
MANTINGAN tetap terdiam dalam keterkerutan dahinya.
Pria tua ringkih itu masih mengelus janggutnya ketika dirinya berkata, “Pak tua yang rendah dan renta ini sebenarnyalah ingin menceritakan segala-galanya kepada Anak, tetapi tampaknya Anak tidak menaruh minat sama sekali. Dan lihatlah sekeliling kita, adakah waktu untuk bercakap-cakap?”
Mantingan menebar pandang ke sekitar sebelum menjadi terkejut. Tanpa disadarinya, pertempuran antara armada pemberontak dengan armada gabungan telah pecah. Puluhan kapal terbakar hebat. Asap hitam membumbung tinggi di kelamnya langit malam. Jerit-jerit kematian melengking bagai tiada habisnya.
Namun tentang kebenaran yang disembunyikan oleh Bidadari Sungai Utara, Mantingan masih merasa perlu untuk mengetahuinya. Sebab setahu dirinya, gadis itu tidak pernah menyembunyikan apa pun darinya.
“Ceritakanlah kepadaku apa saja yang engkau ketahui tentang dirinya, Pak Tua. Masih tersisa banyak waktu sebelum kita bertarung dan menuntas semua ini.” Mantingan masih berkata dengan nada yang terkesan dingin, meski nada itu bukanlah kehendaknya. Nafsu pembunuhlah yang membuatnya menjadi seperti itu.
“Kalahkan daku, Hanung yang tua bangka ini, terlebih dahulu. Akan kuceritakan saat diriku merenggang nyawa nanti.” Pria tua itu berhenti mengelus janggutnya. Bergerak cepat mencabut sebilah pedang tipis di punggungnya.
Mantingan mendengus pelan sebelum mulai menekuk kaki kirinya ke atas. Menunjukkan gerakan pembuka dari Jurus Mengendalikan Angin.
Orang tua yang mengaku bernama Hanung itu kemudian melesat cepat ke arahnya dengan pedang terhunus tajam membelah angin. Mantingan melebarkan mata, sebab diketahuinya bahwa pak tua itu menggunakan segala dayanya meski masih dalam serangan pembuka!
Mantingan segera mengulurkan kedua tangannya ke depan dengan tapak terbuka. Pusaran angin terbentuk tepat sebelum pedang Hanung mencapai jantungnya. Sejengkal lagi saja pedang itu melesat, habislah hidup Mantingan!
Meskipun dalam keadaan tertahan, Hanung terus mendorong pedangnya dengan tenaga dalam yang berjumlah besar. Mantingan pun dengan suka tak suka menambah daya pusaran angin di antara kedua tangannya, terus menahan terjangan itu.
Hingga terjadilah adu kekuatan yang pula mengadu nyawa. Sungguh hampir tidak diperlukan bermacam-macam siasat cerdik dalam hal adu kekuatan seperti ini, yang dibutuhkan hanyalah kekuatan dan kekuatan dan lalu kekuatan.
Mantingan merasa bahwa dirinya dan Hanung memiliki kekuatan yang berimbang, tetapi dirinya tetap menyesal sebab tidak sedari awal mewaspadai kemungkinan seperti ini.
Andaikata ia sudah sadar sejak awal bahwasanya lawan tidak akan menyerang dengan siasat melainkan dengan kekuatan, sudah barang tentu hal seperti ini tidak akan terjadi.
Pusaran angin di tengah kedua tangannya yang menahan terjangan pedang tipis Hanung yang teramat sangat tajam itu semakin membesar hingga membawa air laut turut berpusar di dalamnya!
Dalam pandangan mata orang awam, adu kekuatan itu tampak laksana badai laut yang tak terkirakan ganasnya, sebab betapa pun pusaran angin yang melindungi Bidadari Sungai Utara sudah dapat dikatakan cukup besar, lalu ditambah dengan pusaran angin di antara kedua tangan Mantingan yang jauh lebih besar lagi, maka tampaklah bagai badai laut yang mengundang siapa pun untuk masuk ke dalamnya.
Bahkan dalam pandangan para pendekar sekalipun, yang terlihat sebenarnya sama saja. Sebab pusaran angin yang dibuat oleh Mantingan itu sungguh amat-amat kencang, sehingga mata para pendekar pun sulit untuk mengikutinya!
Akan tetapi butiran-butiran air yang terbang di sekitar angin tersebut masih dapat dilihat dalam gerakan yang begitu lambatnya. Terbias cahaya purnama dipadu cahaya api, menjadikan pemandangan yang tampak sebenarnya sangat indah.
Namun, begitulah keindahan di dalam dunia persilatan seringkali berarti kematian.
__ADS_1
Pedang tipis yang dibawa Hanung mulai maju perlahan-lahan, menembus pusaran angin yang dimaksudkan sebagai perisai untuk menahan laju pedang tersebut. Kini ujung pedang tersebut hanya berjarak setengah jengkal dari dada Mantingan.
Keadaan yang telah begitu gawat itu membuat Mantingan menekan seluruh tenaga dalamnya untuk membuat pusaran angin di tangannya semakin besar dan kuat lagi. Hingga saking besar dan kuatnya, kapal-kapal di sekitar mereka mulai tertarik ke sana.
Laut bergejolak. Meski langit sepenuhnya bersih dari mega-mega, menampilkan bintang-gemintang yang ditambah pula dengan purnama terang, tetapi terjadi badai yang mahadahsyat di bawahnya.
Pusaran angin tersebut berhasil menahan laju pedang Hanung yang biarpun lambat tetapi pasti itu! Kini pedang tersebut bahkan bergetar hebat akibat harus menahan terjangan pusaran angin yang semakin lama semakin kuat itu.
Mantingan terus mempertahankan keadaan seperti ini, sebab hanya perkara waktu sampai Hanung bersama pedangnya terlontar jauh ke belakang akibat tak sanggup menahan terjangan pusaran angin.
Maka tanpa sadar, dirinya melonggarkan kewaspadaan. Dalam keadaan menguntungkan setelah sekian lama terus tertekan dengan kematian, siapa pun akan merasa berlega hati dan tenang, yang sama saja berarti melonggarkan kewaspadaan.
Dirinya terus menekan dan Hanung terus tertekan. Namun sesaat kemudian, dilihatnya Hanung mengulas senyum, yang betapa pun samarnya tetap saja mampu terbaca olehnya!
Mantingan segera meningkatkan kewaspadaannya, tetapi agaknya ia telah betul-betul terlambat!
Hanung menyabetkan pedangnya ke arah kanan dengan memanfaatkan pusaran angin yang pula bergerak ke arah kanan. Begitu cepatnya hingga tiada mampu ditangkis maupun dihindari!
Mantingan membeliakkan mata ketika melihat lengan kanannya terlepas dan ikut berpusar bersama angin sebelum tercincang habis oleh pedang Hanung yang masih pula berada di tengah pusaran angin tersebut.
Hanung yang baru saja menyerang itu benar-benar tidak dalam kedudukan yang menguntungkan. Pedangnya tidak lagi terhunus ke depan, melainkan ke samping kiri dengan getaran yang luar biasa adanya.
Maka setelah dikesampingkannya segala gejolak di dalam benak, Mantingan melesakkan tangan kirinya ke depan, dengan segenap Jurus Tapak Angin Darah. Tanpa ampun membentur kepala Hanung hingga terpecah bagai sebongkah semangka busuk!
Mantingan mendarat di atas gelombang laut yang bergejolak. Terombang-ambing di atasnya meski tiada tergoyah sedikitpun. Dengan sorot mata teramat sangat tajam, bagai tiada yang lebih tajam daripada itu.
Pertarungan telah berakhir, begitu pula dengan pertempuran antara kedua armada jauh di utara sana.
Semuanya telah berakhir, pada akhirnya, semuanya telah berakhir.
Darah menetes turun dari lengan tangannya yang terpotong rapi. Kini mulai terasa sakit, bahkan akan terasa amat sangat menyakitkan jikalau Mantingan tidak mengalirkan tenaga prana yang sedemikian banyaknya.
Di belakangnya, angin masih berputar walau tidak sekencang sebelumnya. Masih dengan Bidadari Sungai Utara di dalamnya.
Ada banyak papan-papan kayu yang mengambang di atas permukaan laut, sebagiannya dalam keadaan terbakar. Pusaran angin yang Mantingan buat telah menciptakan badai dahsyat, beberapa kapal dari pihak pemberontak menjadi mangsa keganasan badai tersebut.
__ADS_1
Laut perlahan-lahan kembali tenang. Berbarengan dengan jantung denyut jantung Mantingan yang mulai melambat.
Dirinya kemudian berbalik menghadap ke pusaran angin yang melindungi Bidadari Sungai Utara. Dengan gerakan yang dibuat oleh tangan kirinya, pusaran angin itu perlahan melambat dan mulai mendekatinya. Wujud dari Bidadari Sungai Utara tersingkap di balik gulungan angin.
Gadis itu tampak bersinar di bawah terangnya sinar purnama. Matanya terpejam dalam kedamaian yang seolah telah paripurna. Rambutnya terurai, dimain-mainkan angin. Bibir merahnya tertutup dalam keadaan senyum manis. Mantingan sungguh terharu melihatnya.
Pusaran angin tersebut mengantarkan Bidadari Sungai Utara ke dalam pelukan Mantingan. Pemuda itu memejamkan mata, menghirupnya dalam-dalam.
Bidadari Sungai Utara baik-baik saja. Tidak ada satupun yang kurang darinya. Mantingan dapat membacanya. Mantingan dapat menciumnya. Mantingan dapat merasakannya.
“Kita akan berpisah, Sasmita.”
Air matanya menetes pula. Tersedu-sedu di atas pundak bersih gadis itu. Melepas segala kepedihan yang ditanggung pendekar itu. Mengadu sejadi-jadinya. Setelah Bidadari Sungai Utara pergi, di manakah dirinya akan mengadu?
“Daku telah melunasi janjiku, Sasmita, engkau akan pulang.”
Mantingan berusaha tersenyum hangat meski tangisnya semakin berkecamuk tiada keruan. Setelah Bidadari Sungai Utara pergi, ke manakah dirinya akan menyajikan senyum?
“Sekarang engkau pulanglah dengan selamat. Menikahlah dengan kekasihmu. Bangun sebuah keluarga yang betapa pun sederhananya tetap membahagiakan.”
Sekali lagi Mantingan mempererat pelukannya. Setelah Bidadari Sungai Utara pergi, di manakah tempat yang kiranya pantas disebut sebagai rumah?
Mantingan membuat sekumpulan angin, kembali Bidadari Sungai Utara melayang. Pemuda itu membersihkan noda darah dari jubahnya menggunakan tenaga dalam sebelum melepaskannya. Jubah kelabu pemberian Kenanga itulah yang kemudian dipasangkan pada Bidadari Sungai Utara.
Mantingan mengibaskan tangan kirinya barang satu kali. Itu sudah cukup membuat gulungan angin tersebut membawa Bidadari Sungai Utara melayang pergi darinya.
Mantingan memandang jauh ke utara. Melihati titik-titik kuning yang keremangan. Bidadari Sungai Utara akan tiba di atas geladak kapal dengan selamat, sebelum melanjutkan perjalanannya ke Champa.
___
catatan:
Ucapkan selamat tinggal pada Bidadari Sungai Utara.
__ADS_1