
“Aku mungkin bisa mempercayai soal Kembangmas, tetapi soal pendekar, aku masih meragukan keberadaannya. Bagiku, mereka hanya sebatas kisah-kisah dongeng yang tiada akan pernah menjadi nyata.”
Dahi Mantingan mengerut. “Bukankah kejadian di Kuningan itu ....”
Mantingan tak melanjutkan ucapannya saat menyadari kesalahan. Ia pastinya telah mengingatkan Rara kembali pada peristiwa kelam itu, yang telah merengut nyawa bapaknya.
“Mereka bukanlah pendekar, Mantingan. Mereka hanya kelompok rampok kambuhan. Mereka adalah sekumpulan manusia yang mempunyai kemampuan untuk berbuat bejat.”
Mantingan hanya bisa mengangguk pelan tanpa berniat meneruskan percakapan itu sebelum Rara menjadi lebih terbawa suasana sebab mengingat kematian bapaknya. Tetapi, dirinya tetap tidak bisa memungkiri tentang keberadaan sosok pendekar. Telah dilihatnya sendiri bagaimana Satya bertarung dengan Cakra, yang kecepatannya sungguh melebihi cepat hingga tak dapat ditangkap matanya. Jelasnya ia mengetahui, bahwa bagi masyarakat awam, keberadaan pendekar masih diragukan. Mungkin kedudukan pendekar sama seperti dukun, yang orang percaya-tidak-percaya padanya.
Mantingan juga telah mendengar bahwa pendekar bukanlah seorang pesilat biasa. Banyak perguruan silat yang berdiri di Tarumanagara, tetapi bukan berarti murid-muridnya selalu diajarkan untuk menjadi pendekar. Pendekar adalah orang yang mampu mengendalikan tenaga dalam untuk ilmu bela diri. Maka menjadi jelaslah kedudukan pesilat biasa dengan kedudukan pendekar. Untuk menjadi pesilat biasa, banyak orang yang dapat dengan mudah menempuhnya. Tetapi untuk menjadi pendekar, tidak banyak yang bisa menempuhnya, atau memang tidak banyak yang mau menempuhnya.
Percakapan terhenti sementara, sebelum Mantingan tersadar bahwa Rara sengaja mengalihkan pembicaraan.
“Jangan mengalihkan pembicaraan. Pakaian dari Negeri Atap Langit akan tetap dibeli.”
Rara menghela napas dan menggeleng. “Aku hanya tidak ingin terlalu membebanimu, jadi tolong jangan teruskan ini.”
Tetapi Mantingan memiliki alasan yang kuat. Bahwa bapak dari Rara telah menyelamatkan hidupnya, dan bahwa Rara dititipkan padanya agar selamat. Maka hutang budinya dianggapnya besar. Ia akan memberikan yang terbaik kepada Rara.
Bukan berarti bahwa dirinya ada menyimpan rasa pada Rara, tetapi lebih karena hutang budi. Selama ini, ia belum pernah merasakan jatuh cinta yang sungguhan. Ia pernah jatuh cinta waktu dirinya masih kecil, tetapi cinta itu hanyalah sebatas cinta-cintaan semata.
__ADS_1
Mantingan kemudian berbelok sedikit dan bertanya pada seorang pedagang makanan. “Maaf, Paman, jika saya boleh bertanya.”
“Tentu saja.” Orang itu tersenyum ramah pada Mantingan dan Rara.
“Adakah kiranya di sini yang menjual pakaian dari Negeri Atap Langit?”
Orang tersebut seperti sudah fasih dengan bahasanya, lalu berkata, “Tidak ada di pasar ini, Saudara. Tetapi masih terletak di Cikahuripan ini. Ada sebuah rumah saudagar yang terletak di ujung desa. Di desa ini, hanya dialah satu-satunya orang yang menjual barang-barang dari Negeri Atap Langit. Tetapi dia tidak menjualnya di pasar ini, ia menjualnya di Sunda. Namun, Saudara bisa berkunjung ke rumahnya. Beliau adalah orang ramah dan baik hati, ada kemungkinan beliau bersedia menjual pakaian yang kausebutkan itu kepadamu. Daku akan menjelaskan rinciannya ....”
Mantingan menerima arah menuju rumah itu secara rinci. Tak akan sulit menemukan rumah besar di desa kecil seperti ini. Mantingan kemudian berterimakasih padanya.
“Rara, pasti kau lapar,” katanya pada Rara kemudian. “Paman, daku ingin empat makanan kukus.”
“Ah, tentu saja. Silakan dipilih, Saudara!”
Namun, Mantingan tidak menggubrisnya. Tak butuh penjelasan bahwa Rara sekarang ini tengah lapar. Walau perempuan itu telah berusaha untuk menutupinya, tapi Mantingan bisa melihatnya dari gerak kakinya yang sangat lambat.
Mantingan memilih empat makanan kukus, lalu mengeluarkan satu keping perak. “Apakah ini cukup, Paman?”
“Apalah ini, Saudara, jumlahnya pastilah cukup bahkan kembaliannya terhitung banyak sekali. Empat gorengan itu hanya berharga delapan perunggu. Biar aku siapkan kembaliannya.”
“Tidak perlu.” Mantingan menahan “Anggap saja itu sebagai pembayaran atas kebaikan Paman. Walau itu terlalu sedikit untuk kebaikan Paman yang berlipat ganda besarnya, maka anggaplah saja sebagai seratus keping emas.”
__ADS_1
Orang itu tersenyum, maju dan menepuk pundak Mantingan dua kali. “Daku menaruh rasa kagum kepadamu. Nyatanya, masih banyak orang baik di dunia ini.”
Mantingan lalu berpamitan dan membawa Rara lekas pergi dari pasar itu. Ia memberikan empat makanan kukus itu seluruhnya pada Rara.
Malu, tetapi Rara tetap menghabiskan semuanya.
Perutnya memang lapar. Kue kering pemberian Mantingan lalu-lalu itu sangatlah tidak cukup mengenyangkan perutnya yang telah terbiasa dengan makanan berat.
Tak lama bagi mereka untuk sampai ke rumah saudagar yang dituju itu. Rumah yang sangat besar. Besarnya hampir menyerupai rumah Satya. Dengan dua lantai saja, tetapi lebar. Serta memiliki pagar dari bata merah yang tersusun rapi. Pekarangannya diisi aneka macam tanaman bunga, terlihat indah walau hari sudah malam. Disebabkan tidak memiliki pintu gerbang, seolah siapa pun bisa berkunjung ke dalamnya, maka Mantingan berjalan masuk sedangkan Rara mengikuti di belakangnya dengan sangat tidak percaya diri.
Sampai di depan pintu yang besar itu, Mantingan mengetuknya pelan beberapa kali. Mereka menunggu beberapa lama sebelum akhirnya pintu dibuka. Seorang anak kecil tampak membuka pintu besar itu. Walau agak kesulitan, tetapi anak lelaki itu tampaknya sangat berusaha keras.
“Wahai! Siapakah Kakak berdua, dan hendak apakah kiranya?” Anak itu tersenyum manis.
“Lucu sekali ....” Rara memandangnya dengan mata berbinar-binar, tetapi Mantingan segera menyadarkannya bahwa anak itu tidak suka dikatakan sebagai anak yang lucu.
“Maafkanlah kami berdua yang sepertinya mengganggu di malam buta seperti ini, tetapi bisakah aku bertemu dengan tuan rumah ini? Jika kiranya Adik perlu tahu, maka kepentingan kami berdua datang ke sini adalah untuk membeli suatu barang.”
“Baiklah, mohon sedianya Kakak menunggu di sini, biar daku panggilkan Bapak.”
Anak itu tak menutup pintunya. Dengan langkah kaki yang masih kecil-kecil itu, ia berlari ke dalam. Walau pintu terbuka, pantang bagi Mantingan untuk mengintip ke dalam. Rara yang meniru gerak-gerik Mantingan pun turut bertingkah sedemikian rupa, tidak mengintip dan hanya memandang langit-langit dinding.
__ADS_1
Tak berselang kemudian, terdengar suara berat menyapa. Mantingan beralih pandangan ke depan, ia segera melihat seorang pria yang kiranya berusia tiga puluh tahun berdiri di depan pintu. Pria itu tersenyum ramah pada Mantingan dan Rara, lalu mempersilakannya masuk ke dalam.
Setelah sampai di dalamnya, Mantingan segera diarahkan pada sebuah bangku panjang empuk di ruangan tengah. Setelah duduk, Mantingan melihat ke sekitar dengan sekilas untuk memastikan bahwa tempat ini aman tanpa adanya jebakan. Rumah yang sangat mewah, Mantingan bisa melihat bahwa banyak benda pajangan yang terbuat dari emas, atau sekadar piring-piring bagus yang dipajang. Rara duduk di sebelah Mantingan dan pria pemilik rumah duduk berhadapan dengan mereka.