Sang Musafir

Sang Musafir
Laskar Kerbau Taruma


__ADS_3

MANTINGAN DAN Bidadari Sungai Utara tidak menunggu hingga pagi tiba untuk meneruskan perjalanan. Betapapun, rombongan permaisuri terus bergerak tanpa bisa mengetahui bahwa keduanya tengah beristirahat.


Sehingga pada tengah malam itu, mereka melesat dengan kecepatan tinggi di antara pepohonan di pinggir jalan. Tanpa penerang tambahan, sebenarnya agak menyulitkan untuk melesat tanpa menghantam batang pohon. Akan tetapi itu dapat diatasi dengan pendengaran tajam dari Mantingan, yang jauh lebih tajam setelah ketujuh cakranya dipenuhi oleh tenaga dalam.


Jubah keperakan Mantingan dipantul sinar rembulan yang sama-sama perak pula, menjadikan jubah tersebut sebagai penuntun jalan bagi Bidadari Sungai Utara.


Mantingan tidak membawa peta, bahkan bundelannya pun masih tergantung di punggung kudanya—jika rombongan tidak melepaskan barang bawaan agar dapat bergerak cepat.


Jelas bahwa kuda itu ikut melarikan diri bersama rombongan permaisuri.


Selain Pedang Kiai Kedai dan pundi-pundi berisi Lontar Sihir, sebungkus jarum beracun, dan beberapa tengkel obat, ia tidak membawa benda lainnya.


Lebih-lebih Bidadari Sungai Utara. Gadis itu hanya membawa Pedang Merpati Putih dan beberapa batang jarum saja.


Tetapi sebagai dua orang pendekar, mereka dapat bertahan hidup bahkan tanpa membawa benda apa pun. Seorang pendekar dapat mengganti makanan dengan tenaga dalam. Jika tidak membawa pedang, maka pendekar dapat menggunakan ilmu tangan kosong.


Mantingan sungguh tidak merisaukan soal perbekalan, tetapi ia sungguh merisaukan apakah jalan yang sedang ditempuhnya bersama Bidadari Sungai Utara ini keliru ataukah benar.


Jejak roda dan tapak kuda yang ditinggalkan rombongan telah menghilang. Agaknya tempat ini tidak terguyur air hujan. Jejak kereta kuda akan sulit menempel pada tanah yang kering kerontang.


Jika begitu, maka satu-satunya yang dapat Mantingan lakukan adalah pergi ke arah Gunung Kubang, tetapi akan memakan waktu yang sangat lama untuk pergi ke Perguruan Angin Utara di wilayah Gunung Kubang tanpa membawa peta.


Ia dan Bidadari Sungai Utara harus singgah dari satu desa ke desa lain. Menanyakan arah jalan yang dapat dilalui untuk menuju Gunung Kubang. Tak hanya itu, besar kemungkinan Mantingan akan ditantang pendekar yang ada di dalam desa.


Lebih banyak pendekar yang hidup dalam peradaban ketimbang rimba hijau.


“Mantingan, di sana!”


Mantingan menoleh ke belakang setelah mendengar suara Bidadari Sungai Utara. Dilihatnya gadis itu menunjuk sisi kiri jalan dengan tangannya, maka segeralah Mantingan menghentikan laju sebelum hinggap pada sebatang dahan pohon. Bidadari Sungai Utara pun berbuat serupa, tak jauh darinya.


Mantingan menerawang ke arah gadis itu menatap. Dilihatnya sebuah kereta kuda yang terjerembab masuk ke dalam rimbunan semak belukar. Mantingan meneliti bentuk kereta kuda yang dirasa telah dikenalinya, betapa terperanjat dirinya bagai melihat sedang siluman. Bagaimana bisa dirinya memenangkan diri jika yang dilihatnya adalah kereta kuda permaisuri!


Kana dan Kina ikut bersama rombongan permaisuri, dan kini kereta kuda yang terperosok masuk ke dalam semak belukar itu, tampak tak berpenghuni lagi.


Maka dengan mengamuk, Mantingan berkelebat menuju kereta kuda itu dengan pedang ditarik dari sangkarnya. Kemarahannya mengalahkan akal sehat dan kebijaksanaannya.


Ketika tinggal sedepa lagi bagi Mantingan untuk mencapai atap kereta kuda, tiba-tiba saja atap itu meledak. Hancur berkeping-keping. Dilihatnya sesosok manusia yang keluar dari atap berlubang tersebut. Kilauan perak dari pedangnya memancarkan bayangan rembulan.


Maka dengan kemarahan yang telah menumpuk di ubun-ubun, Mantingan menyerang sosok tersebut dengan sangat beringas. Pikirannya berkecamuk, menuduh bahwa sosok tersebut yang keluar dari atap itu telah membunuh seluruh rombongan dan kini berada di dalam kereta kuda untuk menjebaknya. Maka tiada ampun yang akan Mantingan berikan!


Mantingan menebaskan pedangnya langsung ke arah leher orang itu, yang langsung dihalau menggunakan pedangnya. Suara denting yang memekakkan telinga dan lelatu api tercipta.


Dalam sekali adu senjata itu, pedang lawan tiada kuasa menahan kekerasan pedang serta kemarahan dari penggunanya, maka patahlah ia menjadi dua!


Mantingan tidak berhenti meski serangan pertamanya digagalkan. Kembali ditebaskan pedangnya, kali ini mengarah ke pinggang lawan. Namun sekali lagi, serangannya itu berhasil dihalau, dan pedang lawan kembali patah hingga menjadi sangat pendek.


Tiada peduli meski serangannya telah digagalkan sebanyak dua kali. Mantingan menarik pedangnya ke belakang untuk memberikan daya daya paling mematikan dari serangannya itu.


“Pahlawan Man! Berhentilah!”


Hampir saja Mantingan menebaskan Pedang Kiai Kedai yang sudah pasti tidak akan bisa dihentikan lagi dan jelas akan membunuh sosok tersebut. Mantingan masih sempat mendengar suara itu sehingga sempat pula menahan gerakannya.


Mereka melayang turun ke bawah seringan helaian kapas. Mantingan tidak menyarungkan pedangnya untuk berjaga-jaga. Ia masih tidak mengenali siapa orang di depannya itu meski telah jelas bahwa orang itu mengenalinya.

__ADS_1


Kegelapan malam ditambah bayang-bayang dari pepohonan rindang telah menutupi wujud sosok itu. Dari suaranya yang berat, agaknya dia telah berusia paruh baya.


“Siapakah dikau?!” Mantingan bertanya keras, sebab memang kemarahannya masih sulit diredakan.


“Pahlawan Man, tenangkan dirimu dan turunkanlah pedangmu terlebih dahulu!” Suara lain muncul menyahuti, membuat kening Mantingan berkerut.


“Tidak akan kulakukan selama belum kuketahui dengan siapa sajakah daku berhadapan. Musuh atau teman, sebutlah nama!”


“Jangan lancang! Ketahuilah bahwa yang berhadapan denganmu adalah Sri Cakrawarman, Pahlawan Man!”


Kening Mantingan semakin berkerut dibuatnya. Siapakah Sri Cakrawarman? Dengan gelar “Sri” di depan namanya, Mantingan dapat menebak bahwa orang ini bukanlah pastilah bukan orang sembarangan.


“Apakah dikau tidak mengetahui tentang diriku, wahai Pahlawan Man?” Kembali suara berat itu terdengar. “Padahal telah kuketahui namamu sejak lama.”


Mantingan merasakan tekanan yang luar biasa yang berasal dari suara tersebut. Apakah yang sebenarnya sedang berlangsung di tempat itu? Siapakah gerangan Sri Cakrawarman yang mampu membuat hawa yang begitu mengerikan hanya dari suaranya, akan tetapi memiliki kemampuan bertarung di bawah atau setidaknya setingkat dengan Mantingan itu?


“Sungguh sahaya tidak mengetahui siapakah engkau.” Mantingan menurunkan nada suaranya.


Selepas ia berkata seperti itu, Bidadari Sungai Utara tiba tepat di belakangnya. Gadis itu tampak menyiagakan pedang dan berada dalam keadaan siap bertarung, tetapi Mantingan memberi tanda pada gadis itu untuk menahan serangannya.


Sedangkan suara berat itu kembali membalas, “Hmm, mungkin memang bukan salahmu, ini salahku sendiri yang tidak terlalu terkenal di kalangan telaga persilatan maupun rimba persilatan. Tetapi biarkanlah diriku memperkenalkan diri jika memang engkau tidak mengetahui, wahai Pahlawan Man. Dakulah Cakrawarman, Patih Perang Tarumanagara, adik kandung dari Sri Maharaja Punawarman.”


Mantingan amat sangat terkejut. Adik Sri Maharaja Purnawarman sekaligus Patih Perang Tarumanagara? Mengapa ia tidak pernah mendengar namanya disebut-sebut?


Tanpa berlama-lama lagi, segera disarungkan pedangnya. Dan menunduklah ia. Tetapi seandainya seorang Cakrawarman mengetahui, pedang Mantingan tidak sepenuhnya tersarung. Mantingan masih menaruh curiga pada orang yang mengaku sebagai Patih Perang Tarumanagara di hadapannya itu.


Sebab dalam keadaan menunduk, kewaspadaan akan berkurang banyak dan kelengahan meningkat tajam, lawan dapat menikam ketika hal itu terjadi.


“Tegaklah dikau berdua, daku bukanlah raja yang perlu diperlakukan seperti itu.”


“Maafkanlah daku yang telah bersikap terburu-buru terhadapmu.” Mantingan memohon maaf dengan tulus.


“Tidak. Bukan salah kau. Dakulah menyerang dikau lebih dahulu. Namun, lupakanlah sahaja persoal itu.” Cakrawarman tiba-tiba bersuit panjang. Sebentar kemudian, terdengar suara gersak dari arah semak belukar serta dari atas pepohonan rindang. “Kami semua telah menantikanmu, Pahlawan Man.”



MANTINGAN MELIHAT puluhan sosok bayangan keluar dari balik semak belukar, batang-batang pepohonan, dan kegelapan hutan. Mereka berjalan ke arahnya, atau lebih tepatnya mereka menghampiri Cakrawarman. Berdiri di belakang pria berbadan besar tersebut.


“Inilah Laskar Kerbau Taruma, sekumpulan pasukan khusus yang berisikan pendekar-pendekar ahli paling dapat diandalkan.” Cakrawarman melanjutkan perkataannya dengan nada yang ramah. “Kami telah menanti dirimu di tempat ini. Salah seorang prajuritku akan menjelaskan kepadamu lebih lengkapnya, sekarang kita mesti bergerak.”


***


MANTINGAN BERKELEBATAN dari pucuk pohon ke pucuk pohon bersama puluhan prajurit Laskar Kerbau Taruma. Bidadari Sungai Utara bergerak tepat di sebelah kanannya; sedang di sisi kirinya adalah seorang prajurit sedang menjelaskan segala sesuatu yang telah terjadi pada rombongan permaisuri tepat setelah Mantingan meninggalkannya.


“Berdasarkan arahan dari orang yang menamai dirinya sebagai Jakawarman, rombongan Sri Permaisuri segera bergerak. Tiada satupun barang atau orang yang ditinggalkan selain dikau dan kawanmu itu,” katanya. “Di waktu yang bersamaan, kami sedang bergerak dengan kecepatan penuh menuju Tanjung Kalapa dari Perguruan Angin Putih. Beberapa prajurit dari Pasukan Topeng Putih ada bersama kami. Tujuan kami saat itu adalah untuk menyusul Sri Permaisuri setelah kami mendengar kabar tentang pengkhianatan dari seorang prajurit yang mengabarkan. Kami tak menyangka akan bertemu dengan rombongan itu di Agrabinta, sebab tidak seharusnya rombongan ini melewati jalur di Agrabinta.


“Tetapi setelah kami mendapat penjelasan ringkas tentang apa yang telah terjadi, kami lekas melaksanakan penyelamatan tingkat enam. Ini adalah tingkat penyelamatan tertinggi setelah penyelamatan tingkat tujuh yang dikhususkan hanya untuk Maharaja seorang. Ketika itu, kami semua berjumlah seratus pendekar termasuk tambahan lima pendekar dari Pasukan Topeng Putih. Kami membagi orang. Delapan puluh untuk membawa rombongan ke Perguruan Angin Putih; dua puluh untuk menetap di pinggir jalan, menunggu dan menahan pergerakan musuh.”


Di ufuk timur, Mantingan melihat sedikit semburat jingga. Pertanda fajar telah tiba.


Prajurit itu melanjutkan sambil terus melesat, “Kereta kuda ditinggalkan, permaisuri terpaksa menunggangi kuda demi kelancaran dan keamanan perjalanan. Kami menggunakannya untuk mengecoh musuh. Sri Cakrawarman ikut bersama kami, kelompok yang menunggu musuh, karena dirinya terlalu berani untuk melarikan diri bersama rombongan Sri Prameswari. Kami bersembunyi tanpa banyak bergerak. Sri Cakrawarman menunggu tepat di dalam kereta kuda, dengan bilah pedang kesayangannya yang selalu disiagakan. Satu hari satu malam kami terus menunggu di tempat kami masing-masing.”


Setelah mendapat penjelasan dari sang prajurit, Mantingan mulai mengerti ke mana dirinya dan pasukan ini bertujuan. Hendaknya mereka sedang menyusul rombongan permaisuri yang mungkin sudah jauh di depan sana.

__ADS_1


“Kami memang menunggu musuh, tetapi sebenarnya kami menunggu dirimu dan kawanmu jua. Segala kebaikan dan pengorbanan yang kalian berikan pastilah akan mendapat balasan yang setimpal dari Sri Maharaja Punawarman. Namamu akan diagung-agungkan sebagai pahlawan Negeri Taruma.”


Mantingan tersenyum canggung setelah mendengar pujian tersebut. Menurutnya, ia hanya melakukan apa yang memang seharusnya dilakukan. Kiai Guru Kedai berpesan untuk selalu menebar kebaikan di manapun kakinya berpijak, Kenanga pula berkata sedemikian.


Mereka terus berkelebat. Mencipta bayang-bayang hitam di tengah hutan yang mulai terguyur sinar mentari. Melewati burung-burung yang terbang berkelompok.


Jalanan tepat berada di sisi kiri mereka. Jalanan tersebut merupakan jalan yang dilintasi rombongan permaisuri, sehingga dua puluh pasukan tidak pernah bergerak terlalu jauh dari sisi jalan.


Mantingan dan Bidadari Sungai Utara saling melirik. Lalu tersenyum lebar. Betapa disadarinya, bahwa hanya mereka saja yang bertampang dekil di antara lainnya. Pakaian mereka tertutupi noda lumpur, begitu pekat hingga menutupi warna aslinya. Namun, inilah bukti bahwa hanya keduanya saja yang bertarung.


***


MATAHARI TELAH meninggi, namun terlalu dini untuk dapat dikatakan siang hari. Mantingan, Bidadari Sungai Utara, dan Laskar Kerbau Taruma dihujani kegembiraan yang luar biasa.


Rombongan permaisuri telah terlihat. Kuda-kuda tertambat di sisi kiri jalan. Sedangkan para prajurit pengawal tampak berkumpul di sebuah tanah lapang. Satu buah tenda didirikan.


Mereka semua segera melesat hingga mendarat di sekitaran rombongan tersebut.


Bidadari Sungai Utara langsung memeluk Kana dan Kina yang tengah duduk termenung, awalnya mengira bahwa Jakawarman yang sedang memeluk mereka.


“Berhentilah memeluk kami, Kaka Jaka! Ini tidak akan membuat mereka berdua muncul di sini.”


Namun tatkala Bidadari Sungai Utara membisikkan sesuatu yang tidak dapat Mantingan dengar, keduanya meledak oleh kegembiraan.


Seluruh prajurit dan pendekar yang ada di sana menjura pada yang baru datang. Lalu secara bersamaan, mereka menjura hanya kepada Mantingan. Jelas membuat pemuda itu gugup karena tidak pernah diperlakukan sedemikian rupa. Kendati demikian, Mantingan tetap balas menjura.


Setelah itu, terjadilah perundingan untuk saling bertukar kabar. Selama satu hari terakhir, mereka telah terpisah tanpa mengetahui kabarnya masing-masing.


Tetapi tiada rindu di antara para prajurit, yang ada hanyalah kepentingan. Sehingga ketika mereka melaksanakan perundingan, sungguh yang dibahas hanyalah hal yang penting lagi genting saja.


Jakawarman dan enam pendekar bertopeng putih menghampiri Mantingan dan menjura. Jakawarman lalu berkata, “Bisakah Pahlawan mengatakan bagaimana nasib Kembaran dari Gomati itu?”


Mantingan tersenyum dan berkata, “Mereka mati sebagai pendekar tangguh, sayang sekali diriku tidak sempat membuatkan pancaka untuk mereka.”


Jakawarman dan enam prajurit bertopeng lainnya saling bertukar keterangan dan kabar perguruan. Dari percakapan itu, Mantingan sedikit-sedikit mengetahui tentang Kembaran dari Gomati.


Kembaran dari Gomati adalah saudara kandung yang benar-benar kembar. Mereka memiliki julukan Elang Putih dan Elang Hitam sebab dinilai telah saling melengkapi. Elang Hitam tidak segan-segan membunuh musuhnya; sedangkan Elang Putih jauh menghargai nyawa manusia dan mengedepankan perundingan damai sebelum memulai pertarungan.


Seperti namanya, dua saudara kembar ini berasal dari Sungai Gomati, sungai yang pernah diperbaiki alurnya oleh Rajadirajaguru—kakek dari Punawarman.


Diperkirakan bahwa mereka hanya hidup sebatang kara di tepi sungai tersebut. Beberapa penduduk desa melihat mereka selalu menangkap ikan dengan bubu di tepi sungai untuk mengisi perut. Namun ketika keduanya telah memasuki usia remaja, penduduk desa tidak lagi melihat mereka di manapun. Gubuknya pun tiada berpenghuni dengan segala barang yang ditinggalkan begitu saja.


Belasan tahun setelah menghilangnya mereka, barulah nama Kembaran dari Gomati mencuat di rimba persilatan sebagai pendekar beraliran merdeka. Keduanya mulai terkenal setelah berhasil menyelesaikan tugas-tugas tingkat tinggi dengan sempurna.


Tetapi jalan kependekaran mereka bukanlah untuk mencari kesempurnaan hidup, melainkan keuntungan semata. Tiadalah tercatat keduanya membuat tantangan bertarung jikalau tidak dibayar mahal.


“Jadi ... mereka adalah pendekar aliran merdeka,” gumam Mantingan. Ia berpikir, seandainya saja ketika itu Elang Hitam yang menghadapinya, mungkin keadaannya bisa berbeda.


___


catatan:


Ini adalah dua episode yang dijadikan satu. Jumlah keseluruhan kata: 2148

__ADS_1



__ADS_2