Sang Musafir

Sang Musafir
Payung Kelopak Melati


__ADS_3

"Pasar lelang ini memang tidak menetap pada suatu wilayah saja,” kata Bidadari Sungai Utara. “Yang sedang kita lihat saat ini adalah bangunan yang dapat dibongkar-pasang.”


BIDADARI SUNGAI Utara lalu menjelaskan pada Mantingan bahwasanya bangunan itu dapat dibongkar menjadi ribuan bagian kecil. Lalu diangkut oleh puluhan gerobak kerbau.


Mantingan memberi anggukan sebagai jawaban. Tentu ia merasa cukup takjub dengan gaya bangunan di depannya itu. Terlihat semarak dengan perpaduan cahaya dari lentera dan api obor, membiaskan ukiran-ukiran beribu-ribu kisah.


“Tapi itu bukanlah ruang lelang yang sebenar-benarnya.” Perkataan Bidadari Sungai Utara membuat Mantingan menjadi bingung. “Bangunan itu hanya digunakan untuk menyimpan barang-barang yang akan dilelang. Banyak Lontar Sihir penjebak di dalam bangunan itu. Jangan berpikir untuk memasukinya tanpa izin."


Kemudian Mantingan bertanya, “Dan di manakah tempat lelang yang sebenarnya?”


“Ada di belakang bangunan itu, langsung di alam terbuka. Begitulah kebiasaannya.” Jawaban Bidadari Sungai Utara itu kembali membuatnya mengangguk.


Mereka berjalan menembus kerumunan orang-orang yang sedang menunggu acara lelang dimulai. Menurut penuturan Bidadari Sungai Utara, orang-orang itu akan berkumpul di tribun penonton jika acaranya sudah dimulai. Namun sebelum acara dimulai, mereka akan berpencar sedikit jauh dari tempat lelang untuk membeli makanan ringan atau minum-minum.


“Kita langsung masuk saja sebelum kehabisan kursi.”


Mantingan kembali mengangguk paham. Mereka semakin cepat menerobos kerumunan. Hingga sampailah mereka di lapangan lelang.


Tempat lelang merupakan sebidang lapangan yang pada pinggirannya diberi pembatas kayu. Ada tribun di luar lapangan lelang yang dikhususkan bagi para penonton. Sedangkan di dalam lapangan lelang itu sendiri, terdapat satu panggung setinggi setengah depa yang akan digunakan untuk melelang barang. Kursi-kursi kayu mengelilingi panggung itu, membentuk persegi. Sedangkan tanah di lapangan lelang itu telah dilapisi oleh tikar bambu, sehingga para tamu lelang tidak perlu bersentuhan langsung dengan tanah.


Pencahayaan di lapangan lelang juga dapat dikatakan baik. Banyak tiang lentera yang terpancang di antara kursi-kursi.


Saat ini, hanya ada beberapa kursi yang terisi oleh tamu lelang. Sisanya kosong, siap menampung tamu-tamu lainnya. Bidadari Sungai Utara mengajak Mantingan menuju meja penerimaan tamu.

__ADS_1


Petugas berkata bahwa untuk menempati satu kursi, seorang tamu harus membayar sekeping perak. Mantingan dengan mudah mengeluarkan dua keping perak, dengan maksud membayar bangkunya dan bangku Bidadari Sungai Utara. Namun gadis di sebelah Mantingan itu menolak, beralasan bahwa Mantingan tidak perlu memanjakannya lagi. Bidadari Sungai Utara membayar untuk bangkunya sendiri tanpa bisa Mantingan cegah.


Mereka masuk ke dalam lapangan lelang, memilih kursi di barisan tengah. Tidak terlalu ke belakang dan tidak pula terlalu ke depan. Mantingan dan Bidadari Sungai Utara tentu saja duduk bersebelahan, walau mereka tahu itu akan menjadi hal yang sangat canggung.


***


SUDAH BEGITU lama Mantingan menunggu. Ia mulai jengah. Lelang belum juga dimulai. Ia yakin Bidadari Sungai Utara turut merasakan hal yang sama dengannya. Mereka duduk bersebelahan, tetapi saling membisu. Tidak ada di antara keduanya yang mencoba saling berbicara. Menjadikan suasana benar-benar canggung, seolah tidak ada yang lebih canggung daripada itu.


Meskipun seperti itu, beberapa bangku sudah mulai terisi tamu-tamu lelang. Dan akan terus bertambah sampai penuh. Semakin larut, maka semakin banyak pula yang berdatangan. Secara tidak langsung, itu mengisyaratkan bahwa lelang baru akan dimulai setelah tengah malam tiba. Mantingan dan Bidadari Sungai Utara datang terlalu dini.


Saat ini, Mantingan dapat melihat para pengurus lelang mulai mempersiapkan segala macam keperluan di atas panggung. Sebuah meja panjang yang terbuat dari batu akik secara berbondong-bondong diangkat ke atas panggung. Diperlukan tenaga empat pendekar untuk mengangkatnya.


Lalu mereka juga menyiapkan panggung dan kursi untuk para tamu istimewa. Setiap kursi istimewa akan mendapatkan sebuah meja lengkap dengan buah-buahan dan sewadah tuak. Mungkin juga akan disediakan pelayan perempuan. Entah berapa yang harus dibayar untuk bisa menempati kursi-kursi di sana.


Suasana semakin ramai. Mantingan dapat melihat hanya tersisa beberapa kursi saja yang masih kosong, selebihnya telah terisi. Tribun penonton di luar lapangan lelang juga telah terisi penuh. Pembawa acara lelang juga tampak bersiap-siap di atas panggung.


Pembawa acara yang merupakan seorang wanita itu kemudian mengumumkan bahwa acara lelang akan segera dimulai.


“Sahaya Trika, akan membawakan para hadirin yang terhormat sekalian untuk mendapatkan barang istimewa dengan harga yang pantas,” kata orang itu yang kemudian Mantingan ketahui namanya adalah Trika. “Ada seratus satu barang yang akan dilelang. Dan akan ada sepuluh barang lelang teristimewa yang akan hadir di penghujung acara. Tidak perlu berlama-lama lagi, mari kita mulai lelangnya!”


Sekali lagi gong dipukul. Kali ini tidak terlalu keras. Setelah itu, para tamu bertepuk tangan dengan sopan. Sedangkan penonton di tribun bertepuk tangan sambil bersorak-sorak menyebut nama Trika, bersiap-siap memasang taruhan jika terjadi persaingan sengit antartamu lelang.


Dua orang masuk ke dalam lapangan, menggotong sebuah peti panjang. Para tamu melihat mereka sekilas, penasaran dengan barang apa yang dilelang. Peti panjang itu kemudian diletakkan di atas meja batu akik, lalu dua orang tersebut pergi meninggalkan lapangan.

__ADS_1


Trika terlihat membuka tutup peti, mengeluarkan barang yang ada di peti. Setelah melihat barang, Mantingan mendengar riuh bisikan dari para tamu lelang. Mantingan mencermati barang itu dengan seksama. Sebuah payung berwarna putih cerah, yang jelas merupakan sebuah senjata pusaka. Namun, Mantingan tidak mengetahui apa yang membuat para hadirin lelang riuh berbisik.


“Seperti yang telah diketahui para hadirin sekalian, ini adalah Payung Kelopak Melati. Pemilik pusaka ini telah meninggalkan dunia sekaligus pusakanya. Pendekar Payung Sakti terbunuh dalam suatu pertarungan. Pendekar yang mengalahkan beliau telah menjual Payung Kelopak Melati kepada badan pelelangan kami.”


Dengan begitu, Mantingan bisa mengetahui duduk perkara yang terjadi. Diam-diam, Mantingan memakai sedikit tenaga dalamnya untuk merapalkan ilmu pendengaran tajam. Dapat ia dengarkan percakapan para hadirin tentang Pendekar Payung Sakti.


“Pendekar itu pantas mati. Dia tidak ada ubahnya dengan wanita ******. Daku tahu Pendekar Payung Sakti memang cantik nan mempesona, tetapi kelakuannya yang macam hewan hutan itu telah membuatku membencinya!”


Lalu Mantingan dengar percakapan lainnya.


“Daku pernah bersinggungan dengan Pendekar Payung Sakti. Seperti yang telah daku dengar dari kabar burung, pendekar itu memang sangat cantik. Aroma tubuhnya dapat kucium dengan jelas, aroma melati! Tapi setelah kuingat bahwa dirinya selalu membunuh pria yang berhubungan dengannya, daku jadi tak berani dekat-dekat.”


“Pusaka itu sangat berharga, aku merasa harus membelinya, tapi mengapa Trika belum memasang harga?”


Lalu terdengarlah suara Trika, si pembawa acara lelang. “Karena banyak yang tidak menyukai Pendekar Payung Sakti, dan karena ini adalah barang pertama yang dilelang, maka untuk Payung Kelopak Melati kubuka harganya mulai dari sekeping perunggu.”


“Sekeping emas!” Ada yang menawar.


“Dua keping emas!”


“Empat keping emas!”


“Kalian semua gila, seratus keping emas!”

__ADS_1


“Dua ratus keping emas!”


“Lima ratus keping emas!”


__ADS_2