Sang Musafir

Sang Musafir
Kembali ke Istana


__ADS_3

MOHON BACA CHAPTER SELANJUTNYA TERLEBIH DAHULU SEBELUM MEMBACA CHAPTER INI!


___


MANTINGAN memandangi mayat-mayat pendekar itu sebelum mengerti suatu hal. Ia melirik Chitra Anggini sekilas, dibalas dengan anggukan. Gadis itu mengetahui apa yang telah Mantingan ketahui, bahwa pendekar-pendekar yang baru saja mereka hadapi itu berasal dari jaringan bawah tanah di Pemukiman Kumuh Kotaraja. Mereka berpenampilan sama seperti saat sedang menyerang Mantingan beberapa waktu lalu dengan ribuan pisau terbang yang muncul secara tiba-tiba, yakni dengan pakaian serba hitam di sekujur badan dan hanya menampakkan kedua mata saja.


“Keluar dari tempat ini.” Mantingan lekas memberi putusan, dengan pertimbangan bahwa dirinya dan Chitra Anggini memiliki kemampuan menyerang jarak jauh yang cukup baik. Lebih dari itu, ia harus memastikan keselamatan para penduduk di halaman penginapan. Mereka tidak cukup bersalah, dan betapa jua jangan sampai terlibat.


Sehingga kini, dengan sekali tetakan kaki pada bingkai jendela, keduanya telah melayang dan hinggap di atap penginapan. Dengan gerakan yang terlampau cepat, sehingga tak satupun mata orang awam berhasil menangkapnya. Kegiatan membagikan daging siluman di halaman penginapan masih berlangsung sebagaimana semestinya, dengan tiada seorangpun dari mereka menyadari bahwa sebuah pertarungan merengut nyawa sedang berlangsung.


Hanya sekejap mata setelah telapak kaki Mantingan dan Chitra Anggini menyentuh atap bangunan, serangan beruntun kembali menyasar mereka!


Puluhan bahkan hingga ratusan pisau terbang melesat cepat ke arah mereka. Berentetan dengan jarak antara satu sama lain yang teramat kecil, sehingga seolah saja tidak berjarak sama sekali. Bila menangkis pisau yang pertama, maka pisau yang kedua akan sangat sulit ditangkis, ditambah lagi dengan rentetan pisau lain yang datang dari penjuru berbeda. Bagai maut memang telah ditakdirkan untuk mereka!


Namun, bukanlah Pemangku Langit namanya jika Mantingan takluk oleh serangan seperti itu.


Dirinya mengeluarkan empat lembar Lontar Sihir sekaligus, untuk kemudian diempaskannya ke empat arah penjuru yang berbeda dengan Tapak Angin Darah. Mantra pelindung yang berpadu dengan pukulan angin dahsyat tersebut mampu merontokkan sebagian besar pisau-pisau terbang itu, sedang sebagian kecilnya mudah saja ditetakan oleh Chitra Anggini dengan daun terbangnya.


Mantingan menjejakan kedua tapak kakinya, seketika itu pula dirinya melayang tinggi ke atas. Melesatkan puluhan pisau terbang berbahan pecahan batu yang keluar begitu saja dari telapak tangan kirinya. Pisau-pisau tersebut berhasil mencapai sasarannya masing-masing tanpa ada satupun yang meleset. Maka begitulah puluhan nyawa pendekar-pendekar yang bersembunyi di balik kegelapan bayangan melayang entah ke mana!


Ketika Mantingan kembali mendarat di sebelah Chitra Anggini, sebuah suara yang berkesiur bersamaan dengan angin hinggap di telinganya.


“Dikau berdua telah kami peringati untuk tidak berbuat macam-macam di sini, mengapa justru cari perkara yang berlebihan? Apakah istana mulai tidak suka dengan keberadaan kami?”

__ADS_1


Mantingan tersenyum tipis. Tujuannya berhasil. Dengan lencana berlambang panji Koying yang dikenakannya sebagai kalung, mereka mengira bahwa dirinya berserta Chitra Anggini datang dari istana dan sengaja mengusik ketenangan jaringan bawah tanah yang ada di Pemukiman Kumuh Kotaraja.


“Lebih dari seratus nyawa saudara kami telah kalian tumpas, tetapi kami tidak pula segera menyelesaikan hidup kalian. Pulanglah ke istana dan bawalah kabar, kami tidak akan menganggap masalah ini selesai begitu saja.”


Mantingan dan Chitra Anggini saling berpandangan untuk sejenak. Dalam benak, mereka saling bertanya. Tidakkah tindakan seperti ini akan berakibat pada pertumpahan darah? Kiranyakah ini akan berakibat baik atau justru buruk?


Namun, Mantingan kembali meyakinkan dirinya sendiri, pula meyakinkan Chitra Anggini melalui tatapan mata, bahwa akan lebih banyak darah yang tumpah jika Sepasang Pedang Rembulan sampai jatuh ke tangan pendekar yang salah. Betapa pun adanya, tiada kemenangan tanpa pengorbanan, dan Mantingan memilih untuk mengorbankan pendekar-pendekar yang telah menodai tangan mereka sendiri dengan debu dosa.


***


TEPAT sebelum matahari benar-benar terbenam, mereka kembali ke Istana Koying. Segala urusan yang terjadi di Pemukiman Kumuh Kotaraja telah terselesaikan untuk sementara ini. Lebih dari seratus mayat pendekar musuh dibakar dalam api pancaka, dengan aroma daging terbakar yang tidak lagi menarik perhatian sebab banyak pula penduduk yang sedang membakar jatah daging mereka.


Namun, Mantingan dan Chitra Anggini jelas mengetahui bahwa urusan mereka sebenarnya jauh dari usai dengan terbakarnya mayat-mayat itu. Penyusupan masih belum dilaksanakan, bayang-bayang kegagalan masih menggentayangi. Apa pun dapat terjadi dalam waktu itu, dan tak satupun dari keduanya mampu mengetahui maupun sekadar memperkirakan tentang hal itu.


Keduanya sedang memerhatikan sebuah peta yang tersusun dari lembar-lembar lontar di atas meja. Tergambar jelas denah istana beserta isi dan keterangan penjelas dari setiap tempatnya. Di sanalah Mantingan dapat mengetahui bahwa Tapa Balian ditahan di bangunan yang sama dengan disimpannya Sepasang Pedang Rembulan.


‘Berharap saja kita tidak terlambat,’ kata Mantingan dalam tatapan matanya, ‘Paman Balian pastinya telah dipaksa membuka segel sihir yang menjaga Sepasang Pedang Rembulan itu.’


‘Bukankah hanya gurumu saja yang mengetahui cara membuka segel tersebut?’ Chitra Anggini lalu bertanya.


‘Tidak ada yang dapat menjamin kebenaran dari kabar itu,’ balas Mantingan kemudian.


Chitra Anggini menghela napas panjang, yang tanpa sadar telah langsung mematik sedikit rasa curiga dalam benak Mantingan. Namun sebelum sempat pemuda itu memastikan kecurigaannya, pendengaran tajamnya telah lebih dulu menangkap suatu pergerakan halus di atap-atap bangunannya. Ketika kemudian ditajamkannya kembali menggunakan Ilmu Mendengarkan Tetesan Embun yang dapat menerjemahkan bunyi menjadi bentuk, maka dapatlah ia lihat lima orang penyoren pedang mengendap-endap di atas atap!

__ADS_1


Segera ia kembali menatap Chitra Anggini untuk memberi peringatan, tetapi ternyata gadis itu telah menatapnya dengan pandangan was-was.


‘Kau merasakan sesuatu?’ tanya Chitra Anggini melalui matanya.


‘Ya. Ada lima pendekar di atap rumah.’


‘Mereka penyusup? Ah, aku justru merasakan hal yang berbeda.’


‘Apa yang kaurasakan?’ Segera Mantingan bertanya, agak disesalkan pula olehnya sebab Chitra Anggini tidak berbicara langsung pada intinya, sedang mungkin mereka tidak memiliki waktu banyak.


‘Sirep pemancing b*rahi.’


Mantingan mengerutkan dahinya. Apakah itu adalah kalimat yang sebenar-benarnya ingin disampaikan oleh Chitra Anggini, atau justru dirinya saja yang salah mengartikan tatapan gadis itu?


‘Ya, ini semacam sihir yang dapat memancing b*rahi orang untuk bercinta. Dalam jaringan bawah tanah, kami biasa menggunakannya untuk membuat musuh terlena agar dapat dimintai keterangan atau dibunuh dengan mudah. Tetapi jika sirep ini digunakan di Perhelatan Cinta, dengan lima pendekar di atas atap yang jelas-jelas sedang memantau kita, maka tujuan penggunaan sirep ini bisa lain dari biasanya ....’


‘Apa?’


Chitra Anggini tersenyum tipis dan menjawab sambil meniup api lentera yang menjadi satu-satunya sumber cahaya di kamar itu, ‘Agaknya istana telah menaruh curiga terhadap kita, sebab sepanjang hari sama sekali tidak bertingkah layaknya sepasang kekasih. Tiada kemesraan, tiada kedekatan. Kini mereka datang untuk membuktikan kecurigaan itu, pula untuk memastikan bahwa kita bukanlah penyusup.’


Mantingan terdiam dengan napas tertahan. Dirinya mulai memahami sesuatu.


‘Dengan sirep yang sedemikian kuat ini, maka adakah alasan lain bagi kita untuk tidak bertindak layaknya sepasang kekasih jika kita memang menghendaki mereka menganggap kita sedemikian juga?’

__ADS_1


Sebelum Mantingan sempat membalas apa pun, Chitra Anggini telah mendorongnya ke atas ranjang!


__ADS_2