
“Kita hanya perlu waktu setengah hari lagi untuk tiba di kotaraja, Chitra. Mulai dari sini, akan lebih banyak lagi peradaban yang kita jumpai. Jadi dengan atau tidak adanya pedati kerbau ini, kita tetap tidak akan terbang.” Mantingan tersenyum.
“Tetap saja aku tidak suka.” Chitra Anggini telah sempurna merebah. “Tidakkah kamu sadari bahwa warga-warga desa itu memberikan kita semua benda tak berguna ini hanya untuk membayar rasa malu mereka?”
“Jika karung-karung beras itu sudah terjual, semua uangnya akan menjadi milikmu.” Mantingan berharap bahwa dengan jawabannya itu, Chitra Anggini akan puas dan diam. Namun, harapannya itu tidak terpenuhi.
“Aku tidak tertarik dengan uang hasil menjual beras-beras ini. Hasilnya mungkin hanya akan sampai seratus keping emas saja. Tetapi jika aku meminta uang kepadamu, maka sudah pasti kau akan memberiku satu Batu bernilai seribu keping emas! Bukankah begitu, he?” Chitra Anggini mengangkat kepala, menunjukkan senyum jenaka.
***
MANTINGAN mengeluarkan sesuatu dari dalam pundi-pundi di pinggangnya, sebelum melemparkan itu kepada Chitra Anggini. Perempuan tersebut mengetahui benda apa yang Mantingan lempar itu, maka dengan secepat mungkin memapasnya di udara.
“Kau gila, Mantingan! Kau gila!” Chitra Anggini berseru-seru. “Ini adalah Batu, Mantingan, Batu yang bukan sekadar batu! Ini senilai dengan seribu keping emas, demi apa pun itu bukanlah jumlah yang kecil. Dan kamu melemparkannya bagai melempar sebiji kacang!”
Mantingan melipat dahi. “Bukankah kau yang memintanya tadi?”
“Berikanlah dengan cara baik-baik. Benda ini terlalu berharga untuk kaulempar seperti itu!” Chitra Anggini menimang-nimang sebongkah Batu berukuran sekelingking jari itu di tangannya. “Apakah kamu benar-benar memberikan Batu ini untukku?”
Mantingan mengangkat bahu. “Ambil saja. Kurasa kau akan membutuhkannya nanti.”
“Tidak terlalu kubutuhkan benar-benar, tetapi kusimpan sajalah. Mungkin kau benar, suatu saat nanti ini dibutuhkan.” Sebongkah Batu itu kemudian dimasukkan ke dalam pundi-pundinya. “Jika para penyamun di seluruh Suvarnadvipa mengetahui betapa dirimu masih memiliki banyak Batu bernilai seribu keping emas itu, telah pasti mereka akan berjuang mati-matian untuk mendapatkannya. Ya, mungkin ada beberapa yang tidak menggunakan kekerasan, melainkan kelembutan. Ada banyak gadis cantik yang siap menggodamu habis-habisan.”
“Aku tidak akan pernah tergoda semudah itu.” Mantingan menjawab datar.
“Benarkah sedemikian?” Chitra Anggini menaik-turunkan alisnya sambil tersenyum lebar. “Aku juga tidak akan pernah percaya pada ucapan manis lelaki dengan begitu mudahnya. Sepertinya, aku harus mengujimu terlebih dahulu.”
“Ongng ….” Munding yang entah gerangan mengerti atau tidak pembicaraan mereka, menyahut tanpa melambatkan jalannya.
“Munding berkata bahwa diriku tidak akan pernah tergoda olehmu,” kata Mantingan sambil menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal, dengan senyum canggung di wajahnya, “sebab kau sangat jelek ….”
Chitra Anggini meloncat dari tidurnya. Tanpa aba-aba melayang sebentar di udara sebelum berkelebat ke arah Munding yang sedang menarik pedati. Munding terlambat menyadari pergerakan itu. Sebuah tamparan keras mengenai punggung kerbau itu dengan telak.
Chitra Anggini kembali berkelebat ke dalam pedati, langsung kembali merebah. Sedangkan Munding Caraka megaum panjang sebelum mulai berlari kencang!
Mantingan segera bertindak dengan mengalirkan tenaga prana barang secepat dan sebanyak mungkin melalui tali kekang di tangannya yang tersambung dengan sepasang tanduk Munding. Jika Munding Caraka tetap berlari dengan kecepatan seperti ini, maka pedati yang dibawanya akan cepat kandas! Mantingan tentu tidak mau hal itu sampai terjadi.
“Tenanglah, Munding!”
Tenaga prana dan perkataan Mantingan banyak membantu Munding untuk kembali tenang. Langkah kaki kerbau itu melambat perlahan, hingga akhirnya kembali pada kecepatan semula. Munding memutar kepalanya sedapat mungkin untuk menengok ke belakang, tajam-tajam menatap Chitra Anggini yang merebah dengan tersenyum tak acuh. Kerbau itu mendengkus marah tetapi sadar betul dirinya tidak bisa berbuat apa-apa.
Mantingan menoleh pula ke arah Chitra Anggini. “Chitra, apa yang kaulakukan tadi itu sungguh tidak beralasan. Segeralah minta maaf pada Munding.”
“Aku? Memohon maaf pada kerbau? Tidak akan pernah!” Chitra Anggini berkata sinis. “Lagi pula, bukankah Munding-mu itu sendiri yang memulainya?”
__ADS_1
Mantingan hanya menghela napas panjang, dan berkata lembut pada Munding, “Dikau harus mulai memahami wanita, Munding. Mereka selalu menyalahkan, tetapi tidak mau disalahkan.”
Seketika itu pula suara nyaring memecah kehingan di pedati itu. Punggung Mantingan melengkung bagaikan sebuah bujur panah. Kepalanya menengadah ke atas. Wajahnya berkerut. Mulutnya menyeringai. Sebab rupa-rupanya suara nyaring itu berasal dari punggungnya yang telah ditampar keras-keras oleh Chitra Anggini!
“Lelaki juga sama saja, sebelum bicara tidak pernah berpikir matang.”
***
PADA malam itu, segalanya tampak lancar-lancar saja, terkecuali dengan jalanan yang sedikit banyak dipenuhi lumpur dan genangan air. Beberapa kali, Mantingan dan Chitra Anggini harus turun pedati untuk membantu Munding menarik roda pedati dari kubangan lumpur.
Meski sebagai hewan siluman, Munding memiliki kekuatan yang besar, tetapi kekuatan itu terlalu besar adanya. Untuk sekadar menarik roda dari kubangan lumpur, itu sangat berbahaya. Pedati dapat terpental jauh ke depan, lantas menghantam tanah dengan sedemikian kerasnya, hancur berkeping-keping.
Kendatipun kegiatan seperti itu amatlah sangat menyebalkan, sebab alas kaki akan selalu dilekati tanah basah setebal-tebalnya, namun tidak satupun dari mereka ada yang mengeluh.
Sebagai pria, Mantingan memang sudah terbiasa untuk tidak mengeluh dalam segala keadaan. Itu bukan pencapaian yang luar biasa.
Sedangkan sebagai perempuan, Chitra Anggini sudah sewajarnya mengeluh dalam keadaan seperti ini. Gelap. Lumpur. Nyamuk. Ketiga hal itu sudah lebih dari cukup untuk membuat seorang perempuan menangis dan merengek ingin pulang. Tetapi Chitra Anggini agaknya bukan perempuan biasa. Meski kejelitaan yang dimilikinya seolah saja mengungkapkan bahwa perempuan itu bukanlah pendekar, sebab otot yang dimiliki tubuh gadis itu tidak juga terlalu besar, tetapi sorot matanya telah mengatakan dengan sejelas-jelasnya bahwa Chitra Anggini adalah perempuan perkasa.
Mantingan pun diam-diam menaruh rasa kagum pada perempuan muda itu. Cantik, tetapi tetap perkasa.
“Jalanan ini terlalu sepi.” Chitra Anggini tiba-tiba saja berkata, memecah lamunan kecil Mantingan.
“Apakah kau merasakan sesuatu?” Mantingan bertanya dengan suara rendah. Kewaspadaannya terpasang.
Mantingan terdiam beberapa saat. Ia menancapkan kemampuan membaca pertanda, lantas menganggukkan kepala. “Aku juga merasakannya, tetapi hanya sedikit.”
“Yang aku rasakan saat ini cukup besar.” Chitra Anggini meraih pundi-pundi berisi dedaunan yang tergeletak di lantai pedati. “Kita harus berwaspada penuh.”
Mantingan menganggukkan kepalanya, kemudian melepas lilitan kain yang membungkus Pedang Savrinadeya. Tidak seperti kemarin pagi, di mana ia melawan gundik-gundik milik saudagar Negeri Atap Langit yang nyata-nyatanya adalah pencuri itu, dengan tangan kosong. Jelas saja cara seperti itu akan lebih boros tenaga dalam serta membuat lawannya merasakan rasa sakit luar biasa sebelum dijemput kematian.
Lagi pula, ia masih belum benar-benar membuktikan kemutakhiran ilmu pedang andalannya, yakni Pendirian Manusia yang berisi tentang segala gerakan khas manusia. Selain ketika bertarung antara hidu dan mati melawan Gema Samudradvipa, kapankah lagi Mantingan memainkan Pendirian Manusia yang berisi tiga sikap itu?
Dan begitulah dunia persilatan, di mana kemampuan suatu jurus baru dapat ditentukan dengan pertarungan antara hidup dan mati. Peraturan tak tertulis dan pula tak tersepakati, tetapi pula tak terbantahkan.
“Firasat buruk ini semakin kuat.” Chitra Anggini setengah berbisik. “Siapa pun yang akan kita hadapi nanti, pastilah memiliki kekuatan yang jauh di atas kita. Jauh lebih baik jika kita tinggalkan pedati ini dan terbang ke langit bersama Munding.”
“Kita sudah terlambat.” Mantingan tersenyum kecut. Melalui Ilmu Mendengar Tetesan Embun yang telah ditancapkan sedari tadi, ia mampu mendengar suara-suara kelebatan dari jarak dua puluh tombak yang semakin memperkecil jarak dalam waktu singkat. Sudah terlambat untuk melarikan diri. “Kita harus bersiap menghadapi pertarungan.”
“Sialan! Seharusnya kita sudah melarikan diri sedari tadi!” Chitra Anggini mengumpat keras. “Monyet terkutuk! Babi makan ayam! Ini semua karena kau, Mantingan!”
Mantingan menghiraukan umpatan-umpatan itu untuk berkata, “Kau tetaplah di sini, Chitra, jaga pedati. Aku akan mencoba berbicara dengan mereka.”
Mantingan menarik tali kekang Munding. Kerbau itu berhenti seketika, naluri kehaiwanannya turut menyadari terdapat sesuatu yang salah di sekitarnya.
__ADS_1
“Hei, tunggu!” Chitra Anggini meraih lengan Mantingan yang baru saja hendak melompat turun dari pedati. Mantingan menatapnya dengan tidak sabaran. “Kauhendak meninggalkanku lagi?”
“Aku tidak akan pergi terlalu jauh darimu, hanya sebatas lima depa saja, itu sudah lebih dari cukup bagiku untuk berkelebat menyelamatkanmu jika terjadi suatu masalah di luar perkiraan.” Selesai berkata seperti itu, lengan Mantingan tidak pula dilepaskan oleh Chitra Anggini. Tampak jelas bahwa dari raut wajahnya yang tampak berani itu, tersimpan ketakutan yang luar biasa besarnya.
“Tetaplah di sini … jikapun salah satu dari kita harus mati, maka kita akan mati bersama-sama.”
“Tidak ada satupun dari kita yang akan mati malam ini.” Mantingan bersungguh-sungguh. Kini dirinyalah yang menggenggam kedua lengan Chitra Anggini. “Pegang kata-kataku, tetapi jangan tanganku.”
Chitra Anggini melepaskan genggamannya dari lengan Mantingan. Mengangguk kecil dengan keyakinan dan harapan besar. Maka begitulah kemudian Mantingan melompat turun dari pedatinya.
Udara malam yang luar biasa dingin segera menyambutnya. Menusuk hingga tulang-belulang. Di dalam pedati, udara tidak terlalu dingin seperti sekarang ini. Namun bagi Mantingan yang mengusai peredaran tenaga prana, udara dingin seperti ini tiadalah menjadi masalah barang sedikitpun.
Dengan Ilmu Mendengar Tetesan Embun, Mantingan segera dapat menentukan jumlah dan letak musuh-musuh yang akan dihadapinya. Mereka berjumlah sekitar lima puluh orang. Bersenjatakan pedang tipis dan beberapa belati yang semuanya tersoren di pinggang. Mereka semua adalah pendekar. Mengawasi dari balik kerimbunan pohon-pohon, di bawah kepekatan malam.
Mudah saja bagi Mantingan untuk membunuh mereka semua. Dengan sekali sentak, dirinya mampu melesatkan puluhan jarum beracun yang betapa pun mampu membunuh seseorang dalam sekejap mata. Namun, pemuda itu masih menahan diri. Ia tahu bahwa ada kekuatan besar di belakang lima puluh pendekar itu.
Bukankah siasat semacam ini pernah disebut oleh Kiai Guru Kedai, yakni dengan mengirim pendekar-pendekar berkeahlian rendah untuk memancing kelengahan lawan sebelum menyerangnya dengan kekuatan yang sebenar-benarnya?
Mantingan berdiri tegak di tempatnya. Sempurna mematung. Dirasakannya satu-dua rintik hujan menerpa tubuh.
Kesunyian dan kekelaman membuat suasana menjadi luar biasa menegangkan. Betapa di dalam kesunyian itu, maut membayang-bayangi. Dan betapa di dalam kekelaman itu, pendekar-pendekar haus darah bersembunyi.
“Pahlawan Man, kucari dikau ke segala penjuru, tidak kusangka akan menemukan dikau di tempat terpencil seperti ini.” Sesuara memecah kesunyian. Meski jelaslah suara itu berasal dari seorang pria, tetapi entah mengapa terdengar amat halus dan lembut.
Mantingan tidak mampu keberadaan menemukan orang yang mengeluarkan suara itu sekalipun telah menekan Ilmu Mendengar Tetesan Embun hingga batas tertinggi. Bahkan untuk sekadar arah suaranya pun sama sekali tidak dapat ditentukan!
Pendekar semacam apakah yang sedang dihadapinya saat ini?
___
catatan:
Daftar bonus episode sebelum tanggal 30 april 2022.
Favorit 1370\= 2 episode [TERPENUHI]
Favorit 1400\= +3 episode [TERPENUHI]
Vote 950\= 2 episode [TERPENUHI]
Vote 1000\= +5 episode
__ADS_1