
BAPAK pemilik kedai itu melanjutkan ceriteranya dengan senyum yang tampak amat pahit.
“Hingga hari ini, selalu saja ada mayat pendekar yang ditemukan di tempat-tempat tertentu. Orang-orang di sekitar sini membakar tubuh-tubuh tanpa nyawa itu untuk menghormati Sang Siluman. Kami yang bukan pendekar ini tidak memiliki daya sama sekali, sehingga sungguh tidak ingin menyinggung pihak manapun.
“Kami semua telah memberi peringatan kepada setiap pendekar yang datang ke Gunung Kelinci dengan niat berburu siluman. Tetapi tetaplah kami tidak dapat mencegah apalagi menghukum mereka. Benarlah bila ada pepatah yang mengatakan bahwa dikau harus berkuasa terlebih dahulu sebelum dapat menetapkan hukum.
“Maka kepada dikaulah daku memberi peringatan saat ini, Anak Muda. Dikau tidak terlihat memiliki kemampuan yang cukup untuk menghadapi Sang Siluman. Semua pendekar berkemampuan tinggi yang datang ke sini telah berusia lanjut, tetapi mereka semua tetap dapat dikalahkan dengan sedemikian mudahnya. Sedangkan dikau masih tampak teramat muda, kutaksir dikau berusia dua puluhan, daku khawatir dikau tidak akan dapat pulang dalam keadaan hidup-hidup jika tetap melanjutkan niat itu ....”
Mantingan menganggukkan kepalanya perlahan sambil tersenyum lembut. “Sungguh kusadari betapa niat Bapak terhadap diriku sangatlah baik. Daku sungguh sangat menghargainya. Tetapi maafkanlah, daku akan tetap melanjutkan niatku yang memang sudah bulat sejak awal. Jika sampai terjadi apa pun terhadap diriku nanti, maka bukanlah itu menjadi sesuatu yang harus Bapak pikirkan.”
Mantingan pun sebenarnya tidak terlalu yakin apakah dirinya dapat mengalahkan “Sang Siluman”. Selalulah dirinya mengingat bahwa di atas langit pasti ada langit. Terlebih lagi dengan kekuasaan alam, Sang Gusti selalu memiliki kejutan yang seringkali tidak disangka-sangka oleh manusia seperti dirinya.
Bagaimanakah bila ternyata Sang Siluman adalah makhluk purba yang telah hidup jutaan tahun lamanya dan masih bertahan hingga saat ini, sehingga berhasil mendapatkan kekuatan tak terhingga yang sungguh tidak dapat dikalahkan oleh sesiapa pun? Tiada seorangpun yang mengetahuinya.
Bapak pemilik kedai itu mengembuskan napas panjang. Sama sekali terlihat menyesal. “Bila memang sudah begitu keputusanmu, maka sungguh tiadalah lagi daku dapat menahan dikau. Kudengar para pendekar memang mencari kesempurnaan lewat kematian. Mungkin dikau tidak masuk dalam pengecualian.”
Mantingan tersenyum tanpa menanggapi ucapan bapak pemilik kedai yang satu itu. Dirinya lantas bertanya, “Bolehkah sehabis ini Bapak menunjukkan tempat di mana mayat-mayat itu ditemukan?”
“Sebentar lagi matahari tenggelam, Anak. Masihkah dikau berani pergi ke tempat itu?”
“Tentu saja, Bapak.” Mantingan mengeluarkan beberapa lembar Lontar Sihir dari dalam kotak penyimpanannya. “Daku sedang tidak membawa keping uang, Bapak, tetapi lontar-lontar ini cukup untuk membayar biaya makan diriku dan kerbauku bila Bapak menjualnya.”
“Ah, daku pernah melihat lontar-lontar seperti itu, Anak. Orang-orang telaga persilatan menyebutnya dengan Lontar Sihir, bukan?”
“Benar, Bapak. Ini memang Lontar Sihir.”
__ADS_1
“Baiklah, dapat kuanggap itu sebagai bayaran yang sekiranya lebih dari cukup. Dan sekalipun dikau tidak berniat membayarnya sama sekali, maka itu bukan menjadi masalah sama sekali bagiku.”
Mantingan hanya mengangguk pelan sebelum kembali menyantap buburnya yang tidak lagi terasa hangat.
***
UDARA malam di kaki Gunung Kelinci sungguh teramat sangat dingin. Menusuk hingga ke tulang-belulang. Sekilas mengingatkan Mantingan pada hutan berkabut yang melindungi Perguruan Angin Putih.
Ia harus merapatkan jubahnya bahkan pula sedikit mengedarkan tenaga prana untuk membuat tubuhnya tetap hangat. Akan tetapi bapak pemilik kedai itu tampak sama sekali tidak terganggu dengan hawa dingin ini, dirinya hanya mengganti pakaian dengan yang sedikit lebih tebal.
Mereka berjalan di tengah kegelapan malam dengan dua batang obor yang menyala remang-remang. Mantingan menuntun Munding di belakangnya melewati jalanan yang sedikit terjal serta licin, menembus kelebatan hutan.
Boleh dikata bahwa hutan yang sedang mereka lewati ini cukup menyeramkan juga. Bahkan Mantingan sebagai seorang pengembara yang telah terbiasa melewati kelebatan hutan di bawah kekelaman malam pun merasa sangat rawan saat ini.
“Hutan ini teramat menyeramkan,” desis bapak pemilik kedai yang nyata-nyatanya telah lebih dahulu berkeringat dingin. “Tidak seperti biasanya. Baik siang maupun malam, hutan ini selalu bersahabat denganku, bagaikan sebuah rumah yang sama sekali tidak menyeramkan. Tetapi sekarang ini berbeda sekali, sangat menyeramkan dan mengancam.”
Mantingan telah dapat mengetahui bahwa hal itu sangat mungkin terjadi sebab bapak pemilik kedai merasakan tekanan hawa pembunuh yang tidak pernah ada sebelumnya di sini, membuatnya merasa bahwa hutan ini tidak lagi bersahabat. Namun, ia tidak berniat untuk mengungkapkan kebenaran itu pada bapak pemilik kedai, sebab dapatlah hal tersebut hanya akan membuatnya semakin merasa semakin takut.
Tetiba saja bapak pemilik kedai menghentikan langkahnya, yang serta merta membuat Mantingan serta Munding berhenti pula.
“Tujuanmu tidaklah terlalu jauh dari tempat ini, Anak. Terus saja berjalan lurus, nanti dikau akan menemukan abu-abu bekas bakaran pancaka. Maafkanlah sebab daku tidak berani mengantar dikau lebih jauh daripada ini. Kuakui bahwa daku takut mati, masih ada anak dan istriku di rumah yang tidak dapat kutinggal mati begitu saja,” papar bapak pemilik kedai sambil menatap was-was sekitarannya. Agaknya pria setengah baya itu tidak lagi dapat membendung rasa takutnya.
“Ini sudah lebih dari cukup, Bapak.” Mantingan melempar senyuman, berharap itu dapat sedikit membantu bapak pemilik kedai menghadapi ketakutannya. “Daku sampaikan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya pada Bapak.”
“Ya, ya, sekarang daku harus benar-benar pergi. Dikau berhati-hatilah. Semoga batara dewa mengasihimu sebuah keajaiban.” Tepat setelah mengatakan itu, bapak pemilik kedai bergegas pergi. Meninggalkan Mantingan dan Munding di tempat menyeramkan itu.
__ADS_1
“Ongh ....”
“Tidak perlu khawatir, Munding. Daku tidak akan pergi terlalu jauh darimu. Dan ingatlah selalu bahwa kita selalu memiliki kemampuan untuk pergi melarikan diri kapan pun juga.”
Dengan kemampuan terbang milik Munding Caraka, seharusnya tidak ada hal benar-benar harus ditakutkan. Mereka dapat pergi kapan saja jika merasa terancam.
Selain itu, kemampuan bela diri milik Mantingan tidaklah pula dapat disebut rendah-rendah saja. Tetapi betapa pun, kemampuan itu mungkin hanya Mantingan pakai untuk melarikan diri dan bukannya untuk menyerang. Jikalau “Sang Siluman” dapat membunuh ratusan pendekar berkeahlian tinggi dalam satu waktu sekaligus, maka sebesar apakah kemampuannya?
Hal itulah yang membuat Mantingan tidak yakin dapat menang setelah menyerangnya.
“Kita harus terus bergerak, Munding. Tetaplah berjalan di belakangku.”
Mantingan mulai melangkahkan kaki. Satu-satunya yang ia tuju saat ini adalah sumber dari hawa pembunuh yang ia rasakan sekarang.
Jejak hawa pembunuh itu membawa Mantingan terus berjalan terus ke muka hingga menemukan gunungan-gunungan abu bekas bakaran yang membentuk barisan rapi di sepanjang tepi jalan. Tidakkah itu adalah pancaka-pancaka dari para pendekar yang mati mengenaskan di tempat ini?
Mantingan terus berjalan tanpa terlalu memedulikan pancaka-pancaka itu. Hawa pembunuh yang dirasakannya saat ini semakin pekat dan menakutkan lagi. Ia merasa seperti sedang diintai oleh sesosok makhluk buas yang teramat berbahaya.
___
catatan:
Episode bulan ini: 17/40
Terima kasih atas segala macam dukungan yang diberikan, sungguh itu sangat berarti bagi saya.
__ADS_1