Sang Musafir

Sang Musafir
Enam Pilar Intan


__ADS_3

LAGI-lagi Mantingan merasa tersentuh oleh kebaikan yang Dara berikan. Tentunya gadis sama sekali tidak perlu mengadakan lelang di Pelabuhan Angin Putih. Bahkan boleh dikata, menggelar acara lelang di pelabuhan yang terlalu sibuk ini justru akan mendatangkan kerugian besar.


“Terima kasih, Dara. Kebaikanmu ini sungguh tidak ada harganya.” Mantingan tersenyum tulus.


“Ingatlah bahwa engkau pernah menyelamatkan nyawaku, Mantingan.” Dara mengibaskan tangannya sambil tersenyum canggung. “Yang aku lakukan ini sama sekali tidak seberapa.”


Begitu Dara selesai berkata, terciptalah suasana hening. Perlahan keheningan itu mencipta kecanggungan. Mantingan dan Dara pun sama-sama tersenyum penuh kecanggungan.


“Engkau tidak minum arak itu, Mantingan?” Dara bertanya setelah lama terdiam, meskipun pertanyaannya itu terdengar terlalu dipaksakan.


“Tidak.” Mantingan menggeleng pelan. “Daku membeli arak itu untuk tidak memunculkan kecurigaan.”


Apa yang Mantingan katakan memang benar. Bukankah akan amat sangat mengundang kecurigaan jikalau mereka datang ke kedai tuak tanpa memesan tuak sama sekali?


Dara menganggukkan kepalanya. Dalam benak, ia merasa senang karena dugaannya salah besar.


“Engkau sudah sarapan, Mantingan?” Dara kembali membuka pertanyaan.


Mantingan menggeleng. “Belum. Tadinya aku memesan makanan di lantai pertama Penginapan Bunian Malam, tetapi terjadi pembunuhan di dapur yang agaknya cukup mengenaskan. Pelayan datang dan berkata padaku bahwa seluruh hidangan tidak dapat dimakan.”


Dara menahan napasnya. Penjelasan Mantingan cukup mengejutkannya dan sekaligus menciptakan banyak dugaan dalam benaknya. “Mantingan, aku khawatir jikalau pembunuhan itu memiliki sangkut pautnya dengan orang-orang jaringan bawah tanah persilatan.”


“Kekhawatiranmu memang tidak salah, Dara ....” Mantingan kemudian menjelaskan suatu peristiwa yang mengakibatkannya harus membunuh empat pendekar dari Kelompok Pedang Intan kemarin hari.


Begitu Mantingan selesai menjelaskan, Dara menghela napas begitu panjangnya. Berharap dengan menghela napas itu dapat membuang sedikit beban pikirannya. Memijat keningnya, Dara mulai memikirkan dampak besar seperti apakah jika mereka harus berurusan dengan Kelompok Pedang Intan.

__ADS_1


“Aku yang membunuh mereka, maka aku pula yang akan bertanggungjawab atas apa yang menimpa di kemudian hari. Dara, engkau telah memberikan banyak bantuan kepada, masalah seperti ini tidak perlu kaupikirkan.” Mantingan berusaha menenangkan Dara.


Sambil menyandarkan punggungnya pada kursi, Dara menggeleng pelan. “Entahlah, Mantingan, aku hanya merasa harus memikul sedikit beban yang kaupikul pula.”


“Terima kasih atas perhatiannya, Dara.” Mantingan tidak melunturkan senyumannya. “Tetapi sungguh, kau tidak perlu mengotori tangan hanya untuk urusan seperti ini. Ini juga akan sangat berbahaya bagi dirimu jika sampai terlibat terlalu jauh.”


Dara tetiba saja menatapnya lamat-lamat dengan matanya yang tampak sayu. “Mantingan, kau tidak mengetahui seberapa besarnya masalah yang sedang engkau hadapi saat ini.”


Mantingan mengerutkan dahi saat melihat wajah Dara yang menampilkan keresahan berlebih. Ia yakin bahwa Data yang sekarang bukan lagi jenis orang yang mudah resah tanpa alasan yang telah jelas rupanya. Maka bertanyalah ia untuk memastikan, “Seberapa besar masalahnya, Dara?”


“Sangat besar, Mantingan,” kata gadis itu sambil meremas jari-jemarinya. “Kelompok Pedang Intan memiliki enam pendekar terkuat yang menjadi pilar pembangun bagi kelompok itu. Keenam pendekar itu disebut sebagai ‘Enam Pilar Intan’. Kekuatan mereka tidak diketahui secara pasti, sebab tidak ada yang pernah keluar hidup-hidup setelah berhadapan dengan mereka. Mungkin kaubisa menghadapi satu-dua dari mereka dan keluar hanya dengan luka parah, tetapi kurasa tidak akan bisa jika harus menghadapi mereka semuanya sekaligus.”


Mantingan memang telah mendengar tentang Kelompok Pedang Intan dari Kiai Guru Kedai, tetapi soal perkara enam pendekar terkuat itu, ia belum pernah didengarnya.


“Aku tidak ingin engkau celaka, Mantingan. Dan Bidadari Sungai Utara tidak boleh mati di sini, itu akan menimbulkan sesuatu yang amat sangat buruk pada Yawabhumi dengan Champa. Hindarilah berurusan dengan pendekar-pendekar dari Kelompok Pedang Intan. Sebisa mungkin, hindarilah!”


“Akan kuingat selalu peringatanmu ini, Dara.”


“Dan berharaplah enam pendekar itu tidak sampai turun tangan.”


Mantingan mengangguk pelan. Tetapi ia lebih suka bertindak langsung ketimbang berharap. “Jika enam pendekar itu sampai turun tangan, maka aku sendiri yang akan menghadapi mereka. Keselamatan Bidadari Sungai Utara tidak akan kuganggu-gugat.”


“Mantingan, mengertilah bahwa mereka bukanlah sekumpulan pendekar yang dapat kauhadapi sendirian. Mintalah bantuan pada teman-teman pendekarmu yang bisa kauandalkan.”


Mantingan terdiam sejenak untuk berpikir. Siapakah teman-temannya yang dapat ia andalkan? Jika dipikir-pikir lagi, Mantingan tidak mempunyai banyak teman. Selain Satya, Rama, dan Bidadari Sungai Utara, siapakah lagi yang dapat diandalkannya jikalau Enam Pilar Intan itu sampai datang menuntut balas atas kematian empat saudara seperguruannya?

__ADS_1


Sangat tidak memungkinkan pula jika ia meminta batuan pada gurunya yang saat ini telah entah berada di mana.


“Aku tidak memiliki banyak teman.” Pernyataan pahit itu diiringi senyuman yang pahit pula. Memang bukan salahnya jika ia tak memiliki banyak teman, sebab betapa pun dunia persilatan merupakan sebuah jalan yang amat sepi.


“Sebenarnya tidak harus benar-benar temanmu juga, Mantingan. Di luar sana, banyak kelompok dan perguruan silat aliran putih yang menyatakan bersedia mendukungmu jika membutuhkan bantuan. Hal itu mereka sampaikan di dalam rapat darurat Tarumanagara yang berlangsung dua bulan lalu. Engkau hanya perlu meminta mereka saja ....”


Awalnya Dara mengira bahwa Mantingan akan mengembuskan napas lega setelah mengetahui hal itu, akan tetapi tidak sedikitpun terlihat kelegaan di raut wajah Mantingan. Sebaliknya, pemuda itu hanya mengangguk pelan dan tersenyum santai.


“Aku akan meminta bantuan pada mereka jika memang diperlukan. Tetapi sebisa mungkin, akan aku atasi masalah ini sendirian.”


Dara kembali menghela napas. Dia merasa Mantingan tidak akan berpaling dari keputusannya itu, maka ia pun lantas memutuskan untuk berhenti membahasnya, setidaknya untuk sekarang.


“Mantingan, aku ingin membicarakan suatu hal.” Tangan Dara bergerak mengeluarkan sesuatu dari dalam kantung pundi-pundinya sebelum menunjukkannya kepada Mantingan. “Persoalan ini ... sebenarnya aku agak tidak enak hati membahasnya saat keadaanmu tidak terlalu baik, tetapi bisakah kita buat perjanjian kerjasama sekarang?”


Mantingan melihat benda berbentuk persegi panjang yang ditunjukkan oleh Dara, barulah saat itu ia menyadari bahwa yang dipegang oleh Dara tidak lain dan tidak bukan adalah Lontar Sihir Cahaya. Tidak perlu berpikir lama bagi Mantingan untuk mengetahui bahwa Paman Bala yang ia temui di Pasar Layar Malaya waktu itu telah memberikan Lontar Sihir Cahaya sekaligus menyampaikan pesannya kepada Dara.


“Ah, aku hampir saja melupakan persoalan ini.” Mantingan menepuk dahinya. Seharusnya ia menyampaikan perkara Lontar Sihir Cahaya ini tiga bulan yang lalu ketika mereka bertemu di kota perbatasan. “Tentu saja bisa, Dara. Kau hanya perlu mengatakan berapa banyak Lontar Sihir yang diperlukan, aku akan membuatnya jika itu berada di dalam kemampuanku.”


Dara tersenyum penuh arti. “Itu tergantung engkau hendak memasang harga berapa untuk setiap lembar lontarnya.”


___


catatan:


Bonus episode selanjutnya: 70k like.

__ADS_1



__ADS_2