
Setelah berhasil mengetahuinya, Cagak Kesatu menghindari serangan pedang yang asli dan membiarkan tubuhnya dihunjam bayangan pedang palsu. Seulas senyum lebar tampak di bibirnya. Keadaan berbalik tajam, sebab betapa pun saat ini Mantingan tidak sedang memegang pedang!
Namun, tanpa diduganya sama sekali, sebuah gelombang angin menabrak tubuh pendekar itu dengan teramat sangat keras. Dadanya serasa remuk dengan hantaman itu. Pedang terlepas dari tangannya, berbarengan dengan nyawa yang terlepas pula dari badannya.
***
MANTINGAN berkelebat cepat ke arah jatuhnya tubuh Satya. Sebelum pendekar muda itu benar-benar menghantam tanah, Mantingan menyambarnya segera.
Mantingan membaringkan Satya di atas tanah sambil terus mengalirkan tenaga prana dalam jumlah yang besar. Darah segar mengalir dari dada, punggung, dan mulut Satya. Ia teringat tengkel obat pemberian Bidadari Sungai Utara yang mampu menghentikan pendarahan serta luka dalam, tetapi ia tidak sedang membawanya saat ini. Mengambilnya pun merupakan suatu hal yang sia-sia saja, sebab Satya harus diberikan tenaga prana tanpa henti agar tetap dapat bernapas sampai waktu tertentu.
Satya membuka mulutnya, hendak mengucapkan sesuatu. Mantingan lantas mendekatkan telinganya.
“Apakah ... engkau ... berhasil membunuhnya?” Satya berbisik amat sangat lemah di sela-sela napasnya yang tinggal satu-dua potong.
“Cagak Kesatu telah dikalahkan, engkau bisa tenang mulai sekarang, Kawanku.” Mantingan berkata begitu meski benaknya amat sangat berat untuk melepas Satya.
“Kubalas budimu ... di kehidupan lain ....”
Tidak lagi Mantingan dengar atau rasakan deru napas Satya. Seketika itu pula dirinya menghentikan aliran tenaga prana.
***
DALAM tujuh hari yang terasa amat singkat, pertempuran di Pelabuhan Angin Putih telah begitu mengguncang jagad persilatan bahkan pula dunia awam di Javadvipa sampai Suvarnadvipa.
Kabar tentang kemunculan Bidadari Sungai Utara di Pelabuhan Angin Putih saja telah begitu mengejutkan rimba persilatan, belum lagi kabar tentang kematian salah satu pendekar dari Enam Pilar Intan yang menggemparkan telaga persilatan serta mengguncang jaringan bawah tanah persilatan.
Kabar lainnya beredar bahwa Kelompok Pedang Intan menyatakan telah mengundurkan diri dari rencana pemberontakan terhadap Tarumanagara. Beberapa menyebutkan bahwa kelompok itu telah kehilangan banyak anggotanya, ditambah pula dengan kematian Cagak Kesatu yang merupakan salah satu kekuatan besar mereka.
Dan sebuah peristiwa lainnya yang tidak kalah mengejutkannya datang dari Perguruan Angin Putih. Secara tidak terduga, banyak perguruan silat kecil yang menyatakan diri ingin bergabung dengannya. Hal itu terjadi setelah Tarumanagara bermaklumat bahwa Perguruan Angin Putih akan mendapat perlindungan dan hak istimewa dari kerajaan secara resmi.
Dalam tiga hari belakangan, tersiar kabar bahwa prasasti-prasasti yang menceritakan tentang kepahlawanan Mantingan tersebar di sejumlah kota Bumi Sagandu.
__ADS_1
Saat ini, nama Mantingan adalah nama yang paling disebutkan dari kedai ke kedai. Kabar tentang sepak terjangnya beredar secepat angin badai di dunia persilatan.
Namanya terdengar begitu agung, tetapi pula jadi amat sangat menyeramkan bagi kelompok-kelompok aliran hitam tertentu.
Namun betapa pun juga, kabar tentang kematian Pendekar Lontar Bercahaya masih menjadi sesuatu yang disesalkan di antara banyaknya kabar baik. Betapa tindakannya yang berani menghentikan gurunya sendiri itu perlahan-lahan menjadi sebuah kisah babat di dunia persilatan.
Pengorbanan seregu Pasukan Topeng Putih pun menambah hikayat kepahlawanan di Perguruan Angin Putih. Segala penghormatan diberikan kepada seluruh pendekar di regu itu yang harus gugur.
Pagi itu. Mantingan berdiri di belakang jendela kamarnya sambil menyeruput teh. Ia berusaha menikmati pagi dengan menerima segala ingatan buruk tentang kejadian tujuh hari yang lalu. Alih-alih membuangnya, Mantingan memilih untuk menerimanya.
Kisah tentang pertarungannya itu telah tertuang di dalam kitab perjalanannya. Bentuk penerimaan diri atas apa yang telah ia lakukan. Berdamai.
“Beginikah jalannya pertempuran malam itu, Mantingan?” Bidadari Sungai Utara berkata setelah membaca kitab tersebut.
Gadis itu telah mengetahui jalannya pertempuran dari kabar-kabar yang beredar. Namun, tetap saja dirinya ingin melihat sudut pandang Mantingan dalam menganggap pertempuran tersebut.
Pemuda itu menganggukkan kepalanya perlahan sebagai jawaban.
Bidadari Sungai Utara telah mengerahkan segala daya, akan tetapi itu tidak memberikan dampak yang terlalu banyak.
Gadis itu merasa sangat bersedih hati jikalau sikap Mantingan berubah untuk selama-lamanya oleh karenanya.
“Nanti malam Dara akan melangsungkan lelang. Apakah engkau akan menghadirinya?” Bidadari Sungai Utara bertanya sambil tersenyum.
“Kurasa tidak.” Mantingan menggeleng tanpa menatap gadis itu. “Jika dirimu dan anak-anak ingin mengikuti lelang, kalian bisa mengambil uangku.”
“Kami tidak membutuhkan uangmu, Kakanda.” Terdengar suara Kana setelah pintu kamarnya terbuka. “Kami membutuhkan sikap Kakanda yang dulu kembali.”
Kali ini, Mantingan tidak menjawab atau memberi tanggapan apa pun, seolah saja Kana tidak pernah berucap seperti itu.
“Tiga hari lagi kita semua akan meninggalkanmu, Kakanda.” Kana kembali berkata sambil mengepalkan tangannya. “Daku tidak ingin perpisahan kita berakhir seperti ini! Lihatlah penampilan Kakanda sekarang yang tidak lebih dan tidak kurang seperti pecundang yang murung dan tanpa harapan!”
__ADS_1
Meskipun perkataan Kana mungkin saja telah melukai perasaan Mantingan, tetapi Bidadari Sungai Utara tidak berusaha menghentikannya. Sebab betapa pun, apa yang dikatakan Kana telah mewakili sedikit banyak isi benaknya yang tidak pernah berani disampaikannya.
Mantingan menghela napas panjang. “Apakah perpisahan harus selalu diakhiri dengan air mata kesedihan, Kana?”
Kana membungkam mulut setelah mendengar perkataan itu, meski dia tidak terlalu memahaminya. Sedangkan Bidadari Sungai Utara, merasa lebih memahami perkataan Mantingan setelah membaca kitab kisah perjalanannya.
Disebutkan di dalam kitab itu bahwa kepergian Satya untuk selama-lamanya tidak membuat Mantingan sampai meneteskan air mata. Meskipun betapa Satya merupakan salah satu orang yang berperan penting dalam pengembaraannya.
Untuk pertanyaan Mantingan yang satu itu, baik Kana maupun Bidadari Sungai Utara tidak ada satupun yang menjawabnya.
“Perpisahan memang tidak selalu diakhiri dengan air mata, Kak Maman.” Suara Kina terdengar setelahnya. “Tetapi setiap orang berhak mendapatkan perpisahan yang berkesan.”
Kali ini Mantingan menoleh. Menemukan tiga orang yang berbeda usia itu sedang menatapnya dengan tatapan sedih. Sekali lagi, Mantingan menghela napas panjang.
“Persiapkan diri kalian nanti malam,” katanya pada akhirnya, “kita akan pergi mengunjungi lelang bersama-sama.”
Bidadari Sungai Utara melebarkan senyumnya. Tetapi kesenangannya bukan disebabkan karena dapat mengikuti lelang yang katanya akan berjalan dengan amat semarak itu, melainkan karena merasa bahwa keadaan Mantingan telah sedikit banyak membaik.
“Tetapi saat ini, diriku ingin ditinggal sendirian.”
Kalimat itu dalam seketika membuat senyum di bibir Bidadari Sungai Utara memudar.
Kana mengerti keadaannya, ia menarik lengan Kina untuk keluar dari kamar Mantingan. Tetapi Bidadari Sungai Utara masih mematung di tempatnya.
“Tidak dengarkah engkau apa yang kukatakan barusan?” Mantingan melontarkan pertanyaan dengan nada bicara yang tidak sedap didengar.
“Aku mendengar apa yang diucapkan mulutmu, tetapi aku lebih mendengar apa yang tidak diucapkan mulutmu.” Bidadari Sungai Utara menjawab tegas. “Engkau sudah terlalu lama mengurung diri di kamar terkutuk ini, Mantingan.”
Mantingan mengerutkan dahi. “Tidakkah dengan begitu engkau mengetahui bahwa diriku membutuhkan lebih banyak waktu lagi?”
Gadis itu menggeleng dan menatapnya tajam. “Di suatu saat, engkau pernah berkata kepadaku bahwa kesedihan adalah suatu hal yang wajar, yang tidak wajar adalah jika engkau terlarut-larut di dalamnya. Kebahagiaan adalah sesuatu yang wajar, yang tidak wajar adalah jika engkau terlalu bahagia hingga melupakan segala-galanya. Jangan terlalu senang dengan apa yang engkau dapatkan, dan jangan terlalu sedih dengan apa yang luput dari engkau. Bukankah begitu perkataanmu waktu itu, Mantingan?”
__ADS_1