Sang Musafir

Sang Musafir
Dunia Persilatan dalam Secangkir Teh yang Disemuti


__ADS_3

MANTINGAN tiba di sebuah desa kecil yang terletak di kaki dua gunung besar yang tampak bagaikan saudara kembar. Tempat inilah yang menjadi persinggahannya bersama Bidadari Sungai Utara ketika mereka baru memulai perjalanan.


Seperti kala itu, Mantingan mengunjungi kedai yang menghadap langsung pada dua gunung tersebut. Di lantai dua kedai itulah dirinya tidak pernah bisa melupakan kecantikan wajah Bidadari Sungai yang bersanding serasi dengan keanggunan pemandangan dua gunung besar yang menghampar di belakangnya.


Pada meja yang sama seperti dulu, ia memesan secangkir teh panas. Udara begitu yang dingin bagai hendak menghancurkan tulang-belulang. Jadilah teh di dalam cangkir itu tidak bertahan terlalu lama kehangatannya, Mantingan mesti menghangatkannya kembali menggunakan tenaga dalam.


“Saudara, kami melihat dirimu datang kemari menunggangi seekor kerbau, jadilah kami hendak menawarkan sesuatu. Kami memiliki rumput-rumput segar dari kaki gunung berharga lima keping perunggu demi seikat jika Saudara menghendakinya. Selain itu, kami masih menyimpan persediaan tuak terbaik di seantero wilayah ini.” Seorang pelayan datang dan berkata dengan nada bersahabat.


“Berikan dia sepuluh ikat.” Mantingan mengeluarkan sekeping emas dan memberikannya pada pelayan itu. “Dan jangan minuman tuak, bawakan saja daku lebih banyak teh pahit.”


“Saudara, pagi masih segar dan kedai baru saja buka tirai. Kami tidak memiliki uang kembalian untuk jumlah yang sebesar ini. Apakah Saudara memiliki keping-keping perak?” Pelayan itu belum berani menerima keping emas di tangan Mantingan.


“Bawakan saja diriku makanan terbaik yang Saudara miliki dengan uang sisa itu.” Mantingan memutuskan.


“Baiklah. Akan tetapi untuk menyiapkan itu, kami memerlukan waktu yang tidak sebentar. Sebagai gantinya, kami akan menghadirkan seorang pelayan perempuan untuk menemani Saudara minum teh.”


Mantingan ingin langsung menolaknya, tetapi ia mengingat kembali bahwa salah satu tugas terakhir yang harus ia lunaskan sebelum mengundurkan diri dari telaga persilatan adalah mencari makna dunia persilatan yang terkandung di dalam secangkir teh. Jika ada orang lain yang hendak menemaninya minum teh, maka sangatlah baik jadinya, ia bisa bertukar pikiran dengan orang itu.


Maka begitulah kemudian si pelayan pergi dengan tergesa-gesa, tiada meja lain yang didatanginya sebab memang hanya Mantingan seorang yang singgah di kedai itu.


Memanglah menjadi suatu kewajaran bila kedai ini sepi pengunjung. Desa yang memiliki pemandangan dua gunung besar yang saling bersandingan ini, dengan betapa pun indahnya pemandangan tersebut, tetap saja bukan merupakan jalur utama perdagangan. Itu berarti, desa ini sangat jarang dilewati pengunjung dari luar.


Mantingan sendiri memang sengaja menghindari jalur perdagangan sebab pada saat itu dirinya membawa Bidadari Sungai Utara yang sedang diburu pendekar-pendekar golongan hitam. Jalur yang dipilihnya berlintasan dengan desa ini.


Mantingan hampir terbenam dalam perenungannya, yang dapat saja menjadi sangat berbahaya sebab ingatan tentang kematian Chitra Anggini bagai selalu dapat mencuat kapan saja, tetapi didengarnya suara langkah kaki menaiki anak-anak tangga. Ia menoleh dan menemukan seorang perempuan membawa teko beserta dua cangkir tanah liat di atas nampan.


Saat dilihatnya wajah perempuan itu, Mantingan lekas teringat kembali pada kejelitaan Chitra Anggini yang amat memikat setiap pasang mata. Dirinya menghela napas panjang sambil menggerakkan kepalanya kuat-kuat, berusaha mengusir segala gagasan tentang perempuan itu!


“Saudara, bisakah daku duduk di sini?” tanya pelayan itu setelah dirinya berada cukup dekat dengan Mantingan.


“Tentu saja.”


Setelah duduk dan meletakkan nampan di atas meja, perempuan itu kembali berkata, “Saudara, daku sebenarnya bukanlah pelayan yang dijanjikan akan menemani dikau minum. Daku adalah anak dari pemilik kedai yang bertepatan sedang mendapat bagian menjaga kedai ini. Ketika daku mendengar seorang tamu penting ingin ditemani minum teh, segera saja daku berminat. Jadi maafkanlah bila daku harus menggantikan peran pelayan itu. Tetapi jika dikau merasa keberatan dengan keberadaanku, maka daku tidak akan mengapa untuk menyingkir.”


“Tidak perlu. Kedatangan Saudari justru menjadi kehormatan besar bagiku. Saudari tentu masih memiliki banyak pekerjaan lain untuk diselesaikan, tetapi Saudari menemaniku di sini.” Mantingan menepis hal itu dengan sopan.


“Pekerjaan lainnya? Saudara, tidakkah dikau melihat betapa tiada pengunjung lain di kedai ini selain dikau? Seluruh pekerjaanku tuntas sudah, yang bisa kulakukan jika tidak menemani dikau meminum teh hanyalah duduk bermenung-menung.” Perempuan itu tertawa pelan. “Daku Nadara. Boleh kuketahui gerangan dikau?”


“Panggil saja daku Jaya.” Mantingan menjawab singkat sambil tersenyum tipis.


“Baiklah. Kurasa usia dikau sedikit lebih muda dariku, bukan?”

__ADS_1


Mantingan dapat menangkap maksud dari ucapan Nadara. Segera dirinya mengambil teko di atas nampan untuk mengisi dua cangkir kecil tersebut. Adatnya ialah yang lebih muda menuangkan minuman untuk yang lebih tua. Meskipun sebenarnya ia adalah pelanggan di kedai ini, Mantingan sama sekali tidak keberatan.


“Mengapa dikau menyukai teh?” tanya Nadara kemudian.


“Untuk sekadar menghangatkan diri, Saudari,” jawab Mantingan.


Nadara sedikit bergumam sebelum berujar, “Biasanya para pria lebih memilih tuak untuk menghangatkan tubuh mereka, sedaripada teh atau minuman jahe yang kalah nikmat. Dikau ini bukan sembarang pria.”


“Tuak hanya akan membuatku mabuk, Saudari.”


Sepasang alis Nadara terangkat dengan senyum sumringah. “Ah, itu berarti dikau adalah pendekar dunia persilatan! Aih, daku baru menyadari alasan mengapa dikau membawa pedang ke kedai ini.”


“Sekadar penyoren pedang hina kelana,” balas Mantingan.


“Daku pernah mendengar kisah-kisah tentang para pendekar yang tidak sekalipun menyentuh tuak seumur hidupnya demi menjaga kewaspadaan. Kelengahan seujung jarum saja mampu membawa seorang pendekar ke alam baka. Apakah itu benar?”


Mantingan hanya mengangkat bahu. Bukankah sudah dikatakannya tadi betapa ia hanyalah seorang penyoren pedang hina kelana?


“Daku selalu ingin menjadi seorang pendekar,” lanjut Nadara. “Berkelebat secepat bayang-bayang. Melenting dari genting ke genting. Menantang pendekar kain bertarung di bawah sinar purnama tanpa mega-mega. Bukankah itu terdengar sangat membahagiakan?”


Mendengar perkataan perempuan itu, Mantingan menggeleng pelan. “Saudari Nadara, bagaimana jika dunia persilatan tidak seperti bayanganmu yang sangat indah itu?”


“Sudah pasti daku akan mengurungkan niatku menjadi pendekar. Lagi pula, bukankah kisah-kisah kependekaran itu memang tidak dapat dipastikan kebenarannya? Bahkan jika kupikirkan kembali, amatlah mustahil seorang manusia dapat melaju dengan lebih cepat dari suara, melenting-lenting ringan bagai sehelai kapas, lantas saling menempur sia-sia demi tujuan mencari kesempurnaan khayalan. Itu semua terdengar seperti kisah yang dibuat-buat para juru hikayat saja.”


Nadara mengangkat cangkir teh dan mulai menyesapnya perlahan-lahan. Namun sesaat kemudian, sepasang alis indahnya berkerut.


“Ini teh manis,” katanya kemudian. “Saudara, bukankah kamu memesan teh pahit?”


“Ya, teh pahit,” jawab Mantingan.


Nadara menggelengkan kepalanya sambil berkali-kali berdecak kesal. “Agaknya ada sesuatu yang menyumbat pikiran para pekerja di sini sehingga mereka sebegitu lalainya. Saudara, maafkanlah kelalaian itu. Biar daku menegur mereka sekaligus membawakan teh pahit untuk kita minum bersama.”


Mantingan hanya mengangguk tanpa banyak berkata-kata. Ia melirik secangkir teh manis itu di hadapannya, tampak dua-tiga semut yang telah mati mengambang di atas permukaan air, sedang masih banyak semut lainnya yang payah-payah memanjat permukaan cangkir hanya untuk kemudian menceburkan diri dalam panasnya air teh.


Mantingan berpikir sejenak. Tahukah semut-semut itu betapa usaha mereka memanjati cangkir teh akan berbuah pada kematian belaka? Tidakkah kawan-kawan mereka yang tewas mengambang di atas air panas itu menjadi pelajaran yang amat berharga bagi mereka untuk tidak mengulang kesalahan yang sama?


Tiba-tiba saja, terbetik suatu gagasan dalam perenungan itu.


“Inikah yang dimaksud Kiai Guru tentang dunia persilatan di dalam cangkir teh?”


Mantingan sampai tertegun untuk beberapa saat. Bukankah semut-semut itu memiliki banyak kesamaan dengan para pendekar dunia persilatan? Semut-semut itu susah-payah mendaki permukaan cangkir yang amat bidang, hanya untuk menemui kematian di dalam air teh manis itu. Sedang para pendekar pula susah-payah mendaki jalur persilatan dengan segala pencarian akan ilmu dan pelatihan yang mendalam, hanya untuk menemui kematian dalam pertarungan.

__ADS_1


Bukankah kedua-duanya berpikir bahwa apa yang ingin mereka raih adalah kesempurnaan, meski sebenarnyalah hal tersebut hanya akan berujung pada kesemuan belaka yang merengut nyawa sia-sia?


Bahkan kini terpikirkan olehnya bahwa cara Puspa di kotaraja ketika meracik teh pula menyimpan makna besar tentang dunia persilatan. Perempuan itu hendak membuat secangkir teh dengan sedemikian sempurna, sehingga untuk mencapainya perlulah dia membuang bercangkir-cangkir teh sebelumnya.


Dapatlah Mantingan memetik gagasan utama yang hendak disampaikan oleh Kiai Guru Kedai, yakni bahwa pencarian akan kesempurnaan adalah kesia-siaan. Gagasan tersebut nyatanya tak terbatas pada dunia persilatan saja.


Kesempurnaan hidup yang dicari-cari para pendekar dunia persilatan hanyalah khayalan yang berujung pada kesia-siaan belaka. Begitu pula dengan kesempurnaan rasa yang dicari-cari banyak semut di dalam cangkir teh itu.


Pikiran Mantingan harus terpecah ketika Nadara kembali dengan seteko teh lagi. Pasti yang dibawanya itu adalah teh pahit, yang sedemikian pahitnya, sehingga memang tidak mungkin bagi semut manapun sudi repot-repot memanjat cangkir hanya untuk mati tenggelam dalam kepahitan itu.


“Saudara, daku sudah membawakanmu teh pahit. Sebagai permintaan maaf, biarlah daku saja yang mengisi cangkirmu.” Nadara mengambil cangkir baru dan mulai mengisinya. Terlihat sedikit kerisauan pada wajah gadis itu sebab Mantingan sama sekali tidak membalasnya. “Saudara Jaya, apakah engkau marah padaku?”


“Saudari, lihatlah semut-semut di dalam cangkir ini,” kata Mantingan kemudian, yang sungguh tidak diduga-duga oleh Nadara balasannya akan seperti itu. “Apakah yang dikau pikirkan?”


Terdiam beberapa saat, Nadara akhirnya menjawab, “Mereka hewan, Saudara, yang memang sudah sewajarnya bodoh tanpa akal pikir. Mereka hanya mati sia-sia di cangkir itu.”


Mantingan tersenyum lebar. “Bukankah sedemikian itu pula para pendekar berlaku di dunia persilatan?”


“Maksud Saudara?”


“Apa katamu tentang kemustahilan dunia persilatan tadi?” Mantingan justru balas bertanya.


“Apakah dikau tersinggung dengan perkataanku tadi, Saudara? Daku hanya berpikir bahwa memang tidak mungkin terdapat manusia yang dapat bergerak dengan laju secepat suara, melenting-lenting seringan kapas, dan saling menempuri demi kesempurnaan yang tak pernah ada.”


“Gagasanmu yang terakhir itu, Saudari Nadara.” Mantingan menyodorkan secangkir teh manis miliknya itu ke hadapan Nadara. “Semut-semut ini juga mati sia-sia untuk sesuatu yang dianggap sebagai kesempurnaan.”


____


catatan:


Setelah berjuang lebih dari 25 hari, saya memutuskan untuk berhenti mengejar target bulanan dari jatah kontrak, yakni 60.000 kata. Seperti yang sudah saya katakan lalu-lalu, HDD laptop saya bermasalah, sehingga lebih dari 7.000 kata (perhitungan terbaru) menghilang begitu saja. Itu setara dengan tiga hari menulis.


Akibat dari insiden yang sama sekali tak terduga itu, saya harus bekerja lebih ekstra. Ini membuat saya harus begadang tiap malamnya, meskipun sedari pagi sudah duduk di hadapan laptop.


Pembaca yang Budiman pastinya mengetahui bahwa saya memilih gaya bahasa yang "jelimet" untuk Sang Musafir, sehingga untuk menulisnya pun tidak bisa sembarang begitu saja. Diperlukan banyak waktu dan pikiran untuk membuatnya seindah mungkin.


Setelah beberapa hari terus begadang, pula dengan pola makan yang tidak teratur, saya mulai mendapatkan dampaknya. Pada awalan, saya hanya meriang dan demam, tetapi masih bisa saya paksakan dengan asupan motivasi "masa muda" dari YT. Lantas setelah itu, saya mulai mengalami halusinasi demi halusinasi setiap malamnya. Itu sangat mengerikan.


Karena tidak mau mati muda di usia produktif, lebih-lebih saat belum menemukan jodoh, saya memutuskan untuk "pasang rem" dan berhenti sejenak.


Untuk itu, Pembaca yang Budiman, sekiranya sampai akhir bulan nanti, Sang Musafir akan update tidak menentu, karena saya hendak mengambil masa pemullihan untuk kesehatan saya.

__ADS_1


Wah, jadi panjang x lebar begini curhatnya. Sampai bertemu kembali. Terima kasih!


__ADS_2