Sang Musafir

Sang Musafir
Penyelamatan Bidadari Sungai Utara


__ADS_3

MANTINGAN masih terus melesat ketika dilihatnya sebuah kapal tengah terbakar hebat. Yang sungguh mengherankan adalah kapal itu diserang oleh kapal-kapal kawan dan bukannya kapal lawan.


Mantingan tentu saja tidak berpikir bahwa seluruh armada gabungan telah berkhianat sehingga menyerang kapal tersebut yang tidak turut berkhianat. Dirinya justru berpikir bahwa kapal itulah yang berkhianat, sehingga diserang seluruh armada gabungan untuk dimusnahkan secepat-cepatnya.


Mantingan terus berkelebat tanpa memperlambat lajunya. Melewati kapal-kapal musuh di kiri dan kanannya. Seringkali beberapa pendekar berusaha menyerangnya dengan menerjunkan diri, akan tetapi dengan kemampuan Mantingan dalam membaca pertanda, seluruh pendekar itu mati dalam sekali gerakan sebelum mereka dapat mengayunkan pedangnya.


Mantingan terus melesat sambil membunuh. Entah mengapa setelah pertarungannya dengan Cagak Keenam, kemampuan membaca pertanda yang pernah dikuasainya seolah kembali lagi. Seluruh gerakan musuh dapat terbacanya dengan begitu jelas; dari mana mereka berasal, dan ke mana mereka akan bertujuan.


Mantingan tiba pula di dalam daerah Barisan Jaring Denawa yang secara perlahan-lahan mulai melahap seluruh armada musuh.


Lekas Mantingan mengarahkan diri menuju kapal yang tengah dilahap api tersebut, sebab Ilmu Mata Elang miliknya menangkap sebuah arca berupa katak berwarna merah yang terpasang di haluan kapal tersebut.


Tidak salah, itulah Kapal Katak Merah yang disebutkan oleh sosok Rara sebelumnya. Dan tentu saja bahwa yang dimaksud dengan nyawa Bidadari Sungai Utara dalam bahaya adalah karena kapal itu tengah terbakar hebat!


Mantingan menapak untuk terakhir kalinya pada air laut sebelum tubuhnya melenting ke atas geladak kapal.


Mantingan langsung menebar pandang. Keadaan di sekitarnya benar-benar kacau. Api dan asap di mana-mana. Banyak prajurit yang bergelimpangan dengan tubuh terbakar; dan lebih banyak yang berkelebatan sambil menjerit keras sebab api sedang melahap tubuhnya hidup-hidup.


Serangan panah terus berdatangan. Sebelum terajam habis oleh anak-anak panah tersebut, Mantingan segera berkelebat menuju geladak dasar sebab dirinya tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Bidadari Sungai Utara di geladak utama.


Di geladak dasar ini, keadaannya tidak lebih buruk daripada geladak utama. Bahkan boleh dikata, sedikit lebih buruk. Hampir tiada tempat yang tidak terjamah oleh api.


Mantingan memastikan bahwa tidak ada seorangpun di sana yang sekiranya masih hidup. Yang dengan kata lain, Bidadari Sungai Utara tidak ada di sini. Dan sekalipun ada, maka malang sekali nasib gadis itu.

__ADS_1


Mantingan kemudian kembali berkelebat ke bagian paling bawah kapal. Memanglah untuk kapal sebesar ini, biasanya hanya memiliki tiga lantai bagian saja; geladak utama, geladak dasar, dan geladak paling dasar di dekat lunas kapal.


Mantingan amat sangat berharap Bidadari Sungai Utara ditemukannya di kapal ini dengan tidak ada sesuatu apa pun yang kurang. Disebutkan sedemikian sebab kiranya sesal saja gadis itu hidup jikalau kehormatannya telah direngut.


Setelah berkelebat menuruni tangga, Mantingan kembali menyisir pandang ke sekitar. Bagian geladak paling dasar ini pun terbakar, tetapi tidak separah dua geladak di atasnya. Air laut setinggi pinggang orang dewasa yang masuk ke geladak ini tentunya telah memadamkan api.


“Sasmita!” Mantingan berteriak kencang. “Sasmita!”


Mantingan tidak mendapat balasan, tetapi Ilmu Mendengar Tetesan Embun menangkap suara gumaman yang setengah menggeram. Mantingan segera berkelebat ke arah suara itu, sedang air laut di geladak itu semakin meninggi!


Mantingan berhenti tepat di depan pintu sebuah ruangan. Ketika tangannya hendak meraih gagang pintu yang telah terendam air laut, Mantingan menyadari bahwa pintu tersebut telah ditanami oleh mantra sihir penjebak, maka segeralah gerak tangannya dihentikan.


“Dikaukah itu, Pahlawan Man?”


Mantingan mengerutkan dahi. Dirinya merasa telah pernah mendengar suara itu di suatu tempat.


“Hahaha! Kukira perkataan orang-orang tentang kemampuan membaca pertanda yang kaumiliki adalah sungguhan, ternyata tidak sama sekali. Bahkan engkau tidak menyadari bahwa pada saat itu daku berkeringat dingin di hadapanmu!”


“Diamlah, keparat. Sejak awal melihat cambang busuk itu, daku sudah dapat membaca tabiatmu.” Mantingan mulai mengukir mantra di atas lembar lontar. Air laut terus meninggi dengan amat sangat cepat, kini ketinggiannya telah sampai di batas pundak Mantingan.


“Untuk apakah engkau datang kemari, Pahlawan Man? Untuk menyelamatkan Bidadari Sungai Utara?” Suara itu masih pula terdengar. “Ketika melihat wajah klimis penuh sandiwara sewaktu di Penginapan Bunian Malam, daku telah tahu betul jikalau engkau sebenarnya menaruh nafsu pada Bidadari Sungai Utara!”


“Biarlah daku yang menaruh nafsu padanya.” Mantingan berkata dengan mata yang tidak teralihkan dari lontar di tangannya. “Asal bukan kau.”

__ADS_1


Orang di balik pintu itu tertawa terbahak-bahak. “Meskipun engkau telah begitu dekat dengannya, tetapi hanya kepadakulah dia terbuka!”


Mantingan menggertak giginya. Air laut telah sampai di batas dagunya. Lontar dan pengutiknya turut terbenam, tetapi Mantingan tetap dapat melanjutkan penulisan mantranya.


“Jika dikau menyentuhnya terlalu jauh, maka jangan berharap kematianmu akan mudah.” Mantingan menyelesaikan mantra pada lontarnya, lekas-lekas ia pasangkan lontar tersebut dipasangkan pada badan pintu.


Aksara-aksara bercahaya keluar dari lontar sebelum kemudian menyatukan diri pada pintu ruangan. Saat itu, tubuh Mantingan telah sepenuhnya terendam air laut.


Seluruh api di geladak itu padam. Baik yang berasal dari obor maupun dari panah berapi, semuanya padam tanpa terkecuali. Dalam seketika, kegelapan menyelimuti. Begitu pekatnya.


Sumber cahaya yang ada di geladak itu hanyalah aksara-aksara bercahaya yang dilepaskan oleh Lontar Sihir, dan baru saja aksara-aksara tersebut menghilang seolah ditelan kegelapan.


Ketika pintu di hadapannya terbuka, Mantingan langsung disambut oleh seorang pria bercambang yang melesat dengan pedang terhunus ke arahnya.


Dengan amat sangat mudah Mantingan menghindari serangan tak berdasar itu, bahkan tangannya telah berkilat menotok aliran darah pria tersebut hingga menjadi lumpuh dalam keadaan sadar. Mantingan berpikir bahwa kematian yang akan diterima pria itu cukup menyakitkan sebagai ganjaran atas perbuatannya pada Bidadari Sungai Utara.


Mantingan berenang ke dalam ruangan. Dengan memanfaatkan Ilmu Mendengar Tetesan Embun, Mantingan mampu menemukan keberadaan gadis itu di sudut ruangan, dalam keadaan terikat, dengan hampir tanpa busana, dan dengan keadaan tak sadarkan diri. Sungguh luar biasa kemampuan Ilmu Mendengar Tetesan Embun, yang pula berhasil memicu kemarahan luar biasa dari Mantingan.


Pemuda itu memotong tali yang mengikat Bidadari Sungai Utara itu dengan tangan kosong—yang telah dilapisi tenaga dalam hingga menjadi panas serta tajam.


Barulah setelah tali terlepas, dirinya memeluk tubuh Bidadari Sungai Utara untuk dibawanya berenang keluar kapal menggunakan Ilmu Ikan Menanjak Air Terjun.


Mantingan menjebol dinding kapal dengan serangan tapak anginnya yang betapa pun masih cukup berguna di dalam air seperti ini. Secepat mungkin dirinya berenang ke atas, sebab nyatanya kapal itu telah membawanya tenggelam cukup jauh ke dasaran laut.

__ADS_1


Bidadari Sungai Utara masih tak sadarkan diri. Mantingan dengan kerisauannya yang teramat dalam mengambil tindakan tepat dengan memberikannya napas buatan yang disertai oleh tenaga prana. Bukankah gadis itu juga pernah melakukan hal yang sama seperti ini? Ini adalah waktu yang tepat bagi Mantingan untuk membalasnya.



__ADS_2