
MANTINGAN mengangkat wajahnya untuk menatap Chitra Anggini, lantas berkata dengan lemah, “Mestikah segala cinta berakhir dengan kepedihan?”
“Tentulah tidak semuanya.” Chitra Anggini menggeleng, beranggapan pasti dengan jawabannya itu. “Ada begitu banyak cinta yang berakhir indah di dunia ini, Mantingan. Sekian banyaknya pasangan kekasih yang menikah dan hidup bersama hingga ajal memisahkan, sehingga dapatkah mereka disebut tidak berakhir bahagia?”
“Mengapakah yang dialami Dara tidak begitu?”
“Kamu memaknai perasaannya terlalu dalam dan berlebihan.” Chitra Anggini tersenyum pahit. “Bukankah begitu pula antara dirimu dengan Bidadari Sungai Utara? Sungguh perlulah kamu ketahui, Mantingan, patah hati adalah hal yang sudah amat biasa di dunia persilatan, sama seperti kematian. Kamu tidak perlu terkejut atau terlarut-larut dalam masalah ini.”
Chitra Anggini kemudian kembali menceritakan betapa cinta Kiai Kedai dengan Pendekar Anggini pun tidak berakhir indah, tetapi mereka seolah dapat dengan mudah melupakan semua itu dan tetap hidup sebagaimana mestinya.
“Sadarilah pula kedudukanmu sebagai Pemangku Langit, pendekar di atas segala pendekar. Sudah semestinya kamu mencerminkan sikap seorang pendekar sejati, bukannya seorang pengecut yang menjadi lemah hanya karena cinta.”
Mantingan menatap Chitra Anggini dengan singkat sebelum kembali menundukkan kepala. Ditariknya napas panjang-panjang. Betapa pun perkataan Chitra Anggini itu terdengar amat pedas, tetapi apa yang disampaikannya adalah kebenaran yang tak seharusnya dibantah.
“Mari lupakan sebentar perkara ini,” lanjut perempuan itu kemudian. “Kita masih belum mengetahui isi dari surat rahasia itu.”
Mantingan lekas menggeser selembar lontar yang diberikan oleh seseorang aneh di pelelangan Dara secara diam-diam. Lontar itu digurati aksara-aksara sandi, yang mungkin pula dengan bahasa sandi. Mantingan sungguh tidak dapat membacanya, sebab ia bukan berasal dari jaringan bawah tanah dunia persilatan yang selalu mesti berhubungan dengan segala sandi. Barang mungkin Chitra Anggini dapat membacanya.
Setelah mengangkat dan melihat-lihat selembar lontar itu dengan teramat saksama, tetiba saja mata Chitra Anggini membeliak.
“Ini adalah aksara sandi dari Kelompok Penari Daun! Sungguh aku dapat mengenalinya, dan betapa aku tidak menyangka akan melihatnya lagi di tempat ini!” Chitra Anggini menatap pemuda di depannya dengan girang. “Apakah mungkin ini merupakan pesan dari kakakku?”
“Kita akan tahu sampai isi surat itu terungkap,” kata Mantingan yang meskipun cukup terkejut tetapi dapat tetap bersikap tenang. “Apa kau dapat membacakannya untukku?”
“Tidak dapat sekarang ini pula.” Perempuan jelita itu menggeleng pelan. “Aksara dan bahasa sandi ini tidak dapat dibaca langsung. Aku harus menyandingkannya dengan beberapa hal yang paling memungkinkan, sebab beberapa aksara memiliki bentuk yang hampir benar-benar sama. Itu akan membutuhkan sedikit waktu.”
Mantingan menganggukkan kepalanya sebelum bangkit berdiri dari bangkunya seraya berkata, “Aku tidak akan mengganggumu di sini. Jika tuntas sudah pekerjaanmu, temui aku di lantai bawah.”
__ADS_1
Chitra Anggini balas mengangguk pula. “Apa pun yang sedang kaupikirkan, kupinta tetaplah mempergunakan akal sehat. Jangan melakukan sesuatu yang hanya akan—”
Sebelum Chitra Anggini berhasil menyelesaikan perkataannya, Mantingan telah lebih dahulu menjentik hidung perempuan itu, membuat ucapannya sontak terpotong.
“Jangan cerewet, aku dapat menjaga diriku sendiri.” Mantingan tertawa pelan sambil berjalan menjauh, sedangkan Chitra Anggini hanya dapat mendengus sambil mengusapi hidungnya yang memerah.
***
SUASANA kedai di lantai pertama penginapan itu dapat dikata sepi. Hanya ada beberapa pengunjung di antara belasan meja yang ada di sana. Lengang.
Mantingan berjalan pelan ke arah meja pemesanan. Kepalanya tertunduk; pandangan matanya hampa. Percuma saja segala nasihat Chitra Anggini tadi, bagai menguap tak berbekas.
Pemuda itu kembali tenggelam dalam kegalauan. Dirasakannya suara perasaan bersalah yang teramat besar. Betapa ia tidak sempat mencegah Dara memutuskan hal segila itu, yang sungguhan telah mengubah seluruh hidupnya. Kini segalanya telah terasa terlambat. Menyesal pun antara berguna dan tidak berguna.
“Tampak gundah sekali dirimu, anak muda?”
Mantingan mengangkat kepalanya demi mendapati seorang wanita di balik meja pemesanan sedang tersenyum lebar kepadanya. Namun, sungguh ia merasa tidak berminat sama sekali membalas sapaan atau sekadar senyuman itu.
Mantingan tidak langsung menjawab. Berpikirlah ia. Kiai Guru Kedai telah jelas memperingatinya untuk tidak meminum tuak atau menghisap asap cangklong, tetapi dalam keadaan seperti ini, adakah pelipur lara yang lebih baik sedaripada tuak maupun cangklong?
Mantingan membuka mulut untuk menjawab, tetapi kemudian ditutupnya kembali tanpa sepatah kata pun sempat keluar.
“Ah, jadi dikau tidak memiliki cukup uang? Bukan masalah, daku dapat memberikannya secara cuma-cuma asalkan dikau sudi membiarkanku minum bersama.”
Ketika wanita pemilik kedai itu berbalik badan dan hendak melangkah pergi, Mantingan segera berkata, “Tidak perlu, Ibu.”
Kembalilah ibu pemilik kedai itu membalik badan. “Pemuda baik-baik rupanya, ya?”
__ADS_1
Mantingan hanya sebatas tersenyum untuk menanggapi itu, lantas ia berkata, “Bawakanlah sahaya secangkir teh pahit, Ibu, itu sudah lebih dari cukup.”
“Akan kusajikan sesegeranya.”
Mantingan memilih meja di sudut ruangan yang berdekatan dengan jendela. Sedari dahulu, tempat seperti ini memang telah menjadi pilihannya setiap kali mengunjungi kedai makan. Dari sanalah ia dapat memantau seluruh isi ruangan tanpa terlihat terpantau serta pula tanpa perlu menjadi pusat perhatian. Jarang sekali ada yang memerhatikan orang di sudut ruangan.
Tak seberapa lama kemudian, ibu pemilik kedai itu datang dengan nampan berisi dua cangkir tanah liat dan sekendi air teh yang dari lubang kecil di bagian tutupannya itulah tampak uap terkebul.
Melihat apa yang dibawa oleh wanita itu, Mantingan tidak dapat menahan dahinya untuk tidak berkerut heran.
“Kuberikan minuman ini secara cuma-cuma,” kata ibu pemilik kedai sambil meletakkan nampannya di atas meja, “tetapi izinkanlah daku minum bersamamu.”
Mantingan mengangguk pelan dan mempersilakan. Dirinya tidak berhak merasa keberatan, apa lagi bila sampai melarang. Betapa pun wanita itu adalah pemilik kedai ini.
“Sikapmu mengingatkanku pada seseorang.” Ibu pemilik kedai bercerita sambil menuangkan teh pada dua cangkir. “Kedai. Itulah nama orang itu; Kedai. Nama yang teramat aneh, bukan?”
Mantingan tercengang, terkejut, dan terenyak bukan alang kepalang, tetapi beruntunglah semua itu hanya ditunjukkan dalam benaknya saja dan bukan pada raut wajahnya yang jelas akan memancing kecurigaan ibu pemilik kedai itu!
Mantingan tetap bersikap tenang. Raut wajahnya hampir tidak berubah sama sekali dari hanya sekadar mengangkat sebelah alis sebagai tanda bahwa dirinya cukup tertarik untuk mendengarkan cerita selanjutnya.
Maka begitulah ibu pemilik kedai bercerita, “Itu terjadi belasan tahun lalu. Mungkin pada saat itu, dikau masih belajar memanjat pohon bersama teman-temanmu. Tepatnya ketika malam telah agak larut, dan kedai ini sudah tiada kedatangan satupun pengunjung sehingga diriku sudah terkantuk-kantuk dan bersiap menutup kedai, tetiba saja muncul seorang penyoren pedang dengan keadaan yang teramat buruk.
“Keadaan buruk yang kumaksud bukanlah berarti badannya terluka atau dia sekarat, tetapi kejiwaannya itulah yang sungguh amat buruk. Bila saat itu dikau ada di sampingku dan melihat wajahnya saat itu, pastilah akan dikau ketahui betapa teramat menyedihkan keadaannya.
“Dia langsung menghampiriku, berkata singkat dengan suaranya yang sungguh terdengar amat parau. Sebenarnya perhatianku telah menjadi berpecah-belah saat itu karena menyadari keadaannya, tetapi dapatlah daku ketahui bahwa pria bernama Kedai itu memesan kendi tuak dan sebatang cangklong.
“Kutahu bahwa dirinya adalah pendekar yang sebaiknya tidak disinggung perasaannya, maka segeralah daku keluarkan tuak dan pipa cangklong terbaik yang kumiliki. Terlampaui lama dirinya duduk sambil merenungi kendi tuak dan cangklong itu, tetapi tidak sedikitpun dua benda itu disentuh olehnya. Daku perhatikan saja dirinya diam-diam.
__ADS_1
“Sebentar kemudian, dirinya tiba-tiba memanggilku dan menyampaikan permintaan. Sungguh benar-benar tidak dapat kuduga, dia meminta pelacur terbaik di kotaraja untuk menemaninya malam itu! Dikeluarkanlah lima Batu dari dalam sakunya, yang kutahu betul itu senilai lima ribu keping emas, lebih dari cukup untuk membangun lima kedai sekaligus penginapan yang sama dengan yang kumiliki saat itu.
“Daku segera memanggil jaringan yang kukenal menyimpan bunga raya terbaik seantero Kotaraja Koying. Setelah kuberitahu jumlah uang yang dikeluarkan pria itu, mereka langsung menyetujui.”