
WALAU SEBENARNYALAH Bidadari Sungai Utara amat-sangat tidak sabar untuk memulai aksinya, akan tetapi sadar bahwa ia harus menyusun rencana matang-matang sebelum bertindaklah. Sebab dalam darma penyelamatan kali ini, nyawanya dipertaruhkan. Bahkan nyawa Kana dan Kina pun bisa menjadi taruhannya.
“Apa yang harus kita lakukan untuk yang pertama kali?” Maka bertanyalah Bidadari Sungai Utara dengan benar-benar.
“Mengumpulkan segala keterangan tentang musuh lalu menemukan letak markasnya, setelah itu kita harus menentukan gardu-gardu pemantauan musuh.” kata Mantingan. “Siasat perang seperti ini kupelajari dari Kitab Teratai.”
Bidadari Sungai Utara kembali mengangguk pelan. “Apakah ini akan jadi berbahaya?”
“Bisa iya, dan bisa juga tidak.” Mantingan membalas dengan nada datar. “Jika kita berwaspada, kemungkinan kita akan pulang dengan selamat bisa bertambah. Jadi kuminta pada Saudari untuk melatih kewaspadaan malam ini juga.”
“Akan daku jalankan sesuai dengan perintah.” Bidadari Sungai Utara menunduk rendah.
“Ya. Sekarang temuilah Kana dan Kina atau bantu aku memanen bunga.”
“Kana dan Kina ada di Toko Obat Wira. Ibu Wira tidak bekerja hari ini karena ingin melihat kepandaian Kana dalam berpuisi.”
Mantingan mengerutkan dahinya, ia sama sekali tidak mengetahui perkara ini. “Kana akan berpuisi?”
Bidadari Sungai Utara mengiakan sebelum berkata, “Sebenarnya dia ingin berpuisi di depan Saudara. Namun, ia mengurungkan niat setelah melihat dirimu yang sibuk. Tadi malam Kana mengutarakannya padaku.”
Mantingan menghela napas sedemikian panjangnya. Tarikan napas dan embusannya mengandung penyesalan mendalam. “Jika Kana kecewa padaku, maka itu wajar. Diriku tidak banyak memberinya perhatian. Semua kesibukan ini membuatku jadi tidak berperasaan. Bahkan sebelum kau memberitahuku, aku tidak tahu bahwa Kana dan Kina ada di Toko Obat Wira.”
“Tiada gunanya Saudara menyesal, jika tidak mau merubah diri. Temuilah Kana nanti malam. Luangkan waktu sepeminuman teh saja. Minta dirinya berpuisi di hadapanmu, dan berikanlah dia penghargaan yang pantas.”
“Ya,” katanya. “Akan daku lakukan sesuai perintah.”
__ADS_1
Bidadari Sungai Utara hanya membalas dengan senyum samar.
***
SETIAP MALAM menjemput, Mantingan akan pergi ke ruangannya untuk membaca kitab. Entah itu kitab persilatan dari Perguruan Angin Putih dan Kiai Kedai, atau Kitab Teratai.
Seperti yang sedang dilakukan Mantingan saat ini. Pemuda itu sedang membaca salah satu kitab pemberian Kiai Guru kedai. Saat itulah, terdengar suara ketukan di pintunya. Mantingan berkata tanpa mengalihkan pandangan dari kitabnya, “Masuk saja, Saudari. Pintu tidak dikunci.”
Mantingan kenal betul suara ketukan Bidadari Sungai Utara. Gadis itu tidak mengetuk pintu terlalu cepat, akan tetapi cukup kuat.
Terdengar suara derit pintu dan suara langkah kaki di atas papan kayu. Sekali lagi Mantingan berkata tanpa mengalihkan pandang, “Ada apakah, Saudari?”
“Kana dan Kina sudah pulang. Temuilah diri Kana sebelum dia masuk ke kamar.”
“Daku datang ke kamarmu ini sekaligus untuk berpamitan. Esok sore selepas pulang bekerja, diriku akan kembali ke rumah ini.”
Bidadari Sungai Utara tidak membutuhkan jawaban. Ia sudah tahu jawabannya, karena memang dirinya telah banyak kali berpamitan dengan Mantingan. Namun saat dirinya berbalik, terdengar suara Mantingan memanggilnya.
“Tunggu sebentar, Saudari.”
Bidadari Sungai Utara berbalik dengan kerut di wajahnya. “Adakah sesuatu yang penting untuk disampaikan, Saudara?”
Mantingan mengangguk sebelum beranjak berdiri dari kursinya. Pemuda itu meneruskan perkataannya sambil merapikan mejanya. “Apakah Saudari tidak keberatan jika menginap semalam di sini?”
“Tentu saja diriku tidak keberatan, tetapi untuk apakah?”
__ADS_1
Bukannya menjawab, Mantingan justru bertanya lagi, “Apakah tak mengapa jika Saudari tidak tidak tidur untuk malam ini?”
“Mohon maafkanlah jika diriku bertanya dengan pertanyaan yang sama, tapi untuk apakah aku harus melakukan itu?”
Barulah Mantingan menjawab, “Kita akan membaca kitab dan berlatih kewaspadaan malam ini.”
Bidadari Sungai Utara mengernyitkan dahinya. “Apakah harus benar-benar di sini? Diriku bisa melatih kewaspadaan di Toko Obat Wira sebelum tidur. Mengapakah harus di sini, Saudara?”
Mantingan berdeham beberapa kali sebelum akhirnya menjelaskan panjang lebar kepada gadis Champa itu. “Saudari, dengan engkau menginap di sini, maka kita bisa berlatih bersama-sama. Dalam melatih kewaspadaan, kita membutuhkan setidaknya satu rekan untuk membantu. Selain itu, daku juga ingin memberikan sedikit curahan kepada Saudari berdasarkan ilmu yang kupelajari dari Kitab Teratai. Ilmu-ilmu itu dapat diterapkan menjadi ilmu persilatan yang sangat berguna. Jadi, apakah Saudari masih keberatan?”
Setelah mendengarkan penjelasan Mantingan begitu seksama, Bidadari Sungai Utara kembali menjawab, “Daku sama sekali tidak keberatan jika harus menginap di sini, Mantingan. Hanya saja, bukankah tidak baik bagi sepasang muda-mudi tanpa hubungan apa pun saling mengobrol sampai tengah malam?”
Mantingan mengangguk paham. "Daku mengerti, itu bukanlah hal yang baik. Tapi kurasa, kita tidak punya waktu di hari esok. Dan kupikir, malam ini adalah waktu yang tepat untuk memulai pelatihan.”
Bidadari Sungai Utara terdiam. Sebenarnya dia tidak mengapa, bahkan merasa sangat senang. Namun, setelah beberapa pertimbangan dilakukannya demi menilai mana yang baik dan mana yang buruk. Ternyata yang didapatkannya adalah nilai buruk. Tidak baik baginya dan Mantingan berada dalam satu ruangan hingga larut malam. Segalanya bisa saja terjadi.
Gadis itu tentu saja mempercayai Mantingan. Karena sudah berulang kali pemuda itu menatap wajahnya, namun tidak sekalipun Mantingan menunjukkan nafsunya. Berbeda jauh dengan pria lain yang tergila-gila sejurus setelah melihat wajahnya. Mantingan adalah pria yang baik, Bidadari Sungai Utara tahu itu. Akan tetapi, apalah yang bisa diperbuatnya jika ia tak bisa mempercayai dirinya sendiri. Bagaimanakah jika dirinya yang malah merusak kehormatan diri sendiri dengan bertindak bodoh?
“Kupastikan diriku tidak berbuat macam-macam terhadap Saudari. Jika aku melakukan tindakan yang mengancam kesucian Saudari, maka engkau sangat berhak membunuhku dengan cara yang paling menyakitkan.”
Tanpa sadar, Mantingan menunjukkan kesungguhannya. Dari matanya yang tajam nan jernih itu, dapat dilihat pula ketulusannya. Dan dari perkataannya, Mantingan berhasil meyakinkan Bidadari Sungai Utara sekali lagi, bahwa dirinya adalah pemuda yang baik.
Maka Bidadari Sungai Utara tidak kehendak dan alasan untuk menolak permintaan Mantingan. “Diriku sangat senang jika Saudara mau menerimaku barang semalam di sini. Mohon maafkanlah, karena seluruh pembantahan tadi kumaksudkan untuk lebih meyakinkan diriku.”
Mantingan mengangguk, lalu berjalan melewati Bidadari Sungai Utara dan keluar ruangan. “Tunggulah di ruangan ini,” katanya sebelum pergi terlalu jauh. “Dan bacalah kitab apa pun yang engkau kehendaki.”
__ADS_1