Sang Musafir

Sang Musafir
Ulin Kapur


__ADS_3

“Tahan, Kawan!”


MANTINGAN segera memperingati Gema, sebab sungguh tiada ia temukan kebohongan pada ucapan penyamun itu. Lagi pula, selusin penyamun itu memang tampak tidak dikirim oleh siapa pun jua. Siapakah kiranya yang hendak mengirim sekumpulan penyamun kurus kering kurang makan?


“Dia tidak berbohong,” kata Mantingan meneruskan.


Gema mendengus pelan sebelum melonggarkan tekanan yang dia berikan kepada penyamun malang itu. Namun, Gema tidak lantas mengangkat kakinya dari dada orang itu.


“Mengapa kalian bisa mengetahui tempat ini?” Gema kembali bertanya tajam.


“Salah satu orang dari kelompok kami hanya tidak sengaja melihat serombongan pedagang besar memasuki jalan setapak yang mengarah ke hutan ini, Tuan!” jawab penyamun yang ketakutan bukan alang kepalang itu. “Kami sudah berhari-hari menunggu di sini, Tuan! Berharap ada pedagang yang lewat agar kami bisa memberi makan keluarga di desa!”


Gema Samudradvipa melirik Mantingan seolah meminta pendapat. Mantingan hanya terdiam, sebab memang belum terpikirkan tentang harus diapakan penyamun itu.


“Betapa pun tindakan kalian ini tidak dapat dibenarkan!” Gema kembali menekankan kakinya.


“Argghh!” Orang itu mengerang kesakitan sebelum memuntahkan sejumlah darah segar dari mulutnya. “Kami .... tidak memiliki pilihan ... Tuan. Pahlawan Man yang durjana itu ... dialah penyamun yang sebenarnya ... dia telah merampas segalanya dari kami. Kami semua ... harus pergi ke Suvarnabhumi ... menghindari hukum penggal kepala dari tangan besi Punawarman.”


Gema yang tampaknya tidak suka mendengar itu pun lantas semakin kuat menginjak si penyamun malang. Mantingan yang sungguh mengharu-biru perasaan kemanusiaannya pun segera bertindak. Terlebih lagi ketika mendengar namanya disebutkan!


“Cukupkanlah, Kawan!” Mantingan mendekati Gema dengan cepat. “Dia sudah mengakui semuanya, sungguh perbuatan ini amat sangat tidak pantas!”


Gema Samudradvipa mengangkat kakinya dari dada penyamun itu. Namun sayang seribu sayang, penyamun itu keburu mati lemas. Gema tampak tidak peduli, membersihkan bilah pedangnya dari darah musuh sebelum menyarungkannya di punggung.


“Dia pantas mendapatkan itu.” Gema berkata setengah peduli. “Perbuatannya tetaplah salah dan selamanya akan tetap salah. Jika daku tidak membunuhnya, maka perampok inilah yang akan membunuh orang tak bersalah lain di masa mendatang.”

__ADS_1


Mantingan hanya menggeleng pelan sambil mengembuskan napas panjang. Sebenarnyalah ia ingin mengatakan bahwa kesalahan bukanlah terletak pada diri maupun nama, melainkan tindakannya. Bukankah manusia dapat saja berbuat sesat hari ini dan berbuat mulia pada keesokannya? Betapa pun selagi masih ada waktu, manusia selalu memiliki kesempatan untuk mengubah tabiat yang akan berdampak pula pada perubahan nasib. Namun, Mantingan merasa bahwa menasihati Gema bukanlah jalan terbaik. Betapa pun pria bercaping dengan pedang besar di punggungnya itu masih dalam keadaan marah, yang sungguh dapat menyerang dirinya jikalau merasa tersinggung barang sedikit saja.


Gema membetulkan letak caping di kepalanya sebelum melangkahkan kaki. “Kita harus pergi dari tempat ini secepatnya. Bukan tidak mungkin kabar tentang jalan setapak ini telah menyebar luas. Daku tidak yakin akan mampu menghadapi penyamun-penyamun pendekar. Lebih-lebih, kita harus menemukan kayu ulin sebelum matahari tenggelam.”


Mantingan kembali berjalan di atas jalan setapak tanpa memberi balasan lagi. Baginya, kali ini Gema telah bercakap benar.


***


POHON ulin dapat dikata cukup sulit ditemukan. Namun, beruntunglah Gema Samudradvipa mengetahui tempat-tempat di mana para penambang biasanya menebang pohon tersebut.


Dengan batang yang berbentuk bulat, menjulang tinggi, dan tidak terlalu banyak memiliki cabang, tidak terlalu sulit untuk membedakan pohon ulin dengan pohon lainnya.


“Kita beruntung, ini adalah ulin kapur,” kata Gema sambil menepuk-nepuk sebuah batang pohon besar di depannya. “Ulin kapur adalah satu-satunya jenis ulin yang mudah untuk dipotong dan diukir, tetapi tidak terlalu bagus untuk tiang bangunan. Kawan, dikau hendak buat kayu ulin ini menjadi apakah?”


Mantingan tengah menengadah untuk memandangi pucuk pohon ulin itu segera menjawab, “Daku ingin membuat semacam kerajinan berupa golek kayu yang sekiranya dapat kujual dan uangnya kupakai untuk beli makan.”


Mantingan menganggukkan kepalanya tanda telah mengerti. “Dikau pula berhati-hatilah di atas sana, Kawan. Jika membutuhkan bantuanku, janganlah sungkan.”


Gema tersenyum lebar. “Daku tidak akan sungkan jika begitu!”


Gema memeluk batang pohon sebelum mulai memanjat ke atas tanpa menggunakan tenaga dalam sama sekali, sedangkan Mantingan mundur beberapa langkah sambil ekor matanya terus mengikuti pergerakan Gema.


“Beginikah rasanya kembali menjadi orang awam?” Mantingan bergumam amat sangat pelan, yang saking pelannya hingga hampir tak dapat didengar telinganya sendiri.


Pada saat ini, Mantingan betul-betul merasa kembali menjadi orang awam yang selalu menganggap bahwa dunia kependekaran hanyalah dongeng belaka yang tiada mungkin menjadi nyata.

__ADS_1


Ketika dirinya bertarung melawan selusin penyamun kurang makan tadi, ia sungguh tidak mengeluarkan tenaga dalam sedikitpun. Gaya bertarungnya pun dibuat sedemikian rupa agar tidak tampak seperti seorang yang ahli memainkan pedang. Bagaikan memang tiada berdaya.


Ketika melakukan perjalanan mencari kayu ulin, dirinya tidak berkelebat barang sekedip mata pun. Sehingga dapat dirasakannya kembali rasa berjalan kaki di atas tanah. Memang cukup melelahkan tanpa tenaga dalam maupun ilmu meringankan tubuh, tetapi penghayatan tinggi yang Mantingan terapkan selama berjalan kaki membuat segalanya terasa membahagiakan.


Jika dipikir kembali, Mantingan merasa heran pada orang-orang awam yang telah mengetahui dunia persilatan dan lantas ingin memasukinya. Bukankah siapa pun jua di dalam dunia persilatan telah mengetahui, bahkan sebagian kecil orang awam pun telah mengetahui, bahwa dunia persilatan bukanlah sebuah jalan yang dapat membahagiakan tetapi justru menyengsarakan?


Betapa sepinya jalan yang ditempuh setiap pendekar. Betapa maut berseliweran, banyaknya bagaikan guguran daun kering yang tertiup angin badai dari pohon rimbun. Betapa tidak ada kawan abadi, sebab perkawanan hampir selalu berujung pada penantangan yang menuntut kematian. Betapa bangun, berjalan, makan, mandi, duduk, tidur tidak boleh tanpa kewaspadaan, sebab serangan bisa datang kapan saja tanpa pernah terduga. Betapa cinta akan selalu berakhir pada kesengsaraan jiwa dan raga.


Setelah semua itu, apakah alasan orang-orang masih mau bergabung ke dalam dunia persilatan?


“AWAS!”


Begitu terdengar seruan dari atas, yang disertai pula oleh suara desir angin, Mantingan sontak melompat ke belakang!


Sebatang kayu besar berdebum tepat beberapa jengkal dari ujung kakinya. Melesak cukup jauh ke dalam tanah!


Mantingan terengah-engah. Betapa maut hampir saja melahapnya!


Sungguh dirinya sama sekali tidak berwaspada, sebab begitu larut dalam perenungan tentang dunia persilatan yang selalu menuntut kewaspadaan jika tidak mau celaka!


___


catatan:


Jangan lupa untuk memberikan vote pada Sang Musafir! :b

__ADS_1



__ADS_2