Sang Musafir

Sang Musafir
Pertarungan Memantulkan Pisau Terbang


__ADS_3

“Daku menaruh rasa senang kepadamu. Agak-agaknya, engkau akan memberikanku sebuah akhir yang indah, tidak seperti pendekar muda lain yang mengaku memiliki bakat tinggi, banyak bicara besar, tetapi pada akhirnya mati pula di bilah pisau terbangku. Maka berdasarkan pertimbangan itu, daku akan dengan senang hati memberikan jawaban atas pertanyaanmu.”


DARI PERKATAAN itu yang menyebut bahwa banyak pendekar muda mati di bilah pisau terbangnya, maka tiada perlu diragukan lagi bahwa pria sepuh itu memang ahli dalam seni melempar pisau terbang.


“Daku adalah pria yang sudah tua. Engkau pasti telah melihatnya dengan begitu jelas, bukan? Suaraku hampir menyerupai serangga malam. Serak betul! Tetapi meskipun sudah tua begini, belum pula kutemui kesempurnaan yang selama ini daku cari-cari.”


Mantingan menarik napas dingin. Kesempurnaan seperti apakah yang dirinya maksud? Akankah kesempurnaan itu baginya adalah mati terbunuh di tangan pendekar yang jauh lebih kuat daripadanya? Jikalau memang begitu adanya, maka pria tua ini masih mempertahankan tujuan sejati dari jalan kependekaran.


Pendekar itu kemudian melanjutkan, “Acap kali diriku menyempurnakan kehidupan seorang pendekar, tetapi tidak satupun lawan menyempurnakan hidupku. Daku sangat mengetahui bahwa mereka telah berusaha untuk menyempurnakan hidupku, dengan mati-matian berjuang untuk membunuhku. Tetapi kekuatanku ini, terlalu kuat untuk dapat kalah dari mereka.


“Dengan menantang engkau, Pahlawan Man, daku berharap hidupku dapat disempurnakan di tempat ini. Di bawah sinar purnama yang keperakan ini. Diterpa semilir angin malam yang menyejukkan. Bukankah itu akan menjadi akhir yang teramat sangat indah?”


Namun Mantingan tidak memiliki pandangan yang sependapat, tetapi ia memilih untuk diam. Tak peduli seperti apakah tujuan orang itu, jika tetap membahayakan keselamatan orang-orang yang disayanginya, Mantingan tidak akan segan untuk menempurinya.


“Maafkanlah diriku yang merasa perlu mengancammu. Sesungguhnya, pak tua ini tidak memiliki cara lain untuk bisa mendapatkan perhatianmu. Daku benar-benar terpaksa melakukan hal yang kutahu sama sekali tiada terpuji.”


“Apakah yang dapat sahaya lakukan untuk Bapak?” Mantingan bertanya meski jawabannya telah jelas benar.


“Bertarunglah denganku, dan berjuanglah untuk membunuh diriku sedapat yang engkau bisa.”


“Bagaimana jika sahaya tidak menurutimu, Bapak?”

__ADS_1


“Maka terpaksalah kuubah ancaman menjadi kenyataan.”


Mantingan menarik napas panjang. Digenggamnya gagang Pedang Kiai Kedai. “Sahaya akan menuruti permintaan Bapak jikalau Bapak berjanji tidak akan melukai orang-orang terdekat sahaya.”


“Sungguhlah picik dan jahat sekali jika sahaya memikirkan bahkan sampai melakukan hal itu. Jikalau sahaja engkau kalah di sini, maka segala urusan kita selesai pula di sini. Jasadmu akan kuberi pancaka dari batang-batang kayu terbaik di, dan akan kubakar dikau ketikw pemandangan sedang indah-indahnya.”


Mantingan tidak akan memusingkan tentang bagaimana jasadnya akan diperlakukan setelah jiwanya telah meninggalkan raga. Namun, Mantingan merasa senang dan tenang setelah orang itu berkata bahwa dirinya tidak akan melakukan hal buruk pada orang-orang terdekatnya.


Maka genggamannya pada pangkal Pedang Kiai Kedai semakin kuat saja!


“Bapak telah bersedia?”


“Seranglah kapanpun engkau mau, diriku selalu dalam keadaan siap sedia.”


Mantingan tidak berkelebat terlalu cepat. Jika tidak banyak berkedip, mata orang awam masih mampu menangkap gerakannya. Mantingan tentunya sengaja melakukan hal ini setelah berbagai macam pertimbangan, agar Kana mampu melihat jalannya pertarungan dan pula dapat mengambil pelajaran yang berharga.


Pelajaran yang didapat dalam sebuah pertarungan akan jauh lebih berharga ketimbang pelajaran yang didapat dalam sebuah latihan; dan pelajaran yang didapat dari sebuah latihan akan jauh lebih berharga ketimbang pelajaran yang didapat dari hanya membaca kitab. Dan pelajaran yang didapat dengan membaca kitab akan jauh lebih berharga ketimbang diam saja.


Namun agaknya, Mantingan masih terlalu meremehkan lawannya kali ini. Dengan bergerak selambat itu, Mantingan telah membuka celah pertahanan yang teramat sangat besar. Bahkan yang bukan pendekar ulung pun dapat melihat peluang itu dan menyerangnya dengan mudah.


Lebih-lebih lagi, pria tua yang tengah dihadapinya itu bukanlah pendekar yang baru lahir kemarin sore. Ia telah banyak menelan garam rimba dan telaga persilatan, yang kemudian tidak hanya menjadikannya seorang pendekar ulung melainkan pula menjadikannya pendekar berpengalaman.

__ADS_1


Melihat celah pertahanan yang begitu terbuka, pria tua yang masih tidak diketahui namanya itu segera melesatkan tiba batang pisau terbang yang melesat cepat tiada terkira. Mantingan lekas menarik Pedang Kiai Kedai dan dengan kecepatan penuh menangkis tiga pisau terbang yang mengarah kepadanya itu.


Tiga kali lelatu api tercipta. Mantingan begitu lihai memainkan pedangnya yang selentur badan ular untuk membalikkan ketiga pisau terbang tersebut ke pemiliknya.


Mantingan pula memanfaatkan daya hantam dari pisau-pisau itu untuk melayang ke belakang. Kakinya kembali menjejak puncak bukti bagian tengah. Pedang Kiai Kedai masih pula bergetar sebab telah menangkis tiga bilah pisau terbang sekaligus dalam waktu yang berdekatan.


Sungguh, kali ini Mantingan benar-benar tidak bisa meremehkan kekuatan lawannya. Tidak barang sedikitpun. Sebab telah diketahuinya kekuatan lawan dari pertukaran serangan di udara barusan.


Meski yang dilempar lawannya hanyalah pisau terbang, itu pula dilempar dalam waktu yang sangat berdekatan, tetapi daya hantam yang dihasilkannya tetaplah terlalu kuat untuk dihadapi Mantingan.


Betapapun, pemuda itu merasa bahwa Kana tidak akan banyak mendapatkan pelajaran berharga malam ini. Sebab untuk pertukaran serangan yang selanjutnya, Mantingan akan menggunakan segenap kemampuannya.


Mantingan mengangkat Pedang Kiai Kedai hingga ujung pedang itu setinggi dagunya. Ia akan menanti lawan untuk menyerangnya daripada menyerang lawan terlebih dahulu.


Pria tua yang masih berdiri tegak tak tergoyahkan di atas puncak bukit sebelah utara itu agaknya telah mengetahui apa maksud Mantingan. Maka segeralah ia mengirim serangan berupa belasan pisau terbang yang berderet-deret ke arah Mantingan.


Pemuda itu diam di tempatnya. Dan seolah tidak bergerak sama sekali, dirinya menangkis seluruh pisau tersebut. Sebagian diarahkannya ke bawah tanah, sedangkan sebagian lainnya diarahkan kembali menuju pria sepuh jauh di depannya itu.


Tentulah tidak terlalu sulit bagi pria tua itu untuk balik menangkis segala pisau terbang yang dikirimkan kembali kepadanya itu. Bahkan beberapa pisau sanggup ditangkap untuk kemudian disimpannya kembali.


Mantingan masih kokoh memasang kuda-kudanya di puncak bukit itu. Ujung pedangnya pun masih terangkat ke depan hingga setinggi dagu. Matanya memincing tajam dengan Ilmu Mata Elang. Pergerakan apa pun dari lawannya, sudah pasti akan mampu disadari oleh penglihatan dan pendengarannya!

__ADS_1



__ADS_2