
"Tidak perlu pikirkan itu, Perwira.”
“Aku tak akan tenang jika tidak membalasmu.”
MANTINGAN tersenyum. Ia merasa perwira tidak main-main atau berbasa-basi dengan perkataannya. Sepertinya pria itu memang tak akan tenang jika tidak membalas bantuan yang diberi Mantingan.
“Makan malam bersama-sama saja sepertinya sudah cukup, Perwira.”
“Jangan begitu. Awalnya aku berniat menjodohkanmu dengan putriku yang orang kata cantik jelita, tetapi rupanya kau tidak mau. Jadilah sekarang aku dilanda kebingungan hendak memberimu apa. Makan malam pastilah tidak cukup, kau jangan bergurau.”
“Perwira, apa yang aku perbuat sekarang ini adalah untuk tugas kemanusiaan. Aku adalah manusia, maka sudah menjadi kewajiban bagiku untuk melindungi manusia lainnya yang tertindas. Aku malah merasa berdosa jika menerima bayaran.”
Perwira tersenyum sebelum menepuk pundak Mantingan dan mengangguk sekali. “Terima kasih, Mantingan. Jasamu pasti akan diingat dan dikenang kami semua. Kisahmu akan dinyanyikan anak cucu kami sebagai sebuah lagu kepahlawanan. Engkaulah sejatinya pahlawan, yang tiada menuntut balas atas segala pertolongan yang diberikannya.”
Mendengar itu membuat dada Mantingan terasa hangat. Bukan pujian yang membuat dirinya tersanjung, tetapi rasa kasih sayang dari perwira dan prajurit-prajurit kota yang membuat Mantingan tidak merasa kesepian di dunia persilatan yang penuh kesendirian ini.
***
Menjelang sore, tentara musuh yang tak bersenjata berdatangan untuk mengambil jasad kawan-kawan mereka yang gugur dalam medan pertempuran. Pendekar-pendekar yang lumpuh juga segera ditangani oleh tabib-tabib dan dibawa ke perkemahan menggunakan tandu.
Tentara-tentara itu diawasi dengan ketat oleh Mantingan serta 13 prajurit terlatih lainnya untuk mencegah adanya penyusup yang mematahkan mantera sihir.
Tentara-tentara yang datang kali ini tidak boleh diserang. Mereka tidak membawa senjata, bukan prajurit atau pendekar berkeahlian tinggi, dan bukan pula datang untuk menyerang. Yang mereka lakukan itu bisa dibilang untuk kebaikan bersama.
Sebab jika jasad-jasad itu dibiarkan membusuk begitu saja, akan timbul penyakit mematikan mengganggu jalannya perang. Syukur-syukur jika kawanan gagak datang.
Kegiatan itu berlangsung sampai matahari terbenam sempurna. Di perkemahan musuh terlihat sedikit terang oleh pancaka-pancaka yang terbakar.
Mantingan dalam benaknya bertanya-tanya, apakah tentara-tentara musuh juga bersedih saat kawannya gugur dalam peperangan? Ataukah mereka menganggap saingannya telah berkurang?
Persilatan hitam dan dunia hitam sulit ditebak sikapnya. Terkadang mereka sangat menyayangi kawan-kawannya tetapi membenci orang yang bukan kawannya, ada pula yang membenci kawannya serta menganggapnya sebagai saingan dalam dunia persilatan.
__ADS_1
Sesuatu yang pasti dalam dunia persilatan—baik itu persilatan hitam atau persilatan putih—selalu memangsa yang lainnya. Perguruan memangsa perguruan saingannya. Perguruan suatu aliran memangsa perguruan suatu aliran yang lainnya. Pendekar saling membunuh demi mencapai kesempurnaan.
Semua itu terdengar konyol, tetapi bukankah manusia pada dasarnya adalah makhluk yang selalu memangsa demi mempertahankan diri?
Apakah yang dilakukan manusia saat dirinya lapar? Tentu saja makan.
Dari mana makanan berasal itulah yang menjadi persoalan. Manusia selalu membunuh, menindas yang lainnya demi mempertahankan hidupnya sendiri.
Parahnya lagi, hal itu dianggap tidak bermasalah. Jika lapar, bunuh dan makanlah, itu wajar.
Hukum dan aturan dunia yang membuat manusia berperilaku seperti itu. Bagaimana jika dirinya lapar, tapi tidak mau membunuh dan tidak jadi makan buat selama-lamanya? Pastilah akan berhilir pada kematian.
Tidak hanya manusia. Hewan-hewan di dalam hutan berperilaku hampir sama dengan manusia. Mereka memangsa makhluk lain untuk bisa bertahan hidup. Perbedaannya, hewan memangsa makhluk lain secara terang-terangan. Sedangkan manusia memangsa secara sembunyi-sembunyi dengan kisah yang dibuat-buat untuk menutupi kekejamannya.
Jika memang harus saling memangsa, mungkin memang seperti itu aturan yang dibuat oleh Gusti. Entah apakah itu akan berpengaruh pada karma atau tidak. Yang pasti, jika tidak memangsa, maka manusia tidak akan bisa hidup.
Kembali lagi Mantingan tersadar dari lamunan saat Putu menepuk bahunya.
Di belakang Putu adalah 12 prajurit lainnya yang sama-sama menunggu Mantingan. Pemuda itu menganggukkan kepala, ia berdiri dari bangku istirahatnya.
“Serangan! Serangan!”
Kewaspadaan Mantingan memuncak setelah mendengar teriakan itu. Tubuh dan matanya berputar ke segala penjuru untuk melihat dari mana serangan datang. Baru saat itulah Mantingan melihat benda panjang besar di udara yang diselimuti api, benda yang seperti anak panah itu kemudian melesat turun dan menghunjam tanah di belakang tembok kota.
Api dari panah besar berukuran sedepa itu terbang dan menyambar ke mana-mana. Tidak sedikit prajurit serta tenda-tenda yang terkena sambaran api.
Nyatanya tidak hanya satu, panah-panah besar berjumlah puluhan melesat di atas langit dan siap menghunjam perkemahan pasukan kota.
Mantingan cemas bukan main. Dengan anak panah berapi seukuran satu depa itu, perisai tidak akan bisa menahannya. Bahkan atap bangunan pun akan tertembus dan hancur karenanya.
Perwira yang berada di atas menara tentu menyadari anak panah sebesar itu tidak mungkin dihalau oleh perisai, ia membuat keputusan dengan cepat.
__ADS_1
“Mundur ke belakang!” Perwira memberi perintah, lengkingan panjang sangkakala dua kali banyaknya.
“Mundur! Mundur!”
“Awasi langit! Panah-panah itu bergerak tak kalah cepat dari panah bias ! Awas!”
BYARRR!!!
Satu panah besar lainnya tepat mengenai sekelompok prajurit yang sedang berlari, membakar semuanya dalam panas yang menusuk. Lengking teriakan mereka hampir mengalahkan suara sangkakala.
“Saudara Man, kita harus melindungi tembok kota!”
Mantingan segera sadar apa yang harus ia lakukan. Jika seluruh pasukan ditarik mundur ke dalam kota, siapakah yang akan menjaga tembok kota? Di sana tidak ada yang memiliki kemampuan seperti Mantingan dan 13 prajurit yang dilatihnya, maka merekalah yang harus siap maju ke barisan terdepan!
“Apa kalian yakin?”
Tiga belas prajurit itu serentak mengangguk. Mereka tahu risikonya lebih besar dari pada pertempuran sebelumnya, tetapi mereka sama sekali tidak takut kehilangan nyawa jika mengingat janda-janda dan anak-anak di tempat perlindungan.
“Kami yakin dan kami berharap besok masih bisa makan malam, Saudara Man!”
Mantingan masih menyempatkan diri untuk menyunggingkan senyum. “Kalau begitu, kita maju bersama-sama.”
“Majulah!” balas mereka bersorak.
Mereka berlari ke depan saat yang lain berlari ke belakang. Panah panjang beberapa kali jatuh di dekat mereka dan menyemburkan api, tetapi tidak satupun yang mengenai mereka.
Di tembok kota mereka memanjati tangga yang ada, sedang Mantingan langsung saja melenting tanpa kesulitan berarti. Sesampainya di atas, Mantingan disuguhkan oleh pemandangan mengerikan. Ribuan tentara musuh bergerak dengan titik-titik obor di gelapnya malam. Sedang panah-panah panjang terus meluncur.
Mantingan geram. Mereka menyamarkan panah-panah berapi dengan pancaka-pancaka yang terbakar, sehingga pasukan kota baru mengetahui serangan datang saat panah-panah sudah dilepaskan.
Memanfaatkan kematian kawannya untuk meraih keuntungan adalah cara yang keji, khas aliran hitam.
__ADS_1