Sang Musafir

Sang Musafir
Perbincangan Dua Juru Masak


__ADS_3

DI antara suara desis minyak dan kelontang alat masak di ruang masak, terjadilah percakapan yang dilaksanakan secara berbisik-bisik. Mantingan terus mendengarkan.


“Benarkah demikian?”


“Agak-agaknya seperti itu, ketika daku lihat caranya melangkah, kuyakin bahwa dia adalah pendekar kawakan di telaga persilatan.”


“Bagaimana bisa? Dia terlihat masih muda.”


“Beberapa pendekar tua seringkali melakukan ilmu hitam agar dapat menukar jiwanya ke dalam tubuh orang muda. Bisa jadi, dia merupakan salah satunya.”


“Daku rasa tidak begitu. Pendekar tua memiliki logat bicara yang sangat kental keanehannya, tetapi dia tidak.”


“Daku sudah lebih banyak menelan garam di rimba persilatan ketimbang dikau.”


“Itu tidak menjamin dikau tahu segala hal.”


“Terseralah bagaimana anggapan dikau, daku akan tetap menganggap orang berpenampilan muda itu adalah pendekar tua yang telah mengganti tubuhnya.”


“Ya, tetaplah pada keyakinan masing-masing. Tidak akan ada yang mengganggu keyakinan dikau.”


Mantingan merasakan senang dan penasaran bersamaan. Senang karena bisa mendapatkan sedikitnya keterangan tentang dunia persilatan; dan penasaran dengan sosok aneh yang mereka bicarakan.


Setidaknya sampai di sini, Mantingan mengetahui bahwa dua orang yang berbicara bisik-bisik itu berada di dapur, berkawan dengan suara desis minyak dan alat masak.


Mungkinkah mereka merupakan pendekar yang sedang menyamar menjadi juru masak untuk suatu kepentingan tertentu? Ataukah mereka merupakan juru masak sebenar-benarnya dan sekaligus pula menjadi pendekar?


Untuk sekarang, Mantingan tidak bisa menjawab pertanyaan yang muncul dalam benaknya itu.


“Ya, sekarang tidak ada yang peduli soal keyakinan. Orang-orang berbeda igama hidup rukun. Berkawan dengan siapa saja, tak peduli berigama Hindu atau Buddha yang mereka kawani.”

__ADS_1


“Keyakinan dalam diri seseorang merupakan sesuatu yang tiada bisa diganggu gugat. Senjata tidak akan menyelesaikan persoalan keyakinan.”


“Tak sepenuhnya tiada bisa diganggu gugat. Sebenarnya bisa saja, asalkan tidak dengan senjata.”


“Diapakankah?”


“Disusupi. Daku pernah mendengar kisah suatu bangsa besar. Keyakinan rakyatnya amat sangat kuat. Mereka menciptakan aturan bernegara yang sesuai dengan keyakinan mereka, sehingga bangsa mereka bukan saja menjadi bangsa besar melainkan pula bangsa beradab. Tetapi suatu ketika, akibat rasa hasrat dan nafsu yang besar, bangsa lain mencoba menaklukkan bangsa tersebut. Jalan satu-satunya ialah melalui jalur laut.”


Mantingan mengerutkan dahinya. Kini ia benar-benar penasaran dengan apa yang akan diucapkan orang itu selanjutnya, sebab soal bangsa ini, ia merasa belum pernah mendengarnya.


“Namun bangsa asing itu menderita kekalahan telak. Bukan hanya perkara ketangguhan bangsa pribumi menghadapi bangsa asing, melainkan pula karena keadaan alam yang tidak mendukung. Bangsa asing itu unggul di daratan, tetapi tidak di lautan.”


“Lalu hanya sampai di situkah kisahnya?”


“Tidak. Jika kuhentikan kisahnya sampai di sini, maka itu akan menjadi akhirnya yang indah. Tetapi pada kenyataannya, bangsa itu memiliki akhir yang sama sekali tidak indah ....”


Suara itu hilang untuk sekejap. Digantikan dengan suara kawan seperbincangannya. “Engkau sengaja berhenti agar daku penasaran, hah?”


“Jadi maksud dikau, ini bukanlah sejarah asli?”


“Tentu saja ini merupakan sejarah asli, Kawan. Tetapi memang diselewengkan untuk kepentingan bangsa penakluk.”


“Apa buktinya?”


“Buktinya tercantum jelas di kitab-kitab lama yang tinggal sedikit jumlahnya—akibat dimusnahkan. Daku mendapatkan ini dari kitab-kitab yang dahulunya pernah menjadi kitab resmi kerajaan, tetapi menjadi kitab terlarang setelah kerajaan itu ditaklukkan. Itu adalah upaya bangsa asing untuk menulis ulang sejarah di negeri jajahannya. Lagi pula, sejarah ini akan sangat jelas jika kita mempergunakan akal sehat untuk memahaminya.”


“Daku tidak terlalu mempercayai kitab-kitab yang tidak resmi, apalagi kitab terlarang seperti yang kaukatakan tadi. Tetapi untuk menemaniku yang sudah mulai bosan memasak, ceritakanlah kisah bangsa itu kepadaku!”


“Tadi sampai di mana?”

__ADS_1


“Jika tidak salah, tadi dikau mengatakan bahwa bangsa itu tidak memiliki akhir yang indah.”


“Nah! Biar daku lanjutkan ....”


Ketika orang itu menarik napas panjang, Mantingan mulai mempertajam Ilmu Mendengar Tetesan Embun agar tidak ada satupun kata dari orang itu yang ia lewatkan. Boleh dikata, ia cukup penasaran dengan perbincangan mereka.


“Bangsa asing itu terpaksa pulang meski membawa kekalahan telak. Menjadi kekalahan terpahit yang pernah mereka rasakan. Api dendam masih terus membara untuk menjatuhkan bahkan menaklukkan bangsa itu, apa pun caranya. Bangsa asing telah mengetahui bahwa ia tidak dapat menyerang bangsa pribumi itu dengan serangan bersenjata, ia pasti akan kembali menderita kekalahan telak. Maka digunakanlah penyerangan secara halus yang sasarannya adalah pemikiran dan keyakinan rakyat di bangsa pribumi itu.


“Setelah perencanaan yang matang, tentara-tentara mereka datang ke negeri pribumi dengan menyamar sebagai pedagang. Yang mereka bawa bukan saja barang dagangan, melainkan keyakinan dan igama baru yang akan merombak ulang adab, batin, budi pekerti, kelakuan, dan pandangan hidup rakyat di negeri itu.


“Kedatangan pedagang dan orang asing selalu disambut dengan hangat oleh bangsa pribumi itu. Namun, alangkah tidak mengetahuinya mereka bahwa yang disambut hangat itu justru merupakan musuh yang telah menyimpan dendam kesumat sejak lama pada bangsa mereka!


“Hingga terjadilah penyebaran ajaran dan keyakinan oleh tentara-tentara musuh itu. Pengaruhnya sangat kentara, sebab ajaran igama itu telah dicampurkan dengan khayalan-khayalan buatan mereka yang sama sekali tidak ada dalam kenyataan. Rakyat mudah ditipu. Perlahan tetapi pasti, terjadilah perubahan adab, batin, budi pekerti, kelakuan, dan pandangan hidup rakyat-rakyat di negeri itu.


“Sayangnya, ajaran igama itu memisahkan kehidupan politik dengan keyakinan, sehingga rakyat-rakyatnya sibuk sembahyang tanpa mempedulikan hukum di bangsanya. Mereka telah dibuat menjadi buta hukum.”


Kawannya menyela, “Igama apakah yang bangsa asing itu bawa?”


“Daku tidak akan mengatakannya padamu di sini, tetapi biar kuperjelas bahwa igama itu tidak terlalu terkenal di Yawabhumi maupun Dwipantara saat ini.”


“Lalu apakah menurutmu ajaran mereka benar-benar menyesatkan?”


“Hmm ... sebenarnya, igama itu sama sekali tidak menyesatkan pada saat masih berbentuk asli. Bahkan membawa kesejahteraan sejati bagi seluruh manusia di seluruh dunia. Igama itu sampai memiliki kekuasaan untuk menjaganya. Namun, kekuasaan yang menjaganya telah hancur ketika igama itu sampai di negeri pribumi yang tadi kusebutkan. Dan tahukah dikau siapa yang menghancurkan kekuasaan itu?”


“Sama sekali daku tidak mengetahuinya, katakanlah ....”


“Yang menghancurkan kekuasaan itu adalah bangsa asing yang kusebutkan tadi!”


“Yang benar kaukata? Jika begitu, bukankah igama yang dibawa bangsa asing itu ke negeri pribumi adalah igama tipu-tipu?”

__ADS_1


“Daku tidak menyarankan dikau mengatakannya di tempat ini. Jika sampai ada orang yang mengetahui bahwa dikau menyinggung igama tipu-tipu, betapa itu akan menyulut api kemarahan yang amat sangat besar.”



__ADS_2