Sang Musafir

Sang Musafir
Berubahnya Jalan Hidup


__ADS_3

Dalam perkara membunuh, Mantingan memang sudah diajarkan sejak dirinya masih balita sekalipun. Bukan diajarkan untuk membunuh, ia diajarkan untuk tidak membunuh makhluk hidup tanpa gunanya. Orang tuanya menekankan pula, bahwa membunuh manusia itu bukanlah hal yang baik, merupakan hal yang sangat tercela.


Hal itu terus diajarkan bahkan sampai Mantingan telah tumbuh jadi remaja sekalipun. Tetapi ibunya telah menambahkan, bahwa membunuh demi negara adalah hal yang baik dan wajib.


Bukankah yang Mantingan lakukan tadi tidak ada sangkut pautnya dengan membela kerajaan? Ataukah orang tuanya yang terlalu kuno dalam berpikir? Mantingan menggelengkan kepalanya, mengusir pikirannya jauh-jauh, tidak baik berpikiran seperti itu tentang orang tua.


Di sisi lain, Kiai Guru Kedai menyarankan Mantingan untuk tidak menjadi prajurit kerajaan. Tetapi Kiai Guru Kedai memperbolehkan Mantingan untuk membunuh demi Kebenaran, atau membunuh untuk mempertahankan diri.


Kini adalah beberapa saat setelah api pancaka padam, Mantingan telah bisa merelakan kematian dan pembunuhan terhadap tujuh pendekar tersebut. Dara juga telah berupaya banyak untuk menghibur Mantingan, bahkan secara khusus membuatkan sup dendeng untuk Mantingan. Itu menjadi makan siang mereka.


Dara tidak banyak bicara, hanya tersenyum melihat Mantingan bisa pulih dengan cepat.


“Terima kasih, Dara, ini sangat enak.” Mantingan tersenyum setelah menghabiskan hidangan.


“Baguslah jika begitu. Aku sangat senang mendengarnya.” Dara mengangguk. “Orang-orang, bahkan penggemarku beranggapan bahwa aku tidak bisa memasak makanan, hingga banyak dari mereka yang mengirim makanan kepadaku.”


Mantingan mengangguk pelan. “Apakah memiliki penggemar itu menyenangkan?”


Dara tertawa. “Terkadang menyenangkan, terkadang merepotkan juga. Mereka memberiku uang, mereka pula yang membuat hidupku serasa tidak damai.”


Mantingan tersenyum lebar. “Dulu aku ingin sekali memiliki banyak penggemar,” kata Mantingan. “Sampai-sampai aku memutuskan berkelana, agar ceritaku didengar atau diceritakan banyak orang, dan aku menjadi terkenal.”


“Kalau sekarang?”

__ADS_1


“Aku tetap menuliskan kisah perjalananku. Agar didengar banyak orang. Tetapi kali ini, aku menulis bukan untuk mendapatkan penggemar. Aku menulis kisahku beserta pelajaran hidup yang aku petik, sehingga tulisanku bisa bermanfaat bagi orang banyak.” Mantingan tersenyum hangat.


Jika dahulu ia menuliskan kisahnya agar orang-orang bersedih saat kisahnya berakhir, maka sekarang Mantingan menulis agar orang-orang bisa tetap mendapat manfaat darinya meskipun ia sudah menyatu dengan tanah sekalipun. Mantingan tidak akan melebih-lebihkan kisahnya yang ia tulis di atas lontar. Tidak akan pula melebihkan atau mengurangi Kebenaran yang ia dapatkan.


Dara tersenyum lesu. “Apa yang kau lakukan itu sangat mengesankan. Sedangkan aku hanyalah pembawa acara lelang, tetapi tetap saja digemari banyak orang. Diriku bahkan penuh dosa.” Dara menghela napas panjang, Mantingan sabar menanti. “Pekerjaanku sangat berbeda dengan pekerjaanmu yang turut menebarkan kebaikan. Tadi aku sok bicara soal kebaikan, akan tetapi aku sendiri tidak berpedoman hidup pada kebaikan itu.”


Mantingan menggeleng pelan dengan senyumnya, ia tahu mengapa Dara menyebut dirinya sendiri pendosa. Lempar pedang lalu tidur malam bersamanya. Sudah berapa kali ia melakukan itu? Bukankah itu sama saja perbuatan dosa? Perbuatan para pendosa?


“Selalu ada waktu untuk berubah, Dara.” Mantingan berkata pelan.


“Tapi, bagaimana jika dalam diriku menolak?”


“Katakan alasannya, mengapa engkau menolak?”


“Apakah kau memang harus melakukan kegiatan penuh dosa itu?” tanya Mantingan halus.


“Itu harus, Mantingan. Kau tahu aku ini wanita penghibur!”


Mantingan mengangguk pelan, membiarkan Dara untuk tenang terlebih dahulu.


Dara membenamkan wajah pada lututnya. Enggan menunjukkan wajah sedih pada Mantingan. Perlahan ia terisak. Orang berhati lembut mana yang tidak menangis ketika mengingat dosa-dosanya? Justru bagi Mantingan, menangis karena mengingat dosa adalah modal pertama untuk berubah.


“Selalu ada cara dan waktu untuk berubah, Dara.” Mantingan berkata tenang. “Menjadi wanita penghibur bukan berarti harus tidur bersama pria selain pasanganmu. Setiap orang berhak menjadi penghibur atas orang lain. Hanya saja, tidak semua cara menghibur itu benar.”

__ADS_1


“Lalu daku harus bagaimana?” Dara bertanya tanpa mengangkat wajahnya.


“Sekarang engkau dikenal banyak orang. Dengan begitu, engkau memiliki kekuatan dan jangkauan untuk mengubah keyakinan mereka. Ubahlah keyakinan mereka yang mengatakan bahwa wanita penghibur adalah wanita yang harus mau berbagi ranjang dengan pria lain. Gantilah dengan keyakinan baru, bahwa wanita penghibur hanyalah sekadar penghibur, bukan untuk teman tidur.”


Dara perlahan mengangkat wajahnya. Matanya terlihat sembab, walau begitu terpancar secercah harapan. “Bagaimana jika yang terjadi adalah mereka benar-benar meninggalkanku?”


Mantingan tersenyum. “Lebih baik ditinggalkan orang lain, ketimbang ditinggalkan oleh diri sendiri. Jika dirimu sudah tidak setuju dengan apa yang kau lakukan, tetapi engkau tetap melakukannya, maka dirimu akan mati rasa. Itulah tandanya sesuatu di dalam dirimu telah meninggalkanmu, sehingga engkau berjalan tanpa arah yang jelas dan tersesat pada kebimbangan. Kalau kata Kiai Guru, manusia seperti itu merugikan dirinya sendiri.”


Dara terdiam beberapa saat. Tak lama kemudian matanya yang sembab itu berubah menjadi mata yang berbinar-binar. Bahu yang semula tertunduk lesu, kini tegak dan penuh gairah. Penuh harapan. Dara menatap Mantingan.


“Aku akan berubah, Mantingan, aku berjanji!”


Mantingan tersenyum lebar. “Aku menjadi saksi atas dirimu. Lakukan apa yang telah engkau ucapkan.”


Dara terus berbinar-binar. Tidak bisa disangka memang, hanya dengan percakapan kecil dengan Mantingan telah berhasil mengubah arah hidupnya. Dara bukanlah orang yang hanya banyak cakap saja, jika ia sudah berkata bersungguh-sungguh seperti itu, maka ia akan berupaya sebisa mungkin untuk melakukannya.


Mantingan tersenyum, turut senang. Setidaknya ia telah melaksanakan perintah gurunya, bahwa ia harus tetap menyebarkan nilai Kebenaran di manapun ia berada. Bahkan di pelosok hutan seperti ini pun, Mantingan harus tetap menyebarkan nilai Kebenaran.


Mantingan berdiri dan meninggalkan Dara sendirian di sana. Biarlah dia berpikir banyak tentang apa saja yang harus ia lakukan di masa mendatang. Mantingan pergi ke ruang tanam, menjenguk Bunga Sari Ungu di sana.


Sesuai dengan apa yang telah ia rencanakan kemarin, Mantingan akan mengembangbiakkan Bunga Sari Ungu hari ini. Sebenarnya ini jauh dari kata “mengembangbiakkan”, lebih tepatnya pada “mencoba mengembangbiakkan”. Sebab, cara khusus untuk mengembangbiakkan Bunga Sari Ungu tidaklah Mantingan ketahui. Mantingan akan mencobanya dengan cara dasar yang pernah ia pelajari di perpustakaan pusat.


Jika cara ini berhasil, maka itu akan menakjubkan bagi Mantingan. Mantingan hanya memerlukan sebilah belati tajam, yang akan digunakan untuk memotong batang Bunga Sari Ungu tersebut. Akan tetapi, melakukan cara itu sangat berisiko. Tanaman bisa saja mati, tanpa membuahkan hasil sama sekali.

__ADS_1


__ADS_2