
“Aku tidak merasa Perguruan Angin Putih adalah perguruan sesat. Dan jika memang perguruan itu sesat, daku tidaklah mengapa mengikuti mereka, tetapi aku sangat yakin Perguruan Angin Putih tidak sesat.”
Bukan tanpa alasan Mantingan berkata seperti itu. Telah dibacanya Kitab Tapak Angin Darah, kitab itu tidak mengajarkan seseorang menuju sebuah kesesatan, bahkan kitab itu mengandung banyak pelajaran yang sangat berarti. Pelajaran-pelajaran itu setidikpun tidak menyesatkan, justru pelajaran-pelajaran itulah yang dapat membuat manusia menjadi manusia sejati dan bukan menjadi hewan buas. Berita apakah yang dikarang hingga orang-orang percaya bahwa Perguruan Angin Putih adalah perguruan sesat?
Dara bergerak cepat dari tempatnya ke depan meja yang tadi digunakan Mantingan untuk membaca, lalu Dara menyalakan api di lentera atas. Sudah barang tentu kamar menjadi terang akibat lentera itu, maka terlihatlah lima orang yang berdiri di hadapan Mantingan. Lima orang berseragam putih-putih, tersoren pedang putih di pinggang mereka. Tetapi Mantingan tidak dapat melihat wajah mereka, sebab mereka semua mengenakan topeng yang menutupi seluruh wajah. Topeng yang mereka kenakan sendiri memiliki rupa seperti topeng-topeng yang biasa digunakan penari pentas, memiliki tampang lucu, tetapi Mantingan tahu bahwa mereka tetap berbahaya meskipun mengenakan topeng lucu sekalipun.
Dara rupanya sedang membaca lembar lontar dari Kitab Tapak Angin Darah, sorot matanya begitu tajam, ia membacanya dengan cepat untuk segera mengetahui apa yang membuat Mantingan dapat berpikir seperti itu. Tak lama kemudian terdengar helaan napas dari Dara, gadis berpakaian terbuka itu berbalik dan menatap orang-orang di kamarnya.
“Apa sudah bulat keputusan engkau itu, Mantingan?” tanya Dara padanya, dibalas dengan anggukan. “Kalau begitu, aku tidak bisa menahan engkau.”
“Apakah Nyai akan sebarluaskan ....”
“Tidak.” Dara segera menggeleng. “Tidak akan aku beritahukan pada yang lain, sampai aku tahu yang sebenarnya.” Dara tersenyum, mengulurkan pedangnya pada Mantingan. “Sesuai dengan ketetapan, engkau dapatkan pedang ini, dan di antara kita tiada tersisa hutang.”
Mantingan mengangguk pelan, menerima pedang itu dengan khidmat.
__ADS_1
“Jaga baik-baik pedang itu, dan jaga juga dirimu baik-baik.” Dara tertawa pelan. “Andai kau tahu, hanya engkau saja yang bisa bersikap begitu dingin padaku, aku tidak pernah diperlakukan seperti ini oleh orang lain. Tapi ini tidak terlalu buruk.”
Mantingan membalasnya dengan senyum tipis.
Maka berangkatlah Mantingan dan lima pendekar dari Perguruan Angin Putih itu setelah mengambil buntelan dan pundi-pundinya. Mula-mula mereka keluar dari jendela, yang ternyata di sana telah ditambatkan seekor kuda yang dikhususkan untuk Mantingan, lekas Mantingan menaiki kuda itu berdasarkan arahan dari salah satu pendekar, sedangkan lima pendekar lainnya akan berlarian menggunakan ilmu meringankan tubuh di atap-atap rumah atau di dahan pohon. Mantingan akan diarahkan melalui bisikan-bisikan yang disalurkan pada angin.
Dikekang kudanya, lima pendekar itu menghilang seketika menjadi kelebatan-kelebatan putih.
Mantingan berhasil keluar kota dengan mudah setelah menunjukkan pengenal diri. Udara benar-benar dingin saat ia melesat di antara gunung-gunung serta perbukitan. Untung tiada angin yang bersemilir biarpun sedikit, atau udara akan tambah dingin dari itu.
Lima pendekar Perguruan Angin Putih terus bergerak di belakang Mantingan dan mengarahkan jalan Mantingan dengan bisikan. Cahaya rembulan paling banyak membantu dalam hal ini, ia dapat memberikan cahaya lembutnya agar Mantingan tidak salah memilih jalur.
Mantingan berhasil keluar dari wilayah pegunungan dan terus bergerak ke arah barat. Jalan-jalan mulai bercabang, semakin banyak bisikan yang disalurkan ke udara untuk Mantingan. Lalu jalanan mendaki dengan curamnya, sampai Mantingan berpikir kuda ini akan menabrak jalan yang bagai tembok itu, tetapi kuda putihnya secara ajaib dapat mendaki jalanan itu dengan sangat cepat. Kuda itu melayang terbang sesaat setelah menyelesaikan jalan mendaki curam itu, tubuhnya kembali terjatuh ke bawah, di jalanan yang menurun tak kalah curamnya.
Andaikata ini adalah siang hari, maka barang tentu Mantingan akan melihat bahwa jalur yang baru saja dilaluinya adalah tebing kapur yang berdiri bagaikan benteng, tetapi di malam hari ini Mantingan hanya dapat menduga-duga saja tentang jalan apa yang baru saja dilaluinya.
__ADS_1
Setelah itu jalanan menjadi rata kembali, pepohonan kembali rimbun. Perlahan Mantingan dan kudanya memasuki kawasan hutan kabut tebal. Kali ini Mantingan merinding, bukan karena takut, tetapi karena dingin yang sungguh tidak bisa ditawar. Terlebih lagi Mantingan lupa memasang jubah pada badannya, hingga dengan pakaian lengan pendek itu seperti menantang maut.
Mantingan pernah mendengar tentang orang-orang yang mati akibat udara terlampau dingin. Mula-mulanya orang itu hanya menggigil, lalu akan berubah jadi kantuk berat, dan tiba-tiba saja nyawanya melayang. Maka dari itu, Mantingan menjaga agar matanya tetap terbuka walau tidak mengantuk sekalipun.
Akibat kabut yang semakin tebal, baju Mantingan mulai basah. Mantingan yang awalnya hanya merinding kini menggigil hebat. Kudanya terus menderap tanpa di bawah kendali Mantingan, seolah matanya dapat menembus kabut, dan seolah ia sudah hapal jalan yang dilaluinya.
Jari-jari Mantingan rasanya sangat kaku, dan Mantingan yakin napasnya kali ini mengeluarkan uap dingin. Perlahan rasa kantuk mulai merayap, segera Mantingan mengambil tindakan dengan menjewer telinganya sendiri agar tidak tidur dan mati.
Orang-orang berkata, tidur sebentar saja pada kondisi seperti ini akan langsung mengantarkan manusia ke alam baka.
Sebagai seorang pengembara yang cukup berpengalaman, Mantingan pernah mengalami situasi yang serupa satu kali. Saat itu dirinya berada di kaki gunung pada malam hari, tiba-tiba saja hujan mengguyur dan Mantingan nekat menerobos hujan. Tak berapa lama Mantingan menggigil hebat, rasa kantuk juga merajainya dulu, tetapi syukur saja rasa dingin menghilang saat hujan berhenti dan pakaiannya kering.
Tetapi di situasi seperti ini jelaslah berbeda, di mana-mana terdapat kabut dingin, dan Mantingan terus menabrak kabut itu. Terlebih dingin kali ini jauh lebih dingin ketimbang dingin di kaki gunung waktu itu. Maka saat ini kantuknya datang jauh lebih cepat dan jauh lebih hebat.
Semakin keras Mantingan menjewer telinganya, tetapi tangannya tidak dapat merasakan telinga itu lagi. Jari-jari kaki dan tangan Mantingan benar-benar mati rasa. Gigi Mantingan terus bergetar, menggertak satu sama lain. Mata Mantingan sesekali terpejam untuk waktu yang tidak sebentar. Ia mulai dilanda kekhawatiran.
__ADS_1
Mantingan khawatir, pendekar-pendekar yang ada di belakangnya tidak menyadari bahwa Mantingan saat ini berada dalam bahaya besar, dan bisa saja mereka menganggap Mantingan adalah manusia yang kuat, sehingga tidak memerlukan pertolongan.
Saat-saat terakhir itulah kabut mulai menipis, sampai dapat kembali melihat pepohonan di sekitar. Tentu dengan menipisnya kabut, udara dingin juga menipis. Kuda masih terus menderap; Mantingan kembali merasakan jari-jarinya, gigil di tubuhnya juga mereda.