
“Bukanlah persoalan itu yang hendak kubincangkan denganmu, Rashid.”
MANTINGAN menggeleng pelan sambil begitu berkata ia, hendak mengingatkan Rashid bahwa mereka bertemu di sini bukanlah untuk membahas segala sesuatu tentang cinta, terutama cintanya dengan Bidadari Sungai Utara yang sungguh tidak berakhir baik.
“Nah, lantas apakah yang hendak kaubincangkan denganku, Kawan?” Rashid menyandarkan punggungnya ke sandaran bangku. Menjepit pipa cangklong di mulutnya, kemudian mematiknya dengan sepasang batu api. Mencoba bersikap lebih santai lagi, meskipun dia tahu betul bahwa apa pun yang akan Mantingan bicarakan kali ini pastilah berat.
“Soal naskah itu.” Berbanding terbalik dengan Rashid, Mantingan justru menarik punggungnya dari sandaran kursi. Kali ini, dirinya bersungguh-sungguh. “Daku sudah menyelesaikannya.”
Rashid melebarkan mata, begitu pula dengan mulutnya yang terbuka lebar tanpa sadar. Tak elak lagi pipa cangklongnya meluncur turun. Jatuh setelah tidak ada lagi bibir yang menjepitnya. Betapa kabar itu berarti sangat baik baginya, tetapi betapa pula akan merobek tabir jati dirinya barang sesaat lagi!
Rashid bergerak tangkas, teramat tangkas, begitu tangkas, hingga berhasil menangkap cangklong itu hanya sesaat setelah melayang jatuh.
Dengan keringat dingin di dahinya, Rashid resah-risau melirik Mantingan di hadapan. Ditemukannya pemuda itu sedang tersenyum lebar sambil pula menatapinya.
“Baiklah,” kata Rashid pasrah. “Daku bagai tiada mampu menyembunyikan segala apa di hadapanmu, Kawan.”
“Daku sudah mengetahuinya sejak awal.” Mantingan menjawab santai, lagi-lagi berbanding terbalik dengan Rashid yang masih jua bersikap tegang. Begitu cepat keadaan berbalik! “Hanya saja, daku belum mengetahui sampai batas mana pembendaharan ilmu milikmu, sebab dikau sendiri belum pernah menunjukkannya kepadaku. Maka wajarlah jika daku memasang kewaspadaan penuh bilamana bertemu denganmu sebelumnya. Tetapi kini, sedikit banyak daku telah mengetahuinya, daku merasa tidak perlu berwaspada dengan sepenuh-penuhnya terhadap dirimu.”
“Maafkanlah, Kawan, daku telah menyembunyikan hal ini darimu.” Rashid pasang tangan terkepal, menjura sambil menundukkan kepala, sebagaimana biasanya orang-orang persilatan memberikan hormat pada sesama. “Daku hanya tidak ingin dikau menantangku bertarung, yang selalu saja akan berakhir pada pertumpahan darah salah pada salah satunya. Kekasihku masih dan akan terus menanti kepulanganku di Jazirah. Sebelum bertemu dengannya daku belum ingin mati. Sungguh, hanya itulah alasanku.”
“Bukan masalah, ini bahkan menjadi suatu keuntungan bagiku.” Mantingan masih saja tersenyum dengan cukup lebar, membuat Rashid tak sanggup menahan pertanyaannya.
“Keuntungan? Semacam apa?”
__ADS_1
“Seperti yang tadi kukatakan, daku telah menyelesaikan penulisan naskah kitab perjalananku. Tetapi meskipun begitu, bukan berarti perjalananku serta-merta berhenti. Daku akan terus mengembara, Rashid, dan kitab perjalananku harus pula tetap ada yang melanjutkannya.”
Rashid mengerutkan kening.
“Dikaulah yang akan meneruskan kitabku, Rashid. Selama daku mengembara nanti, catatlah segala kabar tentang diriku yang pastinya akan berembus cukup kuat di telaga persilatan. Ini mungkin akan menjadi tugas tersulit yang pernah dikau ambil selama melakoni pekerjaan juru hikayat, sebab kabar yang bersiur di telaga persilatan seringkali berbeda-beda dan sungguh tidak dapat dipastikan mana kabar yang benar dan mana kabar yang salah, maka dari itulah dikau akan mendapat bayaran yang pantas.”
Mantingan merogoh saku bagian dalam jubahnya. Setelah mendapatkan barang yang dikehendaki, ia meletakkannya di atas meja. Rashid yang melihat barang itu jadi tercengang olehnya.
“Kawan, dikau tidak sedang bergurau, bukan? Ini ... sangat berlebihan.”
“Sudah sepantasnya dikau mendapatkan ini, Kawanku. Daku tidak akan memberikannya jika tugas yang akan engkau ambil enteng-enteng saja.”
“Dikau bukanlah orang pertama yang meminta hal seperti itu kepadaku, Kawan, dan pada saat itu bayaran yang kuterima hanyalah seribu keping emas; dan itu saja sudah lebih dari cukup. Tetapi ini, sepuluh Batu yang senilai 10.000 keping emas, kusangka engkau telah gila Kawan.”
Rashid terdiam sejenak. Tercetak jelas tampang kebimbangan di kerut wajahnya.
Bayaran yang Mantingan tawarkan sangatlah tinggi. Lebih dari cukup untuk membeli banyak sumber daya yang diperlukan untuk meningkatkan praktik bela dirinya selama belasan tahun.
Namun dalam hal bersabung nyawa, Rashid menjadi ragu menerimanya. Risiko itu terlalu tinggi untuk dapat diambil oleh seseorang yang kepulangannya senantiasa dinanti-nanti oleh kekasihnya di tanah yang jauh. Bukanlah pula berarti bahwa Rashid penakutan, hanya saja yang dibutuhkannya saat ini tidak selalu tentang uang.
Dia ingin menikah dengan kekasihnya; hidup bahagia bersama keluarga kecilnya nanti.
Untuk mencapai itu, dirinya tidak membutuhkan uang yang berlebihan. Sekadar berkecukupan.
__ADS_1
Namun, dirinya mempercayai tentang adanya takdir dan jodoh. Kisah Pahlawan Man harus ditulis olehnya seorang, dan bukan oleh juru hikayat lainnya. Rashid telah bersumpah untuk tidak akan pernah menarik kisah yang sudah ditulis olehnya, betapa pun akibatnya.
Hal itulah yang membuat dirinya kini menjadi buronan pemerintahan Koying.
Bagaimanakah tidak menjadi buronan jika dirinya datang jauh-jauh dari Javadvipa menuju Koying hanya untuk menulisi keadaan nyata di Pemukiman Kumuh Kotaraja, yang setelah itu menolak perintah Kerajaan Koying untuk menyatakan bahwa apa yang terdapat di dalam tulisannya itu hanyalah karangan belaka tiada berkedasaran nyata?
Takdir adalah satu-satunya hal yang membuat Rashid tidak langsung menolak tugas yang ditawarkan oleh Mantingan.
“Mengapakah tidak dikau tuliskan sendiri kisah perjalannmu, Kawan? Tentulah jika seperti itu, akan lebih sempurna lagi kitab perjalanan dikau. Lantas setelah selesai, daku akan menemui dikau untuk mengambil kelanjutan kitab tersebut.”
Mantingan menggeleng pelan sambil tersenyum tipis. “Seperti yang pernah dikau katakan kepadaku, Rashid, kematian tiada seseorang pun yang menduga. Lebih-lebih terhadap pendekar yang selalu berhadapan dengan maut di setiap deru napasnya. Maka setelah daku mati tetiba, dengan tiada sesuatupun yang tersisa dari diriku, naskah semacam apakah yang kiranya dapat kuberikan kepada dikau?”
Rashid termenung. Menarik napas lamat-lamat, lantas mengembuskannya dengan lamat-lamat pula. Resah. Tentu bukan hal mudah bagi pria itu untuk mengambil putusan. Mantingan dapat memahaminya, sehingga terdiam jugalah dirinya. Menunggu tanpa mendesak.
Setelah beberapa lama, barulah Rashid kembali buka suara. “Kurasa memang tiada lagi yang dapat kupilih, Kawan. Daku merasa telah berjodoh dengan kisah dikau, yang sungguh dalam hal sudah berjodoh sukarlah untuk ditolak. Seberapa pun kuatnya, daku akan kembali pada tali perjodohan itu. Maka biarlah daku mengemban tugas terhormat ini, berikanlah daku kepercayaan penuh untuk menuliskan kisah-kisahmu, agar dapatlah kujaga senantiasa agar tak lekang dimakan waktu.”
Mantingan yang mendengar itu pun tersenyum lebar. Perkataan Rashid telah mantap betul, sama sekali tidak tampak bahwa dia terpaksa menerima tawaran tugas itu.
“Terimalah ini.” Mantingan mendorong sepuluh bongkah Batu di atas meja itu ke hadapan Rashid. “Datanglah malam nanti ke kamarku, akan kuberikan seluruh naskah kitab perjalananku yang bertumpuk-tumpuk itu. Sedangkan untuk siang hingga petang nanti, ada banyak urusan yang mesti daku urus, ada baiknya dikau tidak mencariku di waktu itu.”
Rashid menerima kesepuluh bongkah Batu itu. Menyimpannya baik-baik di balik jubahnya. Betapa nilainya sebanding dengan 10.000 keping emas.
Keduanya lantas berdiri dan berjabat tangan, sebelum berpisah. Mantingan bergerak menuju pintu luar penginapan, hendak menemui Dara sekaligus mencari jaringan Puan Kekelaman yang tersebar di seluruh kotaraja. Sedangkan Rashid bergerak menuju tangga penginapan, hendak pergi ke kamarnya untuk kembali menulis naskah-naskah lain yang mesti dirampungkannya sebelum malam nanti.
__ADS_1