Sang Musafir

Sang Musafir
Sesuatu yang Tidak Terungkapkan


__ADS_3

MUNDING Caraka telah banyak sekali membantu. Kecepatan terbangnya boleh dikata luar biasa. Selama mereka terbang, jarak yang baru bisa ditempuh satu hari dengan berkelebat, telah terlampaui jauh-jauh.


Meski sebenarnya kecepatan terbang Munding Caraka tidaklah secepat pendekar berkelebat. Boleh dikata, hanya setengahnya saja. Tetapi Munding Caraka jarang sekali beristirahat, tidak mudah kelelahan pula. Sedangkan para pendekar, yang bahkan setingkat Pemangku Langit seperti Mantingan sekalipun, tidak akan sanggup berkelebat selama lebih dari sepeminuman teh dengan kecepatan tertinggi. Dan jika dengan kecepatan separuhnya, paling-paling hanya sampai dua penanakan nasi.


Mantingan membuka peta yang diberikan oleh Kartika. Diambil dari dalam bundelannya. Mulai membuat perhitungan dan perkiraan.


Jika kecepatan terbang Munding Caraka tetap bertahan seperti tadi, serta jika mereka memakai waktu setengah hari untuk perjalanan dan setengah hari lainnya untuk memulihkan tenaga, maka hanya akan dibutuhkan waktu sekitar satu pekan lagi untuk mencapai wilayah Koying.


Mantingan kembali menutup peta. Menoleh ke sekitar. Chitra Anggini telah masuk ke dalam tendanya yang baru saja selesai dibangun. Ketika menggunakan Ilmu Mendengar Tetesan Embun, Mantingan menjadi terkejut. Chitra Anggini telah terlelap!


Mantingan sedikit mengeluh di dalam benak. Gadis itu jelas saja tidak berwaspada. Menyerahkan seluruh keamanan pada Mantingan. Berpikir bahwa jika ada Pemangku Langit di dekatnya, bahaya semacam apakah lagi yang perlu dikhawatirkan?


Mantingan memilih untuk menghampiri Munding Caraka yang pula telah terlelap pulas. Duduk bersila tepat di sampingnya. Ia mulai memejamkan mata, menancapkan Ilmu Mendengar Tetesan Embun pada tingkatan menengah, lalu mulai bersamadhi. Mengumpulkan tenaga dalam. Tidak ada yang tahu kapan itu akan dibutuhkan nantinya.


***


HUJAN mereda. Awan tersibak, menampilkan rembulan serta bintang-gemintang. Burung-burung malam mulai berhenti bersuara, tanda bahwa hari telah memasuki tengah malam.


Mantingan baru saja mengangkat dua potong dendeng rebus ketika Chitra Anggini keluar dari tendanya. Perempuan muda itu menatap Mantingan dengan pandangan mata aneh.


“Apakah yang sedang dikau lakukan?”


Mantingan menunjuk panci berisi air mendidih yang berdiri di atas arang membara. Tidak perlu dikata, sudah jelas semua. Ia sedang memasak, kurang jelas apalagi?


“Maksudku, mengapa dikau memasak?” Chitra Anggini mulai berjalan mendekat. Tatapan aneh itu masih melekati matanya.

__ADS_1


Mantingan mengelus perutnya. Tanda bahwa dirinya lapar.


“Dikau tertotok atau bagaimana, Mantingan? Mengapa tidak bersuara?” Chitra Anggini menghentikan langkahnya. Menatap ke sekitar dengan waspada.


Mantingan menarik napas panjang. “Daku hanya ingin melatih kemampuan berbahasa dalam tatapan denganmu. Sengaja diriku tidak mengeluarkan suara.”


“Itu bukan sesuatu yang dapat digapai dengan mudah.” Chitra Anggini menggelengkan kepalanya. “Kembali pada persoalan. Ini sudah tengah malam, seharusnya kita berangkat sekarang, bukannya malah memasak.”


“Daku lapar.” Mantingan membalas singkat. Melahap sepotong dendeng yang masih mengepulkan uap panas. “Daku juga merebus satu potong untukmu.”


Chitra Anggini mengibaskan lengannya. Menatap Mantingan seolah pemuda itu telah kehilangan akal. Mantingan hanya mengangkat bahu.


“Dikau adalah pendekar, yang paling sakti mandraguna malahan, tidak mungkin dikau lupa cara mengenyangkan perut dengan tenaga dalam, bukan?”


Chitra Anggini hendak kembali membantah, tetapi kemudian menyadari bahwa kedudukannya di sini hanya sebagai pengikut Mantingan saja. Tidak lebih dan tidak pula kurang. Perempuan muda itu mengurungkan perkataannya. Memilih duduk di atas batang pohon yang tumbang, jaraknya tak terlalu jauh dari Mantingan.


“Daku hendak menyampaikan sesuatu.” Dia kembali membuka percakapan. Di bawah siraman sinar rembulan, raut wajahnya terlihat bersungguh-sungguh. “Apakah dikau sudah mengetahui, atau paling tidak menebak, apa tujuanku mencarimu ke Suvarnabhumi?”


Mantingan mengerutkan dahinya. Tampang wajahnya pun menjadi bersungguh-sungguh. “Dikau diperintahkan Ketua Rama, bukan?”


Lenggang sejenak, meski tidak dapat dikatakan sunyi. Serangga malam tiada hentinya membuat suara.


“Daku memang diperintahkan oleh Ketua Rama untuk mencari dan lalu melindungimu. Itulah pula mengapa daku terpaksa mengikutimu ke Koying.”


Chitra Anggini terdiam, suasana kembali lenggang. Terdapat satu hal yang urung diungkapkannya kepada Mantingan. Merasa belum waktunya. Membiarkannya menjadi sesuatu yang tidak terungkapkan, hingga tiba waktunya nanti.

__ADS_1


Dengan kemampuannya dalam membaca pertanda, Mantingan tahu bahwa Chitra Anggini baru sampai permulaan. Masih ada sesuatu yang belum dan hendak disampaikannya. Mantingan terus menunggu.


“Dikau pasti memahami maksud dari perkataanku barusan. Daku terpaksa mengikutimu. Suvarnabhumi bukanlah tujuanku sama sekali, daku sudah tinggal di pulau ini belasan tahun lamanya, mengembara dari ujung utara ke ujung selatan. Daku hendak mengembara ke Kutai Kertanegara di sebelah utara Dwipantara, bukan di sini.”


Mantingan mengangguk pelan sambil mengelus dagunya. Chitra Anggini sempurna telah berhenti bicara, dia sudah menyampaikan apa yang perlu disampaikannya. Mantingan merasa bahwa ini adalah waktu yang tepat untuk menjawab.


“Secara jujur, daku sebenarnya tidak memerlukan perlindungan darimu.” Begitulah Mantingan berkata. “Jadi, daku tidak keberatan sama sekali jika pergi.”


Sementara Chitra Anggini terdiam, Mantingan meraih bundelan yang tergeletak di sampingnya. Ia merogoh sesuatu di dalamnya, dan setelah dikeluarkan ....


“Jasa dikau kepadaku boleh terhitung besar. Jadi, kemarilah dan terima ini.” Mantingan menunjukkan tiga bongkah Batu di tangannya. Berkilauan dipantul sinar rembulan.


Chitra Anggini terdiam. Tiga bongkah Batu itu bernilai 3.000 keping emas. Lebih dari cukup untuk membawanya mengembara dalam kelimpahan dan kemewahan ke tanah Malaya, Champa, Funan, Negeri Atap Langit, Jambhudvipa, bahkan bukan tidak mungkin ke tanah orang-orang berambut pirang yang dinamakan Yunani. Harta yang amat sangat banyak, dan itu semua dimiliki oleh seorang pemuda berpakaian serba sederhana bagaikan pengembara miskin.


Di mata Chitra Anggini, sosok Mantingan begitu aneh dan tersembunyi. Terlalu banyak hal yang tidak diketahuinya tentang pemuda itu.


“Terimalah ini, lalu mengembaralah sesuka ke manapun, sesuka benak dikau.” Mantingan menyajikan senyum hangat. “Daku pernah menjadi seperti dirimu. Hasrat pengembaraan begitu bergejolak hingga rasa-rasanya tiada dapat ditahan sama sekali. Ambillah sekarang, ini tidak seberapa bagiku.”


Chitra Anggini menatap mata Mantingan tanpa sungkan, mengubah senyum pemuda itu menjadi canggung. Tidak menaruh minat pada tiga Batu itu.


Setelah cukup lama saling terdiam, Chitra Anggini akhirnya memungkas, “Daku akan tetap ikut bersamamu ke Koying, jika dikau tidak keberatan untuk menerimaku. Kali ini, daku tidak terpaksa sama sekali. Kuyakin dengan mengembara bersamamu, pengalaman yang kudapatkan akan semakin banyak.”


Mantingan tersenyum lebar sebelum menarik kembali tiga bongkah Batu itu. Keputusan gadis itu telah begitu bulat, ada baiknya tidak diragukan kembali.


__ADS_1


__ADS_2