Sang Musafir

Sang Musafir
Kesembuhan Mantingan


__ADS_3

BIDADARI SUNGAI Utara kemudian membacakan isi lontarnya.


“Sasmita, tidak banyak yang bisa kusampaikan padamu. Karena hampir semuanya telah kusampaikan padamu. Isi lontar ini hanya untuk meminta maaf sebab tidak bisa menjadi ibu yang baik untukmu. Kutahu engkau telah menganggapku sebagai ibumu sendiri, dan aku menganggapmu sebagai anakku sendiri. Sasmita, ceritakanlah pada Mantingan segala-galanya tentang diriku jika dia mau, sehingga tidak terjadi kesalahpahaman. Sasmita, aku sama sekali tidak berharap engkau pulang ke Champa dengan selamat. Karena tanpa diriku berharap sekalipun, kuyakin dirimu tetap pulang dengan selamat. Kutinggalkan seikat lontar untuk Mantingan, dan seikat lainnya untuk Kana serta Kina. Berbaik hatilah kepada Mantingan, sungguh dia tidak sadar akan cintanya padamu.”


Bidadari Sungai Utara kembali menangis. Bahkan saat membaca isi lontar, dirinya terisak-isak. Mantingan merangkul pundaknya sehingga gadis itu bisa bersandar di bahunya. Biarlah semua kesedihan tumpah. Dan kolam ikan itu menjadi saksi bisu atasnya.


Gadis itu kemudian berkata—yang terputus setiap kali ia terisak, “Pendekar Daun Pahit adalah Ibu Wira, Mantingan ... dialah pendekar aliran hitam yang paling disegani pada masanya. Tetapi Ibu Wira adalah orang baik, tidak mudah baginya untuk bertahan lebih lama di dalam dunia persilatan hitam ... dirinya ingin melepas ikatannya dari dunia persilatan, menyamar menjadi peramu obat. Racun dan obat sebenarnya hampir sama, sangat mudah baginya untuk menjadi peramu obat. Tetapi ... tetapi, dirinya tidak bisa tinggal diam melihat kehancuran desa ini. Dan pada akhirnya—”


“Tidak perlu dilanjutkan, Saudari.” Mantingan berkata lembut. “Tidak ada yang patut disesali atas kepergiannya. Dia pergi sebagai pahlawan yang gagah berani. Sudah seharusnya kita bangga padanya, bukannya bersedih seperti ini.”


Bidadari Sungai Utara menarik napas panjang dan mengeluarkannya perlahan. Jauh lebih berharga ketimbang mengeluh. Kemudian memejamkan matanya, memasrahkan semuanya kepada Mantingan.


“Engkau pernah berkata untuk tersenyum kepada mereka yang tidak lagi jadi milik kita, bukan?” Bidadari Sungai Utara berkata syahdu. “Maukah engkau tersenyum bersamaku?”


Mantingan tidak menjawab, tetapi ia tetap tersenyum. Bidadari Sungai Utara tak membutuhkan jawaban, dirinya turut tersenyum.


Daun-daun berguguran. Diterpa sang bayu yang membawa udara kering dari timur. Satu-satunya lonceng angin di sana, berdenting. Seolah mengantar dua senyuman itu menuju Ibu Wira.


Mantingan dan Bidadari Sungai Utara tenggelam di dalam buaian sang angin timur. Sehingga seolah-olah jiwa mereka menyatu. Tiadalah satupun dari mereka yang tidak saling memahami isi benak.


***


WAKTU TERUS berjalan. Hebatnya waktu, dengan atau tanpa kehancuran Desa Lonceng Angin, terus berjalan. Namun Desa Lonceng Angin, merasa perlu bangkit. Desa dibangun ulang, menjadi desa yang lebih indah. Waktu tidak akan menunggu sampai perasaan mereka pulih.


Selama itu, Mantingan tidak berdiam diri. Meskipun masih terdapat racun di dalam tubuhnya yang terkadang mengganggu, Mantingan tidak mau berpangku tangan. Beberapa kali dirinya mengunjungi pengungsian, dan banyak kali ia membantu pembangunan desa. Tak segan-segan dirinya menggelontorkan dana.


Kiai Guru Kedai akan tetap berada di Desa Lonceng Angin sampai pembangunan dinyatakan selesai. Dan hebatnya, dia mendirikan sebuah kedai teh di depan rumah Mantingan. Tentu saja teh-teh yang dihasilkannya dapat dinikmati tanpa perlu membayar. Mantingan hanya bisa memaklumi sikap aneh gurunya.


Bidadari Sungai Utara pula bekerja keras untuk menemukan penawar Racun Tidak Bernama. Hampir seluruh waktunya dihabiskan di dalam ruangan itu. Bahkan jarang pula keluar sekadar mengambil sepiring makanan. Mantingan telah berkata pada gadis itu untuk tidak memaksakan diri, tetapi Bidadari Sungai Utara membantahnya dengan keras.


Katanya, “Jika penawarnya tidak ditemukan, dikau akan mati. Dan jika dikau mati, tidak ada alasan bagiku kembali ke Champa.”


Maka sekali lagi, Mantingan hanya bisa memaklumi dan membiarkannya. Lebih-lebih ketika gadis itu mengatakan bahwa jika penawar racun belum ditemukan, ia tidak akan pergi dari Javadvipa. Mengingat pula waktu yang tersisa tidaklah banyak, maka Mantingan mensyukuri tindakan Bidadari Sungai Utara.


Racun Tidak Bernama semakin menunjukkan keganasannya. Beberapa hari kemudian, sukar bagi Mantingan untuk mengerjakan banyak hal. Bahkan untuk berlari saja, Mantingan tidak bisa. Maka dalam kesehariannya, pemuda itu tampak jauh lebih tenang. Langkah kakinya tidaklah terburu-buru, tangannya terlipat ke belakang, dan bicaranya lembut. Secara tidak sadar, Mantingan menularkan ketenangan itu kepada orang-orang yang memperhatikannya.


Sekalipun Racun Tidak Bernama mulai tampak tidak ramah, tetapi tubuh Mantingan dapat menerima ketidakramahan itu. Tubuhnya mulai menyesuaikan diri dengan racun yang ada di dalamnya.


Buktinya, racun kelewang musuh yang membabat dadanya tidak menyebabkan kematian maupun suatu gejala yang berbahaya. Hal tersebut dapat diartikan sebagai sebuah kemajuan yang besar.


Mantingan melihat banyak hal selama beberapa hari. Bukan hanya dengan dua kelopak matanya, melainkan pula dengan mata batinnya. Mantingan melihat banyak pertanda. Dirinya terus mengembangkan ilmu pembacaan pertanda ke dalam ilmu persilatan. Tak sedikitpun ia meminta bantuan pada gurunya, pak tua itu akan berkata padanya untuk menemukan ilmu itu sendiri.


Kiai Guru Kedai tidak salah, Mantingan juga berpendapat serupa. Jikalau ia berhasil menemukan ilmunya sendirian tanpa bantuan dari Kiai Guru Kedai, maka pemahamannya atas ilmu itu telah mencapai tingkat kesempurnaan. Biar bagaimanapun, Mantingan merasa perlu menemukan ilmu itu tanpa bantuan dari siapa pun.

__ADS_1


Mungkin akan terkesan serakah, tetapi ini Mantingan lakukan demi kesempurnaan ilmunya. Niscaya ilmu tersebut akan Mantingan gunakan untuk kebaikan sesama, dan untuk membela Kebenaran, menumpas Kesesatan. Mantingan berjanji pada dirinya sendiri untuk memanfaatkan ilmu itu sebaik mungkin.


Sedangkan Kana dan Kina, biar bagaimanapun, mereka masih berkabung atas kematian Wiranti. Terkadang mereka tidak bersemangat makan. Pula lebih senang menghabiskan waktu di kamarnya masing-masing ketimbang bermain di luar. Mantingan dan Bidadari Sungai Utara merasa sangat khawatir dengan perubahan mereka, tetapi keduanya bersepakat memberikan mereka sedikit waktu untuk menerima kepergian Wiranti. Akan tetapi, mereka harus tetap bangkit dari keterpurukan suatu hari nanti.


***


PAGI ITU. Mantingan dan Kiai Guru Kedai duduk sila berhadap-hadapan. Kiai Guru Kedai baru saja memanggilnya untuk masuk ke dalam kamarnya. Dia berkata akan menyampaikan suatu hal yang penting.


“Diriku tidak bisa terlalu lama menetap di tempat ini, Mantingan,” katanya, “pembangunan desa telah memasuki babak akhir, aku rasa tidak ada yang perlu kulindungi lagi di sini. Engkau tidak perlu mengkhawatirkan keselamatan Desa Lonceng Angin, Perguruan Angin Putih telah membangun padepokan di sini.”


“Guru, mengapakah terburu-buru? Apakah telah terjadi suatu hal di luar dugaan?”


“Ya. Dan aku harus segera merampungkannya. Tetapi dirimu tidak perlu tahu-menahu soal ini, menambah beban pikiran saja.”


***


TIADALAH YANG dapat diperbuat Mantingan selain mengangguk paham di depan gurunya. Akan tetapi, Mantingan merasa sama sekali heran dengan sikap gurunya, seolah-olah tidak mengkhawatirkannya yang terserang racun mematikan tanpa penawar. Kiai Guru Kedai tentu menyadari arti tatapan dan raut wajah bingung Mantingan, tetapi dirinya hanya tersenyum sebagai tanggapan.


Kiai Guru Kedai bangkit dari duduknya dan berkelebat menghilang. Mantingan melihat jendela ruangan yang terbuka. Gurunya itu telah pergi dengan begitu cepatnya. Mantingan mengembuskan napas panjang dan tersenyum lega.


Dan mengapakah Mantingan masih bisa tersenyum lega sedangkan gurunya itu pergi tanpa memberitahukan satupun cara untuk menyembuhkan Racun Tidak Bernama di dalam tubuhnya? Tentu saja itu disebabkan oleh senyuman gurunya, yang secara tidak langsung telah mengartikan bahwa semuanya akan berjalan baik-baik saja.


Maka Mantingan menutup daun jendela di kamar gurunya.


***


“Daku tidak akan meninggalkan Javadvipa sebelum kutemukan penawaran untuk Racun Tidak Bernama yang bersarang di dalam tubuhmu.”


Maka Mantingan berkata bahwa tubuhnya mulai menyesuaikan diri dengan segala racun di dalamnya.


“Diriku lebih mengetahui daripada dirimu, Saudara,” balasnya teramat dingin.


“Tetapi ingatlah alasan mengapa kita bisa bersama sampai sekarang ini. Ingatlah bahwa alasan itu agar Saudari bisa kembali ke Champa.”


“Jika daku hanya mementingkan diriku tanpa memandangmu barang sedikitpun, bukankah hal itu dapat dimaknai sebagai keserakahan penuh hina dina? Bahkan Saudari tidak perlu memaknainya, keserakahanku akan tampak terang-terangan.”


“Tetapi bagaimanakah jika Saudari tidak bisa kembali ke Champa karena terlalu berlarut-larut dalam persoalan ini?”


“Maka itu lebih baik ketimbang daku gagal menemukan penawar racun untukmu.” Bidadari Sungai Utara lalu memandangi mata Mantingan penuh arti. “Tidak peduli seberapa keras engkau memaksaku, daku akan lebih keras lagi memaksamu.”


***


BENAR PERKATAAN Bidadari Sungai Utara. Tubuhnya tidak benar-benar dapat menyesuaikan diri dengan keberadaan Racun Tidak Bernama di dalamnya. Dua pekan semenjak percakapannya dengan gadis itu, Mantingan terbaring di atas ranjangnya tanpa bisa banyak bergerak.

__ADS_1


Keadaan Mantingan sungguh buruk. Dirinya tidak menelan barang sesuap makanan sejak terbaring tak berdaya, mengakibatkan tubuhnya menyusut. Seluruh kulit Mantingan memucat, bahkan di saat-saat tertentu membiru bagi luka lebam. Lidahnya kelu, sulit digerakkan, sehingga tidak satupun perkataan yang keluar dari mulutnya.


Hampir setiap malam Kana dan Kina menangis. Mereka hampir tidak pernah beranjak dari kamar Mantingan. Setiap malam mengajukan permohonan pada Gusti untuk kesembuhan Mantingan. Berkali-kali mereka mengungkapkan bahwa Mantingan adalah orang terpenting dalam hidup mereka saat ini, Gusti sungguh tidak berbelas kasih jikalau mengambil Mantingan dari kehidupan mereka.


Ketua Rama sama khawatirnya. Puluhan tabib datang setiap hari untuk memeriksa Mantingan, memenuhi undangan Ketua Rama. Tetapi hampir semua tabib itu menggeleng lemah, sisanya berkata bahwa Mantingan tidak mungkin bisa diselamatkan. Racun Tidak Bernama terlalu mematikan, masih belum ditemukan penawarnya.


Sedangkan itu, Bidadari Sungai Utara justru jarang mengunjungi Mantingan. Jarang pula dirinya menangisi Mantingan. Sebab dirinya mengetahui betul, semua hal itu tiada guna. Akan tetapi, dirinya tidak berhenti bekerja, tiap-tiap hari berkutat dengan segala bubuk pengobatan. Dentang lumpang tak pernah berhenti terdengar dari dalam kamarnya, andaikan Mantingan mengetahui.


Dan andaikan pula semuanya melihat sorot mata Mantingan, maka mereka akan menemukan bahwa pemuda tenang-tenang saja. Sedikitpun tidak terpancar ketakutan atau keputusasaan.


Melainkan harapan. Mereka akan menemukan harapan yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Itulah Mantingan, pemuda yang harapannya jauh lebih tinggi ketimbang langit. Itulah Mantingan, yang ketenangannya jauh melampaui air danau yang tiada sedikitpun ditiup angin.


Senyuman Kiai Guru Kedai telah meyakinkannya. Gurunya itu tidak akan meninggalkan muridnya begitu saja dilumat maut.


Dan sekalipun Mantingan harus mati nantinya, maka tak ada penyesalan lagi dalam hidupnya. Meskipun Kembangmas masih belum ditemukan, tetapi ia telah mengeluarkan segala upaya yang dimilikinya, maka tiada lagi penyesalan.


Jika dirinya memang harus mati dalam waktu dekat, maka ia akan mati dalam kedamaian.


Mantingan terus menunggu hari itu tiba. Apakah itu adalah hari kesembuhan, atau justru hari kematiannya, Mantingan tetap menanti. Dipandanginya Kana dan Kina yang tanpa lelah mendoakannya; dipandangi pula tirai jendela yang berkibar diterpa angin timur; didengarkannya lantunan bebunyian yang dinyanyikan ratusan lonceng angin—pertanda bahwa desanya telah bangkit dari keterpurukan.


***


MANTINGAN MEMANDANGI Bidadari Sungai Utara. Mekar senyumnya. Untuk pertama kali setelah dua pekan dirinya terbaring, Mantingan berucap, “Terima kasih.”


Bidadari Sungai Utara tak dapat digambarkan raut wajahnya. Begitu bahagia dirinya melihat Mantingan kembali dapat menegakkan tubuh dan membuka suara. Kebahagiaan yang jauh lebih besar ketimbang kebahagiaan pemuda itu sendiri.


“Kutahu sejak awal bahwa Saudari akan menyembuhkanku. Di hari pertama diriku terbaring, aku sudah senang, karena kutahu engkau berhasil menyembuhkan racun di dalam tubuhku ini.” Mantingan berkata tanpa mengurangi senyumannya sedikitpun. “Terima kasih. Kuucapkan terima kasih sekali lagi. Engkau telah menyelamatkanku.”


“Daku hanya membalasmu, Mantingan. Engkau telah menyelamatkan hidupku berkali-kali. Sampai-sampai daku tidak bisa menghitungnya. Apalah diriku yang hanya satu kali menyelamatkan hidupmu?” Bidadari Sungai Utara berkata penuh haru. “Anggaplah ini sebagai ucapan terima kasih, bukan balasan, karena daku tidak akan pernah bisa membalasmu.”


“Itu tidak perlu dipikirkan terlalu jauh.” Mantingan menggeleng pelan. “Panggillah Kana dan Kina. Biarkan mereka masuk. Sungguh, mereka akan turut bergembira atas kesembuhanku.”


Bidadari Sungai Utara beranjak dari tempatnya. Membuka pintu kamar dan meminta Kana dan Kina untuk masuk. Memanglah keduanya diminta untuk menunggu di luar ruangan saat Mantingan meminum ramuan penawar—mengantisipasi terjadi sesuatu di luar keinginan.


Kana dan Kina berlari masuk sambil menjerit. Lantas memeluk Mantingan tanpa ampun dan menangis. Mantingan tertawa lepas dan mengelus kepala dua bocah itu, seakan turut merasakan kegembiraan mereka.


“Kak Maman jangan bertempur lagi, kami semua tidak ingin Kaka Man berada dalam bahaya. Kami tidak mau.”


“Benar itu, benar. Kami telah kehilangan Ibu Wira, kami tidak ingin kehilangan Kaka pula.” Kana menahan isak tangisnya, sungguh ia bersikap jantan akhir-akhir ini.


“Betul itu, Saudara.” Bidadari Sungai Utara tersenyum lembut. “Terlalu banyak bertempur tidak baik untuk kesehatan, dan pada akhirnya hanya merepotkan diri sendiri dan orang lain saja.”


Mantingan hanya tersenyum tanpa membalas.

__ADS_1


__ADS_2