
MANTINGAN hanya tertawa kecil. Perpisahan itu terlalu menyakitkan untuk diingat kembali. Sekali lagi, dirinya mengalihkan pembicaraan.
“Dan perkara anak-anak, apakah Kana menunjukkan minatnya pada dunia persilatan?”
MENDENGAR pertanyaan seperti itu, Bidadari Sungai Utara bungkam untuk beberapa saat. Memanglah mesti dirinya menyusun kalimat demi kalimat terlebih dahulu, sebab jawaban atas pertanyaan itu tidaklah ringan.
“Mantingan, daku merasa ada sesuatu yang aneh dengannya.” Bidadari Sungai Utara berkata pelan, hampir-hampir tidak terdengar.
“Keanehan yang seperti apa?”
“Sebelum dirinya pergi ke kotaraja Kekaisaran Jin untuk belajar sastra, sebenarnya Kana telah mengurung diri di perpustakaan ilmu persilatan kerajaan selama beberapa pekan. Daku telah memperingatkannya betapa dunia persilatan tidaklah seindah yang dikisahkan dari di kitab-kitab karangan, sehingga setidaknya dia berpikir dua kali sebelum mempelajari ilmu-ilmu persilatan lebih dalam.”
Mantingan mengangguk perlahan. Apa yang telah dilakukan oleh Bidadari Sungai Utara juga akan ia lakukan pada anak dalam keadaan yang sama.
“Kana menepis itu, katanya ia hanya ingin mempelajari ilmu-ilmu persilatan tanpa niat menjadi pendekar. Namun beberapa hati setelah itu, dirinya sudah jarang kutemui lagi di dalam kamarnya. Sekalipun daku berkunjung ke perpustakaan tersebut, Kana hanya bisa menemaniku bercakap-cakap sebentar sebelum kembali lagi pada tumpukan kitab-kitab yang sedang dibacanya. Saat itu masih belum kurasakan suatu keanehan sama sekali dalam dirinya, sebab memang sudah sewajarnya anak itu tidak ingin diganggu saat sedang membaca buku. Tetapi setelah tiba-tiba dia memintaku untuk mengirimnya ke Jiankang, kusadari betul betapa diriku telah lengah menjaganya.”
Mantingan segera menyela ketika didengarnya nada penyesalan dari Bidadari Sungai Utara, “Kana pastinya menemukan banyak pertanyaan setelah membaca kitab-kitab itu, dan sayangnya perpustakaan di istana masih belum mampu menjawab segala pertanyaannya. Janganlah dikau merasa menyesal meski hanya sedikit, Sasmita, Kana hanya ingin menuntut ilmu yang telah membuatnya penasaran.”
Dalam kegelapan bayang-bayang di bawah caping, Mantingan masih dapat mengetahui betapa Bidadari Sungai Utara sedang tersenyum, lantas gadis itu berkata, “Daku tidak dapat menjaganya di Jiankang, Mantingan, itulah penyesalanku. Meskipun telah kusertakan beberapa pendekar bayaran untuk memastikan keselamatan Kana, tetap saja mereka tidak dapat memastikan ilmu apa saja yang masuk ke dalam kepala anak itu. Dikau pastinya mengetahui bahwa tidak semua ilmu menuntun ke jalan yang benar.”
__ADS_1
Memang tiada yang salah dengan pernyataan Bidadari Sungai Utara. Menjaga seorang anak bukan saja tentang memastikan kesehatan raga anak itu, melainkan juga memastikan ilmu-ilmu yang masuk ke dalam pikirannya. Tidak semua ilmu menuntun ke jalan yang benar.
“Kana masih membawa salinan Kitab Teratai, bukan?” Mantingan kembali bertanya.
“Ya. Kitab itu selalu dibawanya ke mana jua. Tak pernah lepas.”
Mantingan tersenyum lega. “Jika saja Kana masih menjaga pesanku untuk terus mempelajari kitab tersebut, maka sebuah keniscayaan bahwa dirinya mampu membedakan ilmu benar dengan ilmu sesat. Kitab itu merangkum segalanya.”
Perkataan itu mampu membuat Bidadari Sungai Utara menjadi sedikit lebih tenang. Meskipun dirinya tidak begitu mengerti dengan Kitab Teratai sekalipun telah payah-payah mempelajarinya, tetapi keyakinannya teramat kuat jika kitab tersebut dapat menyelamatkan Kana dari ilmu-ilmu berbahaya.
Lebih-lebih, dirinya merasa Kana memiliki kemampuan bersusastera yang jauh lebih tinggi darinya. Anak itu mestinya dapat mengerti lebih banyak ilmu yang terkandung di dalam setiap kitab yang dibacanya, dan barangkali saja pula dapat mengerti niat si penulis dari setiap kitab-kitab itu apakah baik ataukah buruk.
Seringkali penulis kisah-kisah khayalan disangka hanya memiliki maksud meraup kentungan dari tulisan yang dibuatnya itu, padahal bukan tidak mungkin jika sang penulis menyisipkan ajaran-ajaran tertentu dalam tulisannya, sebab barangkali ajaran tersebut tidak memungkinkan bila langsung ditulis secara terang-terangan. Kisah rekaan merupakan jalan terbaik untuk memengaruhi pemikiran para pembacanya tanpa mereka merasa dipengaruhi sama sekali!
Maka dari itu, Mantingan pula pernah mengingatkan pada Kana untuk tidak memandang rendah kisah khayalan, sebab sikap begitu hanya akan membuat pikirannya lengah dan menjadi mudah sekali dipengaruhi oleh apa pun yang ada di dalam kisah karangan itu. Kana hanya tertawa karena menyangka Mantingan berlebihan, tetapi pastilah sangkaan anak itu akan berubah setelah dirinya mempelajari Kitab Teratai yang bagai kitab khayalan itu.
Ketika Mantingan hampir terbenam lebih jauh ke dalam renungannya tentang kesusasteraan, tetiba ilmu pembacaan pertanda menangkap suatu rasa marabahaya yang sedang bergerak mendekat. Dirinya lekas menghentikan langkah dan meminta Bidadari Sungai Utara untuk berhenti pula.
Saat itulah sesosok bayangan berkelebat turun dari atas pohon, mendarat tak seberapa jauh dari Mantingan dan Bidadari Sungai Utara. Pendekar itu tidak berusaha menutupi jati dirinya dengan topeng atau segala sesuatu yang berbau penyamaran jaringan bawah tanah dunia persilatan. Di belakang punggungnya, melintang sekiranya sepuluh tombak kayu yang panjangnya hampir-hampir satu depa.
__ADS_1
Dengan penampilan yang sedemikian, Mantingan dapat menjadi sedikit lebih tenang. Pendekar itu tidak tampak seperti berasal dari jaringan mata-mata yang sedang memburunya.
“Pastilah dikau Pahlawan Man,” ujar pendekar bertombak panjang itu.
Mantingan tidak mengerti mengapa dirinya masih dapat dikenali meski telah menutupi wajah dengan mantra bayang-bayang di bawah capingnya, tetapi ia memilih untuk diam. Biarlah pendekar itu yang berbicara lebih terangnya.
“Pahlawan, maafkanlah daku yang memiliki julukan Pendekar Tombak Api ini telah mengganggu perjalananmu, tetapi sungguh perlu dikau ketahui bahwa diriku tidak datang dengan niat buruk. Sayembara kerajaan itu tidak pernah menarik diriku. Daku menghadapmu saat ini semata-semata untuk bertarung mencari kesempurnaan dari jalan persilatanku.”
Pendekar Tombak Api kemudian bercerita bahwa dirinya berasal dari Perguruan Tombak Api, yang dapat Mantingan ingat betul dirinya pernah bersinggungan dengan perguruan itu bersama Satya di wilayah Bumi Sagandu sewaktu awal pengembaraan. Julukan Pendekar Tombak Api itu didapatkan karena dirinya merupakan ketua dari perguruan tersebut, meskipun kini telah mengundurkan diri sebab ingin mencari kesempurnaan dari kematian dalam pertarungan.
“Kabar tentang keberadaan dikau di Penginapan Cakar Emas telah tersebar di jaringan-jaringan bawah tanah dunia persilatan, Pahlawan Man. Kini lebih dari seratus pendekar pilih tanding sedang bergerak mencari dirimu,” lanjut Pendekar Tombak Api yang sanggup betul membuat jantung Mantingan berdegup keras sekalipun dirinya telah berusaha bersikap tenang.
“Jikalau benar begitu adanya, wahai Pendekar Tombak Api, perkenankanlah daku untuk meneruskan perjalanan. Bila niatmu memang tidak buruk terhadapku, sudah semestinyalah dikau tidak ingin pendekar-pendekar itu sampai menemukanku karena daku telah dikau tahan seperti ini.”
“Tidak, Pahlawan Man. Tidak mungkin mereka menemukanmu, setidaknya dalam waktu dekat ini,” kata Pendekar Tombak Api dengan senyum lebar. “Pada saat perjalananku ke Penginapan Cakar Merah, sebenarnya telah kulihat dikau berjalan di sini bersama kerbau dan kawan perempuanmu yang bernama Chitra Anggini itu. Tetapi, daku merasa ada baiknya untuk pergi ke penginapan terlebih dahulu, dan benarlah penginapan tersebut telah dikepung oleh banyak pendekar, tetapi mereka tidak menemukan Pahlawan Man di segala tempat.
“Segera kukatakan pada mereka bahwa daku telah berusaha mengejar Pahlawan Man ke arah utara, tetapi kecepatan pendekar itu tidak dapat kuimbangi dengan kemampuanku. Maka tanpa pikir panjang, seluruh pendekar itu berkelebat menuju utara, meninggalkan daku sendirian.
“Pahlawan, perlulah dikau ketahui bahwa namaku cukup harum di dunia persilatan sebagai pendekar yang bisa dipercaya, jadilah sangat wajar jika pendekar-pendekar di Penginapan Cakar Merah itu segera berkelebat pergi tanpa berpikir dua kali. Untuk melanggar harumnya namaku di dunia persilatan ini, daku membutuhkan bayaran.”
__ADS_1