
Mantingan membeliakkan matanya dengan tatapan yang teramat sangat tidak percaya, bagai kenyataan bahwa dirinya dicalonkan menjadi Pemangku Langit tidak cukup mengejutkan ketimbang kecupan itu. Sedangkan Chitra Anggini hanya melempar tatapan malas kepadanya.
***
KEJADIAN yang betul-betul luar biasa itu telah betul-betul pula mengejutkan Mantingan. Kiranya ia tidak cukup mengerti dengan apa yang dilakukan oleh perempuan itu terhadap Chitra Anggini. Jika kecupan tersebut diartikan sebagai tanda kasih sayang persahabatan, lantas mengapakah perlu tepat di bibirnya?
“Habiskanlah makanannya, sehingga kita dapat tidur secepat-cepatnya,” kata kawan perempuannya itu dengan senyum manis sebelum melangkah pergi.
Sudah barang tentu Mantingan masih tertegun di tempatnya.
“Tidak perlu heran, seperti inilah kami.” Chitra Anggini hanya mengangkat bahunya sambil makan dengan lekas-lekas.
Mantingan tidak lagi menyuap daging ayam itu. Hilang sudah nafsu makannya.
***
MANTINGAN bersila beralaskan rumput gatal di sebelah Munding Caraka yang telah terlelap pulas. Sedangkan itu, kebanyakan dari pemain wayang telah masuk ke dalam belasan tenda yang masing-masingnya berdiri di atas pedati, meski masih terdengar suara-suara sedemikian rupa yang menandakan bahwa mereka sama sekali tidak tidur. Mantingan tidak menerapkan Ilmu Mendengar Tetesan Embun, sebab dirinya benar-benar tidak ingin mengetahui apa yang sedang terjadi di balik tenda-tenda tersebut.
Namun, ada pula beberapa pemain wayang di luar tenda. Salah satunya ialah Kartika. Perempuan yang merupakan pimpinan dari rombongan wayang itu tampak sedang berbincang-bincang dengan salah satu anak buahnya. Dari raut wajah mereka, agaknya perbincangan telah memasuki permasalahan yang cukup penting.
Betapa pun Mantingan merasa penasaran dengan apa yang sedang mereka bincangkan, tetapi dirinya merasa tidak perlu untuk mendengarnnya. Ia masih memiliki kesantunan yang terus dipertahankannya dalam kehidupan persilatan.
Maka Mantingan memejamkan mata sebelum menggunakan Ilmu Ikan Tidur, sehingga dirinya dapat tertidur dengan kesadaran dan kewaspadaannya yang tetap terjaga. Namun baru sekejap kemudian, didengarnya seseorang memanggil namanya. Begitulah Mantingan lekas membuka kembali kelopak matanya.
__ADS_1
“Daku hendak sedikit berbincang denganmu, berdirilah.” Kartika tampak berdiri tepat di depannya, meski sungguh kehadiran wanita itu tidak dapat terendus Mantingan.
Meski masih menyisakan banyak kebingungan dalam benaknya tentang bagaimana Kartika mampu muncul di hadapannya tanpa terendus sama sekali, Mantingan mesti bersikap selayaknya orang awam yang barang tentu akan sulit untuk menyadari bahwa terdapat sesuatu yang tidak wajar. Segeralah dirinya bangkit berdiri.
Di bawah siraman sinar rembulan dan cahaya api obor yang kuning-kemuning, tampaklah wajah bersungguh-sungguh dari Kartika. Meski sebagai seorang perempuan penghibur raut wajahnya selalu menampilkan kehalusan dan kesayuan, tetapi sungguh tiada dapat menutupi sikap dewasa dari seorang Kartika. Dan hal itulah yang membuat Mantingan menaruh sedikit banyak rasa hormat kepadanya.
“Ada apakah gerangan, Kartika?”
“Akan ada beberapa tamu yang datang, kuminta dirimu untuk mengubah jati diri.”
Mantingan mengerutkan dahi. Tamu seperti apakah yang akan datang di tempat antah-berantah dan pula di tengah malam gulita seperti ini? Betapa pun, ancaman serangan para penyamun tetaplah masih ada, bahkan terasa begitu kentara seiring dengan tenggelamnya malam. Mantingan bertanya-tanya dalam benaknya tentang jalan Kartika berpikir.
Mantingan bertanya, “Mengubah jati diri?”
“Ya.” Kartika menganggukkan kepalanya. “Dikau perlu mengubah nama untuk malam ini saja. Mengakulah bahwa dikau adalah penyoren pedang bayaran yang disewa untuk mengawal rombongan kami. Ingatlah, hanya penyoren pedang biasa dan bukannya pendekar.”
“Nama dikau menyerupai nama seorang pahlawan dari Tarumanagara yang saat ini sedang marak diburu untuk dibunuh. Ini demi keselamatan dikau juga. Dan untuk siapa yang akan datang, dikau akan mengetahuinya sendiri nanti.” Tetiba saja perempuan itu menatapnya tajam-tajam. “Sadarlah bahwa dikau sedang menumpang di rombongan kami. Jangan banyak bertanya.”
Mantingan menarik napas pendek sebelum menganggukkan kepala. Ia tidak dapat berbuat lebih banyak lagi. “Sesuai dengan apa yang dikau katakan, daku akan mengubah nama.”
“Dan mengakulah sebagai penyoren pedang bayaran.” Kartika menimpal sebelum berjalan pergi tanpa berpamitan sama sekali padanya.
Mantingan hanya menggeleng pelan dan kembali duduk bersila di tempatnya semula. Bukan hal sulit baginya untuk menemukan nama selain namanya saat ini, ia bisa menggunakan nama kerbau yang tengah terlelap di sampingnya itu, yang tidak lain dan tidak bukan ialah Caraka.
__ADS_1
Mantingan mengusap punggung Munding Caraka sambil tersenyum samar. Kiranyakah akan terjadi suatu masalah dengan datangnya tamu-tamu nanti? Mantingan tidak tahu, maka dari itulah dirinya bersiap dan berwaspada sedapat mungkin. Niat untuk tidurnya pun diurungkan.
***
MESKI dalam keadaan setengah sadar, antara terlelap dan tersadar, Mantingan masih dapat mendengar suara derap langkah kaki yang ramai. Mantingan sulit percaya ketika melihat serombongan orang berpakaian serba hitam yang membawa pedang berkilauan tengah bergerak di jalanan menuju ke arah pedati-pedati rombongan pemain wayang!
Segeralah Mantingan bangkit dari duduknya untuk kemudian menarik Pedang Savrinadeya dari pelana yang tentunya telah dilepas dari punggung Munding Caraka. Gerakannya yang tergesa-gesa itu sayangnya membuat Munding terbangun, nalurinya telah mengirim tanda bahaya. Tanpa aba-aba, kerbau itu mengaum setinggi langit, yang secara serta merta membangunkan seluruh pemain wayang dari tidurnya.
Mantingan dengan cepat membuka lilitan kain yang membungkus bilah Pedang Savrinadeya. Namun sesaat sebelum dirinya berselancar, Kartika muncul dari dalam tenda di atas pedatinya sambil mengangkat tangan ke arah Mantingan, yang sudah barang tentu dimaksudkan sebagai tanda bahwa kemunculan orang-orang berpakaian serba hitam itu bukanlah suatu hal yang perlu dianggap bahaya. Mantingan tetap diam di tempatnya kendati rasa waspadanya masih tetap utuh. Mulai dari sanalah, Mantingan menancapkan Ilmu Mendengar Tetesan Embun.
Segerombolan orang yang datang itu berjumlah satu lusin. Mereka bersenjatakan kelewang, yang pada orang-orang di barisan terdepan itulah kelewang mereka dibebaskan dari sangkarnya meski tidak Mantingan diketahui tujuan dan maksud dari tindakan semacam itu. Jika mereka datang dengan niat baik, atau sekiranya tidak berniat membahayakan para pemain wayang yang telah terlelap di tendanya masing-masing, lantas untuk apakah kiranya mereka mencabut kelewang dari sangkarnya? Hal itulah yang kemudian tidak dapat Mantingan mengerti, sehingga ia memilih untuk tetap menancapkan Ilmu Mendengar Tetesan Embun sehingga segalanya-galanya menjadi jelas.
Sambil mendengarkan, Mantingan berpura-pura menenangkan Munding Caraka dengan mengelus punggungnya.
“Wahai para pendekar sekalian yang gagah berani, Kartika datang menyambut!” Begitulah kalimat yang dilontarkan oleh Kartika ketika dirinya berjalan menghampiri orang-orang berkelewang itu.
Tepat setelahnya, terdengarlah suara gelak tawa yang menggelegar.
“Pendekar Daun Mendayu, sungguh merupakan kehormatan besar bagi kami semua sebab dapat berjumpa dengan pendekar kenamaan sehebat dirimu!”
“Pendekar Kelewang Berdarah terlalu memuji. Dibandingkan denganmu, daku bukanlah apa-apa.”
“Hahaha! Apakah kiranya diriku yang begitu lemah dan tak berdaya ini pantas dibanding-bandingkan dengan pendekar yang mampu membunuh ratusan lawan hanya dengan selembar daun?”
__ADS_1
“Dan dapatkah kecepatanmu itu terbandingkan dengan sesuatu, wahai Pendekar Kelewang Berdarah? Dikau mampu membunuh seratus lawan hanya dalam sekejap mata saja.”