Sang Musafir

Sang Musafir
Pendekar Tongkat Badai


__ADS_3

MANTINGAN MENURUNI tangga dengan langkah yang teramat sangat cepat. Di ujung lorong tangga itu, ia berjumpa dengan orang-orang bersoren pedang yang hendak naik ke atas. Mantingan tersenyum kecut setelah menyadari bahwa mereka semua bukanlah pendekar. Itu bukan lawan yang setimpal untuknya.


Maka yang Mantingan lakukan terhadap mereka tidak sekejam apa yang ia lakukan pada pendekar-pendekar di lantai atas. Mereka hanya dilumpuhkan, tetapi mereka tidak akan mengalami kelumpuhan singkat, melainkan kelumpuhan seumur hidup. Mantingan terpaksa melakukan hal itu, agar tiada lagi pembalasan dendam di masa mendatang.


Terhitung 15 prajurit biasa yang Mantingan lumpuhkan buat selama-lamanya di lantai pertama. Akhirnya pemuda itu bisa mengembuskan napas lega. Mengira semuanya telah berakhir.


Namun kelegaannya itu tidak bertahan lama, sebentar kemudian ia mendengar suara derap langkah kaki di dekat pintu bangunan.


“Kuhargai keberanianmu, Anak Muda.”


Mantingan menoleh dengan cepat, menemukan seorang pria tua yang masuk dengan tongkat rapuh di tangannya. Pria tua itu tersenyum sangat hangat, wajahnya memancarkan ketenangan.


“Maafkanlah karena tidak menyambut Anak dengan baik. Bahkan untuk tamu yang tidak diundang sekalipun, kami wajib menyediakan perjamuan untukmu. Tetapi sayang sekali, perjamuan kami malam ini telah dilumuri darah.” Pria tua itu berhenti berjalan. Masih dengan senyum hangatnya, ia melihat ke sekitar. “Kasihan anak-anak buahku, tidak cukup pantas untuk menyambut Anak, tetapi Anak tetap memaksa mereka melayani Anak. Maka biarlah daku, sebagai datuk pertama Perkumpulan Pengemis Laut, Pendekar Tongkat Badai, yang akan menyambutmu.”


Saat itu, jantung Mantingan seakan hendak lepas dari kedudukannya. Mendengar gelar Pendekar Tongkat Badai membuatnya ingat cerita Kiai Guru Kedai tentang pendekar keji itu. Namun untuk sekarang, tidak cukup waktu bagi Mantingan untuk berlengah diri. Maka segeralah ia memasang kuda-kudanya lebih kokoh. Merentangkan Kiai Guru Kedai ke sampingnya.


“Bapak Pendekar Tongkat Badai, sebuah kehormatan bisa bertemu dengan pendekar keji sepertimu. Dan sebuah kebanggaan telah melihat tongkat kayu yang telah mencabut lima ribu nyawa manusia itu.” Mantingan berkata dingin. “Daku akan merasa lebih terhormat lagi jika bisa membunuh iblis seperti Bapak Pendekar.”


Pria tua itu tertawa dengan suara serak. Seandainya tidak mengingat bahwa pendekar itu telah membunuh lebih dari 5.000 manusia, maka suara tawa itu akan terdengar indah nan bijaksana.


“Agaknya Anak sudah mengenal diriku dengan baik. Padahal diriku masih belum mengetahui jati diri Anak.” Pendekar tua itu mengelus janggutnya. “Jadi, siapakah diri Anak?”


Masih dengan suara dingin, Mantingan menjawab, “Diriku tidak pantas dikenali Bapak Pendekar. Maka biarlah kusembunyikan jati diriku.”


Pendekar Tongkat Badai menatap Mantingan dengan tajam. Tatapan itu hanyalah sekilas. Namun,Mantingan dapat membaca tanda, pendekar itu telah mengenal dirinya. Sebagai seseorang yang mempercayai tanda, maka Mantingan cukup resah mengetahui hal itu.

__ADS_1


“Kalau begitu, biarlah pak tua ini tidak mengetahui sesuatupun tentang Anak.” Kembali dirinya tertawa serak. “Tetapi sebaik-baiknya tuan rumah, tamu seperti apa pun itu mestilah disambut dengan sangat baik. Namun, hatiku akan merasa sangat sakit jikalau Anak tidak mau memperkenalkan diri.”


“Tidak perlu banyak bercakap-cakap, Bapak Pendekar. Jelas dikau telah mengetahui jati diriku.”


Pendekar itu tertawa. "Benar. Benar itu. Tetapi bukankah sopan santun harus diutamakan? Meskipun pak tua telah mengetahui siapa jati dirimu, Anak seharusnya tetap merasa perlu memperkenalkan diri.”


“Jika Bapak bermaksud melemahkan kesiagaanku dengan cara bercakap-cakap seperti ini, maka sebaiknya Bapak urungi niat itu. Lebih baik, kita mulai saja segala hal yang perlu kita selesaikan.”


Pendekar Tombak Badai mengelus janggutnya. “Agaknya sekali, engkau tidak diajarkan sopan santun oleh Kiai Kedai. Padahal dari yang kukenal, Kiai Kedai berasal dari Perguruan Angin Putih, dan kukenal pula murid-murid Perguruan Angin Putih bersikap teramat ramah. Mereka masih sempat untuk tersenyum sesaat sebelum daku membunuh mereka.”


Mantingan merapatkan giginya. “Baiklah, Bapak. Kemarilah, akan kubuktikan apa itu sopan santun dalam arti yang sebenar-benarnya.”


“Hmm ... engkau bermaksud melawan orang tua seperti diriku? Sungguh terlalu, sangat terlalu. Sama sekali engkau tidak mengenal apa itu sopan santun. Diriku yang telah tua ini masih saja mau dilawan. Terlebih engkau adalah murid Kiai Kedai, pastilah dapat membaca pertanda.”


“Itu tidaklah suatu hal yang penting, Bapak Pendekar. Sekarang marilah, serang daku!”


“Buktikanlah itu, Bapak.”


“Ya. Seranglah diriku, Anak.”


“Seranglah diriku terlebih dahulu, Bapak, jika Bapak bukan bangsa pengecut.”


Wajah yang awalnya tenang itu dengan cepat memerah padam. Dirinya menatap Mantingan tajam-tajam.


“Curangnya dirimu, Anak. Dikau adalah murid tunggal Kiai Kedai, sudah pasti dia menurunkan ilmu membaca pertanda kepadamu. Dengan ilmu itu, dikau bisa mengalahkanku dengan sangat mudah!”

__ADS_1


“Diriku tidak mewarisi ilmu itu dari Kiai Guru Kedai, Bapak Pendekar. Lagi pula, dikau berada di sungai telaga persilatan jauh lebih lama ketimbang diriku. Tentu Bapak tidak takut dikalahkan pendekar muda sepertiku, bukan? Jika ternyata Bapak takut, sangat disayangkan, Bapak hanya akan mempermalukan pendekar-pendekar seangkatan dengan Bapak.”


Saat Mantingan tertawa pelan, saat itulah Pendekar Tongkat Badai meraih puncak kemarahannya. “Bangsat banyak bacot! Terimalah kematianmu!”


Pendekar Tongkat Badai berkelebat maju dengan tongkat dilintangkan. Mantingan tersenyum samar, merasa berhasil telah memperdaya Pendekar Tongkat Badai dengan menyulut kemarahannya.


Dalam sungai telaga persilatan, pendekar-pendekar ahli yang akan saling bertarung akan menahan diri untuk tidak membuka serangan. Jikalau pendekar ahli mengadakan pertarungan dengan pendekar ahli lain, mereka akan lebih banyak diam di tempat ketimbang bertarung. Tidak satupun mau menjadi pendekar pertama yang membuka serangan.


Mengapakah begitu? Seringkali si penyerang pertama akan mendapat jurus penjebak dari lawannya. Selain itu, si penyerang pertama akan menampakkan kelemahannya lebih awal ketimbang lawannya.


Apa yang dilakukan Pendekar Tongkat Badai adalah tindakan yang bodoh. Mantingan mampu membaca pertanda. Dirinya tahu ke arah mana si pria tua akan menyerang. Pula tahu di mana letak kelemahan pak tua itu.


Namun saat dirinya tak sengaja menatap mata Pendekar Tongkat Badai, di sanalah Mantingan kembali membaca pertanda. Sungguh pertanda yang ia baca kali ini bukanlah pertanda baik.


Mantingan menahan serangan, dirinya hanya menangkis serangan pendekar itu. Tanpa membalasnya. Pendekar Tongkat Badai terempas mundur dua depa setelah Mantingan menangkisnya. Lalu tersenyumlah pendekar itu selebar-lebarnya.


“Rupanya dikau benar-benar mampu membaca pertanda.”


“Jika Bapak masih menyayangi nyawa, maka katakan di mana wanita itu berada sekarang.”


Senyum yang sudah lebar itu kembali dilebarkan. Lalu dirinya berkata sambil sesekali tertawa kecil, “Leher Bidadari Sungai Utara yang jenjang itu .... oh, aduhai, cantik dan indah sekali. Belum pernah daku melihat leher seperti itu. Diriku merasa sayang jika harus mematahkannya dengan tongkatku. Anak, dikau bisa menenangkan diri, dia belum mati.”


____


catatan:

__ADS_1


Cie, yang malming sama Sang Musafir :b


__ADS_2