
MANTINGAN merasakan suatu daya yang menekannya dengan begitu hebat dari depan. Pedang Kiai Kedai melengkung bagaikan sebuah busur sebab mesti menahan kekuatan yang sebenarnyalah terlalu besar untuk dapat ditahannya.
Tak ayal sesaat kemudian tubuh Mantingan terempas jauh ke belakang. Tiada ampun menghantam lautan yang kini tampak amat sangat keras. Mantingan tenggelam dan tenggelam, terus meluncur ke bawah tanpa ada yang menahannya.
Tidak dapat dibayangkan sebesar apa rasa sakit yang Mantingan rasakan di punggungnya. Pedas dan panas, menusuk hingga ke tulang-tulangnya. Namun belum sempat Mantingan meredakan rasa sakit, serangan kembali datang menerjang!
Mantingan segera memanfaatkan Ilmu Ikan Menanjak Air Terjun untuk menghindari terjangan Tapak Dewa Pembelah Laut yang dikirimkan oleh Cagak Keenam dari atas permukaan. Beruntunglah ilmu yang ia pelajarinya bersama Kiai Guru Kedai di bawah terpaan air terjun empat tahun lalu itu mampu membawa tubuhnya menjauh dari serangan tersebut sebelum terlambat.
Mantingan memilih untuk tidak langsung berenang naik ke atas permukaan, sebab itu akan langsung membuatnya menjadi bulan-bulanan Cagak Keenam serta pendekar-pendekar lainnya yang telah menunggu di sana.
Mantingan melesat cepat di dalam air dengan Ilmu Ikan Menanjak Air Terjun. Meskipun melesat di bawah dalam air sama sekali tidak secepat ketika melesat di daratan, tetapi tetap saja bukan hal yang mudah bagi Cagak Keenam untuk mengejar Mantingan. Sebab betapa pun, sangat sulit melacak keberadaan suatu benda di dalam air, lebih-lebih jika benda tersebut bergerak cepat di balik kelamnya lautan.
Benar saja, Cagak Keenam hanya berputar-putar tidak tentu arah sambil terus melancarkan serangan Seribu Tapak Dewa Penyirap Jiwa secara membabi-buta. Tampak air wajah pendekar sepuh itu amat sangat geram.
Jika Cagak Keenam kesulitan melihat ke dalam lautan gelap, maka hal itu justru berbanding terbalik dengan Mantingan, yang mampu dengan amat sangat mudah melihat segala benda bercahaya di atas permukaan.
Kedudukan Mantingan saat ini sangat menguntungkan. Disebabkan bunyi akan merambat jauh lebih cepat serta jelas di kedalaman air ketimbang di atas permukaan, maka Mantingan pula mampu mengetahui segala pergerakan di permukaan air, lebih-lebih lagi dirinya menggunakan Ilmu Mendengar Tetesan Embun yang nyatanya masih dapat berguna di dalam lautan.
Namun, terus-terusan bergerak di bawah permukaan air bukanlah tanpa tanggungan tersendiri. Sebab biar bagaimanapun, Mantingan adalah manusia dan bukannya ikan. Dirinya harus mengambil udara di atas permukaan jikalau tidak ingin mati lemas.
Dan pula, berenang di dalam lautan luas, gelap, dan sunyi, membuat suatu suasana yang menakutkan bahkan bagi Mantingan sekalipun.
Mantingan harus segera menemukan letak keberadaan Cagak Keenam sebelum kemudian menyerangnya dari bawah.
Dari bawah air dan dengan Ilmu Mendengar Tetesan Embun, Mantingan dapat mendengar riak air yang diciptakan Cagak Keenam dari tapakan kakinya. Tidak menunggu lebih lama lagi, Mantingan melesat cepat ke asal suara tersebut dengan berandalkan Ilmu Ikan Menanjak Air Terjun.
__ADS_1
Ketika dirinya telah dirasa cukup dekat dengan Cagak Kesatu, ia melambatkan laju. Janganlah sampai keberadaannya diketahui pendekar itu ketika jaraknya telah begitu dekat. Sebab betapa pun, amat sangat tidak mudah baginya menghindari serangan ketika masih ada di atas permukaan ketika dirinya masih berada di bawah permukaan ....
Kini telah nampak wujud Cagak Keenam yang melesat di atas air. Pendekar itu tidak lagi menyerang dengan membabi-buta, ini adalah waktu yang tepat bagi Mantingan untuk menyerangnya.
Mantingan mengangkat Pedang Kiai Kedai sebagai langkah persiapan untuk menghunjam Cagak Keenam dari bawah. Namun, matanya tiba-tiba membeliak tak percaya. Jantungnya seolah berhenti untuk sekian kejap mata.
Dapat dilihat Pedang Kiai Kedai yang telah hancur di bagian tengahnya, setengah patah!
Mantingan kemudian teringat betapa dirinya telah menggunakan pedang tersebut untuk menahan Jurus Tapak Dewa Membelah Laut yang dilancarkan Cagak Keenam kepadanya.
Awalnya Mantingan mengira bahwa menahan serangan itu tidak akan berpengaruh sama sekali terhadap pedangnya, sebab betapa pun dirinya telah mengaliri pedang itu dengan tenaga dalam yang berjumlah besar.
Pedang Kiai Kedai telah rusak. Itu adalah kenyataan yang teramat sangat pahit, tetapi Mantingan harus menerimanya dengan tabah. Pedang Kiai Kedai bukanlah sebuah senjata pusaka, hanya sekadar pedang berkualitas sangat tinggi yang tetap saja bukan pusaka.
Mantingan memandangi Pedang Kiai Kedai. Kemungkinan, pedang tersebut akan benar-benar patah menjadi dua setelah dihantam beberapa kali lagi. Tetapi dengan tenaga dalam Mantingan, pedang itu masih cukup mematikan untuk Cagak Keenam. Dirinya pula memiliki rencana untuk dapat membunuh pendekar itu.
Maka begitulah Mantingan kembali meluncurkan tubuhnya ke arah Cagak Keenam, kali ini dengan kecepatan penuh. Pedang Kiai Kedai yang telah rusak itu terhunus ke depan, seolah mengisyaratkan bahwa pedang itu akan mengabdi pada pemiliknya dalam keadaan seperti apa pun!
Mantingan melesat keluar dari bawah permukaan air. Cagak Keenam yang agaknya sama sekali tidak berwaspada itu tampak tidak pula menyadari bahwa Pedang Kiai Kedai telah tepat berada di belakang punggungnya.
Pedang Kiai Kedai terus melaju dan melaju, hingga pada akhirnya menancap tepat di punggung Cagak Keenam hingga tembus ke dada.
Mantingan tersenyum lebar-lebar. Mengira bahwa pertarungannya dengan Cagak Keenam telah berakhir, dan dirinya bisa segera menemukan serta menyelamatkan Bidadari Sungai Utara, sehingga gadis itu bisa melanjutkan perjalanannya ke Champa untuk menikah dengan kekasihnya. Rusaknya Pedang Kiai Kedai dirasa telah terbayar tuntas.
Akan tetapi, senyuman itu menghilang berbarengan dengan tubuh Cagak Keenam yang meleleh menjadi air. Jatuh dan menyatu dengan lautan.
__ADS_1
Mantingan memendaratkan kakinya di atas sebidang papan kayu dari kapal yang hancur. Raut wajahnya jelas menunjukkan keheranan yang teramat sangat.
“Jurus macam apa itu?” Mantingan bertanya pada dirinya sendiri sambil memandang ke sekitar dengan cepat.
“Engkau bertanya jurus apakah yang sedang kupakai saat ini, wahai Pahlawan Man?”
Kepala Mantingan menoleh ke sebelah kanan, menemukan Cagak Keenam yang setengah tubuhnya menyembul dari permukaan air. Dalam siraman cahaya api dari kapal yang terbakar, pria tua itu tampak tersenyum lebar.
“Benarkah engkau hendak mengetahuinya, Pahlawan Man?” Suara lain muncul, dari arah sebaliknya. Mantingan menoleh dan menemukan Cagak Keenam yang pula menyembul setengah tubuhnya dari permukaan air, terombang-ambing diempas ombak.
“Inilah jurus yang kupakai, wahai Pahlawan Man!”
Suara lain muncul, di tempat lain pula. Tetapi kali ini, Mantingan tidak perlu menolehkan kepala untuk mengetahui pemandangan seperti apakah yang akan dilihatnya.
“Inilah Jurus Seribu Dewa Membayang-Bayang Manusia!”
___
catatan:
Tiga chapter untuk malam Minggu ini.
Bagi para jomlowan dan jomlowati yang stay at home selalu, sedaripada memikirkan doi yang tak akan menjadi milikmu, lebih baik baca Sang Musafir aja!
__ADS_1