Sang Musafir

Sang Musafir
Banjir Darah di Pelabuhan Angin Putih


__ADS_3

Dua sahabat yang telah saling mengangkat diri menjadi saudara itu nyatanya harus berpisah menempuh jalannya masing-masing.


“Jadi Bapak ada di sini karena mendukung pemberontak?”


“Kami para pendukung setia Salakanagara, akan merasa sakit hatinya jika disamakan dengan para pemberontak. Kami adalah pejuang tanah pribumi, hendak mengembalikan kekuasaan yang semesti-mestinya ada di tanah ini.”


“Cara Bapak dengan menyebarkan kegaduhan dan kerisauan seperti ini tetaplah bukan sesuatu yang dapat dibenarkan.”


***


MANTINGAN mengembuskan napas panjang, sebelum berkata penuh sesal pula, “Jikalau begitu, memang tidak ada pilihan lain bagi sahaya selain untuk menghentikan Bapak.”


Mantingan menyiapkan kuda-kuda menyerang. Pedangnya dihunus ke depan, berkilau-kilauan mata bilahnya.


“Tiada kusangka engkau masih hidup, Guru.”


Mantingan yang baru saja hendak berkelebat itu harus terhenti gerakannya sebab mendengar sebuah suara di belakangnya.


Mantingan tidak akan menoleh ke belakang sebab itu sama saja berarti membiarkan dirinya lengah di hadapan musuh yang siap menyerang kapan saja, tetapi hanya butuh dipasangnya Ilmu Mendengar Tetesan Embun untuk mengetahui wujud orang yang berkata seperti itu.


Betapa setelahnya ia merasa terkejut, tetapi pula bergembira.


Sosok itu berjalan mendekat hingga berhenti di samping Mantingan. Jubah kuningnya berkibar-kibar diterpa angin malam. Terlihat Cagak Kesatu di seberang sana menjadi terkejut.


“Wahai Mantingan, sudah sangat lama kita tidak bersua.” Satya berkata lembut kepada pemuda di sebelahnya. “Maafkanlah diriku yang harus mencampuri urusan ini.”


Mantingan menganggukkan kepalanya pelan sambil tersenyum di balik topengnya.


Sesaat setelah itu, terdengarlah suara Cagak Kesatu yang menggelegar. “Muridku Satya, terkejutkah dikau?”


Satya membalas dengan lantang pula, “Kulihat dari sini bahwa engkaulah yang jauh lebih terkejut ketimbang diriku.”


“Oh ... bagaimanakah diriku tidak merasa terkejut jika melihat seorang murid durhaka masih berani menunjukkan batang hidung di depan gurunya?”


“Ketahuilah bahwa diriku datang ke tempat ini bukan untuk meminta belas maaf kepadamu. Apa yang telah kuperbuat kepadamu tak akan kusesali. Diriku di sini hanya untuk memastikan bahwa engkau tidak akan lolos dari kematian untuk yang kedua kalinya.”

__ADS_1


Mantingan menarik napas panjang. Segalanya seolah terasa terang-bederang di matanya. Namun, Mantingan tidak sampai mengeluarkan tanggapan yang menyatakan bahwa dirinya terkejut, sudah terlalu banyak kenyataan yang mengejutkannya hari ini.


“Engkau di sini untuk mencoba membunuhku lagi, Satya?” Terdengar kekehan dari Cagak Kesatu yang perlahan-lahan menyeruak menjadi gelegar tawa yang amat mengerikan. “Jadi engkau tidak pernah benar-benar menyesali perbuatanmu? Hahahahaha!”


Telah dapat dipastikan bahwa Satya akan ikut menempur Cagak Kesatu yang merupakan gurunya itu.


Mantingan mengingat bahwa Satya pernah bercerita tentang gurunya yang terpaksa dibunuhnya. Jika saja cerita itu benar, tetapi melihat gurunya masih hidup di sini, maka Mantingan sulit menduga sebesar apakah kemampuan Cagak Kesatu.


Menipu seseorang dengan berpura-pura mati bukanlah hal yang mudah di dalam dunia persilatan.


“Diriku tidak ingin terlalu banyak bercakap-cakap lagi,” kata Satya pada akhirnya. Terlihat tangannya meraih beberapa lembar Lontar Sihir dari dalam kantung jubahnya. “Mantingan, mari kita bekerjasama.”


“Kalian ingin menyerangku berbarengan sedang diriku sama sekali tidak menyetujuinya?” Cagak Kesatu berkata dengan nada sinis.


Mantingan melirik Satya di sebelahnya tanpa menarik mundur kuda-kudanya. Tampak bahwa Satya pun masih berpikir untuk mengambil tindakan.


Setelah beberapa lama, barulah Satya menjawab, “Baiklah. Biar diriku yang menyerangmu terlebih dahulu seorang diri.”


Lagi-lagi Cagak Kesatu terkekeh. “Nah, kemarilah! Biar diriku beri pelajaran terakhir kepada muridnya! Kemarilah!”


Satya lalu menoleh pada Mantingan sebelum tersenyum tipis. “Mantingan kawanku, janganlah engkau bertindak membantu diriku apa pun yang terjadi nantinya. Kuharap ini bisa menjadi jalan kesempurnaan untukku.”


Setelah Satya melesat pergi dari atap bangunan itu, Mantingan pula segera berkelebat pergi.


Ditujunya Pasukan Macan Gunung yang kini hampir menguasai bangunan Penginapan Bunian Malam.


Meskipun jumlah mereka telah berkurang amat sangat banyak daripada sebelumnya, Pasukan Topeng Putih pun tidak tersisa cukup banyak untuk menahan seluruh gempuran musuh.


Ketika melihat Mantingan datang, para pendekar dari Kelompok Pedang Intan mengumpat keras.


“Sialan, dia datang lagi!”


“Tidak ada pilihan lain, kita harus menghadapinya!”


Mantingan tersenyum samar sebelum mulai memainkan Jurus Seribu Rembulan Melahap Bintang untuk membasmi pendekar-pendekar musuh yang tersisa.

__ADS_1


Segenap dari mereka tiada berdaya ketika Mantingan tiba di dekatnya. Hanya butuh satu kejapan mata bagi pemuda itu untuk menumpas selusin dari mereka. Seolah tanpa halangan sama sekali.


Dan hanya dibutuhkan waktu sepeminuman teh bagi Mantingan untuk menghabisi seluruh Pasukan Macan Gunung yang ada di sana tanpa sisa barang senyawa pun. Ketika itulah, pelabuhan mendadak menjadi tempat yang amat sunyi dan mencekam.


Mantingan berdiri di halaman penginapan dengan pedangnya yang masih bercahaya terang. Di sekitarnya bergelimpangan mayat-mayat. Kakinya menginjak becekan, yang bukan becekan air hujan maupun air pasang dari laut, melainkan cairan darah. Begitulah keadaan yang sungguh tepat jika disebut sebagai banjir darah.


Napas Mantingan naik-turun dengan cepat. Pandangannya menatap kosong. Berapa banyakkah nyawa manusia yang telah ia habisi malam ini? Berapa banyakkah dosa yang telah diperbuatnya?


Lihatlah betapa banjir darah dan tumpukan mayat itu sebagian besar disebabkan oleh dirinya.


Anyir darah seharusnya tercium begitu pekat, tetapi penciumannya telah terbiasa dengan aroma itu. Menandakan betapa Mantingan merupakan pembunuh yang sebenar-benarnya.


Mayat-mayat manusia bergelimpangan sedemikian tingginya hingga membentuk suatu gunungan, sesuatu yang tidak pernah terjadi dalam kehidupan hewan yang teramat bodoh sekalipun!


Kini terasa benar apa kata gurunya kepadanya saat malam perpisahan di dalam gua:


“Ketika engkau berdiri di antara gunungan mayat manusia; sedang telapak kakimu tergenang darah manusia yang tiada tersirap tanah, di situlah akan engkau pahami arti dari jalan persilatan.”


Begitulah jalan persilatan yang nyatanya selalu sunyi, sepi, dan penuh dengan darah.


Bagaimanakah tidak sunyi jikalau setiap keramaian hanya akan berujung pada pembantaian?


Bagaimanakah tidak sendirian jikalau tidak ada seorangpun di dunia persilatan yang dapat diberi kepercayaan?


Bagaimanakah tidak penuh dengan darah jika setiap pendekar menuntut pertarungan sampai mati?


“Dapatkah peraturan gila ini diubah?” Mantingan berkata pada dirinya sendiri. “Jika dapat, bagaimanakah caranya?”


Empat tahun yang lalu, Mantingan hanyalah seorang pemuda kurus, naif, lemah, pengecut, miskin papa, atau sebutan apalah yang pantas kiranya disematkan pada namanya. Tetapi pemuda yang tampak seperti sebuah kesalahan dunia itu sebenarnya jauh-jauh lebih baik ketimbang seorang pembunuh gila seperti saat ini.


“Sekali engkau terjun ke dunia persilatan, maka akan sangat sulit engkau keluar dari padanya. Tanpa sadar, engkau akan terus menyelam ke dalam.”


Kiai Guru Kedai mengibaratkan dunia persilatan sebagai samudra luas yang tiada berdasar dan tiada berujung.


“Jalan persilatan bukanlah seperti mendaki gunung tinggi,” katanya pada saat yang sama. “Melainkan seperti menyelam ke samudra tak berdasar dan tak berujung. Semakin engkau menyelam ke dalam, semakin engkau sadar bahwa telah terlambat untuk kembali ke permukaan, sehingga engkau akan terus menyelam hingga mati kehabisan napas.”

__ADS_1


Mantingan menarik napas panjang.


“Pembunuhan dalam dunia persilatan dianggap sebagai sebuah jalan kesempurnaan; tetapi dalam kehidupan igama, pembunuhan justru dianggap sebagai dosa terkejam jika yang dibunuh bukanlah yang semestinya harus dibunuh; dan dalam kehidupan kenegaraan, pembunuhan yang tidak memiliki alasan jelas akan diterapkan hukum nyawa dibalas nyawa.”


__ADS_2