Sang Musafir

Sang Musafir
Mengalahkan Pendekar Tombak Api


__ADS_3

MENDENGAR itu, Mantingan menahan napasnya untuk sejenak. Tindakan yang telah dilakukan oleh Pendekar Tombak Api sebenarnya telah berhasil membuatnya terhindar dari masalah besar, tetapi dengan begitu, nama Pendekar Tombak Api justru tercoreng. Bukanlah tindakan terpuji jika Mantingan tidak membalasnya.


“Baiklah,” kata Mantingan. Tanpa ragu-ragu, ia mengeluarkan pedangnya. “Marilah kita mengadu ilmu sebagai sesama pendekar.”


Maka seketika itu, pertarungan bermula. Pendekar Tombak Api membawa banyak sekali batang tombak di punggungnya, yang segera menandakan bahwa dirinya tidak segan-segan untuk mengorbankan senjatanya.


Namun, bahkan Mantingan tidak berhasil membuat lawannya itu menjatuhkan satu senjata.


Sebagai pendekar berpedang, melawan pendekar yang menggunakan tombak sebagai senjata utamanya adalah sesuatu yang sangat merepotkan.


Namun, Mantingan menemukan suatu pola pertarungan lawan. Pendekar Tombak Api penyerang dengan bertubi-tubi tetapi tidak dengan kekuatan yang besar, maka untuk melawannya Mantingan menggunakan cara sebaliknya.


Kini, Mantingan lebih banyak menghindar daripada menangkis, dan jika muncul kesempatan, ia akan menyerang dengan kekuatan besar. Tombak lawan lantas patah begitu saja!


Mantingan mengulangi cara yang sama hingga Pendekar Tombak Api kehilangan hampir seluruh tombaknya.


“Pahlawan, daku melihat dikau masih menahan diri. Semula, daku tidak mempermasalahkannya sebab sebenarnya pun daku masih menahan diri. Tetapi kali ini, daku akan mengeluarkan jurus terakhir yang kumiliki, jadi janganlah lagi engkau menahan diri.”


Tiba-tiba saja, tubuh Pendekar Tombak Api terbakar. Kini, barulah Mantingan mengetahui mengapa pendekar itu memiliki julukan yang sedemikian.


Mantingan menjadi bimbang, sebab ia tahu bahwa jika tidak dilawan dengan ilmu pembacaan pertanda, serangan pamungkas dari Pendekar Tombak Api akan sangat berbahaya. Tetapi jika ia menggunakan ilmu tersebut, pertarungan akan menjadi tidak seimbang sama sekali.


Ketika dilihatnya Pendekar Tombak Api melesat semakin mendekat, hingga bahkan tiada terpaut lebih dari tiga depa, Mantingan segera menancapkan ilmu pembacaan pertanda sebagai jurus pamungkas yang paling dapat memastikan kematian lawan. Dirinya tidak memiliki pilihan lain.


Lekas diketahuinya betapa Pendekar Tombak Api akan menusukkan sepasang tombaknya dari atas ke bawah, sehingga begitulah ia bergerak ke samping sebelum secepat itu pula menghunjamkan pedangnya pada dada lawannya.


Pendekar Tombak Api memuntahkan darah segar dari mulutnya sebelum melayang jatuh tanpa daya. Kobaran api yang semula melahap badannya segera sirna begitu saja. Sebelum tubuh pendekar itu menyentuh tanah, sudah terlebih dahulu Mantingan menyarungkan Pedang Kiai Kedai. Lekas saja ia menghampirinya.


Tubuh Pendekar Tombak Api sudah tidak lagi berbentuk. Bukan bohongan api tersebut membakar habis dirinya. Namun, pria itu masih bisa berbicara pada Mantingan yang berlutut tepat di sebelahnya.

__ADS_1


“Bila dikau tidak meruntuhkan langit persilatan, maka persiapkanlah telingamu untuk mendengar kabar-kabar buruk di masa mendatang,” kata Pendekar Tombak Api.


“Kabar buruk semacam apa?” Namun, sia-sia saja pertanyaan itu. Pendekar Tombak Api telah habis hayat.


Mantingan mengembuskan napas panjang sambil melirik Bidadari Sungai Utara yang rupa-rupanya telah memalingkan pandangan ke lain tempat. Tentulah tubuh Pendekar Tombak Api terlalu mengerikan untuk dilihat saat ini.


Segera ia mendirikan pancaka untuk lawan tangguhnya itu. Namun, tentulah merupakan tindakan bodoh bila dirinya langsung membakar pancaka tersebut sedang sangat mungkin banyak pendekar yang sedang berkeliaran di sekitarnya, maka ia meninggalkan sebuah lontar sihir yang dapat terbakar pada waktu yang telah ditentukan sebelumnya.


Menarik napas dalam-dalam, Mantingan berseru, “Kita harus pergi ke Tanjung Kalapa!”


***


MANTINGAN kehilangan selera mengembara dengan berjalan kaki setelah mengetahui bahwa keberadaannya telah terendus dunia persilatan, dengan cara yang hingga kini pun tak ia ketahui. Mungkinkah seseorang dapat menembus bayangan pekat yang menutupi wajahnya?


Hal tersebut hampirlah menjadi suatu kemustahilan, sebab ilmu pembacaan pertanda memungkinkan Mantingan untuk dapat menyadari setiap pasang mata yang menatap wajahnya.


Langkah kaki adalah satu-satunya hal yang paling sulit disandiwarakan oleh para pendekar dunia persilatan, bahkan pendekar ahli sekalipun akan lebih memilih untuk menyewa kuda jika mereka harus mengadakan penyamaran di tengah keramaian.


Maka dari itu, Mantingan memutuskan untuk terbang tinggi dengan menunggangi Munding Caraka ketika matahari tepat berada di ufuk tengah, tidaklah banyak orang yang memandang ke langit di waktu seperti itu.


Namun yang menjadi persoalan, Munding bukanlah tidak memiliki batasan tenaga. Meskipun kerbau itu telah memaksakan seluruh kemampuannya, tetap saja pada akhirnya ia melambat dan turun perlahan-lahan menuju daratan.


“Turun saja, Munding.” Mantingan tidak ingin memaksa Munding. “Mendaratlah di jalanan itu. Kita akan singgah sejenak di Padepokan Angin Putih.”


Mantingan pernah melintasi jalur ini sebelumnya saat mengantar Bidadari Sungai Utara menuju laut utara berbulan-bulan silam, dari sana ia menemukan tanda-tanda keberadaan Padepokan Angin Putih di dalam sebuah kota kecil yang berlintasan dengan jalur tersebut. Saat itu, dirinya tidak sempat mengunjungi padepokan tersebut demi mengingat betapa mendesaknya keadaan.


Namun, kini ia benar-benar membutuhkan perlindungan dari perguruannya. Mengambil pelajaran dari kejadian di Penginapan Cakar Merah, Mantingan akan berpikir ratusan kali untuk bermalam di sebuah penginapan. Mata dan telinga jaringan bawah tanah bagai selalu berada di mana-mana; dinding bangunan, pepohonan, bebatuan, bahkan hingga angin sekalipun.


Perlulah diingat kembali bahwa Padepokan Angin Putih adalah sebutan untuk cabang kecil Perguruan Angin Putih. Pembangunan padepokan-padepokan itu dimulai pada saat kepemimpinan Rama, dengan harapan dapat menunjang sumber daya Perguruan Angin Putih bagian pusat dengan membuat padepokan-padepokan itu menerima murid-murid luar yang mau membayar.

__ADS_1


Mantingan ingat betapa Kiai Kedai sebenarnya tidak setuju dengan keputusan itu. Memang tidak mengapa bila Rama hendak membangun banyak padepokan di seantero Javadvipa, tetapi ilmu-ilmu berharga dari Perguruan Angin Putih menjadi suatu permasalahan tersendiri.


Gurunya itu berkata:


“Ilmu-ilmu Perguruan Angin Putih sangatlah mematikan ketimbang jurus-jurus sejenis yang beredar di dunia persilatan. Bila sampai dikuasai pendekar berwatak buruk, ilmu-ilmu tersebut dapat berbalik menjadi senjata memakan tuan. Selama ini, Perguruan Angin Putih lebih banyak mengambil murid dari anak-anak anggotanya, sekalipun terdapat murid yang datang dari luar, tidaklah akan semudah mengeluarkan keping-keping emas sampai orang itu bisa mempelajari ilmu-ilmu utama dari perguruan.”


Kiai Guru Kedai menawarkan gagasan untuk mengganti penerimaan murid menjadi penerimaan tugas. Padepokan Angin Putih dapat menerima tugas bayaran yang tidak melenceng jauh dari kebajikan, semacam memerangi kelompok aliran hitam.


Gagasan tersebut disetujui oleh Rama, tetapi dia tetap menjalankan gagasan pertama untuk menerima murid luar yang mau membayar, dengan pertimbangan bahwa ilmu-ilmu yang diajarkan tidaklah terlalu berharga dan mematikan. Kiai Guru Kedai tidak dapat menolaknya lagi, sebab betapa pun dirinya bukanlah pemimpin Perguruan Angin Putih, bahkan disebut sebagai bagian dari anggotanya pun tidak.


Memasuki kota, Mantingan segera memimpin jalan menuju Padepokan Angin Putih.


***


“Adik Man, tidakkah dikau menerima kabar lain kecuali bahwa kerajaan sedang memburumu?”


BUKAN saja suara tetua Padepokan Angin Putih itu yang terdengar amat berat, melainkan pula dengan pertanyaannya. Terbukti dengan cara dirinya mengajak Mantingan berbicara empat mata di ruangan tertutup ketika pemuda itu tiba di padepokan yang dipimpinnya.


“Ada kabar apakah lagi yang kulewatkan, Tetua?” Mantingan balik bertanya. Dirinya baru saja keluar dari dalam gua setelah berhasil menundukkan keterpurukan atas kematian Chitra Anggini, dengan lebih-lebih sebelumnya ia baru kembali dari Suvarnabhumi. Perkembangan kabar yang benar-benar cepat membuat dunia terasa asing baginya.


Setelah menarik napas panjang, berkatalah tetua padepokan itu, “Adik, bukan saja Tarumanagara yang sedang gencar mengincarmu saat ini, melainkan pula Perguruan Angin Putih tempat dikau belajar ilmu silat.”


Perkataan itu bagai hantaman petir di siang terik yang meledak tepat di atas kepala Mantingan. Betapa tidak percaya ia pada kabar itu!


“Tidak mungkin!” Mantingan membantah keras. “Ketua Rama tidak mungkin memburuku juga!”


“Diriku sendiri pun hampir-hampir tidak percaya dengan kabar itu ketika seorang pengantar pesan datang ke padepokan ini, Adik Man. Bergegas daku ke wilayah Gunung Kubang, tempat perguruan pusat kita, untuk mendengar sendiri kabar itu diucapkan oleh Ketua Rama. Ternyata memang benarlah, Perguruan Angin Putih membantu kerajaan memburu dirimu, entah hidup entah mati. Namun, Adik Man janganlah membenci Perguruan Angin Putih, Ketua Rama memiliki alasan kuat di balik tindakannya itu.”


Dia kemudian bercerita bahwa Sri Punawarman telah berulangkali menuduh Perguruan Angin Putih menyembunyikan Mantingan di suatu tempat agar tidak tertangkap. Kukuh. Percuma saja Rama membantah, sebab raja itu telah membuat putusan bahwa Perguruan Angin Putih harus berperan besar dalam pemburuan Pahlawan Man. Jika saja Rama tidak memenuhi hal itu, Perguruan Angin Putih akan terkena masalah besar.

__ADS_1


__ADS_2