
Mantingan mengetahui bahwa dengan cara itu, waktu perjalanan dapat dipangkas cukup banyak. Keamanan pun dapat lebih terjamin, sebab berapa pun banyaknya penyamun di lautan, tidak akan lebih banyak dengan penyamun di daratan.
“Persiapkanlah dirimu, Mantingan.” Rama kembali berucap. “Tetapi bukan hanya bersiap untuk menghadapi pertempuran saja, bersiaplah pula menghadapi perpisahan.”
***
BAHKAN MASIH terlalu dini disebut pagi buta, tetapi Mantingan, Bidadari Sungai Utara, Kana, dan Kina telah melaju di atas punggung kuda.
Untuk menuju Bumi Sagandu, mereka tidak menggunakan kereta kuda. Sebab jika tidak begitu, perjalanan akan memakan waktu hingga tujuh hari.
Berbeda dengan ketika mereka menunggang kuda, perjalanan hanya membutuhkan waktu sekiranya tiga hari saja.
Mereka dikawal sepuluh pendekar Pasukan Topeng Putih yang pula menunggang kuda. Lima pendekar di barisan terdepan; lima pendekar di barisan belakang.
Seluruh kuda yang mereka tunggangi adalah kuda terbaik yang dimiliki perguruan. Semuanya berwarna putih keperakan. Ketika matahari menyinari, maka tubuh mereka akan berkilauan perak.
Mantingan dan Kana menunggang kudanya masing-masing. Kana memacu kudanya dengan penuh rasa bangga, sebab kudanya merupakan pemberian langsung dari ketua Perguruan Angin Putih, Rama.
Sedangkan Bidadari Sungai Utara dan Kina berada di kuda atas kuda yang sama. Tentu saja hal itu dikarenakan Kina tidak dapat mengendarai kuda sendirian, sehingga harus pula ditemani Bidadari Sungai Utara.
Kuda yang mereka tunggangi bukankah kuda sembarangan yang biasanya dijual di peternakan kuda biasa. Kuda yang mereka tunggangi adalah hasil perkawinan dari kuda terbaik dengan kuda terbaik lainnya, sehingga barang tentu menghasilkan kuda yang jauh lebih baik lagi.
Kuda yang mereka tunggangi mampu melaju secepat angin untuk waktu yang sangat lama. Mereka tidak akan berhenti sebelum penunggangnya sendiri yang memintanya. Seakan tiada pernah merasa kelaparan maupun kehausan.
Namun di antara semua kuda yang mereka tunggangi, kuda milik Kana adalah kuda yang paling terbaik. Kuda itu terkadang maju ke barisan terdepan, dan baru mundur ke belakang setelah Kana menarik tali kekangnya. Napas kuda itu pula yang paling teratur dari kuda lainnya.
Dalam waktu yang teramat singkat, atau lebih tepatnya ketika matahari telah menyembul di ufuk timur, mereka telah berhasil meninggalkan wilayah Gunung Kubang dan memasuki wilayah Gunung Manik. Itu ditandai setelah mereka melewati sepasang gapura yang berdiri pada dua sisi jalan.
***
__ADS_1
MALAM ITU. Mereka berhenti di sebuah kedai berukuran sedang. Bidadari Sungai Utara telah dipastikan memasang cadar serta caping yang ia dapatkan di Perguruan Angin Putih, gadis itu akan bertindak sebagai gundik Mantingan yang ‘tertindas’.
Mereka berhenti di kedai itu bukan karena mereka merasa takut pada penyamun-penyamun gunung yang sering turun ketika matahari telah tenggelam, melainkan kuda yang mereka tunggangi telah mencapai batas kekuatannya.
Maka kuda-kuda itu harus diistirahatkan, diberi makan, dan air. Sebab biar bagaimana pun, kuda-kuda itu tetaplah makhluk hidup yang membutuhkan istirahat, makanan, dan air.
Mantingan, Bidadari Sungai Utara, Kana, Kina, beserta sepuluh pendekar Pasukan Topeng Putih juga merupakan makhluk hidup. Mereka membutuhkan istirahat, makan, dan minum.
Maka masuklah mereka ke dalam kedai berukuran sedang itu, yang nyatanya tidak sedang kedatangan banyak pengunjung. Hanya ada beberapa orang berpenampilan seperti pelancong di sudut-sudut ruangan. Mereka minum arak dan tampaknya tidak mau diganggu.
Mantingan segera mendatangi meja pemesanan dan memesan beberapa kamar.
“Anak, kami tidak memiliki banyak kamar. Terlebih hari ini, ada beberapa rombongan pedagang yang bermalam. Engkau hanya bisa mendapatkan satu buah kamar, Anak.” Bapak pemilik kedai itu berujar dengan nada penuh sesal.
“Tidak mengapa, Bapak. Diriku pesan kamar itu. Berapakah harganya?”
Namun sebelum itu, bapak pemilik kedai melirik Bidadari Sungai Utara di belakang Mantingan. Tampak sekali bahwa dirinya ingin melihat wajah gadis itu. Tetapi sayang seribu sayang, yang ia dapatkan hanyalah cadar dan caping yang sungguh-sungguh menutupi wajah Bidadari Sungai Utara secara keseluruhan.
“Harga satu malamnya cukup lima keping perak,” katanya dengan suara berat dan senyum yang memudar perlahan. “Tetapi akan berlipat-lipat harganya jikalau wanita itu membawa masalah ke tempat ini.”
Mantingan sebenarnya amat sangat terkejut. Namun lekas ia menyembunyikannya. Akan berbahaya jika bapak pemilik kedai itu sampai mengetahui keterkejutannya.
Mantingan justru tersenyum halus. “Tidak akan, Bapak. Dan sekalipun membawa masalah, maka daku sendiri yang menanganinya.”
Bapak pemilik kedai itu kembali memunculkan senyumannya. “Kamar kalian terletak di lantai dua, urutan keempat. Tiada kunci khusus di kamar itu, jadi kalian bebas membukanya dan bebas pula menutupnya. Berhati-hatilah kalian.”
Mantingan mengangguk dan beranjak pergi menuju lantai dua bersama Bidadari Sungai Utara, Kana, dan Kina. Sedangkan sepuluh Pasukan Topeng Putih memilih untuk duduk di bangku-bangku kedai.
Mantingan hanya mengantarkan mereka sampai pintu kamar saja. Sebelum itu, dirinya berpesan kepada Bidadari Sungai Utara untuk tidak melepas kewaspadaannya.
“Saudara tidak tidur di dalam saja?” Bertanya Bidadari Sungai Utara dengan raut wajah khawatir.
__ADS_1
“Tidak mungkin daku tidur di satu ruangan bersama Saudari, bukan?” Mantingan tertawa lepas.
“Saudara, diriku tidak sedang bercanda. Engkau tidak melihat orang-orang yang berpenampilan seperti pelancong di lantai bawah itu? Tidakkah juga engkau memperhatikan pemilik kedai?”
Mantingan mengangguk tanpa melepas senyumnya.
“Engkau tahu bahwa mereka adalah pendekar, bukan?”
Sekali lagi Mantingan mengangguk.
“Engkau sama sekali tidak menjawabku dengan kata-kata, Mantingan.”
“Sudahlah, diriku tidak takut pada mereka. Sekarang masuklah ke dalam kamar. Lihatlah Kina, dia tampak mengantuk sekali.”
“Kak Maman benar, tetapi bagaimanakah Kina dapat tertidur jika Kakak sedang dalam bahaya?” Kina membalas sebelum menguap akibat rasa kantuk berlebih.
“Diriku sama sekali tidak sedang dalam bahaya, Kina. Diriku justru akan bersenang-senang di bawah. Minum beberapa cangkir teh sambil menyantap kacang rebus. Dapatkah itu disebut berbahaya?”
Mata Kina yang semula terpejam, kini sedikit melebar. “Kina ikut Kakak sajalah!”
“Daku juga!” Kana menyahut.
Namun apalah daya, apalah sempat, mereka telah ditarik Bidadari Sungai Utara ke dalam kamarnya. Sekali lagi Mantingan tersenyum sebelum melangkahkan kaki menuju tangga.
Di sanalah senyumnya mulai memudar. Tatapannya menjadi jauh lebih tajam daripada sebelumnya. Tangannya bergerak menuju gagang Pedang Kiai Kedai, membuka kuncian.
Dirinya mengetahui apa yang telah diketahui Bidadari Sungai Utara. Tentang orang-orang berpenampilan seperti pelancong itu serta bapak pemilik kedai, mereka bukanlah orang awam.
Ketika Mantingan tiba di lantai bawah, dirinya segera melangkah menuju meja yang telah dipesan sepuluh Pasukan Topeng Putih.
Sepanjang perjalanan matanya beberapa kali melirik pelancong-pelancong di sudut ruangan yang kini tengah menghisap cangklong.
__ADS_1
Ia mengerti jelas peringatan bapak pemilik kedai. Orang itu mengucapkan “berhati-hatilah kalian” setelah memaparkan bahwa pintu kamar tidak memiliki kunci khusus. Dan Mantingan pula jelas mengerti, bahwa dirinya tidak akan bisa tidur malam ini.