Sang Musafir

Sang Musafir
Paman Kedai


__ADS_3

Percuma, Mantingan tidak menemukan wujud manusia yang mengeluarkan suara itu. Tetapi Mantingan tahu, bahwa suara itu berasal dari pemilik kedai.


Suara itu cukup menyeramkan. Begitu berat dan serak. Tetapi Mantingan tidak terlihat gentar olehnya.


Mantingan sudah jelas mengetahui apa maksud ucapan orang itu. Jika Mantingan ingin tetap masuk ke dalam kedai, maka dirinya tidak bisa keluar dari sana kecuali hari telah terang. Biarpun suara itu penuh dengan ancaman, Mantingan memutuskan untuk tetap melangkah masuk.


Di dalam kedai telah lain suasananya. Suara-suara jangkrik dan binatang malam di luar tidak terdengar di dalam sini, padahal pintu jelas terbuka lebar hingga suara seperti apa pun memungkinkan untuk masuk.


“Engkau sangat berani, Anak Muda.”


Kini terdengar lagi suara itu, tetapi orang itu menampakkan wujudnya. Dia adalah pria tua dengan senyuman yang aneh, dan baru saja keluar dari ruangan belakang menyambut Mantingan.


“Apakah yang engkau cari, Anak Muda?”


Mantingan lekas menjawab, “Aku ingin menginap dan makan di sini.”


“Eh? Pendekar macam dirimu tidak seharusnya membutuhkan kamar untuk berlindung, tidak pula makanan untuk menahan lapar.”


“Aku bukan pendekar, Paman.” Mantingan berusaha menjawab sopan.


“Itu berarti yang engkau katakan siang tadi itu adalah dusta?”


Mantingan menahan napasnya. Bagaimana bisa orang ini tahu apa yang ia katakan siang hari tadi, saat Mantingan mengatakan bahwa dirinya adalah pendekar aliran merdeka pada prajurit penjaga? Mencurigakan orang ini, tetapi Mantingan memilih bersikap tenang.


“Aku bukanlah pendekar, dan memang yang aku katakan siang tadi adalah dusta.”


“Oh.” Pria tua itu mengusap janggutnya lalu tertawa geli. “Baguslah sudah berterus-terang padaku. Daku paham kondisimu saat ini. Sedikit berdusta bukanlah masalah besar. Lagi pula, engkau memang ingin jadi pendekar bukan?”


Mantingan kembali menahan napasnya. Ia masih bisa menerima jika pria tua di hadapannya ini tahu apa yang telah ia katakan pada prajurit penjaga siang tadi, anggaplah dia ada di tempat itu. Tetapi Mantingan tidak bisa menerima dengan akal sehat jika pria ini tahu pikirannya, keinginan Mantingan untuk menjadi pendekar tidak pernah terucap oleh mulutnya. Apakah mungkin pria ini bisa membaca pikiran orang lain?


“Nah, ke manakah tempat yang hendak kau tuju?”


Mantingan dengan cepat menjawab, “Gunung Kubang, Paman.”


“Kalau begitu, pastilah engkau ingin pergi ke Perguruan Angin Putih.”

__ADS_1


Mantingan tercekat. Bagaimana dia bisa tahu soal itu? Persoalan ini juga tidak pernah keluar dari mulut Mantingan.


Maka beranilah Mantingan bertanya, “Bagaimana Paman bisa tahu isi pikiranku?”


“Tidak, tidak. Aku hanya menebak-nebak saja. Syukurlah jika ternyata tepat.” Pria tua itu menunjukkan senyumnya yang aneh. “Sekarang, marilah ikut aku ke dalam, biar aku tunjukkan kamar nyaman untuk pengembara seperti dirimu.”


Tetapi Mantingan tidak bergerak dari posisinya sama sekali, membuat pria tua itu menatapnya heran.


Lalu Mantingan bertanya, “Siapakah sebenarnya Paman?”


Orang tua itu justru tertawa, seolah pertanyaan Mantingan sangat lucu.


“Daku tidaklah memiliki nama, tetapi orang-orang biasa memanggilku ‘Paman Kedai’!”


Kini giliran Mantingan yang tidak bisa menahan tawanya. Nama bodoh macam apa itu? Jika memang dia memiliki kedai, itu bukan berarti dirinya bisa dinamai ‘Kedai’. Tanpa Mantingan sadari, inilah tawa pertamanya semenjak kematian Rara.


“He! Jangan tertawa seperti itu. Biar namaku ini aneh, tetapi namaku ini sangat ditakuti di rimba persilatan!”


Mantingan menghentikan tawannya dan berdeham beberapa kali. Baru teringat olehnya bahwa orang tua ini memiliki kemampuan yang luar biasa, pastilah juga bukan manusia biasa. Mantingan menyesal telah tertawa seperti itu, bisa saja orang ini merasa terhina dan membunuhnya seketika.


Tetapi dugaan Mantingan agaknya salah. Orang tua di depannya itu tidak mengeluarkan senjata ataupun menyerangnya, dan Mantingan tidak terbunuh. Orang tua itu tetap tersenyum, walau senyumnya itu sangatlah menakutkan.


Mantingan menjawab, “Mantingan.”


“Mantingan ya ... kita memiliki sebuah kesamaan, kau mau tahu apa itu?”


Mantingan mengernyitkan dahi. “Apa itu?”


Kembali pria tua itu tertawa. “Kita sama-sama memakai nama samaran.”


Mantingan kembali tercekat. Besar kemungkinan jika orang tua bernama Kedai ini memiliki kemampuan khusus untuk membaca pikiran orang lain. Bahaya jika begitu, Mantingan tidak boleh memikirkan hal buruk tentangnya. Tetapi ini hanyalah dugaan Mantingan saja, bisa benar dan bisa salah.


“Kembali aku akan bertanya!” kata Paman Kedai. “Apakah engkau ingin tidur di dalam atau mendengarku bercerita sampai pagi?”


Mantingan diam berpikir, kemudian jawabnya, “Aku tidak ingin merepotkan Paman Kedai, biar aku tidur saja.”

__ADS_1


“Padahal aku ingin sekali kau mendengar cerita-ceritaku, sayang sekali.”


“Kalau begitu, biarlah aku mendengar cerita Paman.”


“Tapi bukannya kau perlu istirahat?”


“Baiklah, aku akan istirahat, Paman.”


“Jadi, kau tak mau dengar cerita-ceritaku?”


“Baiklah, akan aku dengar cerita-cerita dari Paman!” Mantingan mulai kehabisan kesabaran.


“Aku senang, tapi bagaimana jika tubuhmu itu perlu istirahat?”


“Apa mau Paman sebenarnya?!”


Mantingan benar-benar kehabisan kesabarannya, ia berkata dengan nada tinggi pada orang tua itu. Tetapi orang tua itu bukannya tersinggung karena telah dibentak oleh anak yang jauh lebih muda darinya, Paman Kedai justru tertawa keras. Tawa yang aneh, Mantingan hampir saja berteriak mengatakan kalau suara tawa Paman Kedai mirip suara monyet dipotong buntutnya.


Perlahan Paman Kedai menghentikan tawannya, kembali ia berkata dengan suaranya yang berat. “Engkau memang berhasil mengubah kebiasaanmu yang penakut itu menjadi pemberani, tetapi engkau tidak meningkatkan kesabaranmu.”


“Bagaimana bisa aku sabar menghadapi orang seperti Paman.”


“Dunia persilatan akan menuntut kesabaran yang tinggi jika tidak mau celaka, Mantingan. Kalau engkau menghadapiku saja tidak bisa, bagaimana mungkin engkau nanti menghadapi pendekar-pendekar yang yang mengesalkan?”


Mantingan menghela napas panjang. Menghadapi Paman Kedai ini bisa-bisa membuatnya jadi gila, sama gilanya dengan orang gila itu. Orang gila mana yang membuka kedai di malam hari berbahaya seperti saat ini? Orang gila mana yang menamai dirinya dengan Kedai? Orang gila mana yang meminta orang lain memaklumi kegilaannya bahkan menyuruhnya bersabar? Orang gila itulah Paman Kedai!


“Jadi sekarang ini, apakah engkau ingin tidur atau mendengarku bercerita?”


“Keputusanku telah tegas, Paman Kedai. Aku ingin tidur saat ini, akan kudengar ceritamu esok hari.” Mantingan kembali menurunkan nada bicaranya.


“Jadi engkau menganggapku cerewet?”


“Tidak terlalu. Aku hanya ingin beristirahat setelah menempuh perjalanan jauh. Paman Kedai harus mengingat bahwa aku ini adalah manusia biasa, bukan pendekar.”


“Kau benar-benar tidak mau mendengar diriku bercerita?”

__ADS_1


“Besok akan kudengar, Paman Kedai.”


Paman Kedai menepuk tangannya sekali. “Bagus! Ketegasan seperti inilah yang engkau butuhkan. Sekarang mari ikut aku ke dalam, wahai Mantingan!”


__ADS_2