Sang Musafir

Sang Musafir
Chitra Anggini dan Dara Berdebat


__ADS_3

Bukankah mereka memiliki perjanjian dagang yang telah diakadkan dengan tetesan darah sebagai tanda telah bersumpah mati?


Dan lihatlah, Mantingan tidak menetapi janji dagangnya dengan Dara. Ia tidak lagi memasok Lontar Sihir Cahaya yang telah dijanjikannya kepada perserikatan dagang milik Dara. Betapa menyesalnya Mantingan, sebab dalam keadaan seperti ini pun tidaklah terlalu memungkinkan baginya untuk memenuhi pesanan Lontar Sihir. Ia pergi ke kotaraja bukan untuk berdagang.


“Tidak perlu dipikirkan sama sekali, Mantingan. Kehadiranmu di sini telah membayar semuanya.” Dara tersenyum tulus. “Tetapi harus Dara katakan kepadamu, Lontar Sihir buatanmu itu adalah benda yang paling dicari di perserikatan dagangku. Untuk selembar lontarnya, mereka bersedia menawar dengan harga yang sangat mahal: menembus dua ribu keping emas!”


Mantingan tidak terlalu terkejut ketika mendengar jumlah tersebut. Namun, ia sangat senang. Setidaknya itu dapat membayar sedikit rasa bersalahnya.


“Ketika daku memutuskan untuk melelang lima lontar terakhir, harganya melonjak tajam. Sepuluh ribu keping emas untuk setiap lembarnya!”


Mantingan mengangguk pelan dengan senyum mengembang di wajahnya.


“Aku hanya akan mengambil keuntungan sepersepuluh, maka—”


“Simpan saja seluruh uang itu, Dara. Setelah merusak perjanjian kita, daku merasa tidak berhak menerima barang sekeping perunggu pun darimu. Anggaplah pula itu sebagai akhir dari kerjasama dagang kita, Dara.”


Kini Dara mengerutkan dahi. “Akhir kerjasama? Mantingan, dikau tidak bermaksud ….”


Ketika Dara sudah tidak mampu melanjutkan perkataan lagi, di sanalah Mantingan menganggukkan kepala. Sembari memasang senyum lembut, Mantingan menjelaskan, “Daku memiliki banyak tugas yang belum kuselesaikan, Dara. Untuk waktu yang cukup panjang nantinya, daku merasa tidak bisa menjual Lontar Sihir kepadamu. Daku tidak bisa mengatakan kepadamu di tempat ini, tetapi kuharap dikau akan bersedia mendengarkannya di asramaku nanti.


“Apakah dikau memiliki suatu masalah, Mantingan? Daku akan membantumu semampuku!”


...****************...


MANTINGAN tersenyum lembut mendengar itu. Dara tidak sekadar berbasa-basi, dia memang tulus ingin membantu. Tiadalah tampak bahwa perempuan muda bertampang wajah di atas rata-rata itu tampak ingin mencari perhatian dari Mantingan. Setulus-tulusnya seorang sahabat yang hendak membantu. Namun, itu justru membuat Mantingan berubah pikiran.


“Setelah kupikir-pikir kembali, dikau tidak perlu mendengarkan celotehanku, Nyai. Bantuan semacam apakah lagi yang berani kuharapkan padamu? Sungguh, dikau telah amat sangat banyak membantuku selama ini. Akan menjadi sangat keterlaluan jika daku masih mengharap bantuan kepadamu.”


Sepasang mata milik Dara menatap Mantingan lamat-lamat. “Apakah kiranya yang membuat dikau berbicara seperti ini, wahai Mantingan yang tela kukenal sejak lama? Dikau telah berulang kali menyelamatkan nyawaku di masa lampau. Dikau pula telah memicu segenap perubahan dalam diri seorang Dara, dari hitam menjadi putih. Sebesar apa pun usahaku untuk membalasmu, itu tidak akan pernah cukup.”


“Segala hal yang telah kulakukan untukmu tidaklah perlu engkau balas, Dara. Apakah dikau masih mengingat perkataanku yang satu itu?”


“Ya. Dan daku juga masih mengingat perkataanmu yang lain: jangan pernah menghalangi orang yang hendak berbuat baik.”


Mantingan tersenyum kecut. Namun jauh di lubuk benaknya yang terdalam, ia merasakan kehangatan yang luar biasa. Mantingan tidak lagi merasa bahwa dirinya berdiri seorang diri. Ada Chitra Anggini, dan kini ditambah pula dengan Dara.

__ADS_1


Bagi seorang pendekar yang sewajarnya menempuh jalan persilatan seorang diri, tanpa kawan, tanpa saudara, tanpa apa pun yang dapat diandalkan dalam keadaan genting selain dirinya sendiri, manakah lagi yang lebih berharga ketimbang hubungan persahabatan?


Gurunya, Kiai Kedai, pernah berkata padanya:


“Saat kelak nanti dikau telah menjejakkan kaki di telaga persilatan, dikau akan mengetahui betapa hubungan pertemanan jauh lebih berharga ketimbang semua harta yang dikau miliki.”


Betapa kini disadarinya kebenaran dari perkataan gurunya itu. Harta tidak dapat membeli nyawa pendekar, tetapi hubungan persahabatan mampu melakukan itu.


Menyadari betapa Mantingan telah terbenam dalam alam pikirnya, Dara menyimpulkan senyum lebar. “Marilah kita segera pergi ke asramamu atau asramaku. Daku akan mendengarkanmu, dan dikau sungguh tidak berhak menghalang-halangiku jika daku memberi bantuan.”


Mantingan menganggukkan kepalanya.


***


“Dara ....”


CHITRA Anggini mendesis pelan ketika dilihatnya Dara berdiri bersama Mantingan di hadapan pintu. Entah desisan itu dimaksudkan untuk menyapa atau untuk mengungkapkan ketidaksukaan.


“Eh, Chitra Anggini? Mengapakah dikau bisa ada di sini?”


“Sungguh ini kamarmu? Bukankah ini kamar Mantingan?”


“Satu untuk berdua.” Chitra Anggini mengangkat dagunya. Menantang. “Apakah kau tidak suka, huh?”


Dara tidak membalas, melainkan menoleh ke arah Mantingan. Pandangan matanya jelas saja menyiaratkan bahwa dirinya menuntut penjelasan.


“Kami memiliki tugas penting, Dara, maka kami terpaksa mengambil satu kamar saja agar tetap bisa bersama ....”


“Dikau tidak berniat mengikuti Perhelatan Cinta dengannya, bukan?”


“Tidak—”


“Siapa bilang?” Chitra Anggini memotong tajam. “Mantingan, setelah kupikir-pikir, kita akan lebih mudah menyusup dengan mengikuti perhelatan itu.”


“Benarkah itu, Mantingan?”

__ADS_1


“Mengapa kamu selalu bertanya pada Mantingan? Apakah daku di sini tidak tampak bagimu?”


Mantingan mengangkat kedua tangannya. Melepas sedikit banyak nafsu pembunuh. Chitra Anggini dan Dara terdiam seketika, bahkan tubuh mereka mulai bergemetar.


“Chitra, Dara, mohonlah pengertiannya. Kita tidak sedang bermain-main di sini. Daku tidak peduli sekalipun kalian memiliki permusuhan sebelumnya, tetapi setelah di sini, kalian tidak bisa menunjukkan rasa permusuhan itu di depanku. Jika ada yang tidak suka, maka dengan tidak berat hati daku akan membiarkan kalian pergi.” Isi perkataan Mantingan memang masih terbilang ramah, tetapi nada suaranya teramatlah sangat dingin. Menusuk dan menggetarkan gendang telinga. Baik Chitra Anggini maupun Dara sama terkejutnya, mereka tidak pernah melihat Mantingan semenakutkan itu.


Sedangkan itu, Mantingan kembali menarik nafsu pembunuhnya berbarengan dengan terembusnya napas dari hidungnya.


“Masuklah, Dara. Dan Chitra, kawan seperjalananku, kuharap kamu sudi berunding bersama.”


Kedua wanita itu mengangguk patuh. Chitra Anggini mundur beberapa langkah dari belakang pintu, memberi jalan. Sedangkan Dara berjalan masuk sembari mencoba tersenyum pada perempuan itu. Mantingan lekas mengunci pintu, tidak lupa menempeli selembar Lontar Sihir pada daun pintu untuk mencegah sesuatu yang tidak diinginkan.


Mantingan hendak mengambil tiga bangku sebagai tempat berunding. Niatnya, agar lebih nyaman dan lancar berbicaranya. Namun ternyata, Dara dan Chitra Anggini telah bersepakat untuk duduk melaseh di lantai.


“Agar tidak terlalu kaku, Mantingan.” Chitra Anggini menatap Mantingan dengan seribu arti, membuat pemuda itu hanya bisa menyetujuinya. Ikut duduk bersila di atas lantai kayu.


Setelah berdeham beberapa kali, Mantingan membuka percakapan, “Seperti yang kita ketahui, pertemuan kita benar-benar tidak terduga. Seolah semuanya terjadi tanpa disengaja. Tetapi daku lebih menganggapnya sebagai takdir, sebuah takdir persahabatan yang membuat kita dapat berkumpul kembali. Chitra Anggini, jika kamu meminta penjelasan, maka ketahuilah bahwa aku menemukan Dara tidak disengaja saat sedang berjalan-jalan di luar asrama, atau lebih tepatnya adalah Dara yang menemukanku.”


“Daku telah lama mencari dirimu, Mantingan.” Dara menimpali dengan senyum haru. “Seandainya dikau ketahui, Mantingan, daku telah menyebar orang-orangku ke penjuru pulau di Dwipantara, bahkan hingga ke Champa sana. Berharap salah satu dari mereka berhasil menemukanmu. Tetapi siapakah kiranya yang menyangka bahwa daku sendiri yang akan menemukanmu?”


Sekali lagi Mantingan berdeham. Dilihatnya raut wajah Chitra Anggini sudah tidak sedap. “Daku yang terlalu rendah ini sebenarnya tidak pantas dicari-cari oleh orang ternama seperti dirimu, Dara. Tetapi karena segalanya telah berlalu, dan toh pada akhirnya kita bisa bertemu di sini, daku mengucapkan rasa terima kasih yang sedalam-dalam dan setulus-tulusnya kepadamu. Daku jelas mengetahui bahwa untuk mencari diriku, telah banyak sumber daya yang dikau hamburkan.”


“Apalah arti semua itu, asalkan daku dap—”


“Cukuplah berbasa-basinya,” potong Chitra Anggini dengan raut wajah gusar sekali. “Kapankah kita masuk ke perundingan utamanya? Aku sungguh-sungguh telah lapar, sedangkan kalian berdua mungkin saja telah makan bersama di luar asrama. Dasar memang.”


Mantingan hendak menasihati Chitra Anggini untuk tidak mengeluarkan perkataan sesinis itu, tetapi Dara telah lebih dulu mengeluarkan suara untuk membalas cakapan perempuan itu.


“Chitra, apatah gerangan yang membuat dikau berkata seperti itu? Apakah kami berdua terlihat seperti telah bersenang-senang di luar asrama?”


“Kalian datang bersama-sama dengan senyuman yang lebar sekali. Siapakah yang tidak akan menduga bahwa kalian telah melakukan suatu kesenangan di luar sana?”


Mantingan menggosok wajahnya sambil mengambil napas panjang. Perdebatan antara Chitra Anggini dengan Dara masih saja berlanjut. Semakin memanas, malah. Namun kali ini, Mantingan tidak lagi mengeluarkan nafsu pembunuh maupun perkataan dingin, bahkan dirinya pun tidak berusaha menghentikan kedua perempuan dewasa yang entah bagaimana masih bersikap dengan kekanak-kanakan itu.


Biarlah. Sampai mereka lelah dan berhenti sendiri.

__ADS_1


__ADS_2