
TEPAT setelah Munding Caraka masuk ke dalam toko tersebut, tetiba saja pintu berdebam, tertutup rapat-rapat. Muncul suatu pola sihir bercahaya hijau yang menyegel pintu tersebut. Mantingan lekas memasang kuda-kuda, pula dengan mencabut Pedang Savrinadeya dari sarungnya.
“HAHAHAHA! Kerbau siluman dan lelaki muda berbadan segar, santapan yang sangat nikmat!”
Suara wanita tua itu kembali muncul. Menggelegar ke seluruh ruangan yang gelap-gulita. Mantingan lekas menancapkan Ilmu Mendengar Tetesan Embun. Secepat itu pula dirinya menemukan letak wanita tua itu.
“Wahai, Nenek Tua!” Mantingan menyapa ramah sambil menurunkan pedangnya. “Apakah ini jebakan sungguhan atau hanya permainan saja? Mengapakah Nenek menempel di langit-langit ruangan bagaikan cecak yang mengincar kelekatu?”
Lama tak terdengar balasan. Hanya terdengar dengus napas Munding Caraka. Sedangkan Mantingan dan wanita tua itu telah begitu terlatih untuk menyembunyikan suara napasnya, bahkan pula suara detak jantungnya!
“Oi, Anak Muda! Bagaimana gerangan dikau bisa mengetahui letak diriku?”
Mantingan hanya menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal sama sekali. Bingung harus menjelaskan seperti apa. Dan Ilmu Mendengar Tetesan Embun sebaiknya tidak perlu dijelaskan kepada sembarang orang.
“Siapa ibu dan bapak kau? Tidak menjawab pertanyaan dari orang tua seperti diriku, sama saja telah bersikap teramat tidak sopan! Biarlah daku yang sudah berumur ini memberi sedikit pelajaran pada yang lebih muda!”
Tepat setelah selesai berkata, wanita tua itu menggerakkan jari-jemarinya. Seketika itu pula Mantingan mendengar desir angin dan desing logam dari empat penjuru ruangan. Jarum beracun!
Mantingan lekas berkelebat. Memutari Munding Caraka dengan kecepatan melebihi kilat. Suara denting logam mengisi kesunyian ruangan, entah itu logam beradu logam, atau logam yang terpelanting di lantai kayu. Semuanya berdenting. Selepas itu, ruangan kembali pada kesunyiannya yang kini terasa amat mencekam.
Mantingan kembali mengangkat pedang, pula kembali memasang kewaspadaan penuh. Ia rasa, ini bukan gurauan lagi.
“Nenek, apa yang engkau lakukan?” Mantingan masih tidak menggunakan penekanan dalam ucapannya, tetapi suaranya terdengar jauh lebih dingin.
“Jelas saja hendak memberi pelajaran! Tetapi sepertinya, pelajaran yang kuberikan kepadamu itu terlalu rendah. Biar kutingkatkan hingga dua kali lipat!”
Mantingan tidak banyak bicara. Berkelebat meluncurkan belasan jarum beracun dan Lontar Sihir. Hanya dalam beberapa kejap mata saja, seluruh rangkaian penyerangan dan pertahanan di ruangan itu lumpuh.
Mantingan telah menyumbat saluran pelontar dari tabung penyimpanan jarum beracun yang tersebar di sejumlah titik.
__ADS_1
Ia pula telah mematahkan seluruh mantera penjebak dan penyerang yang terpasang di ruangan itu.
Lumpuh sudah semuanya.
Mantingan sedikit mendongakkan kepalanya, menatap tajam ke arah wanita tua yang masih saja menempel di langit-langit ruangan bagaikan seekor cecak. Betapa ia tahu bahwa nenek itu sedang tertegun hingga tidak mampu berbicara.
Mantingan telah menunjukkan—bukan mengatakan—kepada wanita tua itu bahwa dirinya dapat dibunuh dengan semudah membalikkan telapak tangan. Tidak perlu mengatakannya secara langsung, nanti lagi-lagi dirinya disangka tidak sopan!
Wanita tua itu melepas diri dari langit-langit ruangan. Turun seringan helaian kapas. Mendarat di atas lantai kayu dengan sempurna, hampir tiada menimbulkan suara.
“Siapakah dikau?”
Mantingan lekas menjawab, “Hanya sekadar pelanggan yang hendak membeli tetumbuhan herbal untuk kerbaunya.”
“Bukan itu! Yang kutanyakan adalah nama dikau, dari mana dikau berasal, dan apa latar belakang dikau!”
“Mantingan? Apakah dikau ....”
Terdengar suara jentik jari. Disusul dengan ruangan yang tetiba saja menjadi terang-benderang oleh api obor yang berkobar. Namun, Mantingan sama sekali tidak terkejut, dirinya telah menduga bahwa obor-obo itu menyala dengan kendali sihir dari si wanita tua.
“Oh, astaga!” Wanita tua itu terperangah menatap wajah Mantingan—yang barang tentu terpampang dengan sejelas-jelasnya ketika obor-obor ruangan dinyalakan. “Engkau ... engkau Pahlawan Man!”
Mantingan memberi tanda kepada wanita tua itu untuk menenangkan diri. Bukan hal yang menyenangkan jika jati dirinya sampai diketahui khayalak ramai di pasar ini. Telah diketahui bahwa angin bertiup kencang di dunia persilatan, segala kabar akan terbesar ke penjuru tempat secepat angin badai.
Dan untuk mencegah terbocornya kabar tentang ini, membunuh wanita itu menjadi salah satu pertimbangan Mantingan.
“Duhai! Dikau adalah calon Pemangku Langit termuda yang sekarang ini sedang diburu banyak pendekar! Rupa-rupanya dikau ada di sini!”
“Nenek Tua, janganlah berkata terlalu keras.” Mantingan berkata dengan sedikit resah. Mulai menyesali keputusannya untuk berkunjung ke toko ini. Ia sama sekali tidak menduga bahwa pemilik toko ini adalah orang telaga persilatan, yang bahkan kini mampu mengenali wajahnya dengan mudah!
__ADS_1
“Daku yang bernama Wilguna ini sungguh tidak dapat mengenalimu sebelumnya, hanya ingin bermain-main saja, jadi maafkanlah.” Wanita tua yang mengaku memiliki nama Wilguna itu lantas menjura.
Mantingan langsung balas menjura dengan senyum canggung di wajahnya. Tidak sepatutnya yang tua menjura lebih dulu kepada yang muda.
“Nenek Wilguna, kuharap engkau bukan salah satu dari banyaknya pendekar telaga persilatan yang memburuku.” Mantingan kembali menegakkan tubuhnya ketika berkata seperti itu.
Wanita tua yang tampangnya sudah sangat keriput itu tertawa dengan lebarnya. Serak, selazimnya orang lanjut usia yang memaksakan diri untuk tertawa. “Hidupku sudah makmur. Kesehatan, keamanan, dan keuanganku terjamin. Untuk apakah daku repot-repot memburumu?”
Mantingan tersenyum tipis, meski tidak dapat langsung mempercayai perkataan itu. Sungguh, mudah sekali manusia berbohong, terlebih lagi dengan dunia persilatan belakangan ini!
“Benar sekali apa kata pendekar-pendekar tentang Pahlawan Man, tidak enteng tangan membunuh orang. Engkau dapat membunuhku tadi, secepat dan semudah membalikkan tangan, tetapi engkau tidak melakukan itu. Orang tua ini merasa sangat beruntung.”
“Tidaklah mengapa, Nenek.” Mantingan mengibaskan lengan kayunya sambil tersenyum canggung. Dirinya merasa bahwa perkataan itu tidaklah terlalu benar, mengingat jumlah nyawa yang melayang di tangannya sudah tidak dapat terhitung lagi. Namun kepada Wilguna, ia enggan menceritakannya.
Mantingan kemudian menjelaskan maksud dan tujuan dari kedatangannya, yang tidak lain dan tidak bukan adalah membeli tetumbuhan herbal. Wilguna menganggukkan kepalanya beberapa kali sebelum meminta Mantingan masuk lebih dalam ke bangunan tokonya. Sedangkan Munding, dengan terpaksa ditinggalkan di ruangan tengah. Wilguna bersumpah mengenai keselamatannya selama kerbau itu masih berada di dalam tokonya.
Sambil berjalan, Wilguna sedikit menceritakan beberapa hal.
____
catatan:
Malam ini, Sang Musafir mencapai 500 episode. Wow, pencapaian yang luar biasa untuk kita semua. Untuk saya, sebagai penulis, yang telah menulis hingga sepanjang dan selama ini. Dan untuk kalian, sebagai pembaca, yang telah membaca hingga sepanjang dan selama ini. Terima kasih banyak atas segala dukungan kalian, sungguh, itu memotivasi saya untuk lebih menghadirkan karya yang lebih baik lagi.
Malam ini, Seni Bela Diri Sejati versi NovelToon update juga.
Selamat menikmati malam Minggu. Saya yakin bahwa para pembaca Sang Musafir rerata sudah menikah, sehingga bisa malam mingguan bersama pasangan dengan halal + semesra-mesranya.
__ADS_1