dalam benaknya.


Mantingan menatap gadis itu dengan lamat-lamat. Apakah kiranya yang sedang terjadi sebenarnya? Mengapakah sikap Bidadari Sungai Utara begitu berbeda daripada sebelum-sebelumnya?


Mantingan tidak menunggu lebih lama lagi untuk segera beranjak berdiri dari tempatnya.


“Kina, habiskan terlebih dahulu makananmu dan siapkanlah peralatan yang dibutuhkan. Daku akan kembali sebentar lagi.”


Kina tentunya tidak dapat mengerti dengan apa yang terjadi. Sungguh, itu berada di luar pemahamannya. Maka yang dapat dia lakukan sekarang hanyalah menganggukkan kepala.


Tubuh Mantingan tiba-tiba saja menghilang dari tempat itu, bersamaan dengan terbukanya jendela di kamar Bidadari Sungai Utara.


Kana sungguh penasaran, dia tidak akan puas jika hanya bertanya-tanya di dalam benak saja. Maka bertanyalah anak itu pada Bidadari Sungai Utara, “Kaka Sasmita, mengapakah Kakanda bertolak punggung begitu selesai beranggar denganmu?”


Bidadari Sungai Utara hanya tersenyum tipis dan menjawab, “Dia pemuda yang tulus dan suci.”

__ADS_1


__ADS_2