
MANTINGAN menyabetkan pedangnya menuruti perintah nurani. Dua pedang berbentrokan, yang dalam kecepatan sedemikian itu tidaklah memungkinkan suara maupun lelatu api dapat tercipta.
Lekas ia berkelebat mundur dengan kecepatan pikiran, tetapi serangan dari lawan yang pula bergerak secepat pikiran itu tidak memberinya waktu bernapas.
Mantingan mulai memainkan Pedang Kiai Kedai di sebelah tangan, sehingga kini dirinya bertarung dengan dua pedang. Tetapi sang penyerang mengimbanginya dengan pula menggunakan sepasang pedang, yang memang tiada lain dan tiada bukan ialah Sepasang Pedang Rembulan!
Pertarungan semakin memanas. Melebihi kecepatan pikiran. Sabetan-sabetan pedang tidak dapat didengar sebab gerakan terlalu cepat, tidak pula dapat dilihat sebab pandangan terlalu kabur, hanya dapat dirasakan saja, sehingga pertarungan ini memang semata mengandalkan naluri bertarung hasil dari pengalaman dan pelatihan panjang.
Tubuh mereka bergerak tanpa kendali dari pikiran, sebab betapa pergerakannya telah melebihi laju kerja pikiran.
Mantingan lebih banyak menghindar. Nalurinya sadar betul betapa Sepasang Pedang Rembulan bukanlah sesuatu yang dapat diadang terlalu sering. Sekuat apa pun Pedang Savrinadeya, pula sebanyak apa pun tenaga dalam yang dimiliki Mantingan, tetap akan menderita kekalahan jika mesti beradu dengan Sepasang Pedang Rembulan yang terkenal tak pernah terkalahkan sepanjang sejarah dunia persilatan itu.
Kini pemuda itu benar-benar terdesak.
Bila Sepasang Pedang Rembulan berhasil mengiris kulitnya meski hanya segaris tipis saja yang tidak dalam jua, maka dengan kecepatan seperti itu tetap akan membawa malapetaka bagi dirinya. Embusan angin dan daya kejut yang dibawa oleh pergerakan pedang tersebut dapat membelah tulang yang keras selembut memotong daun.
Keadaan Mantingan terus terdesak, begitu terdesak, amat terdesak, sehingga bagai tidak memiliki jalan keluar lain selain kematian belaka.
Dirinya tidak memiliki banyak waktu untuk berpikir, tetapi ketika itulah tiba-tiba seluruh tubuhnya terasa seperti tersedot masuk ke dalam suatu lubang yang lebarnya tidak pernah lebih dari lubang jarum. Segeralah Mantingan menyadari bahwa dirinya berada dalam keadaan Tanpa Ruang dan Tanpa Waktu!
Lekas pemuda itu menjadi risau, sebab keadaan Tanpa Ruang dan Tanpa Waktu membuatnya tidak memiliki kendali apa pun atas tubuhnya. Namun setelah dipikirkannya kembali atas kejadian ini, bukankah memang telah sedari awal tubuhnya dikendalikan oleh naluri dan bukan oleh pikiran?
__ADS_1
Kini, satu-satunya yang dapat ia percaya adalah naluri bertarungnya sendiri. Jika saja pengalaman dan pelatihannya jauh lebih keras ketimbang lawan tak dikenal itu, maka seharusnya tidak akan ada bahaya yang benar-benar mengancam untuk sementara waktu.
Dengan memanfaatkan keadaan Tanpa Ruang dan Tanpa Waktu itu, Mantingan segera memikirkan cara agar dirinya dapat memenangkan pertarungan.
Kekalahan adalah sesuatu yang tidak dapat diterima, sebab bagai telah menjadi kepastian betapa Sepasang Pedang Rembulan akan kembali mengharu-biru dunia persilatan, pula nyawa Chitra Anggini menjadi benar-benar terancam karena dirinya masih dalam keadaan tertotok!
Mulailah ia berpikir tentang hal-hal yang sekiranya dapat mengalahkan rembulan di tengah kegelapan malam, sesuai dengan sifat dari sepasang pedang itu. Mungkinkah bintang-gemintang?
Mantingan dapat saja menciptakan suatu jurus yang berisi berbagai gerakan menusuk, sebagaimana kemudian akan dinamainya sebagai Seribu Bintang Melahap Rembulan yang merupakan keberlawanan dari salah satu jurus andalannya, yakni Seribu Rembulan Melahap Bintang.
Namun, bukanlah jurus itu yang dapat mengalahkan sebuah rembulan, sebab tiada satupun sinar bintang yang dapat mengalahkan terangnya sinar rembulan.
Lantas ... apakah mungkin matahari?
Orang-orang persilatan tidak semuanya dapat membuat jurus selama mereka hidup. Atau paling tidak, mereka hanya dapat membuat satu jurus sebelum mati setelah puluhan tahun menapaki dunia persilatan dengan kesungguhan, itu pun tidak pernah menjamin jurus mereka dapat menjadi jurus unggulan yang mampu mengalahkan jurus-jurus lainnya.
Namun, betapa kini Mantingan sedang bertimbang untuk membuat suatu jurus yang benar-benar baru dalam waktu yang bahkan tidak disebut sebagai waktu!
Pemuda itu tidak peduli dengan macam-macam kemungkinan buruk sekaligus kemustahilan. Dalam pada ini, dia sedang melindungi sesuatu yang jauh-jauh lebih berharga dari nyawanya sendiri. Sebagaimana disadarinya tadi, kekalahan semacam apa pun tidak dapat diterima!
Dipikirkannya bahwa mentari baru saja menyembul di ufuk timur. Semestinya, kekuatan dari Sepasang Pedang Rembulan itu telah melemah, walau tidak akan cukup banyak untuk membuatnya dapat terkalahkan.
__ADS_1
Kemudian dipikirkannya tentang Pedang Savrinadeya, yang kemudian gagasan tersebut menyambung begitu saja pada Gaung Seribu Tetes Air. Dirinya dapat mengingat bahwa tempat itu mampu tetap terang meskipun terkubur begitu jauh di bawah tanah berkat bebatuan mestika yang menyalurkan sinar mentari dari atas permukaan.
Bila saja Pedang Savrinadeya terbuat dari batuan mestika di dalam Gaung Seribu Tetes Air itu, dan anggaplah Perempuan Tanpa Nama mengambil mestika dengan kualitas terbaik, maka bukankah kini pedang tersebut dapat menyalurkan sinar mentari bahkan sampai melipatgandakannya?
Namun, bagaimanakah kiranya Mantingan dapat membuat pedang itu bekerja dengan sedemikian rupa?
Tetiba saja pikirannya tercerahkan. Betapa ia bisa memasang mantra Lontar Sihir Cahaya pada pedang tersebut!
Lontar Sihir Cahaya bekerja dengan menyimpan tenaga dalam pada mantra sihir sebelum kemudian diubahnya menjadi cahaya. Jika Mantingan mengubah sedikit susunan mantra itu hingga sedemikian rupa, maka ia dapat saja mengganti tenaga dalam menjadi sinar matahari sebagai sumber tenaga lontar tersebut.
Meskipun terkesan amat mudah, tetapi nyatanya hal itu belum tentu dapat berhasil. Bukan tidak mungkin jika ternyata Pedang Savrinadeya bukan terbuat dari mestika yang menyusun Gaung Seribu Tetes Air. Namun, dalam keadaan yang mendekati maut seperti ini, segala kemungkinan menjadi amat wajib untuk dicoba, sekecil apa pun itu!
Mantingan segera keluar dari keadaan Tanpa Ruang dan Tanpa Waktu sebelum kemudian sekeras tenaga mengentakkan kaki ke belakang hingga tubuhnya melesat dengan kecepatan dua kali lipat pikiran!
Dalam jangka waktu yang sedemikian singkat, begitu singkat, teramat singkat, sehingga bagaikan tidak dapat lagi disebut sebagai waktu, Mantingan berhasil menggores mantra Lontar Sihir Cahaya pada Pedang Savrinadeya dengan kuku jarinya.
Pedang itu lantas diangkatnya ke atas, bagai menantang langit. Sinar mentari dari ufuk timur segera menerpa bilah pedang itu tepat sebelum Sepasang Pedang Rembulan di Tengah Kegelapan Malam menghunjam jantung Mantingan!
Pedang Savrinadeya tetiba mengeluarkan cahaya yang teramat terang, begitu terang, terlalu terang, sehingga bahkan sulit menyebutnya sebagai cahaya. Pantulan cahaya itu diarahkan langsung pada Sepasang Pedang Rembulan, yang entah bagaimana mampu membuat dua pedang mestika itu bagaikan tertimpa sesuatu yang amat sangat berat hingga menukik tajam ke bawah.
Setelah serangan lawannya berhasil dipatahkan dan pertahanan terbuka selebar-lebarnya, Mantingan segera menancapkan Pedang Savrinadeya tepat pada jantung orang itu!
__ADS_1
Pertarungan selesai sesaat itu pula. Kecepatan mereka menurun amat tajam hingga penglihatan tidak lagi mengabur. Mantingan mengambil kesempatan itu untuk melihat wujud sosok lawan paling tangguh yang pernah dihadapinya itu, tetapi seketika itu pula dirinya terperanjat.
“Chitra!”