Sang Musafir

Sang Musafir
Tertangkap


__ADS_3

MESKI segalanya sungguh membingungkan, benar-benar membingungkan, Mantingan tidak akan pernah melewatkan kesempatan emas seperti ini. Mengingat kegentingan yang ada, di mana peta istana pemberian Puan Kekelaman telah dicuri, pemuda itu tidak banyak berpikir dan bertimbang sebelum melepas Tapak Angin Darah berkekuatan tinggi ke arah pendekar itu!


Tak terelakan lagi serangan tersebut. Pendekar itu bagaikan seekor nyamuk kecil yang ditepuk tangan raksasa. Seketika saja raganya kelepasan nyawa, meluncur jatuh ke bawah!


Mantingan segera memendaratkan kedua kakinya ke tanah, menciptakan dua garis panjang di atas jalanan kotaraja. Laju kecepatannya menukik tajam hingga berhenti sempurna setelah menerapkan ilmu meringankan tubuh.


Matanya memandang ke sekitar sebelum menghela napas panjang. Jalanan yang sedang disambanginya saat ini bukanlah tempat yang benar-benar sepi. Jalanan kotaraja manakah yang sungguh terbebas dari segala kegiatan yang berlangsung dari pagi hingga menemui pagi lagi?


Orang-orang di sekitarannya segera berlari menjauh. Tanpa gaduh, mereka khawatir jika berteriak hanya akan membuat nyawa lepas dari badan. Sehingga kini, jalanan itu benar-benar sepi. Kecuali Mantingan, tidak ada lagi yang masih berdiri di sana.


Penduduk kotaraja, meskipun telah akrab betul terhadap dunia persilatan dengan segala macam pendekar di dalamnya, tetap saja tidak pernah terbiasa melihat tubuh tak bernyawa yang bersimbah darah akibat pertarungan sesama pendekar. Bukankah pemerintahan Koying telah melarang keras para pendekar di kotaraja untuk bebunuhan mencari kesempurnaan?


Kini urusannya akan menjadi sangat rumit. Tidak mungkin akan selesai begitu saja. Tiada akan menjadi semudah seperti ketika dirinya membunuh ribuan pendekar di pertempuran laut utara Tarumanagara.


Mantingan bergegas menggeledah tubuh pendekar itu, dan memanglah ia menemukan sekeropak lontar yang diberikan jaringan Puan Kekelaman. Setelah itu, dirinya ingin segera berkelebat kembali ke istana secepat mungkin, tetapi kemudian sebuah suara menahannya.


“Tunggu sebentar, Anak!”


Mantingan jelas mengenal suara itu. Ibu pemilik Kedai Seribu Cangkir!


“Jangan langsung kembali ke istana,” kata wanita itu ketika berjalan cepat menghampiri Mantingan. “Tetaplah di sini hingga prajurit penjaga istana menangkap dikau.”


Ibu pemilik Kedai Seribu Cangkir itu kemudian menceritakan secara singkat bahwa dirinya langsung berkelebat mengejar Mantingan ketika melihat pemuda itu melesat cepat tak seberapa jauh dari kedainya. Namun, Mantingan sungguh tak terkejar, kecepatannya diibaratkan telah menembus segala macam kecepatan di semesta. Sehingga dengan begitu, ibu pemilik kedai hanya bisa mengikuti jejak udara untuk menyusul pemuda itu. Bahkan udara pun dapat ditinggali jejak!


Dalam perjalanan, dilihatnya pula beberapa prajurit pendekar yang ikut mengejar, untuk itulah ibu pemilik kedai menebar sirep yang sekiranya dapat membingungkan para prajurit pendekar tersebut untuk sementara waktu.


“Mereka akan tiba sebentar lagi, berikan keropak lontar itu kepadaku, nanti akan segera kukembalikan,” kata ibu pemilik kedai yang kecantikan dan kelembutannya sungguh tiada memudar. “Dan ambillah ini untuk menyamarkan wajahmu.”

__ADS_1


Mantingan menerima selembar benda berwarna kejinggaan yang kenyal dan lentur. Belum diketahuinya betul kegunaan benda tersebut.


“Tempelkan saja ke wajahmu, maka akan merekat dengan sendirinya. Tampang wajahmu akan berubah cukup banyak hingga tidak akan ada lagi yang bisa mengenalimu.”


Itu berarti yang Mantingan terima adalah benda sihir!


"Kau mungkin akan ditangkap, atau bahkan ditahan, tetapi kujamin itu tidak akan lama," kata ibu pemilik kedai.


"Mengapa begitu?"


"Pendekar-pendekar ini adalah kiriman istana." Ibu pemilik kedai itu langsung berkelebat pergi tanpa memberi kesempatan sedikitpun bagi Mantingan untuk bertanya lagi, menyisakan pertanyaan besar di dalam kepala pemuda itu.


Tak lama berselang, kelebatan-kelebatan bayangan lainnya berdatangan. Mantingan segera ditodong oleh banyak bilah pedang. Pemuda itu mengangkat kedua tangan, meski sesungguhnyalah mengalahkan prajurit-prajurit kerajaan itu dapat dilakukannya dengan lebih mudah dari membalikkan telapak tangan.


***


Diingatnya kembali betapa Chitra Anggini menghadapi dua lawan berat malam tadi, sehingga tidak ada jaminan apa pun mengenai keselamatan gadis itu saat ini.


Mungkin Chitra Anggini telah mengalahkan salah satu dari mereka, tetapi bagaimanakah dengan satu pendekar sisanya yang bahkan dapat melarikan diri dengan membawa peta tata letak istana?


Sungguhlah telah tercetuskan sebuah niat untuk keluar dari penjara bawah tanah di istana ini dengan langsung menghancurkannya, tetapi kemudian dipikirkannya kembali betapa hal tersebut dapat menghancurkan seluruh rencananya dengan mutlak. Jati dirinya sebagai Pahlawan Man tentunya akan terungkap, sebab ruangan penjara yang ditempatinya saat ini penuh dengan mantra sihir yang tidak dapat ditembus dengan sedemikian mudahnya.


Lagi pula, jika sampai terjadi sesuatu terhadap Chitra Anggini, lantas apakah kiranya yang bisa ia lakukan?


Perlulah dirinya mengingat bahwa hubungannya dengan Chitra Anggini hanya sebatas kerjasama di atas kepentingan. Mantingan berkepentingan untuk menyelamatkan Tapa Balian, sedangkan Chitra Anggini membawa kepentingan kelompoknya untuk merebut kembali Sepasang Pedang Rembulan. Jika salah satu dari mereka mati, maka rencana harus tetap diteruskan seperti semula, kecuali jika keduanya memang memiliki hubungan yang lebih sedaripada itu!


Perenungan Mantingan kembali tertarik pada kejadian malam kemarin. Sungguh, masih sulit ia mempercayai apa yang telah dilakukannya. Bahkan Bidadari Sungai Utara sebagai wanita yang sungguh-sungguh dicintainya, tidak pernah mendapatkan perlakuan yang sama atau paling tidak sekadar mendekati daripada itu.

__ADS_1


Namun, bukankah tidak mengapa bila ia melakukan percumbuan tersebut atas dasar kepentingan yang barangkali dapat menyelamatkan nyawa banyak orang di masa mendatang? Bukankah bahkan dirinya rela mengorbankan nyawa demi tertuntasnya kepentingan tersebut, jadi sekadar percumbuan sebenarnyalah tidak dapat dianggap sebagai masalah sekecil apa pun?


Ketika Mantingan masih memikirkan itu, tetiba saja tampak beberapa orang prajurit bersenjata lengkap yang berjalan ke arahnya. Salah satu dari mereka dapat Mantingan kenali sebagai ahli sihir yang berwenang penuh atas segala segel di penjara bawah tanah kerajaan. Segeralah ia bersiap, sebab kemunculan pendekar penyihir itu pastilah bukan tanpa penyebab.


"Saudara, ikutlah bersama kami dan janganlah sekalipun berpikiran untuk melawan." Salah satu dari prajurit itu berkata.


Mantingan hanya menganggukkan kepala tanpa menjawab lebih jauh dan membiarkan ahli sihir itu membuka satu demi satu mantra sihir yang menyegel ruangannya. Setelah pintu jeruji dibuka, ia kemudian digiring menaiki tangga.


Mantingan tetap tenang.


"Kami tidak bisa memberikanmu makan pagi, ini begitu mendesak, hakim meminta dirimu hadir secepat mungkin."


Mantingan kembali menganggukkan kepala untuk menanggapi perkataan prajurit itu. Dalam benak, dirinya cukup kagum terhadap aturan di penjara bawah tanah istana. Selama yang tertuduh masih belum terbukti bersalah dalam penghakiman, maka segala kebutuhannya harus terpenuhi dengan sebaik mungkin, adalah termasuk makanan, air bersih untuk minum dan mandi, pakaian ganti, hingga bahkan kisah-kisah dongeng atau petuah untuk menenangkan pikiran.


***


RUANG penghakiman tidaklah dihadiri oleh banyak orang, hanya sekadar saksi-saksi belaka. Namun di tempat itu, hanya Mantingan yang menjadi dugaan tersangka atas terbunuhnya pendekar-pendekar di dalam istana.


Seharusnya, itu menjadi pelanggaran yang amat sangat berat bila membunuh di dalam istana. Hukumannya teramat mengerikan, yakni dengan masing-masing tangan dan kaki terikat pada empat ekor kuda pada empat penjuru arah, lantas sang algojo memecut keempat kuda itu yang lantas akan berlari sekencang-kencang dan sekuat-kuatnya. Bukankah kematian yang teramat mengerikan?


Namun, hal tersebut nyatanyalah dapat terhindarkan, bahkan hakim yang memimpin persidangan itu pun sampai memohon maaf padanya.


"Pertahanan istana sempat lengah sehingga Saudara Mantingan sampai harus mengotori tangan untuk menangani pendekar-pendekar itu. Daku mewakili semuanya sungguh berterimakasih sekaligus memohon ampunan maaf kepada dikau."


Mantingan kembali hanya mengangguk kecil saja. Dirinya tahu betul bahwa hakim itu sedang melakoni sebuah sandiwara untuk membersihkan tindakan busuk istana yang mengirim pembunuh-pembunuh untuk menghabisi beberapa pasangan pendekar yang mereka curigai!


Benar. Bukan hanya Mantingan dan Chitra Anggini saja yang diserang pada malam itu, sejumlah pasangan pendekar di Lingkungan Seribu Rumah Istana pun mengalami serangan yang sama. Perbedaannya, hanya Mantingan dan Chitra Anggini saja yang selamat, sedangkan yang lainnya mati terbunuh.

__ADS_1


__ADS_2